Dari Jamu Hug Berakhir di Guk

Wisata Lidah Solo: dari Jamu ke Hug, berakhir di Guk
Bagong Julianto, Sekayu-Sumsel

1. Sate Jamu, Masakan Jamu

Solo khususnya, Jawa pada umumnya punya kisah unik tentang sate jamu. Sate, semua pasti tahu yaitu sejenis masakan daging yang dibakarpanggang, baik mentah, setengah masak atau daging masak sekalian. Jamu, adalah padanan obat. Sesuatu yang menyembuhkan. Sebagian besar berasal dari tanaman/tumbuhan herbal dan atau dicampuri bahan organik lain semisal dari hewan. Jadi sate jamu adalah sate yang menyembuhkan?

Sate apakah yang menyembuhkan? Nyembuhkan sakit apa? Jawaban pertanyaan pertama adalah ya dan tidak. Jawaban pertanyaan kedua dan ketiga adalah sate anjing menyembuhkan penyakit kulit. Ada tambahan lagi: bagi yang percaya dan yang meyakininya. Ini adalah soal rasa dan selera. Jelas. Ranah personal yang dipublikkan. Pasti ada pro dan kontra. Seorang kolega jadul berargumen: sate jamu itu obat ilat. Obat lidah. Jadi soal selera, bukan menyembuhkan lidah yang lagi sakit. Lidah sakit tidak berselera.

Lhoh, wong Solo juga makan anjing rupanya?! Kenapa tidak?! Tapi itu sebagian saja, tentu! (Kucingpun juga disikat! Kucing gandhik! Kucing yang suka makan hati dan rempela ayam kampung, tubuhnya memanjang hingga seputaran 50 cm!). Tapi sate anjing, dalam bahasa Jawa sate asu, tentu terasa sangat vulgar kasar, nyengak kata wong Solo yang konon halus. Maka diperhaluslah sate asu menjadi sate jamu. Lagi pula kata asu adalah umpatan kasar, sejenis fuck dalam bahasa Inggris. Ada kegeraman emosi, luapan kemarahan di dalamnya.

Sticker Mobil
Gbr.1. Sticker di Kaca Belakang Mobil: Iklan Keliling yang Eye Catching

2. Malu Bertanya, Bukannya Sok Tahu?

Saat mudik September-Oktober 2009 kemaren, ipar saya sebutkan satu lokasi masakan jamu yang konon diharapkan dapat sembuhkan luka koreng/gudhig menahun di kaki kiri saya. Koreng kering ini setia nangkring sejak tahun 2000. Obat-abit dokter, spesialis, kulit pisang, jahe campur tumbukan bawang putih entah apalagi sudah dicoba oles tempel bobok. Nihil hasil. Waroeng Pemuda jadi pilihan, setidaknya satu peluang. Lokasinya strategis di satu sudut perempatan Manahan-Sambeng-Balekambang. Jadul, lokasi ini adalah gedung bioskop Pemuda Theater. Sekarang jadi lokasi santap pemuda komunitas Solo etnic food.

Lhoh?! Satu saat, kocap kacarita, seorang pendatang dari Sumatra keenakan santap sate jamu. Sang pendatang ini tipikal tidak mau bertanya karena sudah (sok) tahu manfaat masakan jamu. Lain hari, sang pendatang ’ngajak koleganya untuk menyantap lagi masakan jamu. Yang diajak sudah tahu apa masakan jamu itu. Heboh lokal. Sate jamupun berubah jadi sate guk-guk.

Baliho Multi Fungsi
Gbr.2. Baliho Multi Fungsi: Iklan dan Dinding Warung Tenda

3. Kawi Usa Community: Kearifan Lokal atau Kecerdikan Plesetan?

Apa yang ada di pikiran anda jika mbaca dan lihat: Kawi Usa Community, Solo Ethnic Food, gambar/logo kreatif bulldog dibingkai sendok dan garpu? Kawi, pikiran anda akan digiring ke Gunung Kawi: suatu kawasan ziarah bisnis yang sejuk di Desa Wonosari, Kecamatan Wonosari, Kabupaten Malang. Banyak pebisnis tajir menjadikan ziarah Gunung Kawi sebagai syarat kesuksesannya.

Kawi Usa Community, berarti pebisnis Solo Ethnic food ini berkolaborasi dengan transnational corporation dari Amerika Serikat. Tapi gambar bulldog dibingkai sendok garpu? Lhoh, bisnisnya rupanya dog food, specially for bulldog? Mlesed Mack! Babar blas salah!

Kawi Usa harus dibaca terbalik menjadi Iwak Asu. Daging Anjing. Komunitas penyantap daging anjing khas Solo! Kenapa bulldog marah yang dipilih? Jelas, anjing mana yang tidak marah saat tahu akan disantap?! Bukankah yang disantap daging anjing kampung?! Yaak, yakinlah: logo anjing kampung marah pasti tidak seartistik bulldog lagi unjuk taring! Solo ethnic food, dipertegas lagi dengan logo Hug Jo’s sate. Hugo’s Restaurant tentu banyak yang tahu. Hug Jo’s sate, silahkan ke Solo jika berminat! Mungkin kearifan Solo ini bisa dicontoh: istilah dilengkapi gambar. Yang semula sate jamu, sekarang sate guk-guk plus gambar/logo bulldog marah!

Walikan
Gbr.3. Kreativitas Kata: Kawilan atau Walikan=Baca Terbalik

4. Pertumbuhan, Perkembangan, Perubahan dan Perubahan

Sate jamu, masakan jamu, sengsu (tongseng asu) sudah dikenal di Solo sejak jaman dulu. Wong Solo pasti tahu apa itu masakan jamu/sate jamu. Th 70’an, Sate Komplang adalah khas sate jamu di Solo. Yang lain muncul tenggelam. Jadul masih jaman noroyono serba susah maka penjual masakan jamu menjajakan secara ider/keliling. Khas tampilannya. Laki-laki, keranjang bamboo yang dicangking di lipatan lengan, tangan satunya lagi menjinjing tas berisi kecap, mrica dan kain lap. Daging goreng kering dibungkus daun pisang. Sekarang, sudah lebih dari 30 lokasi sate jamu di Solo. Sate Komplang, Waroeng Pemuda, Pak Gundhul ngGilingan dan yang lain-lain menjamu memanjakan lidah komunitas kawi usa. Tampilan warung/kedaipun dibuat yang eye catching merak ati narik pandangan! Menupun makin variatif.

Balungan
Gbr.4. Balungan Goreng Kering, Menu Tersisa Menjelang Sore Hari.

5. Solo Ethnic Food

Istilah ini jelas bentukan dan ditujukan bagi wisman. Layakkah?! Masakan Tradisional Solo, jika dipilih dan sah saja, sepertinya kurang menjual. Mestikah dimuati kandungan nasionalisme dengan menyajikannya dalam bahasa Indonesia? Waktu akan membuktikan. Seperti lenturnya wong Solo merubah sate jamu menjadi sate guk-guk, istilah masakan tradisional Solo masih terlalu umum dan belum mengundang selera.

Dalam hal masakan berbasis daging anjing (dan babi), sate guk-guk Solo diharapkan berdiri sama rendah, duduk sama tinggi dengan eRWe Manado dan BPK Medan. Ini adalah deretan makanan penanda serbanekanya Indonesia.

Sungguh kreativitas kata dan lidah memang tiada batasnya. Hug-hug adalah salakan anjing, demikian juga guk-guk (dalam bahasa Jawa) dan ini menentang idiom ’you are what you eat’. Makan sate guk-guk akan menyalak hug-hug, setidaknya dari pengamatan selintas: yang menyantap tua-muda, laki-perempuan kemruyuk seperti orang kebanyakan, gak ada yang menatap sangar seperti bulldog berbingkai sendok garpu….

Menu
Gbr.5. Seporsi Lengkap Plus Minum < Rp.20.000,-

Kaos HugJos
Gbr.6. Numpang Ngetop Hugo’s Restaurant=HugjoS Solo

Monggo pareng……. Sampuunnnnn ….. Suwunnnnnn …..(BGJ 001009)

52 Comments to "Dari Jamu Hug Berakhir di Guk"

  1. satra  29 July, 2011 at 11:00

    yang orang islam jangan mbadhok badokan yang satu ini ya,,,kalau ente nekat makan nanti mulutmu dikaploki kalau sudah mati nanti

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.