Vietnam Rose

JELANG HARI PELANTIKAN PRESIDEN RI
 
SERBA SERBI PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA (7)
 
Vietnam Rose

Iwan Satyanegara Kamah – Indonesia

“PRESIDEN Indonesia tukang jalan-jalan”. Begitu cemooh yang selalu terdengar sejak lama. Presiden yang sering keluar negeri adalah Soekarno. Sekali berangkat bisa lima atau selusin negara yang dikunjungi dengan memakan waktu berhari-hari, berminggu bahkan satu bulan lebih. Kunjungan seorang presiden Indonesia ke luar negeri bisa memberi banyak manfaat untuk kepentingan dan citra Indonesia. Seorang kepala negara atau pemerintahan sebuah negara yang jarang pergi ke luar negeri, dianggap negaranya sering tidak stabil atau takut digulingkan kalau lagi pergi. Banyak presiden atau pemimpin yang sedang pergi, tiba-tiba pulang sudah digulingkan. Presiden Gambia, sebuah negara di Afrika barat, sedang asyik kondangan ke London menghadiri pernikahan Pangeran Charles dan Lady Diana Spencer, eh…pulangnya sudah nggak jadi presiden lagi. Dikudeta!

Presiden Ferdinand Marcos atau Presiden Korea Selatan yang dibunuh Park Chung-hee, terkenal tak suka berkunjung ke luar negeri. Juga Raja Saudi Arabia dikenal tak menyukai mengunjungi negara lain. Mereka takut kekuasaannya hilang bila sedang pergi berkunjung ke luar negeri. Kalaupun pergi, mereka tidak mau jauh-jauh. Paling ke negara tetangga . Seperti Marcos itu. Beraninya datang ke Jakarta, atau ke Manado bertemu sang tuan rumah, Soeharto. Nah, ini beda dengan presiden-presiden Indonesia yang terkenal sering pergi ke luar negeri, kecuali Presiden BJ Habibie.

Presiden Soekarno sering dicemooh senang bepergian, bersenang-senang ke luar negeri. Apalagi ketika dia meninggalkan rumah, ketika keadaan ekonomi sedang morat marit dan tidak layak untuk ditinggalkan. “Kemana aja sih presiden, negara lagi morat-marit begini?”, komentar golongan yang tak menyukai leha-leha Soekarno ke luar negeri. Benarkah dia foya-foya ke luar negeri?

Tidak seburuk itu tuduhan yang dilemparkan ke Soekarno. Indonesia adalah negara baru dan dunia harus tahu apa Indonesia, seperti apa dan di mana Indonesia sebenarnya. Kepergiannya yang sering ke luar negeri lebih dipandang sebagai masalah public relation untuk Indonesia. Bayangkan, dia sampai pergi ke kota La Paz, ibukota Bolivia yang merupakan ibukota negera tertinggi di dunia di pegunungan Andes, sampai dia hampir pingsan kehabisan nafas karena kurang oksigen. Ngapain ke sana? Secara ekonomi dan geografis, Indonesia dan Bolivia terlalu jauh dan kurang penting untuk dilihat. Itu baru sebuah contoh. Belum lagi dia pergi ke Eslandia. Apa pentingnya negera Skandinavia itu untuk kita? Soekarno juga ke Guinea, sebuah negara miskin di Afrika barat. Untuk apa lagi ke sana? Keuntungan secara langsung memang tidak ada, malah terkesan menghamburkan uang.

Tapi buktinya, setelah itu nama Indonesia banyak dikenal dunia, karena presidennya datang sendiri ke sana. Brasil pernah menerbitkan prangko bergambar Soekarno untuk memperingati kedatangannya ke sana. Bahkan dia berkunjung ke sebuah kota baru yang kemudian menjadi ibukota negeri Ronaldo itu, Brasilia. Ada pameo yang mengatakan, “kunjungan Soekarno 2 hari ke sebuah negara, sama dengan hasil kerja dubes RI di sana selama 2 tahun”. Hampir semua bagian dunia didatangi Soekarno, kecuali Australia dan Selandia Baru. Dia agak kurang sreg dengan dua tetangga bule itu.

Pernah kakak saya, yang sedang dalam kapal yang akan masuk ke Terusan Panama dari Pasifik menuju Karibia, terperanjat saat ngobrol dengan seorang petugas di terusan itu. Begitu sang petugas tahu kakak saya dari Indonesia, langsung dia menyapa, “Soekarno, Soekarno!”. Dari mana dia tahu? Dan Soekarno tak pernah ke Panama.

Kunjungan Soekarno begitu bermakna bagi tuan rumah. Maroko menamakan sebuah jalan di ibukota Rabat dengan nama Soekarno. Pakistan membangun sebuah memorial untuknya di kota kelahiran Zulfikar Ali Bhutto, perdana menteri Pakistan yang menganggap Soekarno adalah mentor politiknya. Kaisar Hirohito yang dianggap kejam dan bertanggung jawab atas Perang Dunia II, selalu menjamunya setiap Soekarno ada di kota Tokyo. Bahkan dia menikahi seorang gadis Jepang menjadi istrinya yang dia temui saat berada di negeri Sakura. Ini menjadikan Jepang negara paling banyak dikunjungi Soekarno selama dia menjadi presiden. Sebelas kali dia berkunjung ke sana, dengan total lama tinggal di sana sebanyak 117 hari atau 4 bulan!

Soekarno

Di negera-negara komunis kedatangan Soekarno disambut sangat meriah. Di negara-negara Islam dia datang disambut kelewat batas, kadang dijamu dan diberi hadiah mewah. Di Vatikn dia disenangi dan diberi mendali kehormatan oleh paus. Di Afrika dia dipuja sebagai “rasul pembebas Asia Afrika” dari kolonialisme. Di Amerika Latin dia disayang dan dikenal sejiwa dengan perasaan bangsa Latin yang terkebelakang yang ingin bebas dari tekanan kolonialisme. Di Uni Soviet disambut gempita dan berpidato di Stadion Lenin, Moskow, bahkan sempat mampir di sebuah mesjid yang sudah rusak di Leningrad (sekarang Peterburg), yang kemudian dipugarnya. Di Amerika dia disambut ramah, dari sembahyang di Islamic Center, Washington, DC, sampai khotbah di Gereja Mormon di Salt Lake City, Utah.

Filipina adalah negara pertama yang dikunjungi oleh presiden Indonesia. Itulah kunjungan pertama Soekarno ke luar negeri sebagai presiden sampai yang terakhir dia datang ke Paris tahun 1964. Setelah itu dia tak pernah ke luar negeri sampai akhir hayatnya. Konon, di Filipina itu dia diberi tongkat komando yang sering dia bawa kemana-mana, bak seorang raja sambil menunjuk-nunjuk dengan tongkat kalau sedang berpidato. Dia digosipi bahwa tongkat itu “jimat”nya, padahal benda itu tak punya isi apa-apa. “Ini tongkat biasa kok, bukan jimat”, kata putranya Guntur.

Beda dengan Soekarno, Soeharto justru juga lebih banyak ke luar negeri dibanding pendahulunya. Sewaktu baru terpilih menjadi presiden oleh parlemen sementara pada 27 Maret 1968 , Soeharto langsung pergi ke Jepang pada 28 Maret. Peristiwa ini mencibir pengangkatannya menjadi presiden RI yang baru sebagai sebuah “sandiwara”. Masak sih, baru diangkat besoknya langsung ke luar negeri untuk kunjungan kenegaraan yang pertama. Artinya, kunjungan itu dirancang dan dipersiapkan jauh sebelum dia terpilih, sehingga pengangkatannya memang sudah diatur bahwa dia yang harus dipilih meski tak ada calon lain.

Tahun-tahun pertama Soeharto sering pergi ke luar negeri untuk minta bantuan. Kebanyakan negara barat yang mendukungnya untuk menyegarkan hubungan yang sempat terluka selama akhir kekuasaan pedahulunya. Setelah itu, Soeharto malas ke luar negeri, dan lebih memusatkan pada pekerjaan rumah. Dia lebih senang mengutus menteri luar negerinya, Adam Malik yang gesit dan ahli berdiplomasi. Bahkan pengganti Malik, yaitu Mochtar Kusumaatmadja, menjalankan peran yang sama. Dia lebih sering jalan-jalan ke luar negeri mewakili bosnya. Saking malasnya ke luar negeri, pernah di tahun 1978, Soeharto tak pernah meninggalkan Indonesia satu hari pun.

soeharto

Selama dia jadi presiden, kunjungan ke Belanda dan Bosnia Herzegovina dikenal . paling fenomenal. Untuk pertama kalinya seorang pemimpin Indonesia datang ke “negeri majikan” yang pernah menjajahnya. Bahkan Soeharto sendiri sewaktu muda pernah bertempur melawan Belanda. Uniknya, dia ke sana disambut demo yang kebanyakan dilakukan oleh orang-orang komunis. Tapi tuan rumah meredam dengan sukses pendemo tersebut, sehingga Soeharto mulus pergi ke Belanda dan bobo satu istana dengan tuan rumah. Pertama kali dalam sejarah, seorang tamu negara di Belanda bobo di Istana Huisten Bosch, bareng Ratu Juliana, tapi lain kamar!

Ketika mulai renta, Soeharto justru makin gemar ke luar negeri di tahun-tahun akhir kekuasaannya. Dia nekad ke Sarajevo, ibukota Bosnia Harzegovina tahun 1996 mendatangi tuan rumah. Bosnia adalah pecahan negara Yugoslavia yang hancur berkeping. Padahal kota itu masih “panas” oleh perang saudara dan banyak berkeliaran sniper atau pembom tersembunyi yang siap menghancurkan obyek apapun dan tak peduli siapa dia. Inilah kunjungan paling menegangkan oleh seorang presiden Indonesia ke luar negeri. Soeharto juga mundur menjadi presiden gara-gara berani meninggalkan tanah air yang sedang kacau, hanya untuk pergi ke Mesir, menghadiri KTT G-15 pada Mei 1998, yang kenyataannya bisa diwakili oleh wakilnya atau menteri luar negeri.

Bagi seorang Soeharto, Yugoslavia adalah negeri yang punya kenangan manis. “Inilah kunjungan saya ketiga kalinya ke Yugoslavia, yang saya lakukan setiap 14 sekali”, komentarnya di atas pesawat menuju pulang dari Beograd pada tahun 1989. Sewaktu masih perwira, dia dikirim Soekarno belajar ilmu militer di sana tahun 1961. Lalu 14 tahun kemudian dia datang lagi mengunjungi Presiden Josip Broz Tito tahun 1975, seorang sahabat sejati Indonesia. Dan terakhir, 14 tahun kemudian dia datang ke tempat yang sama untuk menghadiri KTT Non Blok di sana tahun 1989.

Pada KTT itulah diputuskan bahwa Soeharto akan menjadi ketuanya tiga tahun berikutnya ketika Jakarta ditunjuk menjadi tuan rumah KTT tersebut tahun 1992. Inilah puncak prestasi Soeharto di dunia internasional. Soekarno saja sebagai pendiri gerakan tersebut belum pernah menjadi ketuanya. Tapi sayang, saat dia datang di Beograd, ibukota Yugoslavia itu, dia disambut oleh lagu kebangsaan ‘Indonesia Raya’ yang dipotong oleh tuan rumah. “Kepanjangan lagunya, sedangkan tamu yang mau disambut sudah ngantri”, kata tuan rumah. Emangnya ring back tone bisa disingkat-singkat! Karena menyingkat lagu kebangsaan kita, Yugoslavia kualat. Negeri itu hancur berkeping-keping dengan terjadi pembantaian manusia yang terkejam dalam sejarah Eropa sejak perang dunia kedua.

“Gimana caranya, saya bisa dua hari menghadiri KTT APEC di Kuala Lumpur tahun 1998 tanpa menginap sama sekali?” Begitu kira-kira pikiran Presiden BJ Habibie yang lagi pusing ditinggali pekerjaan rumah yang sangat besar, setelah negerinya terpuruk setelah reformasi. Dia tidak bertanya kepada Deddy Corbusier. “Gampang!”, kata para pembantunya. Habibie terbang pagi ke ibukota Malaysia itu, sore pulang. Besok datang lagi dan sore atau malam pulang lagi. Itulah kunjungan paling unik seorang presiden Indonesia ke luar negeri. Pengganti Presiden Soeharto ini paling jarang berkunjung ke luar negeri, kalau nggak penting-penting banget. Selama jadi presiden dia cuma ke dua negara. Ya Malaysia itu dan ke Vietnam menghadiri KTT ASEAN tahun 1999.

Beda dengan Habibie, penggantinya yaitu Presiden Abdurrahman Wahid paling terkenal sering ke luar negeri. Dia menghabisi 23 hari dari 40 hari pertamanya sebagai presiden di luar negeri. Fantastis! Hanya dalam beberapa bulan saja, Wahid telah mengunjungi puluhan negara. Dialah presiden di dunia yang paling sering ke luar negeri dalam kurun waktu tertentu yang amat singkat. Dan ini tentunya diejek oleh para musuh-musuhnya, karena persoalan dalam negeri menumpuk untuk untuk diselesaikan. “Saya ‘kan punya wakil presiden!”, begitu jawabnya. Kunjungan Wahid memang penuh kritik, tetapi juga penuh manfaat. Dia ingin mengembalikan nama baik Indonesia di mata internasional. Tugas ini dilakukannya dengan baik, sehingga penggantinya, Megawati Soekarnoputri dan Susilo Bambang Yudhoyono, merasakan manfaatnya.

 Abdulrahman wahid

Gaya berkunjung Wahid sangat efisien dan ekonomis. Dia bisa ke tiga ibukota Eropa hanya dalam satu hari! Praktis! Dia sempat datang ke Davos menghadiri Forum Ekonomi Dunia, sebuah pertemuan informal tingkat tinggi. Satu-satunya presiden Indonesia yang datang ke pertemuan itu. Dia juga mendatangi Fidel Castro, sahabat sejati Soekarno yang dilupakan Soeharto selama lebih 30 tahun lebih. Seperti biasa, Castro mendatangi kamar Wahid tengah malam saat dia sedang dengerin wayang kulit. Dia ngobrol dengan Castro dengan santai di kamarnya, bahkan membuat tuan tumah ngakak dengan humor-humornya. Sama seperti yang dia lakukan ketika ke Ruang Oval menemui Presiden Bill Clinton. Tuan rumah terpingkal-pingkal mendengar joke dari Wahid. Begitu senangnya, Clinton mengantar Wahid sampai ke pintu mobil. Jarang-jarang seorang presiden AS mau berbuat seperti itu!

Megawati dan SBY juga ternyata doyan jalan-jalan. Megawati mendobrak tradisi mengunjungi Muammar Khaddafi di tendanya. Khaddafi adalah pemimpin yang kurang disukai gayanya oleh Soeharto. Megawati juga mendatangi sahabat lamanya, yang penuh misteri dimata dunia barat, Presiden Korea Utara Kim Jong-il. Kim pernah ke Indonesia tahun 1964 menemani ayahnya. Sampai sekarang Kim terkenal sebagai pemimpin yang takut naik pesawat. Dia datang ke Moskow dari Pyongyang naik kereta api trans Siberia yang memakan waktu seminggu! Alamaaak!

Megawati dianggap bukan tamu lagi oleh Kim, tapi sahabat lama. Tidak semua tamu negara bisa bebas bertemu Kim Jong-il, kecuali Megawati. Mantan Presiden AS Bill Clinton aja, yang pernah mengancam akan menghancurkan Korea Utara, terlihat grogi saat diterima Kim Jong-il. Beda dengan Megawati yang beberapa kali datang ke Pyongyang dengan santainya, dan diperlakukan layaknya sebagai seorang kepala negara, meski sudah tak menjabat presiden lagi.

Dan yang paling kasihan adalah Susilo Bambang Yudhoyono. Dia menjadi presiden Indonesia yang sudah terjadual untuk pergi ke luar negeri secara teratur. Kok bisa? Dalam beberapa tahun terakhir, banyak tercipta kumpulan kerjasama negara-negara regional atau antar regional, yang secara berkala mengadakan KTT. Misalnya, ada KTT ASEAN, KTT ASEM (ASEAN dan Uni Eropa), KTT APEC, KTT G-20, KTT OKI (kumpulan negera Islam), KTT G-8 (negara Islam maju), KTT G-15 (negara berkembang maju), KTT Non Blok dan KTT-KTT lain yang diagendakan PBB setiap lima tahunan atau sepuluh tahunan.

kunjungan SBY

Repotnya, Indonesia menjadi anggotanya dari semua KTT-KTT itu. Belum ditambah lagi kunjungan kenegaraan yang wajib ke negara-negara ASEAN, Jepang dan AS, serta kunjungan ke negara-negara sahabat yang berdekatan dengan negara yang menjadi tuan rumah KTT-KTT tersebut. Sekali jalan saja, bisa seminggu dihabisikan seorang presiden untuk menghadiri sebuah KTT. Misalnya, Presiden SBY menghadiri sebuah KTT di Roma, Italia. Paling tidak dia akan ke Wina, Paris, Budapes atau Praha. Biar sekalian. Praktis dalam lima tahun menjadi presiden Indonesia, seseorang akan menghabiskan paling tidak satu setengah bulan di luar negeri.

Dari Soekarno sampai SBY, hampir semua negeri telah dikunjungi. Ada sebuah negara yang dikunjungi oleh semua presiden, tapi Presiden Abdurrahman Wahid belum pernah. Atau ada sebuah negara didatangi Presiden Megawati Soekarnoputri, tetapi tidak pernah dikunjungi oleh presiden Indonesia lainnya, seperti ke Libya atau ke Aljazair. Namun ada sebuah negara di dunia yang satu-satunya dikunjungi oleh semua presiden Indonesia.

Tahun 1959 Presiden Soekarno mendatanginya. Soeharto mengikutinya di tahun 1990. Lalu Habibie datang ke negara itu tahun 1999 menghadiri KTT ASEAN. Masih di tahun yang sama, Abdurrahman Wahid berkunjungi ke negara tersebut. Kemudian Megawati Soekarnoputri mengekor dan datang ke sana tahun 2001. Terakhir SBY menghadiri KTT APEC di sana tahun 2006. Semua presiden Indonesia sudah mengunjungi negara tersebut, yaitu Vietnam. (*)

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.