56 Etnis Suku di China: Suku Bai

Sophie Mou- Nanjing

Pendekar Tayli …..

Walaupun negeri Taili jauh terletak di selatan dan keluarga Toan sebenarnya adalah bangsa Han, tapi mereka sudah lama mendirikan negara dan tidak ingin bermusuhan dengan kerajaan Liau (negara bangsa Cidan), sebab itu juga tidak mau ikut bertengkar dengan Kiau Hong. Kemudian ketika Toan Cing-sun terancam oleh Toan Yan-khing, untung dia ditolong oleh Kiau Hong, dengan demikian ia menjadi utang budi kepada Kian Hong.Sesudah urusan di Tionggoan selesai, mestinya Toan Cing-sun hendak terus pulang ke Taili, tapi di tengah jalan ia mendapat berita dari negeri Taili bahwa putra mahkota, Toan Ki, telah diculik oleh Ciumoti dan dibawa lari ke Tionggoan.

TLBB-bookKeruan ia kaget dan kuatir, segera ia mencari putranya itu kemana-mana. ditambah lagi dia berada pula dengan kekasihnya yang lama, yaitu Cin Ang-bian dan Wi Sing-tiok, dasar sifat Toan Cing-sun memang romantis dan bangor. Sekali kecantol urusan perempuan, lupa daratanlah dia sehingga selama beberapa bulan ini dia masih berada di Tionggoan.

Kenal atau malah heran dengan cuplikan cerita di atas? Cerita di atas adalah cuplikan cerita dari serial silat Pendekar Tayli karangan Chin Yung atau dikenal dengan nama Thian Liong Pat Poh. Lebih dikenal demikian dari aslinya yaitu Tian Long Ba Bu (天龙八部). Cerita ini sangat dikenal dengan latar belakang sejarah dari Negari Dali (lebih dikenal dengan nama Tayli). Dali yang sampai di jaman ini masih ada dan terletak di Yunnan. Negara dulu yang menyimpan 1001 cerita tentang keindahan gunung, lembah dan kecantikan penduduknya serta cerita tentang kepahlawan dari Kerajaan Dali.

Di sanalah bermukim banyak suku2 etnic minoritas dari China. Salah satunya adalah Suku Bai.

Penduduk Bai berjumlah 1,858,063, orang, 80% hidup dalam komunitas Suku Bai di Dali, Yunnan, dan sisanya tersebar di antara Xichang dan Bijie, daerah Sizhuan dan Guizhou

Bai map

Bahasa yang digunakan Suku Bai masih berhubungan dengan Suku Yi dari Tibet. Didominasi oleh banyak huruf China dikarenakan Suku Bai di masa lalu menjalin hubungan yang baik dan berkaitan dengan Suku Han.

Suku Bai berdiam di sekitar delta sungai di Yunnan, di daerah Lancang, Nujiang, dan Jinsha. Berdekatan dengan Danau Erhai, cuaca yang baik menjadikan daerah Suku Bai tempat yang cocok untuk bertanam padi. Di musim panas, Ladang Suku Bai ditanami padi, di musim dingin ditanami kacang-kacangan, kapas, tebu dan gandum. Gunung Dianchang kaya deposit marmer Yunnan yang terkenal,  berwarna putih bersih dengan urat-urat merah, biru muda, hijau dan kuning susu.Marmer ini berharga sebagai bahan bangunan maupun untuk diukir.

erhai lake

Penelitian arkeologi menunjukkan bahwa Suku Bai telah ada sejak 2000 ribuan tahun silam. Penduduk di sekitar Erhai mempunyai hubungan erat dengan Suku Han di masa pemerintahan Dynasty Qin (221-207 B.C) dan Dynasty Han (206 B.C – A.D. 220). Pada thn 109 sebelum masehi Suku Han mengirimkan utusan dan mendirikan daerah administratif, mengajarkan cara membuat peralatan dari besi, dan bercocok tanam.

erhai lake 2

Erhai Lake

Para petinggi Suku Bai bersatu dengan suku Yi mendirikan kerajaan. Kerajaan pertama di Yunnan, dan pemimpin pertama bernama Piluoge yang diangkat oleh Kaisar Tang. Rezim pertama ini diberi gelar Nanzhao. Regim ini bertahan selama 250 tahun. Setelah rezim ini yang berakhir pada tahun 902, muncul Kerajaan Dali. Kerajaan Dali bertahan selama 300 tahun (937 -1253) dan tunduk bersatu di bawah kekuasaan Kaisar Song (967 – 1279). Di masa masa itu Suku Bai mengalami jaman keemasan, mereka memberikan obat-obatan, kerajinan tangan dan menukarkan dengan pengetahuan ekonomi dan cara-cara bercocok tanam dengan Suku Han, serta kebudayan menulis.

dali street

Kerajaan ini dimusnahkan oleh Mongolia pada abad ke 13, setelah itu berganti lagi di bawah pemerintahan Yuan Dynasty (1206-1368). Suku Bai mengalami penjajahan dengan system feodal, tanah-tanah mereka diambil dan dijadikan tanah Negara. Seiring dengan bergantinya kekuasaan Kaisar di China, Suku Bai juga mengalami pergantian penjajahan, dari Yuan sampai diambil alih oleh Ming Dynasty (1268-1644) dan Qing Dynasty, berakhir dengan dibentuknya Republic Rakyat China atau Tiongkok, Suku Bai tidak pernah mengalami masa kemerdekaan, hanya tunduk dari satu penjajahan ke jajahan lain.

Suku Bai adalah pemahat sejati, dan arsitek yang jenius. Bangunan 3 pagoda di Dali ChongSheng adalah bukti nyata. Bangunan ini dibangun sejak jaman Dynasty Tang (618 – 907), begitu pula bangunan Dayan Pagoda di Xian adalah bukti kehebatan Suku Bai. Pahatan dan ukiran dikerjakan dengan teliti. Dibangun pada masa Dinasti Tang, lantai 16 menara utama adalah 60 meter tinggi dan masih berdiri tegak setelah lebih dari 1.000 tahun

sawahBukan hanya dalam pembangunan dan memahat, Suku Bai sejak ribuan tahun lalu telah membangun irigasi untuk pengairan sawah seluas 10 ribu hectar. Banyak peninggalan bangunan-bangunan di tepi danau Erhai yang saat ini menunjukkan bahwa Suku Bai telah mengenal ilmu perbintangan dan pengobatan. Selain itu Suku Bai juga menyukai kesenian menari dan menyanyi. Tarian Barongsai adalah salah satu hasil kreasi Suku Bai pada jaman Dynasty Tang. Selain itu Opera Bai adalah cikal daripada Opera Suku Han. Suku Bai mempunyai pelukis terkenal Zhang Shun dan Wang Feng Zong, hasil karya terbaik mereka dicuri oleh Negara asing di Beijing pada tahun 900.

sawah 3

bai woman bai women

Bai Girl

batik

Batik dari suku Bai

bai food

Makanan suku Bai

minority

Suku Bai kebanyakan beragama Buddha. Baju yang dikenakan Suku Bai berwarna dasar Putih, karena itu mereka disebut Bai dalam bahasa China yang berarti putih, dengan sulaman dan bordiran bunga-bunga. The "Maret Fair," yang jatuh antara bulan Maret 15 dan 20 dari kalender lunar, adalah festival besar Bais.

Dirayakan setiap tahun di kaki Bukit Diancang sebelah barat kota Dali. Bais mempunyai berkumpul untuk olahraga kontes dan pertunjukan teater. Orang-orang berkumpul di sana untuk menikmati tari-tarian, pacuan kuda dan permainan lainnya. Juni 25 adalah "Festival Obor."  Pada hari itu, obor dinyalakan di mana-mana untuk memberkati orang-orang dengan kesehatan yang baik dan keberuntungan. Pita bantalan kata menguntungkan digantungkan di depan pintu dan di samping pintu masuk desa obor. Desa, memasang obor tinggi-tinggi, di ladang-ladang untuk mengusir serangga .

*******

Pendekar Tayli…..

Mendadak Cing-sun melompat ke atas, ia cabut pedang yang menancap di belandar yang ditinggalkan Buyung Hok tadi. Ujung pedang ìtu berlumuran darah Wi Sing-tiok. Cín Ang-bian, Ciong-hujin dan Ong-hujin berempat. Setiap wanita itu pernah bersumpah setia dengan Cing-sun dan mempunyai ikatan jiwa-raga yang mendalam. Meski watak Toan Cing-sun itu bangor dan cintanya tidak teguh, tapi setiap kali bila dia mencintai seorang wanita, maka kasih yang dicurahkannya juga sangat tulus dan tidak segan-segan berkorban apa pun bagi kekasih itu.

Hendaklah maklum bahwa negeri Tayli terletak dì wilayah selatan yang terpencil di mana hidup suku-suku bangsa yang adat istiadatnya tidak sama dengan bangsa Han, mereka tidak terikat oleh adat kuno yang mengekang kebebasan dan tidak terlalu memandang penting soal kesucian wanita sebelum kawin. Sebab itulah meski Cing-sun adalah seorang ksatria persilatan, tapi dalam hal wanita cantik ia tak bisa mengekang diri sehingga banyak utang cinta di dunia kangouw.

Sekarang dilihatnya mayat keempat wanita bekas kekasihnya itu bergelimpangan di atas tanah, kepala Ong-hujin berbantalkan paha Ciu Ang-bian, badan Ciong-hujin melintang di atas perut Wi Sing-tiok. Keempat mereka itu pada masa hidupnya pernah merasa kerinduan kasihnya dan lebih banyak duka dari pada sukanya, bahkan akhirnya berkorban jiwa pula baginya.

Tadi waktu Wi Sing-siok dibunuh oleh Buyung Hok, tatkala itu Cing-sun sudah bertekad akan ikut bunuh diri, sekarang ia lebih-lebih tiada pilihan lagi, pikirnya, "Anak Ki sekarang sudah dewasa dan serba pintar, untuk selanjutnya kerajaan Taili  tidak perlu kuatir tak ada kepala negara yang bijaksana, bagiku menjadi lebih-lebih tidak perlu berkuatir apa-apa lagi."

Tiba-tiba ia berpaling dan berkata kepada sang istri, "Hujin, aku telah berdosa padamu, Dalam hatiku, para wanita ini serupa dengan dirimu, semuanya jantung hatiku, cintaku kepada mereka adalah tulus dan sungguh-sungguh, cintaku kepadamu juga tulus dan murni!"

"Kakak Sun, kau . . . jangan . . . . . “ Teriak Toan-hujin sambil menubruk ke arah sang suami.

Tadi karena Toan Ki ingin menolong ibunya, maka sekaligus ia mengerahkan tenaga untuk melabrak Buyung Hok, tapi kemudian setelah Buyung Hok melarikan diri, sesudah rasa kuatirnya hilang, sekonyong-konyong ia ingat, He, tadi aku dalam keadaan lumpuh, kenapa mendadak sudah baik?” Karena kejutnya itu, kembali ia roboh, badan meringkuk lemas dan tak sanggup berdiri lagi.

Dalam pada itu terdengar jeritan ngeri Toan-hujin, ternyata Toan Cing-sun telah menobloskan pedang ke dada sendiri. Cepat Toan-hujin mencabut keluar pedang itu dan menutup luka sang suami dengan sebelah tangannya sambil menangis, “O, engkoh Sun, biarpun engkau mempunyai seratus atau seribu wanita lain juga aku tetap cinta padamu.

Terkadang aku memang marah dan dendam padamu, namun .. . namun . . . semuanya itu sudah lalu . . . . "

Tikaman Toan Cing-sun atas dada sendiri itu tepat mengenai jantung, begitu pedang masuk dada seketika pula jiwanya melayang, maka ia tidak sempat lagi mendengarkan jerit tangis sang istri. Segera Toan-hujin membalik ujung pedang ke arah dadanya sendiri, dan baru saja hendak ditusukkan, tiba-tiba terdengar teriakan Toan Ki, “Ibu! . . . “

TLBB01

Dan karena sedikit ayalnya itu, arah pedang menjadi melenceng dan menusuk ke dalam perut. Melihat ayah ibunya sama mati dengan membunuh diri, sungguh kaget Toan Ki tak terkatakan, kaki terasa lemas, terus ia merangkak mendekati kedua orang tua yang berlumuran darah dan mengeletak itu.

"Ibu! Ayah! Kalian mengapa . . . mengapa . . . . “
"Anakku, ayah dan ibu akan mangkat, hendaknya jaga dirimu sendiri dengan baik”, pesan Toan-hujin dengan lemah.
”Tidak . . . tidak ibu! Jangan . . . jangan kau tinggalkan anak!
Ayah! Dia . . . dia bagaimana? Demikian seru Toan Ki sambil menangis dan merangkul pundak sang ibu. Maksudnya hendak mencabut pedang yang menancap di perut ibunya itu, tapi kuatir pula kalau pedang dicabut mungkin akan mempercepat kematian orang tua itu.

”Kau . . . harus . . . harus meniru pamanmu. Nah, jadilah seorang raja yang . . . yang baik, seorang raja yang arif," pesan Toan-hujin.

Toan-hujin menghela napas, katanya pula, "Anakku yang baik, sayang aku tak dapat menyaksikan sendiri dirimu mengenakan jubah kebesaranmu dan duduk di atas singgasanamu, tapi Aku tahu, kamu pasti akan menjadi seorang kepala negara, seorang pemimpin rakyat yang arif dan bijaksana.”

 

Sumber :

travelguidechina.com

china.org.shaosuminchu

Chin Yung serial Pendekar Negeri Tayli

Sumber-sumber lain Etnis Minoritas di China

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.