Lee

JELANG HARI PELANTIKAN PRESIDEN RI
 
SERBA SERBI PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA (9)
 
Lee
Iwan Satyanegara Kamah – Jakarta
 
BUKAN parlemen yang bisa melototi Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Mereka tidak punya kuasa lagi melakukannya, seperti yang mereka lakukan terhadap para pendahulu Yudhoyono. Mereka hanya berani mengkritik, mengecam atau tidak suka dengan apa yang dikerjakan Presiden Yudhoyono. Tidak lebih dari itu.
 
Sangat berbeda dengan yang mereka lakukan terhadap Presiden Megawati Soekarnoputri, saat parlemen kita masih punya tugas konstitusional untuk melakukannya. Bahkan Presiden Abdurrahman Wahid, mereka berhentikan sebagai presiden, setelah dua tahun sebelumnya memilihnya. Presiden BJ Habibie pun mereka tolak pertanggungjawabannya, sehingga melicinkan jalan untuk menggantikannya. Sebelumnya, mereka menghimbau agar Soeharto turun dari jabatannya. Sebuah keberanian yang tersimpan selama lebih 30 tahun lebih.
 
Lebih tragis lagi, Presiden Soekarno mereka tolak segala upayanya agar tetap menjadi presiden. Padahal empat tahun sebelumnya, mereka mengangkatnya sebagai presiden seumur hidup. Lho? Kok diberhentikan? Katanya presiden seumur hidup?
 
Itu sekilas bagaimana cara mengawasi presiden-presiden Indonesia. Kita juga punya seorang tetangga tanpa terputus waktu melihat perjalanan presiden-presiden Indonesia. Mulai dari Soekarno hingga Susilo Bambang Yudhoyono. Lebih dari itu, dia mengenal baik secara pribadi semua presiden Indonesia. Sebuah prestasi yang tidak ada tandingannya di dunia. Dia mendatangi semua presiden Indonesia dan juga menjadi tuan rumah ketika menjamu presiden Indonesia yang datang. Ketika sudah tak menjabat, dia rajin datang mengunjunginya, seolah tak pernah melupakan persahabatan yang sudah terjalin lama.
 
Tahun 1960, ketika masih belia, dia datang bersama istrinya (ia selalu mengajak istrinya untuk acara apapun) menjadi tamu Presiden Soekarno, dan juga teman. Soekarno kelewat percaya diri ketika menjamunya di Istana Merdeka. Sedangkan dia hanya termanggut-manggut memperhatikan omongan Soekarno. Begitu percaya dan sayang sama tamunya, Soekarno pernah mengirimkankan sang tamu sebuah pesawat Ilyushin Soekarno untuk jalan-jalan keliling Indonesia. Fotonya yang mesra dengan Soekarno terpampang rapih dalam buku Tiga Puluh Tahun Indonesia Merdeka.
 
“We were friends”, katanya menilai hubungannya dengan Soekarno. Namun atas suruhan komunis, negerinya disusupi Soekarno oleh serdadu yang berniat melakukan sabotase saat masa konfrontasi Indonesia dengan Malaysia. Serdadu itu, Harun dan Usman, digantung sampai mati di negaranya.
 
Ketika jaman berganti, dia masih tetap menjalin persahabatan dengan pengganti Soekarno. Bahkan persahabatan itu melampaui pertemanan antara dua kepala negara. Mereka seperti keluarga. Pada bulan Mei 1973, dia pertama kali datang menemui Soeharto, sebagai pengganti sahabat lamanya Soekarno. Tak hanya memperkenalkan diri, dia juga mengunjungi Taman Makam Pahlawan Kalibata Jakarta, untuk menziarahi kedua makam serdadu, Harun dan Usman, yang digantung mati oleh pengadilan negaranya beberapa tahun sebelumnya.
 
Lee - Soeharto
 
Setelah itu, dia kerap datang ke Indonesia, seperti mendatangi orang tuanya atau keluarganya. Begitu akrabnya, dia pernah meletakkan masa depan negeri diplomasi negerinya ditangan Soeharto. “Negeri saya tidak akan membuka hubungan diplomatik dengan Cina, sebelum Indonesia melakukannya”, janjinya untuk mengikuti jejak Soeharto. 
 
Dia juga menjalin persahabatan, meski kurang akrab, dengan Bacharuddin Jusuf Habibie, yang kala itu menjadi orang kepercayaan sahabatnya. Ketika Habibie menjadi presiden, dia kaget dan tak mengira. Sebab sebelumnya dia meramalkan efek negatif ekonomi pada Indonesia bila Habibie menjadi presiden Indonesia. Habibie pun agak kurang akur dengannya selama menjadi presiden, dan pernah menyindir negaranya yang kecil dengan ucapan terkenal, “red dot on the map”. Sebuah ungkapan sombong.
 
Waktu pun berubah. Saat Habibie tak menjadi presiden, dia mendapatkan Abdurrahman Wahid sebagai sahabat baru. Lebih unik lagi, sahabat barunya itu menginginkan dia menjadi penasehat ekonominya, untuk membantu Wahid sebagai presiden Indonesia. Dia datang menemui Wahid di Jakarta dan Wahid pun datang menemuinya di kantornya.
 
Setelah Wahid tak menjadi presiden, dia punya sahabat baru, Megawati Soekarnoputri. Dia kenal baik dengan ayahnya, dan kini dengan anaknya. Sebuah perjalanan waktu yang cukup lama. Megawati datang menemuinya dan dia selalu membalasnya. Bahkan ketika Megawati tak lagi , presiden, dia tetap datang ke rumah Megawati.
 
Persahabatan dengan presiden-presiden Indonesia, ia koleksi lagi dengan terpilihnya Susilo Bambang Yudhoyono. Ia bersahabat baik dengan presiden baru ini. Meski ia tahu, ketika pertama kali dia datang ke Indonesia tahun 1960 menemui Soekarno, Yudhoyono masih duduk di bangku sekolah dasar di desanya di Pacitan, Jawa Timur.
 
Tak banyak tokoh dunia yang mengenal baik presiden-presiden Indonesia dengan sempurna, selain dirinya. Dia dianugerahi usia panjang (dan juga kekuasaan yang lama), serta kesehatan yang prima untuk bisa menikmati persahabatan panjang dengan semua presiden Indonesia. Dia menikmati hal itu tanpa asap rokok, tanpa alcohol juga tanpa rambut panjang. Dia galak kalau melihat remaja negaranya berambut gondrong. “Potong!”
 
Seperti Soekarno yang punya “jimat” berupa tongkat komando, dia juga punya jimat yang selalu dia bawa kemana-mana: termos berisi teh. Persahabatan abadinya dengan semua presiden Indonesia, sering di “cokgalicok” oleh kita. “Ah, neneknya ‘kan orang Cina Semarang, wajarlah dia berteman baik dengan semua presiden kita”.
 
Dia memang punya saingan, meski tak bisa mengalahkannya. Fidel Castro yang berkuasa lama, hanya bersahabat baik dengan Soekarno, tapi menjauh dengan Soeharto. Castro pernah bertemu Megawati di Malaysia, tapi mereka tidak “make a friend”, seperti yang ingin dicoba oleh Abdurrahman Wahid ketika mengunjungi Fidel Castro. “Saya heran dengan orang ini, punya rakyat 200 juta saja masih bisa tertawa. Saya punya puluhan juta rakyat saja sudah pusing”, kata Fidel Castro yang brewok itu setelah menemui Wahid di kamar hotelnya di Havana, ibukota Kuba.
 
Ada lagi orang yang bisa dinilai menjalin persahabatan dengan semua presiden Indonesia, tapi kurang sempurna. Kaisar Akihito dari Jepang berteman baik Soekarno dan pernah kedatangan tamu semua presiden Indonesia, kecuali Habibie. Mahathir Mohammad pun begitu. Hanya dengan Soekarno dia tak kenal. Selebihnya, dia bersahabat baik. Pangeran Norodom Sihanouk pun mengenal Soekarno, Soeharto, Megawati, tetapi kurang dekat dengan presiden-presiden yang lainnya.
 
Memang sulit, bahkan tidak ada, seorang tokoh yang masih berkuasa selama 50 tahun lebih dan mengenal baik secara pribadi semua presiden Indonesia. Lebih dari itu, dia mengawasi semua presiden Indonesia tanpa kedip mata selama setengah abad, dengan komentar, pujian juga kritik yang membangun. Dia bersahabat dengan semua presiden Indonesia dengan penuh kekeluargaan. Dia juga menghormati mereka, dan tak pernah menyakiti Indonesia secara politik, ekonomi, diplomatik, budaya atau apapun.
 
Lee - SBY
 
Bahkan sebaliknya dia sering dapat kiriman asap pedih dari sahabat-sahabatnya di Indionesia yang tidak becus mengurus hutan. Dan kini selayaknya, negerinya selalu kebanjiran orang-orang Indonesia yang ingin apa saja. Mulai berobat, belanja, berbisnis, bekerja, sekolah, kebersihan, keteraturan, kedisiplinan, kepastian juga tempat yang agak aman untuk menyimpan duit haram. Siapa presiden Indonesia dari Soekarno sampai Susilo Bambang Yudhoyono, yang tak mengenal baik Lee Kuan Yew? TIDAK ADA! (*)
 

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.