Sinka, Si Primadona Baru Kota Amoi

Meazza – China

Kota Singkawang, salah satu kota administratif di Kalimantan Barat yang biasa dikenal dengan Kota Amoi atau Kota Seribu Kelenteng ini menyimpan ragam pesona alam yang sangat potensial. Sebut saja pantai Pasir Panjang, pantai Kura-kura, atau tempat pemandian Hangmui yang menjadi andalan wisata kota ini. Sinka Island atau biasa disebut Teluk Mak Jantu, tempat baru yang ramai dikunjungi ini menjadi primadona baru buat meramaikan wisata pantai di kota ini.

Saya mengenal nama Sinka sejak bergabung di salah satu forum fotografi di salah satu jejaring sosial internet. Meski lahir dan besar di Kalimantan Barat tapi tak urung nama itu tetap terasa asing di telinga.Dan rasa tertarik buat mengunjunginya timbul setelah beberapa dari anggota forum meng-upload foto-foto Sinka. Wow, foto pantai nan indah serta langit biru cerah membuat saya tak sabar menyambut libur musim panas dan segera pulang ke tanah air. Ingin rasanya mengabadikan Pulau Sinka dengan kamera sendiri.

Sesuai rencana, hari Sabtu yang sudah saya nanti-nantikan ini akan saya habiskan di Sinka. Dengan bersepeda motor saya berangkat ke Singkawang. Dari kota tempat saya tinggal ke Singkawang hanya menghabiskan satu jam saja dengan bersepeda motor. Dari pusat kota Singkawang, langsung ke daerah Sedau dan kurang dari 15 menit tibalah di sebuah gerbang yang bertuliskan,”Welcome to Sinka Zoo”. Awalnya saya sempat bingung. Apakah ini tempat yang terkenal dengan pantai asrinya itu? Setelah bertanya pada penduduk setempat, barulah saya masuk.

Sekitar 15 menit dari gerbang luar, saya tiba di pintu masuk ke taman wisata Sinka Island. Setelah membayar tiket masuk seharga Rp. 7.000,- saya memarkir motor di antara kendaraan lain yang sudah memadati areal parkir. Semula saya sempat ragu bisa have fun di pantai ini. Saya sudah membayangkan di mana-mana pasti ramai pengunjung dan saya tak akan bisa dengan leluasa memotret di sini. Yah, tapi sudah tiba di sini dan memang salah saya juga memilih akhir pekan untuk main ke sini. So, lihat saja nanti, siapa tau masih bisa motret.

Cuaca siang itu cukup panas. Matahari membakar pasir yang menghampar membuat kaki saya terasa sakit. Tapi saya terus berjalan menyusuri pantai dan melewati hutan kecil di bagian dalam Sinka. Selain ingin mencari angle buat memotret, saya ingin bersepi ria di sini. Sudah lama tak menikmati kesendirian di alam terbuka begini. Dan sungguh, Sinka memenuhi semua keinginan saya. Saya bisa menghirup udara segar sambil merenung di bawah langit biru, dan masih ditambah bonus bisa mengabadikan keindahan alam ini dengan kamera saya. Meski lagi-lagi kamera Canon Powershot A 590 IS ini meraung-raung menolak cahaya terang benderang, tapi toh beberapa foto membuat saya tersenyum karena sesuai dengan keinginan saya. 

Setelah puas berkeliling, kaki pun mulai pegal dan haus mulai menghampiri. Saya mampir sebentar di warung kecil yang berjejer di tepi pantai. Sambil duduk di bawah beringin yang rindang, saya menikmati es kelapa yang sungguh saya rindukan. Ah, belum puas menyeruput daging kelapa muda yang manis itu, langit mulai mendung. Hm, saatnya buat meninggalkan Sinka karena khawatir akan kehujanan di perjalanan pulang ke rumah nanti.

 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
Selamat tinggal Sinka, saya akan kembali lagi.
 
Genio Atrapado, August 2009

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.