Tutut Melahirkan Anak Kembar

Handoko Widagdo – Solo

Taman Nasional Tanjung Puting, 15 Oktober 2009

Perjalananku ke Taman Nasional Tanjung Puting kali ini mendapat anugerah yang luar biasa, sekaligus kesedihan yang tiada tara. Senang bukan kepalang karena si Tutut, salah satu betina orangutan di Camp Leaky melahirkan anak kembar. Kelahiran kembar bagi orangutan adalah kejadian yang sangat langka. Sejak awal Camp Leaky dibangun, kejadian ini adalah kejadian yang pertama. Sedih bukan kepalang, karena salah satu anak si Tutut ternyata lahir dalam keadaan mati.

Saat saya sampai di Camp Leaky, jam satu siang, saya diberitahu bahwa Tutut melahirkan anak kembar jam 11.30 tadi pagi. Pak Umar, penjaga Camp Leaky menyampaikan bahwa Tutut melahirkan di jembatan kayu. Dibsana bekas-bekas darah dan air ketuban masih ada. Empat penjaga camp menjagainya dari dua orangutan yang berniat mengganggunya.

Tutut01

Tutut yang tertidur lelap di semak-semak kira-kira 10 meter dari tempatnya melahirkan. Proses melahirkan anak kembar ternyata sangat melelahkannya.

Tutut03

Tutut02Kami pelan-pelan mendekatinya dari atas jembatan untuk mengabadikan Tutut yang terlelap. Tiba-tiba si Kunyuk dengan menggendong anaknya datang menyerbu. Kunyuk yang menggendong anaknya mendatangi Tutut yang sedang terlelap. Penjaga segera saja mengejar si Kunyuk supaya tidak mendekat. Salah satu penjaga mengambil ranting untuk mengusir Kunyuk. Namun Kunyuk nekat saja. Terjadilah kejar- kejaran antara penjaga Camp dengan si Kunyuk yang sangat gaduh. Kegaduhan ini menyebabkan Tutut terbangun.

Tutut segera saja melompat dan memanjat pohon kecil untuk melarikan diri dari sergapan Kunyuk. Digendongnya kedua anaknya. Satu anaknya menempel di dadanya sambil menyusu, satu anaknya, yang telah mati, dipegangnya dengan satu tangan. Dia melompat dari satu pohon kecil ke pohon kecil lainnya. Tutut bergelayutan menuju pohon besar diatas penjaga, tepat diatas tempat dimana dia melahirkan.

Tutut04

 Tutut05

Tutut07

Sampai akhirnya dia sampai di atas pohon di dekat penjaga. Dia pandangi anaknya yang telah meninggal dengan wajah yang sangat sedih dan lelah. Sementara satu anaknya masih terus menempel di dadanya sambil menyusu.

Tutut10

Bahkan diciuminya jazad anaknya yang terkulai di tangannya.

Tutut09

Tutut mulai membuat sarang dengan mematahkan ranting-ranting kecil yang bisa dijangkaunya. Bayi yang telah mati itu tetap dipeganginya dengan erat.

Tutut06

Dua jam kemudian dia telah terlelap karena kecapaian dan kesedihan yang dia rasakan. Dia tertidur di sarang yang baru dibuatnya sambil tetap mendekap anaknya yang menyusu dan merangkul jazad anaknya yang telah tiada.

Tutut08

Kejadian ini sungguh menusuk-nusuk hatiku. Perasaanku terasa diaduk-aduk. Butir- butir airmata menetes hangat di pipiku. Sehangat cinta Tutut kepada anaknya yang telah tiada.

Betapa Tutut mencintai anaknya yang telah tiada. Jika orangutan begitu cinta pada anaknya, mengapa ada ibu yang tega membunuh bayinya?
 

About Handoko Widagdo

Berasal dari Purwodadi, melanglang buana ke berpuluh negara. Dengan passion di bidang pendidikan, sekarang berkarya di lembaga yang sangat memerhatikan pendidikan Indonesia. Berkeluarga dan tinggal di Solo, kebahagiaannya beserta istri bertambah lengkap dengan 3 anak yang semuanya sudah menjelang dewasa.

My Facebook Arsip Artikel

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.