Sumbangan Sukarela & Pendidikan Gratis

Cinde Laras – Indonesia 

Ada yang baru dari iklan DIKNAS soal pendidikan gratis. Dibilang kalau saat ini, sumbangan sukarela orangtua untuk pendidikan anak-anak di sekolah sangat dianjurkan, untuk biaya ekstrakurikuler misalnya, karena hal itu akan membantu semakin majunya pendidikan anak-anak kita. Dengar iklan itu, rasanya jadi sedih. Mengapa baru sekarang dibuat pengumuman seperti ini .
 
Kita tengok perihal pendidikan gratis terlebih dulu. Pendidikan gratis untuk siswa negeri dan swasta (pihak sekolah swasta juga memperoleh bantuan dana, meski tidak 100%) sesungguhnya adalah tujuan mulia dari menteri pendidikan kita. Siapa orangtua yang tak senang mendapati anak-anak mereka dapat bersekolah di sekolah gratis, tidak harus membayar biaya pendidikan sampai mereka lulus ? Begitu bangga para orangtua, sampai-sampai mereka banting-tulang mencari tambahan agar anak-anak mereka dapat mengikuti bimbingan belajar, supaya bisa masuk ke sekolah favorit yang sama gratisnya.
 
Bagaimana tidak senang ? Dalam benak orangtua, pasti mereka mengira akan mendapat biaya pendidikan gratis..tis…tis…, dengan buku-buku pegangan gratis untuk anak-anak mereka. Ya ! buku gratis ! Tapi Pak Mentri kita sepertinya kurang memperhitungkan, dan orangtua murid lupa (atau barangkali tidak tau ?), karena ternyata selama bersekolah, anak-anak mereka tak akan hanya membutuhkan buku pegangan, tapi juga prasarana lain, serta pelajaran tambahan seperti pendidikan ekstrakurikuler olahraga atau kesenian misalnya.
 
dreamstimefree_9958466
 
Untuk pengadaan buku pegangan itu sendiri, sekolah hanya akan mendapat kesempatan dari DIKNAS untuk mendapatkan buku baru, maksimal untuk 2 bidang studi setiap tahunnya. Masa pakai buku pegangan itu sendiri adalah selama 4 tahun. Padahal kualitas buku jaman sekarang sangat buruk. Jangankan 4 tahun, baru setahun saja sudah banyak yang rusak. Lalu darimana sekolah mendapat biaya untuk pengadaan buku baru (sebagai pengganti yang rusak) dan biaya kegiatan ekstrakurikuler kalau tidak dari orangtua murid itu sendiri ?
 
“DILARANG MEMUNGUT BIAYA SEPESERPUN DARI ORANGTUA MURID, DENGAN DALIH APAPUN !”. Itu adalah pesan yang selalu diulang oleh Pengawas dari Kantor DIKNAS kepada kami yang menjadi pengurus Komite di sekolah anak-anak kami. Padahal kami tau betul seperti apa sekolah tempat anak-anak kami belajar. Sekolah yang cuma punya 7 lokal kelas itu harus bergantian digunakan oleh anak-anak dari kelas 1 hingga kelas 6 yang jumlah keseluruhannya ada 16 kelas !
 
rupiah
 
Muridnya sendiri ada 658 orang. Toilet ada 4 ruangan, tapi yang 2 mampet – tidak bisa digunakan. Septiktank yang tidak pernah dirawat, hingga baunya sangat menyengat. Dan kantin tenda biru yang setiap saat nyaris ambruk terkena hujan angin tiap kali musim hujan datang. Jangan ditanya seperti apa repotnya kalau anak kita sudah kebelet mau ke belakang, padahal toilet yang akan digunakan masih dipakai anak lain, harus ngantri lagi ! Maka tak heran kalau akhirnya mereka jadi sering mengompol. Itu kalau cuma buang air kecil, lalu bagaimana kalau ada yang diare lalu tak kuat mau buang air besar ?
 
Serba salah, semua jadi serba salah. Mau mengajak para orangtua untuk iuran bersama agar bisa dibangun toilet baru yang memadai demi alasan kesehatan, takut kena semprit dari DIKNAS. Kan tidak boleh memungut ! Mau mengandalkan kekuatan beberapa orangtua siswa yang mampu saja, rasanya juga tidak bijaksana. Mentang-mentang lebih punya, diminta sumbangannya melulu. Nanti orangtua lain yang tidak masuk kategori ini bisa-bisa malah mati rasa, makin tidak mau ikut memikirkan kondisi sekolah anak-anaknya.
 
Semakin menggantungkan pada kesanggupan orang lain. Mereka terima beres, tinggal ikut pakai. Gak adil juga kan ? Lagi pula, berapa sih besarnya sumbangan sukarela ? Apa iya bisa untuk memenuhi semua kebutuhan yang ingin dicapai ? Rasanya tidak mungkin bisa menghimpun biaya sebanyak itu. Maka yang bisa dilakukan Komite sekarang adalah memikirkan semua cara. Hasilnya ?

Wa’allahualam bissawab…
 
 

 

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.