Blackberry

Adhe Mirza Hakim – Indonesia

Fenomena Blackberry (BB) 1 tahun terakhir ini sangat fantastis pemakaiannya, walau harganya selangit tetap dibela-belain beli, apa ini demi menaikkan gengsi? Kembali ke niat yang membelinya. Bagi yang berkantong tebal membeli satu atau dua blackberry rasanya nggak masalah, bahkan anak TK pun bisa punya BB, hmmm…..ampuun ini pasti orang tuanya bener-bener pengen membuat anaknya ‘Gaul dan Gaya’ sejak dini. Bagi aku perkara orang mampu beli BB terserah sama mereka, lha uang uangnya sendirilah. Aku nggak membahas soal daya beli konsumen terhadap BB, yang menjadi perhatianku justru dari Perilaku Users/Pengguna BB.

blackberry-bold-reviews

Salah satu yang membuat orang keranjingan sama BB karena ada aplikasi-aplikasi yang dibenamkan dalam smart phone ini, fitur-fitur Facebook, Yahoo Messenger, BB Messenger dan Push Email, memang memudahkan users nya untuk selalu On Line everytime dengan dunia maya. Kalau users tersebut memang sering nge-link dengan dunia maya karena pekerjaan atau aktivitasnya, tentu sangat terbantu sekali, tapi bagi users yang kerjanya nggak banyak berhubungan dengan email-email mungkin agak terkesan useless ya….

Beberapa hari yang lalu, aku berjumpa dengan kawan-kawan dari satu komunitas tertentu, jangan beranggapan ini komunitas milis BB, hanya rombongan ibu-ibu rumah tangga biasa. Saat ini walau hanya ibu-ibu RT, yang namanya HP nggak salah-salah milih. Dari seri E 90 atau N95 blum lagi BB, jadi saat ngobrol biasanya diselingi dengan bunyi-bunyi HP baik itu SMS atau telepon masuk. Nah ada satu perbincangan lucu yang mau aku sharing tentang BB ini.

Ibu Tika “Aku ada kisah yang agak malu-maluin soal BB ini!”

“Apa..?” jawab kami serentak, ada 4 orang Ibu-ibu yang terlibat obrolan siang itu, termasuk aku.

“Minggu lalu, saat aku naik pesawat ke Jakarta, aku duduk sejajar dengan seorang ibu yang bawa BB, saat ada pengumuman untuk mematikan semua HP, ibu itu meminta aku untuk mematikan BB-nya.”
“Terus….?” Sahut kami penasaran,
“Aku bilang aja nggak tahu cara mematikan BB itu, lha…aku aja nggak make BB, gimana mau tau cara mematikannya!”
“Hahahahaha…..” kami serentak ketawa..
“Dan yang lebih parah lagi….saat ibu itu minta tolong sama Pramugari untuk mematikan BB-nya, si Pramugari itu juga nggak mudeng buat matikan itu BB !”
“Huahahahahahaha….” kami tambah kenceng ketawanya,
“Akhirnya gimana itu BB, bisa dimatikan nggak?” tanyaku,
“Si Ibu itu ngutak atik BB-nya, tau-tau bisa mati deh…” jawab Ibu Tika mengakhiri kisah lucunya.

Kesimpulan yang bisa ditarik dari cerita diatas, BB bisa mempermalukan pemakainya, hehehehe…..

Kisah norak seputar BB pernah juga aku alami, sejujurnya aku dapat BB ini bukan boleh beli tapi dapat hadiah dari satu produk insurance. Kebetulan yang dikasih BB type Storm yang touch screen, sempat gaptek dan jadi norak banget saat aku nggak mudeng dengan tombol ‘Enter’ di layar BB tersebut dan nggak faham kalau layar storm bisa dipakai secara horizontal dan vertical, hehehe….untungnya cuma norak di rumah, saat ngutak atik sendiri, aku males banget baca buku panduan yang tulisannya kecil-kecil, prinsip aku learning by doing ajah…hehehe, alhasil aku nelponin temenku malam-malam sekedar bertanya tentang tombol-tombol yang ada di BB. Untungnya temanku cukup sabar meladeninku.

Pemakaian BB saat ini bukan hanya monopoli kaum bissnis semata, banyak anak-anak sekolahan dari TK sampai Kuliahan semua latah pakai BB, apalagi saat ini harga BB per Unit sudah bergeser ke angka yang lebih realistis, walaupun pada awalnya keluar dengan harga ‘selangit’ ini buat ukuranku lho ! Dan harga jual kembalinya payah….harga BB langsung terjun bebas!

Ada temanku yang beli BB Bold pada awal kemunculannya dengan harga 8,5 juta rupiah, setelah 14 hari dipakai temanku merasa nggak nyaman mengoperasikannya, mungkin dia baru sadar bahwa memakai BB bukan seperti memakai HP biasa, dia terpaksa menjualnya kembali dengan harga 5 juta saja! Bayangkan…betapa besarnya harga sebuah gengsi selama 14 hari bisa mencapai 3,5 juta.

Kini temanku ini kembali memakai HP Nokia E90 nya, yang lebih familiar Use, walau aku yakin dia hanya memakai untuk menelpon dan sms saja untuk HP yang multi media itu. Bahkan ada satu temanku yang ke Jakarta, hanya untuk beli BB, hehehehe….udah gitu fitur-fitur di BB nya nggak dia pakai, saat aku tanya kenapa nggak dipakai, dijawabnya dengan santai “males….!”, halah….jadi ngapain beli BB? Kalau hanya dipakai buat telpon dan sms! Jadi memakai BB itu kebanyakan ‘Gengsi’nya dari pada memanfaatkannya secara tepat guna.

Buat teman-teman yang sudah lebih mudeng dengan aplikasi-aplikasi BB, tentu sangat menikmatinya, apalagi aplikasi ‘Upload Foto’ yang langsung terkoneksi ke Facebook, juga memberitakan ‘aktifitas’ atau apa yang dipikirkannya saat itu bisa langsung di Update melalui Facebook atau Twitter, jadi orang sejagat juga bisa tahu apa yang terjadi pada seseorang di belahan dunia yang berbeda, kalau ini digambarkan sebagai bentuk kenarsisan masa kini, sah-sah saja menurutku. Kembali lagi ke prinsip suka-suka yang bersangkutan.

Saat ini era BB sudah melanda ke segala penjuru kota di Indonesia, HP keluaran lokal maupun made in China banyak yang berlomba-lomba menjiplak model BB maupun Nokia seri E (PDA Series), selintas tidak begitu terlihat berbeda, tapi saat dilihat secara lebih ternyata HP biasa tapi model BB, tentu saja harganya jauuuh berbeda, di bandrol hanya 1 juta-an, malah kini sudah turun lagi harganya disekitar 800-900 ribu rupiah.

Sedang harga BB yang asli sampai saat ini belum ada yang di bawah 3 juta, kecuali mau nekad beli BB Black Market (BM) dengan harga 1-2 juta-an, yang nggak ada garansi dari distributornya, bahkan denger-denger PIN Number BB nya hasil kloningan! Sehingga itu BB hanya bisa dipakai cuma beberapa saat, lalu tiba-tiba terblock gara-gara PIN Numbernya hasil pengkloningan, terdetect oleh BB Server.

Itulah sekilas tulisanku tentang BB, ternyata gengsi tetap menjadi acuan dalam membeli BB, tapi hal ini tidak berlaku bagi yang mendapat BB gratisan yaaa, hehehe….

About Adhe Mirza Hakim

Berkarir sebagai notaris dan PPAT yang tinggal dan berkeluarga di Bandar Lampung. Berbagai belahan dunia sudah ditapakinya bersama suami dan anak-anak tercintanya. Alumnus Universitas Sriwijaya dan melanjutkan spesialisasi kenotariatan di Universitas Padjadjaran. Salah satu hobinya adalah menuliskan dengan detail (hampir) seluruh perjalanannya baik dalam maupun luar negeri lengkap dengan foto-foto indah, yang memerkaya khasanah BALTYRA.com.

My Facebook Arsip Artikel

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.