Search in Archive

Select a date
Select a category
Search with Google

Sibuk Di Kebun Belum Tentu Berkebun

Monday, 12 October 2009

Viewed 1203 times, 1 times today | 29 Comments |

Tammy – Sydney

Pertama kali ngeliat rumah yang sekarang kami tempati ini, suamiku langsung jatuh hati, terutama dengan halamannya yang luas. Front yard di-landscaped dengan apiknya. Sementara backyardnya luas dan ditumbuhi pohon palem. Sementara bagiku yang namanya halaman nggak begitu penting. Yang penting adalah rumahnya. Halaman luas cuma nambahi kerjaan bersih-bersih saja. Apalagi kalo ditanami tanaman hias macam-macam. Siapa yang mau ngerawat?Aku sudah wanti-wanti sama suami, pokoknya aku emoh kalo disuruh bersihin halaman ato suruh gardening. Suamiku janji, dia yang bakal bertanggung jawab atas kebersihan dan keasrian halaman rumah.
 
Tak lama setelah pindah ke rumah ini, barulah aku sadar, halaman yang katanya low-maintenance ini ternyata cukup menguras tenaga. Dan mau nggak mau aku terpaksa ikut bersih-bersih halaman juga karena aku merasa bersalah kalo menuntut suami bersih-bersih halaman. Lah dia udah kerja lima hari seminggu, masak weekend mau disuruh bersih-bersih. Suamiku sendiri baru sekali motong rumput sudah kapok dan akhirnya terpaksa kita bayar orang untuk rutin potong rumput.
 
Masalah pertama yang terasa adalah banyaknya daun palem kering yang jatuh. Dan daun yang kering itu nggak bisa langsung masuk bin karena kegedean. Jadi mesti dipatahin, terus diikat, baru bisa masuk bin. Lagian waktu itu bin-nya cuma satu untuk jatah sebulan, jelas nggak cukup. Jadinya mesti ditumpuk. Terus terang aku sempat ngomel ke suami masalah pohon palem di rumah kami. Kalo satu-dua kan wajar. Lah ini aku hitung ada at least 40 pohon palem dari beberapa jenis. Empat puluh! “Why would you plant so many palm trees in your back yard?!” protesku bolak-balik ke suami. Betul-betul nggak habis pikir. Halaman begitu luas hanya ditanami pohon palem yang nggak menghasilkan buah.
 
Aku bandingkan dengan kampung halamanku. Di Indonesia, orang punya tanah secuil saja pasti ditanami macem-macem tumbuhan apotik hidup. Kalo punya dua cuil ya ditanami pohon yang berbuah: belimbing, mangga, jambu, dll. Contohnya di rumah orang tuaku nggak ada kebunnya. Tapi di lantai atas di area jemur baju banyak pot untuk menanam kucai, cabe, sereh, kangkung, dll. Suamiku bilang Indonesia kan cuma dua musim, jadi tanaman lebih gampang tumbuhnya. Lagian kalo punya tanaman buah bisa mengundang possum (jenis marsupial yang bentuknya mirip tikus gedhe). Memang aku perhatikan di sini kebanyakan orang paling banter cuma nanam jeruk atau lemon.
 
Karena sering protes nggak punya tanaman berguna, akhirnya suamiku janji mau beliin pohon lemon. Aku bilang: tanam sendiri aja dari biji. Suamiku bilang: Di sini mesti beli bibitnya. Gak bisa nanam dari biji. Aku ngotot: Kalo di Indonesia biji dilempar aja bisa tumbuh. Nanam cabe juga dari bijinya. Akhirnya aku coba tanam biji jeruk dan cabe. Betul juga, tumbuh sih tumbuh, tapi nggak lama mati. Atau aku yang nggak becus melihara ya?
 
Balik ke masalah pembuangan daun palem kering, sekarang lebih mending deh, karena sejak Juli kemaren jadwal kedatangan vegetation waste truck jadi lebih sering. Asalnya cuma sebulan sekali. Sekarang jadi dua minggu sekali. Dulu masing-masing rumah hanya dijatah satu bin, sekarang jadi dua bin. Tapi konsekuensinya, semua sampah hijau harus masuk bin, gak boleh ditumpuk atau ditaruh box atau container lain selain bin yang telah disediakan. Waktu itu aku sempat foto tumpukan daun kering karena ingin nunjukin ke teman banyaknya daun palem yang aku kumpulin tiap bulannya. Saat ini (entah kalau summer nanti), jatah 2 bin untuk dua minggu cukup lah untuk menampung daun palem kering kami, tapi tidak untuk yang lainnya.
 
sampah hijau
 
Kebetulan rumah kami di pojok jalan dan berpagar. Di dalam pagar ditumbuhi hedges yang tingginya kira-kira 1,5 meter. Apa ya bahasa Indonesianya? Biasanya aku sebut tanaman pagar. Nah karena ada di dua sisi pagar, jadinya lumayan juga panjangnya deretan tanaman ini. Supaya keliatan tetap cantik, kira-kira tiga bulan sekali harus di-trim, lihat-lihat musimnya. Kalau summer lebih cepat tumbuhnya. Nah kalau sudah waktunya nge-trim hedges, sampahnya bisa banyak banget. Potongan daun-daun itu bisa ngisi penuh satu bin. Sementara sampah daun palem sendiri bisa mengisi 2 bin itu hampir penuh. Jadi mesti diakali tiap dua minggu buang sampah hedges sedikit demi sedikit. Cafeeek deh!
 
Siapa yang ngetrim hedges? Asalnya ya suami yang motong. Dia beli electric trimmer. Tapi karena hedges-nya tinggi banget, motongnya nggak bisa lurus. Aku yang perfeksionis dalam hal beginian, otomatis gak tahan ngeliatnya. Akhirnya aku putuskan untuk ngetrim pakai trimmer manual (gunting besar), karena electric trimmernya berat. Untuk motong bagian atasnya tentu saja mesti naik tangga. Jadi suamiku yang bagian megangi tangga, aku yang bagian motong. Pertama kali motong cuma bisa separohnya saja, lengan rasana udah pegel semua. Sekarang lumayan sih bisa sekali selesai. Gak perlu ke gym nih kayaknya lengan udah kekar. Ternyata ada gunanya juga kerja rodi di kebun.
 
hedges
 
By the way, setelah tinggal di rumah ini setahun penuh, baru tahu kalau selain penuh dengan palm trees, ternyata banyak juga tanaman kembang. Karena banyaknya, aku sampai ingin motret. Ini aku kirim sebagian saja, karena kalau semuanya terlalu banyak, ada kira-kira 25 jenis kembang. Jadi sorry nih nggak bisa ngikuti sarannya Chiko untuk sharing foto weeds. Kebanyakan euy!
 
Ya begitu lah, tiap kali ada bunya yang mekar, aku bersibuk ria jepret-jepret. Pas aku posting di Face Book, teman-teman pada nanya: Sejak kapan suka berkebun? Weleh! Siapa yang suka berkebun, wong yang nanam bukan aku kok. Aku cuma menikmati hasilnya. Bunga-bunga ini juga nggak pernah aku siram. Pokoknya aku di kebun hanya bersih-bersih dan motret tok. Gak becus yang lainnya. Seperti yang aku bilang, nandur lombok ae gak tukul kok! Eh bukannya mau claim kalo becus motret kayak Gandalf loh ya. Maksudku yang namanya motret asal jepret kan pasti keluar gambarnya.

Oh ya, kalau teman-teman Baltyra ada yang tau nama bunga yang belum aku kasih nama, tolong dikasih tau ya. Thanks!

white agapanthus

pride of madiera

iris

hebe

bunga5

bunga4

bunga3

bunga2

bunga1

blue agapanthus

Share This Post

Posted by Monday, 12 October 2009 on 01:32.

Categories: Lensa & Fotografi. Follow the comments to this article via the RSS 2.0.

You can leave a response or trackback to this entry

29 Responses to “Sibuk Di Kebun Belum Tentu Berkebun”

Pages: [3] 2 1 »

  1. 29
    RYc no mama Says:

    Tammy , wah , eman banget kl hanya ditanami palem…ganti saja dgn pohon pisang …hehehe, Kebetulan sejak tinggal di Jepang , aku suka berkebun , ketularan teman2….aku tanami pohon pisang ( tp ngga pernah berbuah pisang…hiks ,hiks ) , kesemek , kelengkeng ( tp koq ngga bisa gedhe ) …adenium, kembang sepatu pokoknya aku usaha tanam aneh2 , yg justru “langka” di jepang…hehehehe…repotnya pas winter , aku pasti kalang kabut , nelongso kalau lihat tanaman langka-ku matiii …hiks ,hiks ..

  2. 28
    MT Says:

    kl ada bunga biasanya ada serangga….foto macro coy….

  3. 27
    awesome Says:

    pengin juga punya halaman luas, bisa kejar2an sama dogi2ku

  4. 26
    awesome Says:

    setuju sama BJ ..
    wah, katanya asal nyjepret, tapi hasilnya bagus2. bikin iri aja eui

  5. 25
    Buto Says:

    Tammy, halaman ombo enak bisa main taichi ben dina…

  6. 24
    nevergiveupyo Says:

    oia…jadi kepikiran : sibuk di kebun karena motret-2 juga ttp kelihatan sibuk ya…

    hehehehe, kidding

  7. 23
    GC Says:

    jadi ceritanya, berkebun karena pengen dipamerin ke facebook yak
    foto bunga yg ke-8, seperti anggrek ya..

  8. 22
    Tammy Says:

    Pak Bagong: Hahaha… iya Pak, bersyukur punya halaman ombo bisa main kejar2an sama kucing2ku. Kalo berkebunnya jangan harap deh. Itu kalo tanaman pagar dibuat kompos emang bisa sih, cuma saya males aja. Kalo daun palem kayaknya susyeh deh, kan buesar dan tebal, busuknya luammaaaa. Keburu numpuk sak gunung, yg di dasar blm tentu busuk.

    Emang idealnya gitu ya, kalo punya halaman ombo bisa ditanami macem2. Lah ini sudah penuh sama palem, udah gak ada ruang. Sampe skrg kalo ngomong palem masih suka sewot, ngentek2i enggon!! Kepingin punya pohon lemon aja mesti ditanam di pot. Kalo saya prinsipnya kayak orang Italy: If they don’t produce, don’t plant them.

    Linda: Ohhh ternyata dirimu toh yg bikin polusi itu! Hehehe… kalo di rumah ortu, pembantuku tuh yg suka bikin kompos. Gak pake dibakar tuh. Di sini orang2 yg suka berkebun juga suka bikin kompos. Kalo aku ogah, selain males, juga mengundang hama.

    Ilhampst: rambai/menteng tuh apa ya? Kok aku gak pernah denger. Kuper kali ya.

  9. 21
    Bagong Julianto Says:

    Tammy>>>>>segeeeerrrrrr:

    1. Sampah (daun, tangkai, batang) palm dan ataupun tanaman pagar tidak harus diantrijejalkan ke bin. Pasti bisa diatur lobang di halaman belakang untuk pembuatan kompos>>>>> jadi pupuk>>>>makin segeerrrrr.

    2. Trimming hedgesnya, disarankan rotasi bisa diundur>>>> Boleh tampil sedikit beda ‘kan? Gak harus ikuti pakem mesti lempeng, lurus, nglencir, sedikit natural di setiap jarak, katakan 50 cm, bisa unik.

    3. Bersyukur ‘tuh punya halaman ombo. Ingat pelajaran PKK warisan Eyang jadul: halaman belakang untuk tanaman buah dan sayur, halaman samping untuk tanaman empon-emponan (herbal tanaman obat), halaman depan untuk tanaman hias (bunga dan ataupun tanaman pagar).

    4. Bersyukur lagi punya halaman ombo>>>>lebih banyak jumlah dan jenis tanaman>>>lebih banyak produksi oksigen>>> lebih banyak serangga dan burung datang…..

    5. Bersyukur lagi punya halaman ombo>>>>>> lebih banyak exercises untuk keluarkan keringat>>> lebih lancar aliran darah>>>lebih sehat lahir batin….
    Lanjut…….

Pages: [3] 2 1 »

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Image (JPEG, max 50KB, please)