Mabuk Teh Oplosan

Junanto Herdiawan – Indonesia

Soal minum teh, ternyata lidah saya masih lidah kampung. Dari aneka ragam jenis teh unggulan dan berkualitas tinggi yang kebetulan pernah saya cicipi, pada ujungnya sensasi teh di kampung tetap tak tertandingi. Pekan lalu, bersama dengan rekan “komunitas wedhangan”, kita hang out di Wedhangan Muji Rahayu, Solo. Dan malam itu, diskusi bertema seputar kenikmatan teh kampung.
Bagi orang Jawa, ritual minum teh tak serumit orang Jepang, China, atau Inggris yang penuh ritus, mengakar, dan kaya makna. Merek-merek teh ternama, seperti Twinning dan Dilmah, menyajikan “provenance” (daerah asal) teh jenis Assam, Darjeeling, Lady Grey, Earl Grey, dan aneka ragam varian lainnya yang mendunia dan melambangkan aristokrasi budaya minum teh.

Namun bagi orang Jawa, minum teh ..ya minum teh. They simply just drink tea. Waktu saya kecil, almarhum mbah buyut di Solo kerap membuat teh nasgitel di rumahnya. Nasgitel adalah akronim dari “panas legi kenthel”. Cara membuat tehnyapun non standar, alias menerabas rambu-rambu para pecinta teh. Kita tahu bahwa teh sangat volatil. Untuk itu, menyeduhnya perlu kehati-hatian. Biasanya, teh diseduh agar senyawa katekin, kafein, serta asam amino keluar secara maksimal sehingga cita rasa dan aroma teh lebih terasa. Menuangnya juga harus hati-hati, perlu ritual sendiri agar tidak merusak rasa. mengodok teh

Tapi buat si mbah, ia tak peduli aturan itu. Si mbah menggodok atau merebus air di atas kayu bakar. Menjerangnya dan menggodok teh secara langsung, bukan diseduh secara lembut. Dan menuangnyapun begitu saja seolah tanpa perasaaan, tak beda dengan menuang gayung di kamar mandi. Meski demikian, soal rasa teh si mbah, hmmm jangan tanya. Selain harum dan kental, aroma kayu bakar membuat bau sangit pada teh yang membuatnya lezaat.

Untuk merek teh favorit di Jawa, bermacam-macam. Ada teh Gardoe, teh 999, teh sepeda balap, teh Gopek, teh cap Nyapu, teh Sintren, dan aneka ragam merek lain yang sulit ditemukan di Jakarta, apalagi di luar negeri. Dan malam itu, di wedhangan Muji Rahayu, sang bartender teh membawa kembali kenangan teh kreasi mbah buyut. Sang bartender tampil menunjukkan kepiawaiannya menggodok dan meracik teh. Rasanya, kampung banget. Panas, Legi, dan Kenthel.

bartender

Kalau kita cecap secara lebih dalam lagi, cita rasa teh di berbagai warung di Solo tak pernah sama. Bahkan di setiap rumah juga demikian. Mengapa? Karena ternyata mereka melakukan oplosan atau blending dari berbagai merek teh yang ada. Bagi yang suka sepat, atau manis, atau warna merah, campurannya berbeda-beda sesuai selera. Di wedhangan Muji Rahayu, kombinasi yang dipakai adalah Teh Gardoe dan Teh Sintren. Keduanya di-blended dengan takaran tertentu sehingga menghasilkan cita rasa yang sepat, sangit, namun mantab. Oplosan lain yang terkenal adalah Teh Sintren dicampur Teh 999 atau Teh Nyapu dicampur Teh 999 dgn perbandingan 2:1. Ada juga campuran teh Gopek dengan Teh Nyapu, ataupun eksperimen lain sesuai dengan selera.

teh gardoe Bagi beberapa orang yang tidak terbiasa dengan teh oplosan, bablas ora enak tenan rasane, alias bakal terkaget-kaget dengan rasanya. Memang, teh seperti ini tak laku di Eropa dan dunia Global. Teh dari Indonesia tidak satupun yang dikenal memiliki “provenance” top. Jenis teh yang ada tersebut memang teh kualitas rendah. Teh tersebut dibuat bukan dari pucuk pilihan terbaik, bahkan ada yang dari batang-batang teh sisa. Sementara pucuk terbaik, diekspor atau bahkan diproduksi di luar negeri. Hal ini mengakibatkan harganya selalu menjadi sangat murah karena hanya dipakai sebagai oplosan atau pencampur teh. Proses meracik teh ala Indonesia juga tidak ada yang terkenal mendunia, meski Indonesia adalah produsen teh nomer 6 didunia.

Meski teh oplosan Jawa adalah teh yang terpinggirkan dari dunia teh global, bagi saya mereka tetap jagoan. Mereka terpinggirkan bukan karena kesalahannya. Itu soal selera. Oleh karenanya, di hari terakhir kami di Solo, kami mampir ke toko “Sami Luwes” yang menyediakan aneka teh Jawa. Kami memborong aneka merek teh kampung yang sulit diperoleh di Jakarta. Kita bertekad untuk meng-oplos teh, dan Mabuk Teh Oplosan. Selamat meng-oplos.

teh 999 teh cap nyaputeh cap sintrenteh gopekteh buah coklat

5 Comments to "Mabuk Teh Oplosan"

  1. Edha  16 March, 2020 at 20:37

    Itu perbandingan 2:1 untuk 1 ceret kecil kah ??

  2. Dwi Haryanto  27 April, 2014 at 11:40

    Kl mau bl teh2 trsbt ada yf bisa online gk?

  3. Hera  13 February, 2012 at 12:31

    Mau tanya jenis teh yg cocok dijadikan teh tarik apakah adalah jenis teh assam? dan jika di indonesia merek apa yg mendekati rasa teh jenis assam tersebut?

  4. xkabuta  24 April, 2011 at 22:33

    mantabs artikenya..perlu di coba nui…kombinasi 2:1 masuk hitungan…

  5. roswaldi  17 March, 2011 at 15:40

    silahkan coba teh yang dari pucuk batang teh, dijual kiloan di daerah garut… rasanya kampung banget….

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.