Seleb RI-1

JELANG HARI PELANTIKAN PRESIDEN RI
 
SERBA SERBI PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA (10)
 
SelebRI-1

Iwan Satyanegara Kamah – Indonesia

KATANYA seorang selebritis, tapi ketika mau bertemu presidennya, mereka gugup dan grogi. Lihat aja Paul Newman. Dia aktor Hollywood ternama, namun ketika mau bertemu presiden AS, dia jadi grogi. Kukunya dia gigit-gigit. Muhammad Ali yang namanya mendunia selama hampir setengah abad, tetap aja nervous kalau mau bertemu presidennya. Mereka memang selebritis, tetapi ketika mau bertemu seorang presiden atau pemimpin negera, mereka kadang jadi tak berarti apa-apa. Seperti seorang penggemar dari pelosok daerah yang menanti pujaannya. Apalagi kalau pujaannya itu berlainan jenis kelamin…

Siapa yang sebenarnya layak di sebut selebritis? Apakah dia seorang aktor, penyanyi atau tokoh politik seperti presiden atau raja. Ketika Presiden AS Richard Nixon menerima Elvis Presley di Ruang Oval tahun 1972, pertemuan itu menjadi sangat terkenal dan fenomenal. “Nixon Meets Elvis”, begitu tulis media. Siapa yang sebenarnya diberitakan, Nixon yang ketemu Elvis atau Elvis yang ketemu Nixon. Mungkin yang terakhir lebih berbobot dinilai orang. Karena tamunya seorang Elvis, pertemuan itu jadi terkenal dan selalu diberitakan.

Begitupun ketika Presiden Ronald Reagan menerima Michael Jackson tahun 1984 di Gedung Putih. Sang selebritis sebenarnya adalah Michael, bukan Reagan. Ratusan orang sudah bertemu Reagan di kantornya, tetapi tak punya nilai berita sama sekali jika tidak ada ketertarikan yang berguna untuk orang banyak dari pertemuan itu. Hal yang sama pun terjadi, ketika Michael datang ke tempat yang sama tahun 1990 waktu diterima Presiden George Bush tua. Michael yang sebenarnya yang selebritis.

Seorang selebritis harus punya nilai berita yang tinggi dan menjadi makanan yang sehat untuk media apa saja, untuk memberitakan apapun yang dilakukannya. Lalu apakah seorang presiden Indonesia sama nilainya layaknya seorang selebritis?  Atau kalah seleb dengan selebritis pekerja seni, seperti penyanyi, aktis dan aktro atau olahragawan?

Lihat saja, sewaktu berkunjung pertama kalinya ke Amerika Serikat atas undangan Presiden Dwight David Eisenhower, Presiden Soekarno ingin sekali bertemu Marylin Monroe, yang saat itu sedang di puncak ketenaran. Menurut beritanya, pertemuan mereka berdua dirancang oleh seorang tokoh perfilman Hollywood. Namun ketika bertemu pujaannya, Soekarno mengaku bahwa dia datang ke sana, ya satu dari banyak agendanya memang kebelet ingin bertemu Monroe, yang dilakukan di Beverly Hills Hotel, Hollywood pada akhir Mei 1956.

Orang bisa bilang, ah..itu sih kebetulan saja Soekarno mau ketemu Monroe. Dia ‘kan pemuja wanita cantik. “Perempuan itu ibarat pohon karet”, kata Soekarno suatu hari. “Kalau sudah habis getahnya, ya mau diapakan lagi?” Tapi tidak juga. Itu alasan yang bisa dicari-cari.

Buktinya, Soekarno melakukan hal yang sama. Pada bulan April 1961 sewaktu melakukan kunjungan kenegaraan kedua kalinya ke AS untuk menemui Presiden John Fitzgerald Kennedy, dia mampir di Hawaii untuk bertemu Elvis Presley. Raja Rock n’ Roll itu sedang dalam puncak ketenarannya kala itu. Dan uniknya, Soekarno menemui Elvis di lokasi shooting ketika Elvis sedang merampungkan sebuah filmnya. Di situ ada aktris Jane Brackman juga. Ya sekalian aja ketemu bertiga.

Elvis dan tamunya

Pertemuan Soekarno dan Elvis, memang bisa mementahkan pandangannya yang anti musik barat pada beberapa tahun setelah pertemuan itu. Ngapain dia ketemu seorang penyanyi yang kemudian dia akan hujat sebagai simbol dekadensi moral rakyatnya? Agak tercium aroma bahwa ketidaksukaan Soekarno pada musik barat, yang diwujudkan dengan membenci kelompok the Beatles, hanyalah tekanan kelompok komunis. Soekarno adalah penikmat produk-produk budaya barat, meski dia tak mengekspresikannya di depan rakyatnya.

Kebeletnya Presiden Soekarno ingin bertemu selebritis dunia atau super seleb, makin membuktikan bahwa yang selebritis sebenarnya bukan Soekarno, tetapi seleb yang ditemuinya. Di saat-saat terakhir masa kekuasaannya, Soekarno sempat pergi ke Roma. Dia senang ke sana dan berkali-kali mengunjunginya untuk ukuran seorang presiden asing. Di saat situasi dalam negeri sedang gawat pada Oktober 1964, Soekarno pergi ke Roma mengunjungi Paus Paulus VI dan tentunya bertemu aktris Gina Lollobrigida dan bonus berjumpa aktris Claudia Cardinale. Bahkan dia juga bertemu, di tempat yang terpisah, penyanyi opera Maria Callas. Sebenarnya, Soekarno memang menemui milyuner Aristoteles Onassis agar mau berinvestasi di Indonesia, ya sekalian aja ketemu istrinya yang cantik, si Maria Callas.

Untunglah Soekarno tidak minta tanda tangan selebritis yang ditemui, yang bisa merendahkan martabat selebritas Soekarno yang memang  seharusnya sebagai super selebritis. Ini berbeda dengan penggantinya, Presiden Soeharto.

Semasa menjadi presiden, Soeharto jarang bertemu seleb seperti Soekarno. Kebalikannya, justru selebriti yang ingin  bertemu dengannya. Kalaupun ada, memang dalam suasana kerja. Misalnya aktor terkenal Danny Kaye datang menemui Soeharto tahun 1971. Itupun Kaye saat itu menjadi duta UNICEF. Seleb macam Pele, pemain sepakbola lagendaris, pernah datang menemui Soeharto di Bina Graha pada awal Desember 1974 dan memberi kaosnya bernomor 10 kepada tuan rumah. Bahkan, sebebriti seperti petenis termasyur Bjorn Borg dan istrinya, datang bertamu di Bina Graha tahun 1981, saat dia melakukan eksibisi di Jakarta. Terkesan, Soeharto adalah super selebriti yang ingin ditemui selebriti dunia.

Tapi nggak juga sih… Buktinya pada Februari 1993, di suatu sore ketika sedang bermain golf rutin  di Rawamangun, Jakarta Timur, Soeharto minta bertemu aktor Sylvester Stallone yang juga sedang bermain di tempat yang sama. Mereka akhir bermain golf bersama meski sejenak. Kalau Soeharto yang tidak meminta, mengapa dibiarkan ada orang lain bermain saat presiden bermain untuk alasan keamanan. Toh, lapangan golf banyak kok di Jakarta. Stallone bisa dicarikan di tempat lain oleh panitia yang menyambutnya. Buktinya waktu Menteri Luar Negeri AS George Schultz ke sini, dia bermain golfnya tidak di Rawamangun. Stallone datang memang bukan untuk main golf, tetapi dalam rangka meresmikan gerai hiburannya yang di sini. Stallone terkenal perannya dalam film serial Rambo, sebuah film onani orang Amerika yang ingin memperlihatkan nasionalismenya. Stallone hanya menjadi Rambo dalam film. Bagaimana Soeharto?

Presiden Habibie tak pernah terlihat bisa berleha-leha menjamu atau bertemu selebriti dunia. Waktunya terlalu sempit untuk melakukannya. Beda dengan Presiden Abdurrahman Wahid yang mendatangi tokoh nasional atau selebriti untuk tujuan silaturahmi. Menjalin persahabatan lama. Bagaimana kita bayangkan, mobil kepresidenan datang ke Kebon Kacang, Jakarta Pusat, untuk mendatangi bengkel seni sutradara Teguh Karya, sahabat lamanya. Apalagi Presiden Megawati Soekarnoputri, yang tak butuh menemui para selebriti yang kebetulan pujaannya, kalau memang ada, Selama menjadi presiden, sering terkesan dia sudah biasa menjalani hal-hal seperti itu dan tidak kaget. Jauh sebelum menjadi presiden, dia sudah magang sebagai presiden dengan mengikuti kegiatan ayahnya. Ibaratnya, seorang kernet kini menjadi sopir.

Megawati sudah ke Gedung Putih, ketika Presiden Barack Obama masih berusia beberapa bulan, menemui Presiden John Kennedy waktu diajak ayahnya. Sebelumnya dia dipeluk hangat oleh Presiden Nikita Khrushchev saat pemimpin Uni Soviet itu datang ke Indonesia. Belum lagi tokoh atau selebriti lain yang sudah ditemuinya.

Tidak banyak kita jumpai Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengejar-ejar selebriti atau memanfaatkan disela-sela kunjungannya untuk bertemu pujaannya. Justru citra yang dibangunnya memperlihatkan dia adalah sosok yang menjaga image diri, serius, formal dan sedikit kaku.

Bagaimana rasanya seorang selebriti mempunyai pengagum yang punya rakyat milyaran? Tanya saja kepada musisi country America John Denver. Pengagumnya tak tanggung-tanggung yang cinta mati dengan lagu-lagunya. Deng Xiaoping. (*)                          

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.