Bulan Madu ke Jembatan Suramadu – Itu Yang Kumau

Alexa – Jakarta
Pengantar: Akhir-akhir ini sedang merasa kalau langit Baltyra sedang dipenuhi bunga-bunga cinta nih, istilahnya dalam lagu – “Love is in the Air” maka tulisan ini lahirlah…”Atas nama Cinta”. Ketika cinta itu datang dan bertasbih, sambutlah dengan kebahagiaan dan tawa riang. Karena memang seharusnya itulah hakekat cinta…”tertawa dan menangis bersama”. Tapi sebaiknya nangisnya belakangan aja deh. Lanjut….
“Ketika itu saya terdesak di antara massa yang ingin mendekat ke ayah saya, kebetulan dia ada disitu. Melihat saya terdesak, dia berusaha membantu saya, dia melindungi saya. Tadinya saya mau marah, tapi begitu melihat tampangnya  (note: benar-benar tampan dan gagah), saya biarkan saja. Lanjutkan,” demikian kata si wanita tertawa bahagia.
Si pria tidak kalah sumringah dan sigap menanggapi,”Sejak pertamakali saya melihat fotonya di majalah lima tahun lalu, saya langsung bilang ke teman – nih perempuan suatu hari bakalan jadi pacar saya, gak taunya bukan cuman dipacari, malah dinikahi.”
Setelah peristiwa “satria berkuda” itu si wanita dan si pria merasakan ketertarikan yang sama. Mereka sama-sama cari tahu nomor telpon masing-masing lawan jenisnya. Akhirnya si pria menelpon si wanita namun karena nomor yang muncul bukan nomor yang dikenal maka telpon itu tidak diangkat oleh si wanita, demikian juga sebaliknya saat si wanita menghubungi si satria berkuda – telpon juga tidak diangkat. Si wanita sebagai seorang yang progresif tidak kehilangan akal, dia SMS dan ngajak bertemu untuk ngobrol soal politik. Akhirnya mereka ketemu, ngobrol, nyambung dan sampailah pada putusan untuk menikah.
Yenny Wahid Akan MenikahPerempuan itu adalah Zannuba Arifah Chofsah (35) putri kedua KH Abdurrahman Wahid dan si pria adalah Dhohir Faris (30) politisi muda dari Partai Gerindra. Saya sebenarnya tidak pernah bersimpati pada kepemimpinan Gus Dur saat menjadi Presiden RI apalagi karena kekurangan fisiknya beliau banyak menggantungkan diri pada informasi orang di sekitarnya yang kadang tidak akurat dan cenderung se-enak udelnya sendiri tergantung pada kepentingan masing-masing. Dan saya lihat Zannuba yang paling sering mendampingi Gus Dur tentunya berperan aktif dalam urusan bisik membisik, ini terus berlanjut walaupun Gus Dur akhirnya lengser dari kursi ke Presidenan. Sehingga membawa akibat perpecahan pada Partai Kebangkitan Bangsa – mungkin kurang tepat juga disebut perpecahan. Karena pada akhirnya Zannuba tersingkir dari partai yang dibentuk ayahnya sendiri.
Namun melihat siaran TV saat Yenny Wahid (panggilan Zannuba) menjawab wawancara seputar kisah cinta dan rencana perkawinannya waktu itu, terus terang saya juga turut merasakan kegembiraan seorang perempuan muda yang akan memasuki gerbang perkawinan. Seperti ayahnya yang ngocol demikian juga Yenny dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan wartawan.
Kala ditanya kendala yang dihadapi berhubungan dengan pria yang lebih muda – tidak seperti artis-artis yang kecut dan defensif jika ditanya hal yang sama maka Yenny dengan gamblang menjawab, “Oh iya awalnya saya banyak membimbing dia, tapi dia orang yang sudah matang dan cepat belajar.”
Si pria dengan kreatifitasnya  memutuskan untuk memberikan mas kawin yang unik – yakni sepuluh ekor sapi. Selain karena asalnya dari Madura, dia juga berprinsip bahwa sapi-sapi itu akan berkembang biak seiring dengan perjalanan pernikahan mereka. Sempet banyak tanya disampaikan ke mereka gara-gara mas kawin yang unik, dengan gamblang Yenny menjelaskan, “Ini merupakan suatu tradisi yang biasa dilakukan sejak dulu (note: di Batak tradisi memberikan mas kawin kerbau dan babi malah masih berjalan). Lagipula mas kawin itu membuktikan kalo Mas Faris (panggilan Dhohir Faris) sama nyelenehnya sama calon mertuanya (Gus Dur).” Semua yang mendengar tertawa dan mengamini penjelasan Yenny.
Sebenarnya bukan hanya Faris yang nyeleneh, terbukti Yenny tidak kalah ngocolnya saat ditanya mengenai masalah bulan madu, “Oh kami cukup berbulan madu di jembatan Suramadu (yang menghubungkan Jawa Timur dengan Madura – asal Faris) sembari memandang bulan, kami akan menghitung sekrup-sekrup Suramadu yang hilang diambilin saudara-saudara mas Faris.” Para hadirin tambah ngakak.
Suramadu
Akhirnya saat istimewa itu tiba – saat ijab Kabul dilafalkan dengan saksi orang nomor satu di Indonesia. Saat kedua mempelai dipertemukan terlihat senyum bahagia yang tidak pernah lepas dari keduanya – “Yenny dan Faris, selamat menempuh hidup baru. Semoga bahagia selalu dan berkolaborasi dalam memberikan kontribusi berarti pada kemajuan bangsa ini.”
Demikian di balik canda-canda bahagia yang ada sebenarnya mereka juga telah menemukan sisi-sisi menarik yang mengikat dari pasangan mereka misalnya meskipun sama-sama berwawasan internasional (Yenny menamatkan S2 di Harvard Kennedy School of Government dan pernah menjadi koresponden Koran The Sydney Morning Herald dan the Age – Faris sendiri pernah bekerja di luar negeri dan fasih berbahasa Italy) namun keduanya berakar dari tradisi pondok pesantren yang kuat. Kata mereka, ibarat memasak maka campuran bumbu sudah pas.
Baltyrans, bahagia sebagai pasangan yang menempuh hidup baru bukan hanya hak Yenny dan Faris saja. Beberapa bulan lalu adik saya baru saja menikah dan hingga hari ini mereka sering menyambangi rumahku dengan seri-seri bahagia, padahal kisah cinta mereka juga bukan kisah cinta yang mulus restu karena kekurangan fisik dari calon iparku.
Tetangga depan rumahku seorang wanita single parent yang berusia 39 tahun dan berkarir dengan eksposure internasional baru saja menikah dengan seorang polisi yang gagah dan tampan berusia 25 tahun – perbedaan usia dan pekerjaan yang kelihatannya sangat ekstrim itu tidak menghalangi bersatunya mereka. Kalau cinta sudah datang, sambutlah dengan tangan terbuka dan biarkanlah hidup menyatukan kalian. Amin.

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *