Rumahku kantorku, kantorku rumahku

JELANG HARI PELANTIKAN PRESIDEN RI 

SERBA SERBI PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA (5)
 
Rumahku kantorku, kantorku rumahku
 
Iwan Satyanegara Kamah – Jakarta
 
TANYAKAN dimana rumah pribadi Presiden Soekarno? Susah menjawabnya dan memang tidak ada jawabannya, atau jawabannya tidak. Tidak punya rumah. Dibandingkan dengan para penggantinya, Soekarno adalah presiden Indonesia yang tidak punya rumah pribadi yang dia tempati selain Istana Merdeka dan istana-istana lainnya.
Dia memang punya rumah yang besar di selatan kota Bogor yang sejuk, yaitu di Batu Tulis. Namun jarang dia tempati semasa berkuasa. Hanya ketika dia sudah tak punya kekuasaan dia sempat tinggal beberapa hari di rumah yang kini disebut puri itu. “Bapak kedinginan”, kata pembantunya yang merawat kondisi kesehatannya yang makin merosot sejak diganti oleh Soeharto.

Rumah seorang presiden Indonesia begitu terkenal dan sarat makna asosiatif. Pada masa Presiden Soeharto, bila ada orang mengatakan, “dia orang Cendana”, artinya orang itu direstui dan berpihak pada kepentingan Soeharto. Kenapa begitu? Karena Soeharto tinggal di Jalan Cendana no. 8, Menteng, Jakarta Pusat. Selama seperempat abad, nama Cendana begitu disegani bila mengiang di telinga orang. “Malas ah berurusan sama orang Cendana. Bisa susah hidup saya”, komentar orang takut mendengar kata “Cendana”.

 
cendana

Selama berkuasa, Soeharto lebih banyak menerima tamu-tamu penting justru di rumahnya. Sedangkan di Istana lebih bersifat formal atau kunjungan kenegaraan. Selebihnya di rumahnya itu. Hampir semua tokoh-tokoh dunia pernah ke Jalan Cendana. Jadi selayaknya rumah itu dijadikan situs sejarah. Perdana Mentri Israel Yitzhak Rabin pernah datang ke sana. Henry Kissinger sudah bolak balik berkunjung ke rumah berwarna hijau itu.

 
Apalagi tokoh semacam Lee Kuan Yew atau pemimpin ASEAN lainnya, tak terhitung datang ke kediaman Soeharto. Namun dari semua tamu, justru keluarga Presiden Filipina Ferdinand Marcos yang paling bahagia. Marcos pernah ke sana. Putrinya juga datang ke tempat itu seorang diri. Bahkan ibunda Marcos pernah bertamu ke rumah itu. Lengkap sudah tiga generasi datang ke Jalan Cendana. Pernah di sore hari 8 Oktober 1970, tuan rumah menerima rombongan besar sekitar 400 orang utusan mahasiswa ITB yang datang ke rumah Soeharto. Mereka minta agar presiden menghukum orang yang menyebabkan tewasnya mahasiswa ITB, Rene Coenrad.

Meski disediakan dan berhak tinggal di Istana Merdeka, Soeharto jarang tidur di istana. Bisa dihitung dengan jari berapa hari dia bermalam selama menjadi presiden. Yang pernah diingat, ketika menjelang HUT RI tahun 1972, keluarga Soeharto nginap dua hari di Istana. Karena jarang atau tak pernah nginap, terpaksa Soeharto pulang pergi selayaknya seorang karyawan dari Jalan Cendana ke Istana, atau tepatnya Bina Graha, kantornya sehari-hari, yang letaknya di sisi timur Istana Merdeka. Perjalanan pulang pergi ini membuat pengawalnya sudah hafal luar kepala setiap sentimeter daerah yang dilalui presiden tiap hari. Dari Jalan Cendana, Teuku Umar, Cut Mutiah, Cikini, Patung Pak Tani, Gambir dan Jalan Veteran.

Beda jauh dengan Presiden Soekarno. Dia memang tidak punya rumah tetap. Rumahnya selama jadi presiden ya di Istana Negara dan istana-istana lainnya. Justru istri-istrinya yang punya rumah. Ibu Fatmawati di Jalan Brawijaya, Kebayoran. Dewi Soekarno tinggal di Wisma Yaso, yang sekarang menjadi museum militer dan jaraknya sekitar 300 meter dari rumah saya sekarang. Sedangkan Ibu Hartini, satu dari istrinya tinggal di pavilion Istana Bogor. Yurike Sanger. Istrinya juga tinggal di daerah Polonia, Jakarta Timur. Pernah pada suatu hari, Soekarno nginap di seorang rumah istrinya di Tebet, Jakarta Selatan. Bayangkan, kayak apa huru-haranya jalan-jalan di sekitar Tebet ada presiden Indonesia nginap.

Soekarno menetap di Istana Merdeka sejak 1950, setelah ibukota kembali ke Jakarta, setelah selama 4 tahun dia tinggal di Gedung Agung di depan Pasar Beringharjo, Jogjakarta. Bahkan pernah di saat-saat kritis Soekarno berpindah-pindah di rumah kerabat-kerabatnya. Lebih gawat lagi pernah tinggal di hutan di kawasan Madiun, untuk menghindari musuh di saat revolusi kemerdekaan.

 
istana

Tahun 1967, Soekarno ‘diusir’ dari Istana Merdeka oleh penggantinya dan hanya boleh menempati Istana Bogor. Ketika dia mau merayakan HUTnya tahun 1967 di Istana Merdeka, ditolak oleh Soeharto. Tempat itu sangat bersejarah bagi Soekarno. Anak-anaknya lahir di situ seperti Guruh. Soekarno juga sering kencing sembarangan di Istana Merdeka, di sebuah sisi temboknya. Mengapa? Karena WCnya terlalu jauh kalau dia sedang kebelet. “Dis (nama panggilan Megawati), tempat itu masih dipakai bapak nggak buat kencing?”, tanya Guntur yang ikut ibunya tinggal di Jalan Brawijaya. Guntur tahu benar sifat-sifat iseng bapaknya. “Oh, masih. Bahkan dubes dan tamu dekat yang datang, suka kencing di situ juga”, jawab Megawati.

 

Belum pernah ada presiden yang anaknya lahir ketika sedang menjabat, selain Soekarno. Bahkan dua anaknya lahir di Istana Merdeka. Sebaliknya Soeharto satu-satunya presiden yang menikahkan semua anaknya (6 orang) selama menjadi presiden. Soeharto pernah menikahkan dua anaknya sekaligus di Istana Bogor, yaitu Tutut dan Sigit. Presiden SBY juga menikahkan anaknya di tempat yang sama pada Juli 2005.

Sebaiknya semua presiden tinggal di Istana, tidak di rumah sendiri seperti pada masa Presiden Soeharto. Memang sudah disediakan untuk itu. Kalau tidak, jadi rancu dan seolah tidak ada liburnya jadi presiden, seperti Soeharto itu. Kasihan di rumah terima tamu penting, di Istana juga. Masalah pekerjaan dan keluarga terbawa dalam tugas sehari-hari. Di Amerika Serikat, semua presiden harus tinggal di Gedung Putih. Dia tak boleh tinggal di lain tempat selama menjabat.

Terpadunya antara rumah dan kantor, kantor dan rumah bagi seorang presiden, bisa menimbulkan inefisien waktu dan juga keselamatan. Semasa Presiden Soeharto, dikotomi rumah dan Istana tidak begitu merepotkan, karena jarak rumahnya ke kantornya di Bina Graha sangat dekat. Tidak kurang 10 menit sudah sampai. Beda dengan Presiden Habibie yang tinggal di Kuningan, atau Presiden Abdurrahman Wahid berumah di Ciganjur maupun Megawati Soekarnoputri yang tinggal di Kebagusan. Mereka agak lebih lama untuk kembali ke rumah. Apalagi Presiden Yudhoyono dengan tempat tinggal di Cikeas, Sentul. Jaraknya yang cukup jauh dari Istana yang mengharuskan konvoi presiden lewat jalan tol Jagorawi. Beberapa hari setelah dilantik tahun 2004, konvoi presiden menyebabkan terjadi kecelakaan beruntun di jalan tol.

Semasa Presiden Soeharto, jalan-jalan sekitar Tugu Pak Tani, Menteng sudah terbiasa dilewati presiden kalau pergi dan pulang ke Istana. Begitupun dengan kebiasaan Soeharto yang bermain golf secara teratur di Rawamangun setiap Senin, Rabu dan Jumat. Saking seringnya melewati Jalan Diponegoro kalau pergi ke lapangan golf, beberapa pengamen yang biasa mengamen di depan rumah makan di jalan tersebut, selalu memberi hormat setiap presiden lewat. Pada saat Soeharto ulang tahun, mereka dipanggil ke Jalan Cendana untuk menghibur.

Tempat tinggal presiden Indonesia dimanapun berada, selalu membawa kebahagiaan dan juga kesengsaraan bagi warga yang tinggal di sekitarnya. Yang jelas harga properti pasti tinggi dan terangkat kelasnya menjadi daerah elite. Tapi sebaliknya bisa merepotkan dari segi keamanan. Petugas keamanan pasti selalu menanyakan maksud dan tujuan setiap penghuni lainnya yang datang dan pergi. Tanya saja orang yang tinggal di sekitar Jalan Cendana (rumah Soeharto, Kuningan (rumah Habibie), di Ciganjur (rumah Abdurrahman Wahid), di Kebagusan (rumah Megawati Soekarnoputri) atau di Cikeas (rumah Susilo Bambang Yudhoyono). “Ya gimana, tetangga saya presiden”, kata seorang penghuni. (*)

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.