Tuesday, 27 October 2009
La Rose Djayasupena – The Netherland
Kita baru pertama kali kenal dengan dia, mungkin pernah satu kali date. Kita pun langsung menyukainya. Ketika kita hang out lagi dengan dia, setiap kali bicara dengannya, diri ini jadi ser-seran dibuatnya. Juga, ketika melihat cara dia memandang kita, atau ketika tangan kita bersentuhan dengannya. Rasanya, hati ini jadi melambung tinggi. Apalagi kalau tangan dia memegang pinggang kita, ketika dia mempersilahkan kita untuk jalan duluan…hhmmm…rasanya gimanaa…gituu.
Lalu, merasakan hembusan nafasnya, harum parfumnya. Bikin tambah merinding aja diri ini, pengen banget menciumnya. Tapi kita jual mahal dulu, deh! Biar kita merasakan sensansi yang luar biasa, ketika tiba saatnya kita berduaan denganya.
Hingga akhirnya saat itu pun tiba, moment-nya sangat pas banget malam itu. Kita duduk manis berdua sambil memutar musik yang sangat romantis. Ditambah lilin diruangan itu, suasana pun menjadi remang-remang, dengan segelas wine ditangan masing-masing…Hmmm. . membuat suasana makin romantis aja.
Sambil ngobrol sekali-kali kepala kita sandar kan di bahunya. Jari-jari kita bersentuhan saling remas, sambil. . bla. . bla. . bla…Sampai akhirnya terjadilah apa yang selama ini kita nanti-nantikan. Berciuman malam itu dengan dia, bahkan mungkin lebih dari itu dengan dia. Sampai making love segala.
Tetapiiiiii…. sejak berciuman dan bercinta dengan dia. Perasaan kita jadi gimaaana…gituuu…Bukannya malah tambah suka sama dia, kok, malah akhirnya ”Bah” atau ”Huek” Tetapi kita tidak mengetahui sebabnya, kenapa perasaan kita terhadapnya jadi begitu… hambar! Ternyata perasaan itu tidak hanya dirasakan oleh kita sendiri, tetapi oleh dia juga.
Parahnya, yang tadinya kita suka disentuh oleh dia, disekitar pinggang atau tangan, malah kita tidak menyukainya lagi. Kita merasa tidak nyaman kalau dia melakukan hal itu. Bawaan-nya sebeeel…banget. . hiks!Kalau dia menyentuh, salah satu bagian tubuh kita. Pokok bawaannya jadi BeTe baget, kalau deket –deket dia…hiks!
Jadi, kita ini harus gimana, sih? Bicarakan dengan dia, dong!Masalahnya ada dimana, diantara kalian berdua itu. ? Kalau alasannya ternyata, karna dia itu nggak terlalu”lihai” ketika berciuman atau nggak terlalu ”hot” sewaktu bercinta. . Yaaa…semua itu kan harus belajar dan butuh waktu, seandainya salah satu dari kalian memang tidak ada yang berpengalaman dalam hal satu itu.
Dari itu, komunikasi itu penting! Segera bicarakan masalahnya dengan dia, terus terang katakan pada dia jangan malu-malu, lebih cepat, lebih baik. Daripada berlarut-larut, tidak menyelesaikan masalah, akhirnya bubar. Katakan pada dia, apa yang menurut kalian berdua masing-masing rasakan enak, ketika sedang bersentuhan. Dan, apa yang kalian berdua, masing-masing rasakan tidak enak, ketika sedang bersentuhan. Misalnya pengennya tuh begini, atau, pengennya tuh begitu kalau lagi berciuman dan bercinta dengan dia.
Groetjes
L. R. D
October 27th, 2009 at 10:33
Tante LRD, mungkin perlu belajar komunikaseks dan sexercise, kali???
October 27th, 2009 at 09:52
JC: Ide Awesome boleh juga tuh……sekalian pake bumbu instan kare. Hi……
October 27th, 2009 at 09:46
pake bumbu kare + sambel terasi donk, maknyuss…
October 27th, 2009 at 08:21
coba bercintanya dibumbui dengan perasaan cinta, pasti ngga akan hambar rasanya
October 27th, 2009 at 08:10
SU: hihihi..garam n merica kok kayak mau makan telor setengah matang…haha…
October 27th, 2009 at 08:06
Tolong dong garam dan mericanya dioper kesaya. Hi……
October 27th, 2009 at 05:26
kalo ciuman dan bercinta tanpa perasaan..memang rasanya hambar..berarti dari awal memang chemistrynya ngga terlalu ada *halah..anak kecil ikut2xan* hik hik hik
October 27th, 2009 at 02:02
Mba La Rose, bener kalo nggak klik komunikasinya malah jadi salah faham, ujung2nya hambar….tambahin garam dunk, hehehe.
October 27th, 2009 at 01:16
Kok Hambar ? kurang garam
October 27th, 2009 at 00:49
Bram ikutan baca ya … zus
Zoen manis voor U