Australia Surga Untuk Pencari Suaka?

Nuni – Melbourne

Karena sering diminta menerjemahkan berita dari bahasa Inggris ke bahasa Indonesia untuk sebuah radio di Australia, mau ga mau saya harus ‘rajin’ mengikuti perkembangan berita terkini terutama yang menyangkut hubungan kedua negara Australia dan Indonesia.

Belakangan ini, berita yang sering mewarnai media di Indonesia dan Australia adalah soal pencari suaka/asylum seeker yang mencoba ingin menerobos imigrasi Australia. Maka sebagai konsekuensinya saya pun harus mengikuti perkembangan beritanya, baik dari televisi, koran, majalah dan internet.

Yang menjadi catatan menarik dari pengamatan saya adalah, bahwa sejak awal abad ke-19 Australia memang favorit menjadi tempat migrasi berbagai bangsa. Gelombang migrasi ini terus berubah dari waktu-ke waktu. Awal tahun 1900-an imigran Cina menjadi imigran besar setelah migrasi Eropa tahun 1800 an.

Tentu saja semua gelombang migrasi itu berbeda-beda tujuan dan motivasinya. Kalau para imigran kulit putih yang awalnya mendatangkan para ‘mantan kriminal’ berobsesi ingin membangun negeri di selatan yang mereka anggap sebagai tanah air kedua, lain lagi ceritanya dengan gelombang imigran Cina. Imigran Cina yang cepat melebur ke pedalaman Australia –apalagi ketika emas ditemukan di hinterland Australia seperti di Ballarat di Victoria –selain ingin menikmati gold rush (motif ekonomi) juga bermotif kulural. Banyak peninggalan budaya Cina tersebar di sekitar Australia.

Sudah pasti banyak masalah yang datang semenjak imigran ‘non kulit putih’ mulai datang ke OZ, mulai dari kecemburuan sosial juga sikap ulet dan kerja keras imigran Cina yang fleksibel dengan gaji yang mereka terima. Maka pemberontakan Eureka pun berkecamuk, yang selanjutnya juga menjadi pertanda awal spirit demokrasi di kalangan buruh Australia mengemuka.

Ketika demam emas berangsur-angsur mereda. Perang dunia pertama dan kedua mendorong banyak warga sipil yang menderita akibat perang berbondong-bondong ke selatan mencari penghidupan baru dan masa depan yang lebih baik. Maka muncullah kelompok bangsa berbahasa Eropa di sepanjang state di Australia. Ini makin member warna multicultural untuk Australia.
Selesai perang dunia kedua, Vietnam dilanda perang saudara (komunis dan non komunis). Lagi-lagi jutaan manusia mencoba mencari kebebasan yang diimpikan di Australia. Maka jutaan orang yang sering disebut sebagai manusia perahu ini pun menggantungkan nasibnya di atas perahu-perahu sederhana menuju ke negeri berbentuk kangguru itu.

Banyak cerita sukses dan banyak pula cerita lara. Yang sukses kini menjelma menjadi berbagai pengusaha di Australia. Sementara yang tidak sukses selain tewas di perjalanan atau terpaksa berpisah dari keluarganya karena sakit, badai topan di lautan dan tak sanggup melewati penderitaan di negara persinggahan. Banyak kisah sedih mereka tertinggal di pulau Galang (Sumatra).

Kemudian lepas dari imigran Asia, memasuki tahun 1980-an konflik di Timur Tengah, menjadi cerita baru pula untuk Australia. Banyak warga sipil yang tidak ingin menderita akibat konflik berkepanjangan itu mencari negeri baru yang penuh harapan. Maka mulailah gelombang imigran Timur Tengah menyusuri Australia. Kelompok imigran yang mayoritas berbahasa Arab, Turki dan Asiria (Iran/Irak) ini kembali menandai gelombang migrasi ke Australia.Perang antar gank narkoba di Amerika Latin pun sedikit banyak menyumbang gelombang imigran di Australai walau tak sebanyak yang lain.

Dan kini di abad milenium, lagi-lagi gelombang imigrasi kembali mewarnai sejarah modern Australia. Konflik di Irak, Afganistan dan negeri-negeri di sekitarnya mendorong banyak orang untuk mencari perlindungan di Australia. Sayangnya banyak pengungsi dan pencari suaka ini menempuh jalan pintas (penyelundupan manusia) yang tidak menjamin bakal aman dan sukses, selain harus membayar mahal ke calo yang tidak bertangggung jawab.

Banyak para pencari suaka (asylum seeker) akhirnya hanya terdampar di negeri persinggahan dan tidak tahu kapan akan sukses menuju negeri impian (Australia) ketika kapal mereka dihadang pihak berwenang Australia dan Indonesia. Di Puncak Bogor misalnya, banyak para pencari suaka yang menunggu proses migrasi mereka ke Australia, juga di Lombok ratusan orang masih terkatung-katung nasibnya. Tentu saja ini PR berat untuk kedua negara (Indonesia dan Australia) yang harus menyediakan sarana dan fasilitas untuk mereka selama dalam proses penantian.

Masalahnya untuk memakai proses yang legal pun prosesnya berbelit-belit dan makan waktu lama, tak heran banyak pengungsi yang ga sabar dan coba cari jalan pintas. Saya simpati terhadap nasib mereka namun di sisi lain juga memahami cara berpikir Australia yang ‘hati-hati’ dalam bersikap karena ini menyangkut nasib sebuah negeri juga. Apakah mereka sanggup menampung mereka dan memberi hidup bukan sebatas untuk waktu yang singkat. Belum lagi respon masyarakat yang kurang senang dengan para imigran yang dianggap jadi beban untuk negara dan para pembayar pajak (Australia memakai sistem progresif, makin besar pendapatan makin besar pajaknya) terlepas dari isu ‘white people dominant).

SL 3

Yah begitulah so complicated kalau boleh dibilang. Bagai meregang benang kusut, satu-satu masalah harus diurai dulu, tapi dari mana ya. Yang jelas saya sih setuju sama pendapat PM Australia Kevin Rudd, Australia negara yang tegas dalam menangani soal imigran namun tetap manusiawi ini juga menyangkut sikap soal lintas batas wilayah Australia sehingga sebaiknya ada kesepakatan yang jelas antara dua negara bertetangga, Australia dan Indonesia.

Yang jelas upaya Australia untuk menyiapkan sarana dan fasilitas lengkap di Pulau Christmas boleh lah didukung sebagai wujud janji mereka untuk melayani para pengungsi yang ingin masuk ke Australia. Kini issue migrasi lagi-lagi bertiup setelah ratusan orang warga Sri Lanka mencoba nasib untuk memulai hidup baru di Australia.

refugee boat

Warga yang nekat agar boleh meneruskan perjalanannya ke Australia ini masih terkatung-katung di kapal mereka yang tertangkap di Pelabuhan Merak. Namun setidaknya sudah ada perjanjian kerja sama antara pemerintah Indonesia dan Australia untuk menempatkan mereka di penampungan sementara sampai proses berakhir. Repot juga ya kalau mereka sampai mengancam mogok makan!

SL 1

Yang jelas di balik cerita penyelundupan manusia (people smugglers) ada bisnis menggiurkan yang bikin para calo tak henti untuk mencoba menolong orang yang putus asa. Berbagai cara lihai mereka lakukan, mulai dari memasukan manusia di kapal nelayan mereka yang mungil sehingga tidak dicurigai patroli keamanan perbatasan ke dua negara sampai ditempatkan di mesin kapal. Bukan main risiko yang mereka tanggung ya untuk sebuah kebebasan! Yang jelas para calo ini bisa meraup keuntungan ratusan sampai ribuan dollar kalau manusia yang diselundupkan sukses mendarat di wilayah Australia.

camp refugee

Padahal, cerita baru berawal di sini. Syukur-syukur kalau mereka bisa segera membaur dengan masyarakat lokal dan bernasib baik sehingga bisa memulai hidup baru di Australia. Sayangnya, banyak pula akhirnya yang kandas di tempat penampungan seperti ‘detention’ karena keterbatasan bahasa, skill dan lainnya. Namun, harapan setiap orang memang tidak akan pernah pupus untuk mencoba dan mencari hidup damai yang mereka cita-citakan. Seperti kata seorang imigran Afganistan yang masih tertahan di Jakarta dan terpisah dengan kakaknya yang sudah sukses di Australia karena ‘bernasib baik’. “Australia just likes heaven for me! Even my brother not allow me to follow his way (as an illegal asylum seeker) to come to Australia, but I will try again soon!”

OZ map

Melbourne, Oct 09

15 Comments to "Australia Surga Untuk Pencari Suaka?"

  1. mamad  30 July, 2015 at 14:39

    Onta. Onta padang pasir mau banyak ke australia,eropa dan amerika bukankah negara negara itu kafir jahat konspirator suruh aja onta onta itu ke arab saudi sana ngapain.disana lengkap sesuai syariah lg.bukankah negara negara itu yang paling di. Benci ayo fpi ato psantren psantren tampung dong seukuwah nih

  2. ahmad d.bashori  19 December, 2011 at 08:24

    yth ibu Nuni, bu bisa saya dapat kontak ibu? saya tertarik akan membuat film dokumenter tentang para pendatang Arab yang ingin berimigrasi ke Australia. meliput bagaimana proses perjalanan dari negara mereka, sampai ke Indonesia dan proses usaha menembus perbatasan Ausi ini? tentu ibu punya info lengkap tentang kasus ini.
    tks,
    ahmad d.bashori
    [email protected]

  3. ahmad d.bashori  19 December, 2011 at 08:19

    yth ibu Nuni, bu bisa saya dapat kontak ibu? saya tertarik akan membuat film dokumenter tentang para pendatang Arab yang ingin berimigrasi ke Australia. meliput bagaimana proses perjalanan dari negara mereka, sampai ke Indonesia dan proses usaha menembus perbatasan Ausi ini? tentu ibu punya info lengkap tentang kasus ini.
    tks,
    ahmad d.bashori
    08129037212

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.