[Family Corner] Mixed Couple

Dewi Aichi – Brazil


Family Corner: Mixed Couple

Halo sahabat Baltyra di manapun berada,

Perkawinan adalah sebuah komitmen yang sungguh-sungguh antara pria dan wanita. Bahkan perkawinan adalah menyatukan dua karakter dari dua pribadi wanita dan pria yang berbeda.Apalagi memiliki pasangan beda bangsa, itu tidaklah mudah. Banyak hal yang harus dilakukan, seperti menerima kebudayaan yang berbeda pada setiap masing-masing pasangan.

Banyak sekali persoalan yang harus dihadapi dari awal akan menikah sampai dalam persoalan selanjutnya setelah menikah.Pengalamanku sendiri di awal-awal mau memasuki pernikahan, harus berurusan dengan hukum yang berlaku di Indonesia. rumitnya prosedur yang harus dilakukan dengan menguras tenaga dan biaya, ditambah lagi minimnya pengetahuan saya tentang UU perkawinan antar bangsa semakin menambah rumit.

Awal tahun 1998, sebelum internet menjamur seperti sekarang ini, betapa sulitnya mencari informasi yang kita butuhkan. apalagi saya tidak pernah terlintas untuk menikah dengan warga asing. Jadi untuk mengurus segala dokumen pernikahanpun saya harus mondar mandir hingga membutuhkan waktu 1 bulan.

Tahun 1998 ketika masih bebas visa selama 2 bulan bagi warga asing masuk Indonesia, kedatangan suami (calon suami waktu itu), masih mudah. Hanya melapor saja ke RT, RW dan polres setempat. Setelah itu baru mulai urus dokument untuk pernikahan, dari pihak saya seperti pada umumnya yaitu surat pengantar dari RT RW setempat, kemudian pengisian berkas berkas di KUA. Sedang dari pihak suami selain surat dari kedutaan negara suami, dibutuhkan juga surat keterangan belum menikah dari negara asal. Itupun harus diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh penterjemah tersumpah yang ditunjuk kedutaan negara asal suami.

Saya menikah di KUA Jakarta timur. Urusan setelah menikah justru lebih rumit. Menurut peraturan di Indonesia, setelah menikah harus dilaporkan ke catatan sipil pusat, waktu itu di JL. S Parman, Jakarta Barat. Tapi surat nikah yang dari KUA harus di legalisir dulu di Departemen Agama Pusat, kemudian di Deplu yang kebetulan gedungnya berdekatan, kemudian baru dilegalisir di Departemen Kehakiman Pusat di Kuningan. Setelah itu baru diurus ke catatan sipil. Surat dari catatan sipil inilah yang saya gunakan untuk mencatatkan ke kedutaan negara suami . dan prosesnya juga sama yaitu kedutaan negara asal suami akan meminta legalitas dari Deplu pusat dan Dep. Kehakiman, dengan diterjemahkan dulu ke dalam bahasa Inggris oleh penterjemah tersumpah yang di tunjuk.

Bagi yang akan menikah dengan warga asing, yang perlu diperhatikan adalah perjanjian pra nikah yang ada di KUA untuk yang menikah di KUA. Selain KUA saya tidak tau peraturannya. Perjanjian pra nikah harus di isi, misalnya pembagian harta seandainya suami meninggal atau cerai dan sebagainya. Di kampung biasanya hal ini di abaikan, karena kesannya kurang bagus. Tapi bagi saya yang menikah dengan wna sungguh menjadi persoalan yang rumit. saya tidak menduga bahwa itu dipermasalahkan, secara saya tidak menuliskan perjanjian pra nikah. Saat pencatatan di kedutaan negara asal suami, hal ini dipertanyakan, tanpa itu perkawinan hanya dicatatkan, tapi tidak bisa memiliki setifikat atau buku nikah dari kedutaan.

Urusan dengan dokument belum berhenti sampai di situ. 4 tahun kemudian yaitu tahun 2001 adalah kelahiran anak saya. Lagi-lagi masalah dokument telah menghabiskan tenaga, pikiran serta biaya yang tidak sedikit. Ini dikarenakan ketidaktauan saya tentang UU bagi anak hasil perkawinan campur. Seharusnya setelah anak lahir, urus akte kelahiran di kota dimana anak dilahirkan dengan status anak” warga negara asing”. Ini saya tau saat 3 bulan setelah kelahiran dimana saya harus mengurus akte kelahiran yang dikeluarkan oleh kedutaan Brasil. Tanpa akte yang dibuat oleh catatan sipil, maka pihak kedutaan tidak akan mengeluarkan akte untuk anak saya. Akhirnya saya harus urus akte kelahiran anak saya di kantor catatan sipil Jakarta timur, kemudian baru urus ke kedutaan. setelah memiliki akte yang di keluarkan oleh kedutaan, baru anak saya bisa mengajukan untuk pembuatan paspor.

3 bulan kemudian saat saya akan berangkat ke Jepang, saya harus urus visa kunjungan keluarga di kedutaan Jepang, yang ini tidak ada masalah , karena dokument semua lengkap. Nah berurusan dengan imigrasi Indonesia, saya kaget, karena pihak imigrasi menyatakan bahwa anak saya dari lahir sampai hampir 7 bulan tidak ada visa Indonesia. Ini sungguh bikin saya panik setengah mati. Sayapun tidak bisa keluar Indonesia tanpa mengurus dulu visa anak. Bayangkan saja berapa biaya yang harus saya keluarkan untuk membayar dendanya selama hampir 7 bulan dikalikan 20 USD/hari. Mau ngga mau saya harus bayar denda ke imigrasi. Baru saya bisa meninggalkan Indonesia.

Lagi-lagi itu akibat kekurangtahuan saya masalah peraturan di Indonesia mengenai UU kewarganegaraan. Seandainya tau, saya tidak akan mengalami hal seperti itu. akhirnya saya bisa meninggalkan Indonesia dengan membawa anak saya yang masih 7 bulan. Di Jepang saya tidak ada masalah dengan dokument karena jauh sebelum menikah saya sudah memiliki visa untuk bisa tinggal di Jepang.

Di Indonesia bisa dikatakan bahwa saat ini perkawinan antar bangsa bukan merupakan hal yang baru lagi. Mungkin hal itulah maka pemerintahpun mengeluarkan kebijaksanaan baru yang bisa dikatakan untuk melindungi kaum wanita. DPR kemudian mengesahkan UU kewarganegaraan yang baru pada tanggal 11 Juli 2006, tapi baru bisa diturunkan pelaksanaannya setahun kemudian.

Tahun 2007 saat saya berada di Jogja tidak menyia-nyiakan waktu yang ada untuk mengurus fasilitas keimigrasian anak saya. Dari kantor Departemen Hukum dan Ham di Jl. Gedong Kuning Jogjakarta saya ajukan surat permohonan lengkap dengan semua persyaratannya.

Menunggu waktu selama 3 bulan, maka selesailah urusan keimigrasian untuk anak saya. Sekarang anak saya bisa tinggal di Indonesia tanpa mengurus visa, paling tidak sampai 18 tahun, dan masih ada kesempatan 3 tahun untuk memilih kewarganegaraan.

Banyak ibu-ibu yang memiliki anak dari perkawinan campur ini membuatkan paspor Indonesia untuk anaknya selain paspor WNA nya. Tapi saya tidak berminat untuk membuatkan paspor Indonesia, karena selain tidak digunakan, tidak perlu paspor Indonesia. Tanpa paspor Indonesiapun sekarang bisa tinggal di Indonesia…bebas tanpa visa meski pegang paspor asing.

Bagi anak yang lahir setelah 2006 maka otomatis menjadi WNI tanpa mengurus rumit seperti pengalaman saya. Berhubung sekarang makin banyak WNI yang akan menikah dengan WNA, tapi terkendala dengan minimnya informasi mengenai prosedur maka dalam kesempatan ini saya akan sedikit share, berbagi pengalaman, meskipun sekarang tidak sesulit waktu saya akan menikah dulu(1998).

Ada beberapa syarat yang harus dipersiapkan:

a. untuk calon suami
Surat yang harus dilampirkan oleh calon suami dari negara asal yaitu :
– fotocopy identitas diri(KTP/paspor).
– fotocopy akte kelahiran.
– surat keterangan bahwa calon suami tidak sedang menikah, surat keterangan cerai
atau surat keterangan kematian apabila istri telah meninggal.

Semua surat tersebut diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh penterjemah tersumpah(biasanya yang ditunjuk oleh kedutaan negara calon suami), kemudian terjemahan tersebut harus dilegalisir di kedutaan.

b. untuk calon istri

– fotocopy KTP
– fotocopy akte kelahiran
– data orang tua
– surat pengantar RT,RW

Kutipan akta perkawinan yang telah anda dapatkan, masih harus dilegalisir di Departemen Hukum dan HAM dan Departemen Luar Negeri, serta didaftarkan di Kedutaan negara asal suami.

Dengan adanya legalisasi itu, maka perkawinan anda sudah sah dan diterima secara internasional, baik bagi hukum di negara asal suami, maupun menurut hukum di Indonesia.

Mudah-mudahan sedikit info dan pengalaman saya ini ada manfaatnya bagi yang akan menikah dengan WNA, agar tidak mengalami kesulitan seperti yang saya alami.

Satu lagi untuk yang memiliki pasangan asing,menciptakan benang komunikasi itu paling penting, meskipun kendala bahasa yang kadang kurang nyambung, namun tetap berusaha untuk saling belajar, menerima cultur, budaya, pola pikir yang berbeda. Sayapun melewati kesulitan-kesulitan yang hampir membuatku putus asa.

Setiap kehidupan dalam perkawinan kita pasti mengharapkan kebahagiaan pada akhirnya. Tidak ada seorangpun yang mengharapkan adanya perceraian dalam sebuah perkawinan, komunikasi merupakan kunci dan berperan penting dalam kehidupan berpasangan.

Ebony-&-Ivory-BW

About Dewi Aichi

Berasal dari Sleman Jogjakarta, saya blasteran (antar kelurahan maksudnya), happily married to a Brazilian guy. Dari Jogja merambah dunia. Pernikahan lintas benua adalah pilihannya. Setelah beberapa tahun di Distrik Aichi, Jepang, sekarang tinggal di Brazil bersama keluarga tercintanya. Tingkat sudrunnya setara dengan saudara-saudara sepersudrunannya seperti Nur Mberok, Elnino, Fire dan jelas Lani van Kona.

Di sini saya bukan siapa-siapa dan bukan apa-apa, saya hanya sekedar menulis apa yang saya rasakan, apa yang saya alami, dan apa yang menarik buat saya untuk ditulis. Jika ini bermanfaat untuk diri saya sendiri dan juga untuk teman-teman, saya sangat bersyukur

My Facebook Arsip Artikel Website

21 Comments to "[Family Corner] Mixed Couple"

  1. Dewi Aichi  29 October, 2017 at 06:41

    Pak SLB, haha…iya juga sih, perkawinan sesama jenis makin marak dan makin banyak. walaupun pada tahun di mana aku tulis artikel ini, sudah ada perkawinan sejenis, pasangan sejenis.

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *