Mari Kita Belanja, Konsumsi, dan Dorong Ekonomi

Junanto Herdiawan – Indonesia

Orang bilang jangan banyak-banyak konsumsi. Katanya harus banyak menabung. Itu adalah petuah yang benar. Tapi di beberapa negara, terutama saat krisis, konsumsi justru jadi penyelamat ekonomi.Saat krisis global melanda, ekonomi berbagai negeri melesu habis-habisan. Untuk mendorong investasi dan ekspor adalah sebuah hal yang sulit dan nyaris mustahil. Lah wong permintaan dunia melemah.

Jadi, paket kebijakan di berbagai negara ditujukan untuk mendorong konsumsi. Stimulus ekonomi, keringanan pajak, penurunan suku bunga, dilakukan dengan masif dengan tujuan memberi nafas dan darah pada ekonomi, khususnya konsumsi masyarakat. Selang beberapa bulan kemudian dampak itu terasa. Ekonomi dunia mulai mengeliat kembali.

Secara khusus di Indonesia, konsumsi adalah kekuatan terbesar dan penyumbang utama pada pertumbuhan ekonomi. Hampir 60% penyumbang pertumbuhan ekonomi kita adalah sektor konsumsi. Sekedar mengingat saja, dalam teori, pertumbuhan ekonomi dapat dicapai dengan penjumlahan beberapa faktor, yaitu, Konsumsi, Investasi, Pengeluaran Pemerintah, serta Ekspor dan Impor (teorinya Y = C+I+G+X-M).

Krisis ekonomi global memang telah mengajarkan kita bahwa ekonomi yang berbasiskan pada kekuatan sektor finansial terbukti bukan segalanya. Kuatnya pasar domestik, investasi, ekspor, dan pengeluaran pemerintah yang cermat adalah cara untuk menghindari dan bertahan dari krisis. Jumlah penduduk yang besar, di masa krisis dianggap menjadi keuntungan. Konsumsi yang besar bukan dosa lagi.

Contohnya adalah perekonomian China dan India. China, mencatat pertumbuhan yang meyakinkan pada kuartal II-2009 sebesar 7.9%. Pemerintah China bahkan menargetkan pertumbuhan sebesar 8% di tahun 2009. Perekonomian China didukung oleh sektor domestik yang kuat. Selain otomotif dan properti, konsumsi domestik satu milyar penduduk China menjadi kekuatan terbesar ekonominya.

Bersama China dan India, perekonomian Indonesia tercatat masih bisa tumbuh positif di tengah krisis global. Pada triwulan III-2009 ini, pertumbuhan ekonomi Indonesia diperkirakan tumbuh 4,2% atau membaik dari perkiraan semula yang hanya 3,9%. Secara keseluruhan tahun 2009, ekonomi Indonesia diproyeksikan tumbuh pada kisaran  4%-4,5%. Angka pertumbuhan tersebut cukup meyakinkan di tengah melesunya perekonomian global. Saya akan mencoba memberikan catatan pada satu hal saja dari komponen pertumbuhan ekonomi kita, yaitu kuatnya konsumsi domestik.

Secara khusus, konsumsi terdiri dari konsumsi rumah tangga dan konsumsi pemerintah. Di sisi konsumsi rumah tangga, pada tahun 2009 kekuatannya akan tumbuh sebesar 5,2%. Angka ini cukup tinggi kalau melihat kondisi krisis yang dialami ekonomi global. Apalagi kalau dibandingkan dengan negara-negara lain, bahkan Malaysia dan Singapura.

Selama semester I-2009 konsumsi rumah tangga menunjukkan kinerja yang kuat walaupun berada di tengah terpaan krisis global. Hal tersebut terjadi karena proses penyelenggaraan Pemilu legislatif dan presiden serta wakil presiden telah memberi dampak multiplier yang tinggi terhadap konsumsi rumah tangga. Selanjutnya, pertumbuhan konsumsi rumah tangga pada paro kedua 2009 diprakirakan tetap relatif kuat dan menjadi penyumbang utama pertumbuhan ekonomi.

Konsumsi rumah tangga yang kuat tersebut didukung oleh terjaganya tingkat keyakinan konsumen dan kenaikan pendapatan sebagian masyarakat akibat perbaikan ekspor. Kuatnya konsumsi rumah tangga dapat kita lihat pada berbagai indikator. Setelah sempat terpukul akibat krisis global, kita melihat bahwa tingkat konsumsi mulai merambat naik. Beberapa sektor yang dapat diliha misalnya, pertumbuhan penjualan motor (Grafik 1) dan impor barang konsumsi (Grafik.2), telah menunjukkan perbaikan. Demikian juga, konsumsi listrik rumah tangga tercatat mengalami peningkatan (Grafik 3). Sementara itu, penjualan ritel telah menunjukkan kecenderungan membaik setelah mengalami penurunan pada akhir 2008 (Grafik.4).

Graph 1 penjualan motor

Graph 2 impor barang konsumsi

Graph 3 konsumsi listrik

Graph 4 penjualan ritel

Pada tahun 2010, konsumsi rumah tangga diprakirakan tetap dapat mencatat pertumbuhan yang tinggi seiring dengan perbaikan yang terjadi di sisi eksternal. Membaiknya prospek global pada 2010 akan mendorong kinerja ekspor Indonesia, yang pada gilirannya akan mampu meningkatkan pendapatan masyarakat secara umum. Di sisi lain, kondisi dunia usaha yang semakin kondusif akan mendorong investor untuk melakukan investasi. Investasi yang lebih tinggi akan turut berkontribusi pada peningkatan pendapatan. Dalam situasi demikian, daya beli masyarakat akan semakin kuat seiring dengan meningkatnya pendapatan. Konsumsi rumah tangga secara keseluruhan diprakirakan dapat tumbuh di atas 5%.

Mengingat kontribusi konsumsi pada pertumbuhan ekonomi kita sangat besar, maka tak ada salahnya dengan konsumsi yang tinggi. Permasalahannya adalah bagaimana menjadikan konsumsi domestik ini sebagai kekuatan ekonomi yang berkelanjutan. Ini adalah pekerjaan rumah klasik yang terus memburu jawab. Salam.

Salam

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.