Ibu Memaafkan, Bapak Melupakan

Cinde Laras – Indonesia

Tergelitik aku membaca notes yang dibuat seorang teman yang saat ini nun jauh di seberang lautan. Hmm…, alangkah beratnya memaafkan. Begitu ungkapnya. Sebuah renungan yang ditulisnya setelah bertemu dengan seorang kawan sesama perantau di negeri sakura. Lebaran identik dengan saling bermaafan. Lalu bagaimana kalau kita tak bisa memaafkan ?

sorry

Setiap orang pernah punya masalah dengan orang lain. Dikhianati, dicurangi, dihina, diacuhkan, diselingkuhi, dibohongi, ditipu, apa saja yang membuatnya sakit hati. Semua orang mengalaminya, pria maupun wanita. Bedanya, pria mudah melupakan sakit hatinya. Sedangkan wanita tidak demikian. Mudah bagi pria melupakan kalau baru beberapa menit yang lalu beradu otot atau adu mulut dengan sesamanya. Cukup dengan bercakap-cakap sebentar, berjabat tangan, lalu selesai perkara. Tidak ada dendam kesumat membakar hati.

Bagaimana dengan wanita ? Sudah saya analisa berulang-kali, pada wanita berumur berapapun, mereka tidak mudah melupakan setiap kejadian yang menyakiti jiwa maupun raganya. Terlebih jika mereka tahu hal itu disengaja. Wanita selalu membawa setiap persoalan dalam hatinya. Emosional, mungkin itu ungkapan paling pas untuk menggambarkan seperti apa perasaan mereka. Meskipun beberapa dari mereka cukup punya kesabaran lebih untuk setiap persoalan yang menghadang. Tapi untuk sakit yang melukai hati dan pikiran, mereka tak akan pernah lupa. Berbaik-baik kembali iya, tapi tak pernah melupakan.

Sering saya mendengar cerita ibu yang sekarang berusia hampir 75 tahun itu. Baginya, tiap orang punya raport yang di dalamnya tercatat nilai, dari yang terbaik hingga yang terburuk. Sial bagi yang punya nilai buruk, ibu saya akan mengulang-ulang cerita yang sama tentang bagaimana buruknya si orang yang dimaksud. Hingga saya hapal setiap detil cerita, karena tak pernah berubah hingga detik ini. Bagi ibu saya, cukup mengalami 3 kali kesusahan yang disebabkan orang lain, maka selama-lamanya dia akan mengambil jarak di saat-saat berikutnya. Berbasa-basi iya, berbaik-baik iya, tapi tidak melupakan. Pendendam ? Entahlah. Tapi sepertinya wanita normal pun berbuat itu, mereka tidak melupakan. Cuma waktu yang bisa meredakan sakit hati itu. Tapi waktu tak menghapus kenangan mereka.

Lain betul dengan bapak saya yang usianya sebaya dengan ibu. Jarang sekali bapak bercerita tentang bagaimana buruknya orang lain memperlakukan dia di masa lalu. Biarpun saya yakin, bapak juga bukan jenis orang yang mudah lupa pada sesuatu. Tapi rasa sakit hati itu jarang betul diucapkannya dalam cerita. Selama saya jadi anak, bapak baru sekali bercerita tentang betapa dulu pernah dilukai hatinya oleh seseorang yang ingin merusak jabatan Alm. kakek. Cuma sekali. Selebihnya tidak pernah sama sekali. Apakah bapak seorang pemaaf ? Ataukah bapak telah melupakan ? Entahlah. Yang jelas bapak lebih suka membahas hal lain dari pada mengingat hal yang menyakitkan. Dan sepertinya, pria normal juga melakukan itu, melupakan sakit hati.

Maka tak heran, bila saat lebaran ibu dan bapak bersalam-salaman dengan kenalan yang dulu pernah bermasalah dengan mereka, keduanya akan menyambut salam itu dengan senyum terkembang. Tapi setelah itu, bibir bapak tetap tersenyum sampai mereka pulang. Sedangkan ibu bersungut-sungut di ruang belakang.

dermagakayu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.