Presstitute

JELANG HARI PELANTIKAN PRESIDEN RI 

SERBA SERBI PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA (6)
 
Presstitute

Iwan Satyanegara Kamah – Jakarta

SAYA tidak tahu apa tepatnya arti kata /presstitute/. Saya hanya tahu waktu membaca komentar sinis Pangeran Andrew dari Kerajaan Inggris, yang selalu pusing dengan ulah pers di sana. Pers Inggris terkenal terlalu jauh masuk dan mencampuri urusan pribadi orang. Yang menjadi korban, dan selalu, adalah anggota kerajaan, termasuk sang pangeran itu. Begitu kesalnya dengan profesionalisme pers di sana, His Royal Highness Duke of York itu, menjuluki pers sejenis itu sebagai ‘presstitute’. Pelesetan dari kata prostitute. Pelacur. Duke of York ingin menyamakan pers dengan pelacur, yang mengumbar hal-hal pribadi seseorang ke ruang publik.

Di Indonesia tidak sekejam itu. Tidak ada ‘presstitute’ semasa Presiden Soekarno atau Soeharto. Jangankan presstitute, pers yang beneran saja pada takut sama kekuasaannya, apalagi macam-macam dengan kreatifitas yang mengekploitasi kesengsaraan orang. Tidak dibiarkan untuk bernafas. Akibat dari tekanan juga pembungkaman terhadap pers, lahirnya media alternatif baru yang lebih segar dan tak punya tanggung jawab.

Bisa plesetan, gossip dari mulut ke mulut, rumor, isu, sas sus atau selebaran gelap. Yang terakhir ini saya sering dapat dan baca, kemudian percaya sepenuhnya. Mengapa? Karena dulu belum ada internet dan agak susah membuat konfirmasi. Daripada capek-capek, mending percaya saja, betul atau tidak bukan urusan saya.

Saya percaya dengan gosip-gosip yang terkenal dan tersimpan tanpa cacat di pikiran masyarakat, bahwa Presiden Soeharto punya affair dengan seorang aktris tahun 1970an yang terkenal. Dia dijuluki ‘bom seks Indonesia’ dan berwajah sangat menggoda. Sampai sekarang gosip itu masih dipercaya dengan baik oleh masyarakat, meski orang yang digosipkan sudah meninggal pada 28 Januari 2008 lalu.

Soekarno-Monroe

Marilyn Monroe Standing with President Sukarno
Original caption: Indonesia's President Sukarno is shown chatting with actress Marilyn Monroe during a party given by Mr. and Mrs. Joshua Logan at a Beverly Hills Hotel last Tuesday night. The party was given in honor of Logan's brother-in-law, Marshall Noble, who is traveling with the 62 members of the Indonesian visiting group. Sukarno had expressed a desire to meet Miss Monroe, who he said is one of the favorite actresses in his country.
Image: © Bettmann/CORBIS
Photographer: George Snow
Date Photographed: June 1956

Bagaimana bisa tumbuh subur gosip semacam itu terhadap presiden Indonesia? Soekarno digosipkan dengan bebas nyaris sempurna berhubungan seks dengan wanita-wanita KGB. Bahkan foto Soekarno dan Marilyn Monroe yang mulai menguak dan tersebar atas jasa internet, dibumbui dengan gosip-gosip tak berdasar dan, menurut saya, sangat murahan dan tidak berdasar. “Di Malibu ada kamar khusus yang pernah dipakai oleh Bung Karno sama Marilyn Monroe”, kata seorang teman saya mengomentari sebuah foto besar Soekarno dengan Monroe di sebuah restoran baru di hotel berbintang di Jakarta. Dalam hati saya, kapan Soekarno ke Malibu ya? Kok bisa jadi berkembang ngawur kalau kita menggosipkan presiden kita? Dan kita menikmatinya.

Kalau Soekarno digosipkan berkencan dengan wanita siapa aja dan jenis apa saja, pasti dipercaya orang, karena dia sendiri menyediakan tempat itu untuk orang mempercayai. Seperti gosip Soekarno ditawari wanita-wanita penghibur oleh KGB, agen spionase Uni Soviet, yang kemudian difilmkan untuk menjebaknya. Gosip itu masih tumbuh dan dipercaya orang hingga semakin subur.

Pada April 1990, ketika saya masih kuliah semester awal, saya diajak untuk menjadi panitia dalam sebuah kongres alumni kampus saya di sebuah hotel. Saya ditugaskan membuat bulletin harian tentang kegiatan kongres tersebut. Wah, senengnya… ternyata kamar saya tempat bekerja dijadikan tempat ngobrol para mahasiswa angkatan tua dari Universitas Indonesia, tempat saya kuliah. Saya akhirnya bertemu dengan idola saya, pelawak Dono. Juga bertemu mahasiswa yang berani melawan Presiden Soeharto, seperti Hariman Siregar dan juga Peter Sumaryoto, serta mahasiswa lainnya.

Hariman Siregar namanya berkibar ketika dia menjadi tokoh sentral menentang kedatangan Perdana Menteri Jepang Kakuei Tanaka pada 15 Januari 1974, yang kemudian terkenal dengan peristiwa “Malari” (akronim dari Lima Belas Januari). Mereka berdemo dengan anarki sehingga Jakarta lumpuh. Hariman pun dipenjara. Keberaniannya diulangi oleh Peter Sumaryoto tahun 1982 untuk masalah yang berbeda, yang akibatnya Peter ditahan aparat keamanan.

Anehnya, kakek Peter adalah gurunya Nugroho Notosusanto, rektor UI waktu itu. Nah, di dalam kamar kami (saya bertugas dengan beberapa teman), para mahasiswa tua yang sering berdemo itu ngobrol asyik. Saya nggak tahu kenapa dipilih kamar kami yang dijadikan tempat pembuatan buletin kongres. Mungkin karena bebas merokok dan bersuara keras. Di situ ada seorang mahasiswa fakultas teknik (kalau tak salah), yang pernah melempar telur busuk Menteri Muda Pemuda dan Olah Raga Abdul Gafur, ketika datang berceremah di UI tahun 1978, hingga di skors.

Dari mulut obrolan mereka itu, saya nguping tentang aktifitas mereka tahun 1970an menentang pemerintahan Presiden Soeharto. “Kita bikin aja selebaran gelap, bahwa Pak Harto punya affair dengan (…)”, kata seorang mahasiswa yang melempar telur busuk ke Menteri itu. (…) adalah nama aktris yang saya tak mau sebutkan. “Oh jadi itu bo’ong?”, kata saya. “Iyalah bohong. Habis kita bingung mau nulis apa lagi di selebaran”, katanya. Lalu gosip itu ditambahkan dengan pemyemprotan pemadam kebakaran terhadap aktris itu, atas perintah Ibu Tien. Semua itu bohong! Ternyata….

Sejak itu, saya tidak bisa mempercayai gosip apapun tentang presiden Indonesia. Apalagi gosip-gosip tentang Soekarno yang tidur dengan wanita A dan wanita B, wanita C, wanita D sampai wanita Z. Ya, agak susah membuktikannya. Kita aja yang ngumpet-ngumpet, sering ketahuan. Lha, seorang presiden Indonesia tidak bisa sendirian enak-enakan mau melakukan sesuatu yang dia inginkan.

Paling tidak ada ajudan, pengawal, atau menteri yang selalu setia. Sampai detik ini kebenaran tentang isu Soekarno pernah dijebak untuk tidur dengan wanita kemudian difilmkan, tidak pernah ada. Baik dari ajudannya Soekarno, yaitu Pak Sugandhi (suami Mien Sugandhi), Bambang Widjanarko (ayah penyanyi Inggrid Widjanarko), dr. Soeharto (dokter pribadi yang selalu turut kemanapun Soekarno pergi) ataupun dari Mangil (pengawal setia pribadinya sejak 1945 sampai akhir kekuasaannya).

Mungkin saja mereka bungkam, tapi rasanya sulit mereka menyumbunyikannya. Setiap gerak-gerik Soekarno selalu disorot dan diingat oleh siapapun. Kalau soal genit sama wanita, oh…itu diperlihatkan langsung oleh Soekarno, tak perlu dikonfirmasi lagi. Pernah seorang wartawati di Istana minta tandatangannya, lalu diberikan oleh Soekarno sambil membubuhkannya di atas kertas yang diletakkan di punggung si wartawati tersebut. Tiba-tiba pulpen Soekarno macet karena kena tali BH. “Ini apa?”, kata Soekarno bergurau.

Banyak gosip tentang presiden yang dikembangkan oleh masyarakat dan ada sebagian dikutip dan disaji oleh pers ke masyarakat, sehingga menjadi sajian tak bermutu. Beda dengan gosip selebritis yang ditunggu-tunggu. Sebaliknya gosip tentang presiden sangat bermuatan politis dan tidak mudah dipercayai publik. Musuh politik Presiden Abdurrahman Wahid sangat getol mengeksploitasi segala hal untuk menjatuhkannya. Menjelang kejatuhannya dia digosipkan dengan seorang wanita, yang ditampilkan gambarnya saat bersama Presiden Wahid yang sedang bercelana pendek dan merapat ke tubuh Wahid. Dari visual itu (entah benar atau tidak), orang akan dibentuk opininya untuk menilai kualitas moral Presiden Wahid.

Presiden Yudhoyono juga digosipkan oleh seorang pimpinan parlemen, bahwa Yudhoyono pernah menikah sebelum masuk Akabri. Sebuah tuduhan yang tak masuk akal dan sengaja dibuat agar presiden terlihat terhina dan dizalimi. Belum pernah dalam sejarah republik ini, ada warga negara berani menuduh seorang presiden dengan tuduhan yang sifatnya pribadi.

Pada masa Presiden Megawati Soekarnoputri juga penuh gosip yang kebenarannya tidak bisa dipertanggung jawabkan. Dia dan juga suaminya diisukan memperkaya diri dengan membuat banyak Stasiun Pengisian Bahan Bakar (pom bensin). Padahal jauh sebelum menjadi presiden, Megawati, keluarganya serta para tokoh pimpinan partainya, banyak yang memiliki pom bensin, yang menjadi sumber dana membiayai kegiatan oposisi mereka melawan pemerintahan Soeharto. Namun anehnya, perjalanan rumah tangga Megawati dengan menikah sampai tiga kali dengan banyak cerita pilu yang menyedihkan, tidak pernah diusik-usik oleh pers atau pihak manapun yang tak menyukai dirinya.

Gosip, isu, desas desus atau rumor terhadap presiden-presiden Indonesia, lahir karena jalur resmi untuk memperoleh informasi yang diyakini tidak ada. Jadi sumber lain akan lebih dipercaya sebagai sebuah kebenaran. Ketika orang mau tenggelam atau hanyut, apapun akan diraih dan digenggam, meski hal itu tak mungkin menolong dia. (*)

61 Comments to "Presstitute"

  1. alicia  30 April, 2011 at 18:37

    foto nya bung karno koq kayak editan ya..???

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *