Search in Archive

Select a date
Select a category
Search with Google

Mari Kita Belanja, Konsumsi, dan Dorong Ekonomi

Wednesday, 14 October 2009

Viewed 1533 times, 2 times today | 28 Comments |

Junanto Herdiawan – Indonesia

Orang bilang jangan banyak-banyak konsumsi. Katanya harus banyak menabung. Itu adalah petuah yang benar. Tapi di beberapa negara, terutama saat krisis, konsumsi justru jadi penyelamat ekonomi.Saat krisis global melanda, ekonomi berbagai negeri melesu habis-habisan. Untuk mendorong investasi dan ekspor adalah sebuah hal yang sulit dan nyaris mustahil. Lah wong permintaan dunia melemah.

Jadi, paket kebijakan di berbagai negara ditujukan untuk mendorong konsumsi. Stimulus ekonomi, keringanan pajak, penurunan suku bunga, dilakukan dengan masif dengan tujuan memberi nafas dan darah pada ekonomi, khususnya konsumsi masyarakat. Selang beberapa bulan kemudian dampak itu terasa. Ekonomi dunia mulai mengeliat kembali.

Secara khusus di Indonesia, konsumsi adalah kekuatan terbesar dan penyumbang utama pada pertumbuhan ekonomi. Hampir 60% penyumbang pertumbuhan ekonomi kita adalah sektor konsumsi. Sekedar mengingat saja, dalam teori, pertumbuhan ekonomi dapat dicapai dengan penjumlahan beberapa faktor, yaitu, Konsumsi, Investasi, Pengeluaran Pemerintah, serta Ekspor dan Impor (teorinya Y = C+I+G+X-M).

Krisis ekonomi global memang telah mengajarkan kita bahwa ekonomi yang berbasiskan pada kekuatan sektor finansial terbukti bukan segalanya. Kuatnya pasar domestik, investasi, ekspor, dan pengeluaran pemerintah yang cermat adalah cara untuk menghindari dan bertahan dari krisis. Jumlah penduduk yang besar, di masa krisis dianggap menjadi keuntungan. Konsumsi yang besar bukan dosa lagi.

Contohnya adalah perekonomian China dan India. China, mencatat pertumbuhan yang meyakinkan pada kuartal II-2009 sebesar 7.9%. Pemerintah China bahkan menargetkan pertumbuhan sebesar 8% di tahun 2009. Perekonomian China didukung oleh sektor domestik yang kuat. Selain otomotif dan properti, konsumsi domestik satu milyar penduduk China menjadi kekuatan terbesar ekonominya.

Bersama China dan India, perekonomian Indonesia tercatat masih bisa tumbuh positif di tengah krisis global. Pada triwulan III-2009 ini, pertumbuhan ekonomi Indonesia diperkirakan tumbuh 4,2% atau membaik dari perkiraan semula yang hanya 3,9%. Secara keseluruhan tahun 2009, ekonomi Indonesia diproyeksikan tumbuh pada kisaran  4%-4,5%. Angka pertumbuhan tersebut cukup meyakinkan di tengah melesunya perekonomian global. Saya akan mencoba memberikan catatan pada satu hal saja dari komponen pertumbuhan ekonomi kita, yaitu kuatnya konsumsi domestik.

Secara khusus, konsumsi terdiri dari konsumsi rumah tangga dan konsumsi pemerintah. Di sisi konsumsi rumah tangga, pada tahun 2009 kekuatannya akan tumbuh sebesar 5,2%. Angka ini cukup tinggi kalau melihat kondisi krisis yang dialami ekonomi global. Apalagi kalau dibandingkan dengan negara-negara lain, bahkan Malaysia dan Singapura.

Selama semester I-2009 konsumsi rumah tangga menunjukkan kinerja yang kuat walaupun berada di tengah terpaan krisis global. Hal tersebut terjadi karena proses penyelenggaraan Pemilu legislatif dan presiden serta wakil presiden telah memberi dampak multiplier yang tinggi terhadap konsumsi rumah tangga. Selanjutnya, pertumbuhan konsumsi rumah tangga pada paro kedua 2009 diprakirakan tetap relatif kuat dan menjadi penyumbang utama pertumbuhan ekonomi.

Konsumsi rumah tangga yang kuat tersebut didukung oleh terjaganya tingkat keyakinan konsumen dan kenaikan pendapatan sebagian masyarakat akibat perbaikan ekspor. Kuatnya konsumsi rumah tangga dapat kita lihat pada berbagai indikator. Setelah sempat terpukul akibat krisis global, kita melihat bahwa tingkat konsumsi mulai merambat naik. Beberapa sektor yang dapat diliha misalnya, pertumbuhan penjualan motor (Grafik 1) dan impor barang konsumsi (Grafik.2), telah menunjukkan perbaikan. Demikian juga, konsumsi listrik rumah tangga tercatat mengalami peningkatan (Grafik 3). Sementara itu, penjualan ritel telah menunjukkan kecenderungan membaik setelah mengalami penurunan pada akhir 2008 (Grafik.4).

Graph 1 penjualan motor

Graph 2 impor barang konsumsi

Graph 3 konsumsi listrik

Graph 4 penjualan ritel

Pada tahun 2010, konsumsi rumah tangga diprakirakan tetap dapat mencatat pertumbuhan yang tinggi seiring dengan perbaikan yang terjadi di sisi eksternal. Membaiknya prospek global pada 2010 akan mendorong kinerja ekspor Indonesia, yang pada gilirannya akan mampu meningkatkan pendapatan masyarakat secara umum. Di sisi lain, kondisi dunia usaha yang semakin kondusif akan mendorong investor untuk melakukan investasi. Investasi yang lebih tinggi akan turut berkontribusi pada peningkatan pendapatan. Dalam situasi demikian, daya beli masyarakat akan semakin kuat seiring dengan meningkatnya pendapatan. Konsumsi rumah tangga secara keseluruhan diprakirakan dapat tumbuh di atas 5%.

Mengingat kontribusi konsumsi pada pertumbuhan ekonomi kita sangat besar, maka tak ada salahnya dengan konsumsi yang tinggi. Permasalahannya adalah bagaimana menjadikan konsumsi domestik ini sebagai kekuatan ekonomi yang berkelanjutan. Ini adalah pekerjaan rumah klasik yang terus memburu jawab. Salam.

Salam

Share This Post

Posted by Wednesday, 14 October 2009 on 00:20.

Categories: Ekonomi & Politik. Follow the comments to this article via the RSS 2.0.

You can leave a response or trackback to this entry

28 Responses to “Mari Kita Belanja, Konsumsi, dan Dorong Ekonomi”

Pages: [3] 2 1 »

  1. 28
    Junanto Herdiawan Says:

    @ Sori mau jawab Alexa dulu ya. Duuuh sori itu grafiknya ndak jelas. Tulisannya bukan konsumsi ritel, tapi konsumsi riil. Itu adalah konsumsi yang sudah dikurangi faktor kenaikan harga. Jadi nilainya udah riil.

    Buat Grafik 2, impor barang konsumsi trennya meningkat, lihat di RHS (right hand side – axis yang sebelah kanan). Nah, trend impor itu bergerak seiring dengan peningkatan konsumsi. Jadi bisa dikonfirmasi bahwa konsumsi riil atas barang impor meningkat. Jadi trend gerakan seiringnya mbak yang dilihat.

    Mudah2an jelas ya…

    Sok atuh, dilanjutken diskusina….

  2. 27
    dewi aichi Says:

    Nev..ngga semudah itu, dan ngga mungkinlah Nev pemerintah menuruti kemauan rakyat banyak he he…
    Adanya ya gitu aja, bagi yang punya kemampuan beli, mau harga naik ngga ada masalah..

  3. 26
    nevergiveupyo Says:

    dewi aichi : tant… ga semudah itu. emangnya orang2 kaya ga pinter apa? lha ketika harga elpiji 12kg n 15 kg dinaikkan. yg terjadi adalah beralih ke elpiji 3kg. pdhl itu kan utk keluarga miskin.
    nah barang2 apa lagi yang mau dibedakan gitu? ato jgn2 mau bikin toko khusus ga-kin? lha ttp aja ga-ya ga kurang akal. nyuruh pembantu/sopir utk belanja.. ttp aja kan??
    lalu??

  4. 25
    dewi aichi Says:

    Nev..klo harga kebutuhan pokok naik, aku ngenes banget dengan buruh pabrik yang gajinya dibawah 1 juta, bayangin aja, mereka membeli kebutuhan pokok, harganya sama dengan orang2 kaya, nah klo yang dinaikkan itu harga2 yang dibutuhkan untuk orang2 kaya sak karebmu lah…

  5. 24
    nevergiveupyo Says:

    horeeee….
    sodara tua berguru pada sodara muda…
    hehehe…

    * tapi bedanya adalah : harga barang2 disini dah naik terus.. hbs lebaran aja harga2 di warung mkn naik..hehe

  6. 23
    dewi aichi Says:

    Nev…ya gitu Jepang paling limbung perekonomiannya tahun ini. Makanya sekian tahun di Jepang, baru kali ini pemerintah membagikan BLT. Kebutuhan bahan pokok sih perasaan ngga pernah ada kenaikan harga..

  7. 22
    nevergiveupyo Says:

    dewi aichi : gitu ya tant? jgn2 bener nih..Indonesia mulai jadi barometer dunia lagi (Jepang terinspirasi BLT-nya indonesia)

    jadi betul, dukung AMI untuk habiskan uang belanjaan…
    hehehehe

    * klo yg di LN sana, mungkin berat ya, tp mempertimbangkan untuk konsumsi produk made in indonesia ga ya? yang ada aja..ga usah dipaksain sih…

  8. 21
    dewi aichi Says:

    bulan Mei kemarin aku masih di Jepang, dan awal tahun ini Jepang mem-PHK ribuan tenaga kerja karena krisis global financial. Pemerintah jepang membagi-bagikan BLT istilah di Indonesia, untuk meningkatkan konsumsi masyarakat, masing-masing 12.000 yen/kepala dewasa, dan 20.000 yen/kepala anak-anak. Memang tidak ada kalimat”awasi penggunaannya”, tapi pemerintah menyarankan untuk membelanjakan uang tersebut ke pasar lokal.

Pages: [3] 2 1 »

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Image (JPEG, max 50KB, please)