The Last Man Stand

Pritha – Indonesia

NIIT-

Tersentak, gua tersadar dari lamunan oleh bunyi nyaring printer yang tersendat. Lagi-lagi kertasnya terjepit. Nggak diragukan lagi printer ini memang sudah butut dimakan usia, setali tiga uang dengan hardware komputer lainnya di rumah ini. Pernah gua menawarkan diri membelikan komputer baru pada Papa, tapi beliau menolak.

“Buat apa, Sakti? Papa bisa pakai komputer kantor dan adikmu toh sudah punya laptop sendiri, kalau kamu belikan siapa yang mau pakai?”
Lalu Mama menimpali, “Daripada buat beli komputer, lebih baik uangnya kamu kumpulkan, hitung-hitung buat persiapan biaya hidup setelah kamu menikah nanti.”

Menikah? Ah, ya.

Gua sudah bertunangan dengan seorang gadis, masa lalu dari cinta monyet yang tanpa sengaja—atau yang malah disengaja—gua temukan kembali di kampus. Indira, nama gadis itu. Entah apa yang telah terjadi dalam lima tahun terakhir hingga ia jadi terlihat berkali lipat lebih memesona saat aku bertemu lagi dengannya.

Kami dipertemukan oleh kecerobohan gua meninggalkan draft kuesioner bahan skripsi saat sibuk memfotokopi bahan ujian—yang seharusnya sudah gua fotokopi sebulan sebelumnya. Lima belas menit setelah gua berlalu, barulah gua sadar draft gua hilang dan panik mencari-cari dokumen itu berkeliling kampus, sampai akhirnya gua terduduk lemas di muka kedai fotokopian tadi.

Begitu duduk, gua langsung mengeluh pada seseorang yang juga ada di sana—seseorang yang ternyata adalah Indi, dan untungnya, menemukan draft kuesioner itu. Dari sanalah, kita berkenalan, di mana gua langsung mengenalinya sebagai gadis yang pernah gua taksir semasa SMP tanpa gua pernah berani menyatakan—atau minimal, kenalan.

Perkenalan berlanjut menjadi obrolan, obrolan terajut jadi persahabatan, lalu akhirnya muncul niat untuk menyatakan perasaan gua yang belum sempat terucap, dan dengan suara perlahan, tapi pasti, Indi menjawab, “…ya.”

Indi adalah gadis yang menarik. Raut wajahnya polos, tetapi diam-diam cerdas; secara pribadi dia lucu, easy going, mandiri, sekaligus penuh perhatian, dan punya sopan santun, sesuatu yang akan membuat para calon ibu mertua, khususnya Mama, langsung tertarik.

Setelah pacaran selama hampir dua tahun, gua semakin merasa yakin bahwa both of us really meant for each other. Sekali lagi, gua menanyakan padanya pertanyaan serupa, hanya saja dalam konteks lebih resmi: melamar, dan untuk kedua kalinya ia menjawab, “…ya.”

Tanpa perlu memakan banyak waktu, pertunangan kami pun dilaksanakan.
Indi pernah bilang pada gua bahwa ia pribadi tidak terlalu suka masa pacaran yang panjang, jadi gua katakan, kalau semuanya berjalan dengan baik dan lancar, kami akan menikah tahun depan. Ia setuju, keluarganya pun mengamini, dan keluarga gua pun mendukung gua untuk menyisihkan setiap rupiah yang bisa gua dapat demi hidup kami yang mandiri nanti.

Masalahnya…apakah semua hal telah berjalan dengan baik dan lancar?
Satu hal yang sialnya baru gua ketahui belakangan ini, adalah bahwa di balik sinar mata periangnya, Indi menyimpan sesuatu yang tak satu orang pun tahu. Sesuatu yang gua yakin, dapat membuat seisi rumah jantungan atau, membuat gadis yang gua cinta tertekan fisik dan mental. Ah.

-NIIT-
—fucking printer.
**
Indi bersandar setengah tiduran di sofa ruang tamunya, menggenggam tisu kucel yang kini sudah kembali mengering. Barangkali hampir empat jam ia habiskan sore itu untuk menangis, sendirian. Kadang ia sungguh menyesal mengapa usia ia dan kakak perempuannya terpaut begitu jauh, sehingga hal baru apapun yang ia temui terasa seusang album foto masa kecil kakaknya. Berkesan, patut dikenang, tapi tetap saja basi. Kalau saja usia kakaknya hanya dua tahun lebih tua darinya, setidaknya ia takkan melewatkan hari-hari seperti ini sendirian.

Usia Indi sudah dipertengahan dua puluhan, sementara kakaknya yang sembilan tahun lebih tua sekarang sudah tujuh tahun menikah, baru saja membeli rumah mereka sendiri dan punya seorang anak perempuan yang akan berulang tahun ke-enam. Bukan berarti kakaknya tak mempedulikannya, tetapi meminta saran untuk masalah seperti yang ia hadapi sekarang rasanya tak pantas bagi kakaknya yang masih dipusingkan segudang masalah rumah tangga. Indi mendesah.

Kenapa sih cinta bisa jadi begitu rumit? Malas banget, pikirnya. But, hey, I’m a grown-up now! I’ve spent all of my teenagehood to do all of that teenage-things. At the last, it is something I have to start thinking of. And going through. *Sigh.

Dua minggu yang lalu, tanpa terduga, seseorang dari masa lalunya kembali ke hidupnya begitu saja. Seseorang dari khayalan hampir mustahilnya yang ia tanam dalam-dalam tapi diam-diam disiram setiap hari, hingga tumbuh perlahan-lahan dalam gelap. Dan kedatangan pemuda itu membuat benih dalam hatinya bangun tiba-tiba dari tidur panjang. Pemuda itu, hampir jadi mualaf. Pemuda itu, Alf.
**
Keterbukaan dan kejujuran adalah dua hal yang gua inginkan dalam sebuah hubungan. Sejak awal, Indi memberikan itu pada gua. Tapi, privasi juga satu hal yang gua tekankan tentang hubungan kita berdua. Indi memahami dan menghargai privasi gua. Sayangnya, meski Indi adalah seorang yang jujur dan terbuka, cerita tentang masa lalu termasuk dalam privasi yang suka-suka dia untuk memutuskan membaginya dengan gua atau tidak. Gua sendiri nggak begitu mempermasalahkan masa lalu, kalau saja, masa lalu itu tidak mendadak menginvasi masa sekarang.

Indi tampak begitu lemas saat gua menemuinya malam itu. Tak biasanya memang gua mendadak memutuskan datang di malam Jumat, tapi ada setumpuk alasan khusus yang memalu-malu kepala gua sehingga gua bergegas. Seperti biasa kita berdua duduk di teras, minum teh dan mengobrol, meski wajahnya tak seriang biasanya.

“Tumben, kamu datang pas malam Jumat.”
“Hmm, entah nih, mendadak pengen ketemu aja.”
“Kenapa?”

Gua menatap wajah Indi dalam-dalam. Hampir tiga tahun aku mengenal kamu, Indi, atau apakah sebenarnya aku sama sekali tidak tahu siapa kamu?
“Aku kepikiran sama kamu.”

Indi tersenyum, meski sesamar gua melihat di dalam matanya ia menangis. Selama ini gua belum pernah melihat Indi menangis, dan jujur saja, meski gua tidak tahu untuk siapa tangisnya, itu menyakitkan.

“Aku nggak apa-apa kok.”
“Kehujanan kan bisa bikin kamu demam.”
Mata Indi melebar. “Hujan? Maksud kamu?”
“Oh, tapi kamu kan dipeluk ya, kayaknya lumayan bikin anget tuh.”
“Kamu ngomong apa sih?!”
“Sssh,” gua mendekatkan telunjuk ke bibir, “…nggak perlu ribut-ribut. Aku cuma perlu dengar kamu bicara.”

“Bicara? Soal apa?!”
“Indi, Sayang, aku udah menghabiskan dua puluh menit menyetir dalam kegilaan dan sekarang yang aku butuhkan cuma konfirmasi. Biar aku yakin kalau yang aku lihat tadi sore benar-benar bukan kamu atau memang kamu. Please. Nggak perlu bohong. Aku bakal hargai kejujuran kamu.”

“Tapi…,” Indi menggigit bibir, siap menangis. Aduh, wajah itu, gua nggak tahan. “…Sakti,” akhirnya ia terisak juga, “…aku nggak…nggak bermaksud…”
“…ssh,” gua merangkulnya, meski mulai enggan, “Jangan nangis. Itu siapa?”
Seperti yang gua takutkan, Indi malah semakin terisak, meninggalkan alam sadar gua yang makin disesaki teka-teki.

“Jangan bikin aku kelihatan kayak tersangka di mata orang rumah kamu,” ucap gua, tegas tapi perlahan. “Aku nggak marah. Asal kamu cerita.”

Pelan-pelan Indi mengangkat wajahnya yang basah, dan menatap gua. Hati gua teriris, tapi gua masih bersyukur gua nggak membiarkan diri gua melabrak orang yang bersama Indi tadi sore. Gua berhak atas penjelasan. Dan Indi berhak untuk melepaskan beban ini.

Namanya Alfaro. Teman Indi semasa SMA. Sepintas, nggak ada sesuatu yang salah—kecuali kenyataan bahwa dia memeluk tunangan gua tanpa izin—dengan nama itu. Setelah kelulusan, dia mendapat beasiswa masuk Harvard University dan baru pulang dua minggu yang lalu.

Satu-satunya masalah yang membuat gua tersangkut adalah kisah bahwa Alfaro adalah cerita cinta masa lalu yang indah sekaligus gawat bagi Indi. Sebab rasa cinta itu sudah tumbuh sejak dulu dengan mereka saling tahu, tanpa pernah terikrar karena perbedaan memaksa mereka untuk menyerah. Karena Alfaro adalah orang mata sipit seorang Katolik.

Tapi, ternyata Alfaro tidak menyerah.

Dia bahkan berniat meninggalkan kepercayaan lamanya demi Indi. Meski sekarang dia baru hampir jadi mualaf, keberaniannya memutuskan langkah dan rasa percayanya pada Indi mau tidak mau bikin gua kagum. Even it could be the blindness of love, at least, he were brave enough to choose his destiny.

Rencananya mungkin akan berjalan sempurna, kalau saja Indi belum bertunangan dengan gua.

“Kalau memang kamu sayang dia, kenapa kamu malah pacaran sama aku? Dan kenapa harus sampai sejauh ini?!” tukas gua marah.
“Karena aku nggak yakin dia bakal pulang. Kupikir dia udah ketemu orang lain. Dan kupikir, dia nggak serius soal keinginannya untuk jadi mualaf.”

Gua terdiam.

“Aku nggak ngerti gimana harus bilang sama Mama soal dia. Pasti mereka nggak bakal setuju. Alasan Alf untuk jadi mualaf bakal terdengar kayak cinta buta di telinga mereka.”

You got a point there, honey.

“Tapi, kamu perlu tahu kalau aku nggak main-main sama pertunangan kita.”
Indi menatap gua. “…dan aku benar-benar sayang sama kamu.”

Untuk sesaat, gua merasa menjadi pemenang. Mungkin, ini cuma sedikit ujian yang Tuhan kasih untuk melihat seberapa jauh gua bisa bersabar menghadapi kejadian-kejadian yang nggak terduga, seberapa jauh gua bisa mempercayai calon istri gua. Tetapi saat gua menatap mata Indi, gua malah jadi bertanya-tanya benarkah ini hanya ujian atau malah tanda yang Ia berikan untuk memperingatkan gua bahwa bukan ini jalan yang seharusnya gua lalui.

Bahwa kali ini, gua harus membiarkan Indi memilih sendiri takdirnya.

“…setelah semua yang kamu lalui, kamu yakin, kamu bisa ngomong begitu?”
“Apa maksud kamu?”
“Katakanlah dulu kita nggak pernah ketemu, pertemuan kalian kemarin nggak perlu kamu tangisi, kan?”
“Kok kamu jadi bilang begitu, sih?”
“Kamu masih sayang sama dia, kan?!”
“Sakti!”
“Jangan bohong. Kamu nggak pernah terlihat sesedih itu,” tukas gua setengah menuduh. Bagaimanapun juga persoalan ini harus cepat selesai, agar gua nggak perlu menangis di depannya. “Pikirin baik-baik sebelum terlambat. Pertunangan ini masih bisa dibatalin.”

Seketika Indi terlihat shock. “Batal? Kok sampai ngebahas yang begini, sih?!”
Gua melangkah pergi. Tapi Indi bukan tipe ‘Yes Woman’ yang hanya akan melihat kepergian gua sambil menangis. Dia bangkit dan dengan gagah menarik lengan gua.
“Sakti!” secara paksa gua berbalik dan menatap matanya, menunjukkan mata gua yang sudah berair. Ah shit. Indi terkejut melihat airmata gua. “…aku serius! Aku sayang kamu, Sakti.”

Refleks, gua memeluk Indi erat. Apalagi yang harus gua bilang soal cinta? Sejak ada Indi, gua selalu berusaha menata hidup gua, seperti main puzzle gambar potong. Biar satu saat nanti, dia bisa melangkah masuk hidup gua dan tanpa bingung menempatkan puzzle hidupnya dengan pas dalam layar puzzle gua yang kosong. Gua melepaskan pelukan dan mengecup kening Indi.

“…aku juga serius. Pikirin baik-baik, Ndi. Yakinkan diri kamu jalan mana yang mau kamu pilih. Karena aku sayang kamu.”
**
“…karena aku sayang kamu.”

-DUARR-
Gelegar petir membangunkan Indi dari tidur, membuat mimpinya seketika terhenti. Kepalanya terasa pening, bulir keringat membasahi dahinya dan mimpi barusan membuatnya merasa semakin lemas.

Terakhir kali ia bicara dengan Sakti adalah seminggu yang lalu, dan hingga hari ini, masih ada pertanyaan yang menunggu untuk ia jawab.

Hujan yang tadi rintik-rintik mulai terdengar deras saat Indi bangkit dari sofa dan masuk ke dalam kamar. Dilepaskannya mantel yang membungkusnya sejak sore tadi. Ia sempat sedikit berhujan-hujan gara-gara insiden kecil sepulang dari kedai kopi tempat Alfaro mengundangnya untuk minum.

“Ndi, …aku mau pamit.”
“Kamu mau pergi ke mana lagi?”
Indi memejamkan mata dan duduk di atas tempat tidur.
Dia tak pernah membayangkan semuanya akan menjadi sekacau ini. Ketika Alfaro akhirnya pulang, Sakti memergoki mereka di saat paling naas. Indi menghela nafas, memikirkan kata-kata Sakti dalam pembicaraan terakhir mereka.
“Katakanlah dulu kita nggak pernah ketemu, pertemuan kalian kemarin nggak perlu kamu tangisi, kan?”

Bukan pertemuan itu yang aku tangisi. Bukan juga kamu. Indi menarik laci nakasnya dan menyerakkan tumpukan barang-barang di dalamnya, merogoh sudut kanan dalam dan menarik sesuatu keluar dari lapisan alas nakasnya. Selembar foto.

Foto itu dibuat saat ia masih duduk di kelas dua belas, diabadikan oleh bidikan Nikon sahabatnya Vega Kanaratih di sela-sela acara Gelar Kreativitas. Alfaro yang nyengir nongkrong di atas bangku, merangkulnya yang duduk satu bangku lebih rendah sambil memegang sebuah bola basket.

Kalau bukan karena apa-apa, lalu kenapa? Perlahan, diraihnya pigura kecil di atas nakasnya, tempat foto ia dan Sakti tersimpan. Nggak tahu, ah.

Kedua foto di tangannya memperlihatkan aura yang sama sekali berbeda. Cengiran Alfaro dan tawa Sakti. Dirinya juga sedang tertawa dalam foto itu, memegang sebuah kembang api pijar. Acara perayaan tahun baru yang diadakan oleh keluarga besar Indi. Sesuatu mendadak mengusik pikirannya.
Indi mengalihkan pandangan ke luar jendela, menatap tetes-tetes terakhir hujan yang masih tersisa.

“…karena aku sayang kamu.”
Alfaro juga akan menikah. Pada akhirnya, kita semua harus melewati tahap yang sama dalam hidup. Nggak peduli setuju atau tidak.

Indi meletakkan kedua fotonya kembali di atas nakas. Sudah saatnya aku belajar menjadi dewasa. Diraihnya kunci mobil dan mantel sebelum ia keluar kamar.
**
Selesai dengan tetek-bengek laporan perusahaan, gua membuat secangkir teh dan duduk di depan televisi. Berita pukul lima sedang menyiarkan sesuatu tentang spekulasi Tim Densus 88 tentang aksi teroris beberapa minggu silam, tapi pikiran gua terlalu sibuk untuk bisa memperhatikan. Sudah seminggu sejak pembicaaran terakhir gua dengan Indi. Dan sampai sekarang, dia belum menyatakan apa-apa. Bahkan sulit untuk gua hubungi.

“…aku serius! Aku sayang kamu, Sakti.“…aku juga serius. Pikirin baik-baik, Ndi. Yakinkan diri kamu jalan mana yang mau kamu pilih.

“Karena aku sayang kamu.”

Karena aku sayang kamu? Can you imagine that I’ll finally said that??

Padahal sebelumnya gua merasa lebih marah ketimbang sedih. Benar-benar marah. Bagaimana pun juga, gua merasa dikhianati mati-matian. Gua sedang berada di puncak stress saat beberapa atasan gua berkongkalikong menghentikan proyek yang gua ajukan karena proyek gua melibatkan banyak pekerja kelas rendah, sesuai misi gua untuk meningkatkan lapangan kerja lokal.

Dan atasan-atasan tamak gua berpendapat lebih baik uang untuk menggaji pekerja-pekerja itu digunakan untuk memindahkan kantor kami dari kawasan pabrik ke gedung di jalan Sudirman. Jelas gua ngamuk. Alasan egois macam apa itu?!

Tapi ketika akhirnya gua bertemu dengan Indi, kejengkelan gua perlahan-lahan meredup. Indi memang tidak menceritakan kisahnya secara detail, tapi gua bisa menangkap rasa bersalah yang dia rasakan untuk pernah mencintai seseorang, yang dia sendiri tahu mustahil dilakukan, dan sedihnya, menyaksikan laki-laki itu berjuang melawan keraguan dan ketidakpastian hanya demi dirinya.

Bagi gua, nggak ada yang lebih geblek dan berharga segeblek dan seberharga seorang laki-laki yang memperjuangkan cinta.

Nggak usah Alfaro. Gua pun langsung luluh melihat wajah Indi yang menangis. Dan sebenarnya gua sama sekali nggak rela kehilangan dia. Tapi sejak hari itu, gua mendapat satu pembuktian dari nasehat seorang paman yang mengatakan,
“Kehilangan seseorang nggak akan membuat jiwa kamu berkurang. Sebaliknya, akan menjadikan kamu kuat dan dewasa.”

Gua memang merasa sulit untuk melepaskan dia. Tapi, gua merasakan kepuasan yang sama saat mengetahui bahwa untuk mencintai seseorang, kita nggak perlu selalu memiliki. Kadang, kita malah harus melepaskan.

Tapi…bagaimana gua harus menjelaskan ini pada Papa dan Mama?
Mungkin gua harus memaksa mereka naik haji dan mencari calon baru selama mereka pergi. Huh.
**
Di depan rumah berpagar tinggi itu, Indi menghentikan mobilnya. Setengah tergesa ia turun dari mobil dan memencet bel.
-TING_TONG-
**
“Mas, ada tamu!”
“Siapa, Bi?”
“Mbak Indi..”
Indi??
Gua melempar remote ke atas sofa dan bergegas keluar untuk menemuinya.
**
Indi duduk di ruang tamu dengan canggung, seolah-olah itu adalah kali pertamanya memasuki rumah Sakti. Namun, kemunculan Sakti yang bercelana pendek dan tampak terburu-buru hampir saja membuatnya tertawa dan melupakan maksud kedatangannya.

“Ndi? Kok nggak bilang-bilang mau datang?”
“Sekali-kali nggak bilang, biar bisa liat tampang kamu belum mandi,” sahutnya asal.
“Eeh, udah mandi nih!”
“Oh ya? Kok, tetap jelek?”
“Tadi pagi maksudnya.”

Indi tersenyum, Sakti tertawa. Lima detik kemudian suasana mendadak sunyi dan mereka mulai salah tingkah. Indi memutuskan membuka percakapan.
“Aku…datang ke sini…,” ragu-ragu, Indi menyentuh cincin di jari manis kirinya dan menariknya lepas. “…aku mau balikin ini sama kamu.”
**
Dengan mata melotot gua menatap cincin yang Indi lepas dari jarinya.
“Kenapa—” tapi kalimat gua terhenti. Gua menunduk. Jadi, dia sudah memilih. Nggak ada yang perlu dipertanyakan. Dia sudah memutuskan jalan yang akan dia tempuh. Selama beberapa saat, gua hanya bisa terdiam, membiarkan tangan Indi menggantung bersama cincin itu.

“Simpan aja,” kata gua akhirnya.
“Jangan,” sahut Indi, “…aku mau kamu ambil.”
“Buat apa? Aku nggak bisa pakai itu.”
“Aku…aku juga nggak.”

Semua hal jadi terasa mengesalkan bagi gua.

“Buang aja kalau gitu. Emang sih, pakai dua cincin tunangan itu aneh,” tukas gua sinis, siap beranjak. Gua nggak peduli. Dunia gua baru saja runtuh. Tapi gua nggak mau dunia dia ikutan runtuh.

“Dua? Sakti,” Indi menahan lengan gua lembut, “…nggak gitu. Aku nggak akan pakai cincin dari siapapun.”

Seketika gua berbalik. “Maksud kamu?”
**
Indi menelan ludah. “Aku nggak akan tunangan dengan siapa-siapa.”
“Alfaro?” Sakti bertanya dengan pandangan menyelidik.
“Sejak awal, aku memang nggak berniat apa-apa sama dia. Lagipula, Alfaro bakal menikah bulan depan.”
“Kalau gitu, kenapa cincin ini…?”
“Kamu cowok baik, Sakti. Malah mungkin terlalu baik,” ucap Indi, melepas-kan tangannya dari lengan Sakti. “Setelah kejadian kemarin, aku rasa akan ada orang yang lebih pantas untuk pakai cincin ini ketimbang aku. Maaf ya, udah bikin kamu sakit hati.”
“Hei—tapi…”
“Makasih banyak,” ucap Indi terbata, mencoba menahan tangis, “…Sakti.”
Diletakkannya cincin itu di atas meja dan berlalu keluar.
**
Sekali lagi gua menatap cincin itu sambil terbelalak bengong. Kok, kok, …kok jadi begini, sih? What the hell is going—

Sosok Indi sudah menghilang di balik pintu, dan gua tersadar.
“Heei! Indi!!”
Gua berlari menyusulnya, tapi terlambat. Mobilnya sudah melaju. Sesaat gua berpikir untuk mengambil motor, tetapi sesuatu mendadak terlintas di benak gua: kalau kali ini gua terlambat, gua akan benar-benar kehilangan dia.

Gua urungkan niat itu, lalu menarik nafas panjang.

Gua berlari. Mobilnya melaju makin cepat, dan makin kesetanan pula gua berlari. Bayangan akan masa depan dan ketidakrelaan gua kehilangan cinta membakar semangat gua untuk semakin cepat berlari.

Mobilnya sudah hampir tersusul.
**
Sambil berurai air mata, Indi menatap spion dengan tak percaya. Lari?! Demi apa, dia berlari untuk menyusul gue? Dasar sinting!

Indi menginjak gas perlahan, dan pantulan sosok Sakti dalam spion berangsur mengecil. Tapi sosok itu terus berlari. Dan menambah kecepatan. Wajah Sakti tak menampakkan apapun selain ekspresi khawatir. Ekspresi sama yang Sakti tunjukkan saat ia sakit, saat untuk pertama kalinya ia menyetir di jalan raya dengan ngawur dan saat ia…menangis. Ekspresi yang membuatnya tak tega.
Indi menginjak rem.
**
Gua nyaris kehabisan nafas saat mobil itu mendadak berhenti. Pintunya terbuka dan Indi turun dari dalamnya, tepat saat gua sampai di sisi mobilnya.

“Indi—hah, hah, tunggu—hah, hah, kamu—hah, hah, nggak perlu—haah, haah—”
“Sakti…?” dengan wajahnya yang lembap, Indi mengerutkan dahi, menatap gua bingung dan cemas.

Gua mengacungkan telapak tangan memintanya menunggu. Beberapa menit kemudian,
“—tega! Kenapa nggak berhenti dari tadi?! Kamu pikir aku anjing polisi?!”
Indi menatap gua dengan mulut setengah terbuka, kehabisan kata-kata.
“…a..aku..”
“Stop,” tukas gua. “Jangan bicara. Sekarang aku yang ngomong.”

Gua menarik nafas. “Aku ngerti kalau kamu merasa bersalah,” ujarku, “…tapi sejak hari itu, aku udah memaafkan kamu. Kamu nggak perlu melakukan ini.” Gua mencoba meraih lengannya, tapi kelelahan memaksa tangan gua mencengkeram tepi mobilnya. “Aku cuma mau sama kamu.”

Seketika tubuh gua terdorong mundur. Tanpa bicara, Indi menumpukan tubuhnya pada tubuh gua dan memeluk gua erat. Erat.
**
Indi bisa merasakan panas tubuh Sakti pada kedua lengannya yang melingkar di sekeliling bahu cowok itu. Juga bisa merasakan gerakan kedua lengan Sakti yang balas mendekapnya. Mengusap rambutnya. Mencium puncak kepalanya dan mendekapnya lebih erat lagi.

Tak ada kata yang bisa membagi perasaannya lebih baik daripada diam.
**
Pelukan Indi membuat alam imajinasi dan realita gua bercampur-baur dan meluap dalam rasa senang. So, finally, here I am. Being a last man stand for the one I love.
I’M THE MAN!! I’M THE MAN!! I’M THE—

Sontak Indi melepas pelukannya dan mendorong tubuh gua menjauh.
“Kamu,” tukasnya, “…bau!”
Gua mengendus kaus gua dan terkekeh, “…gara-gara kamu, nih!”
“Kenapa juga harus lari?”
“…aku takut kamu bakal hilang selamanya.”
“Gombaal!”

Tiba-tiba gua tersadar, kekakuan yang selama ini membatas tipis di antara kami sudah musnah.

“Naik,” Indi membuka pintu mobilnya, “…kamu perlu mandi.”
“Aku yang nyetir dong!”
**
Minggu siang yang cerah.

Sebuah SUV berwarna gelap meluncur tersendat sepanjang jalan tol yang macet. Indi yang duduk di sisi kursi pengemudi gelisah, membetulkan letak poninya berulang kali.

“Udah cantik, Sayang,” goda Sakti.
“Aduuh, kok macet ya? Mana kayaknya gerah, lagi,” keluhnya.
“Namanya juga hari Minggu, banyak yang keluar rumah. Bagus dong, daripada tiba-tiba hujan?”

“Kalau soal hujan, EO acaranya pasti udah siap-siap pawang hujan.”
“Eh, ini arah kita bener, kan?”

“Menurut denahnya sih begitu…,” Indi menarik selembar denah dari amplop biru muda sebuah undangan pernikahan. Dua nama tercetak di undangan itu dengan huruf perak: Alfaro & Eline.
**
Entah kenapa Indi terlihat begitu gelisah dengan macet ini. Sesuatu yang biasa kami temui di Jakarta. Apa karena hari ini adalah hari pernikahan Alfaro?
Kalau gua pikir-pikir, berada dalam posisi dia, maka…iya sih, gua juga akan merasa gelisah. Setidaknya, gua sudah meniatkan diri gua untuk bersikap elegan hari ini. Jika dulu gua hanya sempat melihat sekilas, sekarang gua punya kesempatan untuk bertatap muka dengannya. Sepertinya sih cukup tampan. Kira-kira menurut Indi siapa ya yang lebih ganteng?

Jelas gua, dong. *PLAK*

Okay, enough about that…maksud gua adalah, jika hari ini gua bertemu dia, gua akan tersenyum lebar-lebar untuk menunjukkan kemenangan gua dan menjabat tangannya mantap, sambil berucap,

“Congrats, ya. Semoga pernikahan kalian diberkahi.”

last man stand

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.