Kasih Tak Sampai

Nuni – Melbourne

"Tetaplah menjadi bintang di langit, agar cinta kita akan abadi, biarlah sinarmu tetap menyinari alam ini, agar menjadi saksi cinta kita berdua.”

Demikianlah refrain lagu bertema cinta yang dinyanyikan sebuah grup music rock dari Indonesia yang berjudul Kasih Tak Sampai. Begitu sedih dan mendayunya lagu itu, sampai sayapun ikut terlarut bersamanya ketika mendengar dari youtube. Apalagi petikan harpa yang indah ikut mempermanis lagu yang sedang berkumandang….makin bikin saya terbuai dan meresapi kisah yang ingin disampaikan si pelantun lagu tersebut. Aihhh….sedihnya…

Maka ingatan pun segera melayang ke mana-mana, dulu ketika saya pun pernah merasakan sakitnya ‘broken hearth’ atau ga jadian sama cowok yang menurut saya sebagai my soul mate. Sekarang sih bisa berpikir, "Rupanya Tuhan sudah punya rencana terbaik untuk setiap umatnya!" buktinya saya diberi kekasih hati yg baik dan pengertian (mudah-2an long lasting, forever aminnn) dan akhirnya menghasilkan anak yang lutju bin menghibur (Nasser).

Maka, saya pun bisa memaklumi ketika teman, sodara dan relasi yang curhat sedang patah hati. Pokoknya bener-2 ga enak deh, iya ga sih? Dan ternyata patah hati itu tak hanya dengan pacar, bisa juga dengan teman/sahabat yang berubah dan berakhir dalam konflik, pasangan yang sudah menikah atau akibat clash dalam aktivitas kerja sekalipun.

Saya bisa ambil kesimpulan seperti itu berkat pengalaman sendiri dan orang lain serta tentunya dari cerita tertulis yang tersaji dalam blog teman-2 dan network saya di internet. Sekali lagi, thanks to the technology (internet), yang banyak membantu saya untuk mengetahui segala permasalahan, opini dan dialog nonformal yang up todate berkat rajin ‘mengintip’ curhat teman-2 dalam note mereka.

Intinya, siapa pun di dunia ini yang masih punya ‘hati’ pasti ingin merasakan kasih, entah itu dari pacar, pasangan, teman dan orangtua. Kalau kasih itu hanya bertepuk sebelah tangan…auwwww betapa sakitnya hati ini. Karena memang dunia (untuk sementara) menjadi tak indah lagi untuk ditinggali. Makan pun tak enak, tidur pun tiada nyenyak…selalu teringat oh dirinya!

Nah nasihat tentang kasih ini pun akhirnya menjadi sesuatu yang ‘luas’ mengingat orang punya penafsiran yang bervariasi. Dalam hal ini kaitannya dengan mencari kekasih hati, yang menurut pendapat banyak orang itu terkait dengan destiny. Ada yang bilang, untuk mendapatkannya ya lewat berusaha dan berdoa alias ora et labora.

Saya bisa bilang begini setelah mengetahui kisah sedih beberapa teman terkait soal pencarian asmara/pasangan hidup mereka. Ada yang bercerita, mengapa sulit mendapat seseorang yang menerima kita apa adanya dan tentu saja sebaliknya. Sementara itu ada yang sudah dalam pendekatan tetapi gagal sampai tahap pelaminan. Maka komentar teman yang cukup bijak tersebut, meski masih pedih hatinya…biarlah hati yang bicara untuk menemukan arti cinta yang sebenernya. Dengan kata lain, dia –teman saya yang baru putus itu –coba menerima dengan ikhlas karena putus cinta.

Ah…jadi berpikir ya, betapa susahnya mendapat cinta sejati? Mari coba kita renungkan petuah dari budaya Barat ini. Mungkin akan lebih memudahkan kita mengartikan sesuatu yang dianggap terlalu ‘abstrak’, yakni cinta dan kasih sayang. Benarkah semua itu terkait dengan gambling, risk dan destiny kita yang berbeda untuk setiap individu?

Sehingga saya pun memahami hubungan tentang cinta-kasih sayang dan relationship dalam sebuah hubungan yang berakhir dalam pernikahan. “Marriage is not looking for a good personality…but much more is being a correct personality. Marriage is a masterpiece, not a ceremony. Marriage is a triangle relationship between you-God- your spouse. So, marriage is about commitment, tolerance, respect and forgives.

Wah jadi makin jauh dan luas ya penjabarannya. Tetapi memang demikianlah, jatuh cinta (fall in love) itu konon lebih mudah daripada bertahan dari cinta (stay in love). Sehingga butuh waktu, energy, kesabaran dan pengorbanan untuk tetap stay in love dan mendapatkan apa yang kita inginkan (pasangan terbaik). Tentu saja teori ini bukan omong kosong, karena siapa pun yang pernah mengalaminya pasti akan mengakui kebenarannya.

SO, buat para cewek yang masih jomblo engga perlu bersedih hati dan meratapi nasib yang belum beruntung. Simak deh cerita dari kultur Barat berikut yang mengumpamakan seorang gadis dengan buah apel. “The best ones are at the top of the tree. The boys don’t want to reach for the good ones because they are afraid of falling and getting hurt. Instead, they just get the rotten apples from the grounds that aren’t as good, but easy. So the apples at the top think something is wrong with them, when in reality, they’re amazing. They just have to wait for the right boy to come along, the one who’s brave enough to climb all the way to the top of the tree.

roseB&WNah di luar konteks urusan asmara, sebagai orangtua yang baik, mungkin sejak dini kita perlu memberi contoh baik kepada anak-anak. Daripada memberi contoh buruk seperti berselisih (bertengkar), mengapa tidak dicoba untuk selalu menunjukkan semangat menyayangi (afeksi) kepada mereka dengan spontan. Pelukan hangat (cuddle) yang spontan akan sangat berarti dan berkesan bagi mereka. Juga ajari semangat menyayangi sesama dan lingkungan (tumbuhan, hewan) di sekitar kita. Ingatlah….anak-2 makhluk yang cepat belajar dan bukankah mereka yg kelak akan mengubah dunia yang sudah penuh konflik ini.

Jadi, cinta dan kasih sayang sudah selayaknya menggantikan permusuhan dan kebencian di dunia ini. Akhirnya saya ingin menutup tulisan ini dengan imbauan untuk saling berbagi kasih dengan siapapun yang ada di sekitar kita. Sama halnya seperti sebuah program acara anak-2 di TV sini yang tak pernah bosan untuk mengajak anak-2 saling berbagi kasih lewat nyanyian, karena semua mahkluk berhak mendapatkannya!

“It’s so nice to have a cuddle with the person that you love.”

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.