Ingat

Sumonggo – Sleman

Habis manis, sumpah dibuang…

Buaya terus menggencet, tapi ternyata cicak tak tinggal diam. Konon beredar transkrip rekaman yang mampu mengungkapkan rekayasa kriminalisasi petinggi cicak. Layaknya kartu truf, transkrip tersebut bisa menyeret para godzilla, yang sebenarnya oknumnya ya cuma itu-itu saja. Mungkin nama gedung tempat mereka (seharusnya) mengabdi itu lebih cocok diganti menjadi gedung bubar, gedung buyar, atau gedung ambyar, keadilan menjadi makin buyar dan penegakan hukum malah ambyar.

Sebelumnya, dua aktivis antikorupsi dijadikan tersangka dengan tuduhan pencemaran nama baik. Yang ajaib bin aneh adalah kasus tersebut sebenarnya sudah dilaporkan lebih dari sembilan bulan lalu. Mengapa baru sekarang menindaklanjutinya? Makin lama rasanya kok kelakuan aparat penegak hukum makin wagu dan nganeh-nganehi saja.

Memang tak bisa dipungkiri terdapat kentalnya nuansa "kriminalisasi" yang sekarang menjadi kosa kata yang akrab muncul di media. Pokoknya berhati-hatilah berurusan dengan buaya dan godzilla, begitu kurang lebih "pesan" yang hendak disampaikan. Soal kasus mana yang akan dipilih bisa disesuaikan dengan "kebutuhan". Waspadalah, waspadalah …. (Mode Bang Napi: ON).

"Baru ingat sekarang", semacam itulah jawaban petinggi cicak. Enteng sekali nampaknya, untuk kasus yang bukan main-main, karena "korbannya" adalah kejaksaan agung. Bagaimana lagi nasib kasus-kasus yang melibatkan rakyat kecil bila bisa direspon semacam itu? Sering terbaca surat pembaca yang mengeluhkan karena kasus yang dilaporkannya tak kunjung ditangani. Benarkah karena kurangnya bukti dan saksi, atau sekedar kurang "gizi"?

cicak-vs-buayaJangan-jangan banyak koruptor dan pengemplang yang bisa melenggang dengan santainya ke luar negeri, karena oknum yang suka "lupa". Tingkat ke-lupa-annya pun sepertinya bisa disetel, tergantung kesepakatan, mau hitungan hari, minggu, atau bulan. Pokoknya selama belum ada wartawan yang mengendusnya, tenang-tenang sajalah. Nanti bila ditanya media tinggal jawab saja, "Baru ingat sekarang.", enak to manteb to? (Mode Mbah Surip: ON).

Mungkin suatu hari nanti bila para oknum tersebut dicemplungkan Tuhan ke neraka, lalu memprotes mengapa mereka tak kunjung diangkat, "Tuhan, katanya saya cuma dihukum seratus tahun di sini. Tapi ini sudah lebih dari seratus tahun.." Para Malaikat juga akan memberi jawaban serupa dengan polah kebiasaan mereka dulu, "Sori, baru ingat sekarang…" Kalau mereka protes lagi, "Hubungkan aku dengan Tuhan, aku mau bicara" Jawab Malaikat, "Tulalit … Maaf Tuhan sedang tidak bisa dihubungi, silakan tunggu beberapa ratus tahun lagi …." Emang enak dicuekin?

Bukankah mereka ini saat akan dilantik sudah mengucapkan janji atau sumpah? Mungkin sudah lupa juga seperti syair lagu dari grup musik Kuburan yang diubah ini:

Lupa, lupa lupa lupa, lupa lagi janjinya

Lupa, lupa lupa lupa, lupa lagi sumpahnya
Ingat, ingat ingat ingat, cuma ingat duitnya
……………………………………

Benarkah hanya sekedar lupa ingatan atau malah nge-lupa secara periodik, terstruktur dan sistematis? Astaga, semoga tidak banyak jumlah aparat yang lupa ingatan apalagi hilang ingatan. Nuwun.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.