The Mystery of Halloween

Nuni – Melbourne

Ketika kecil saya sedikit bingung saat melihat acara-acara di televisi yang menampilkan tradisi Halloween lengkap dengan busana-busana atraktif-nya dan labu-labu yang dihias ‘menyeramkan’ plus anak-2 yang sibuk ‘mengetuk’ pintu tetangga untuk sekadar mendapatkan permen atau coklat. Sebenarnya apa sih yang mereka lakukan, begitu pikir saya saat itu?pumpkin

Maka seiring beranjaknya waktu – selain mencoba mencari tahu sendiri – dan lewat penuturan teman-teman yang memang pernah merayakan  termasuk keluarga suami, maka kini pun saya memiliki gambaran sedikit tentang apa itu Halloween. Maklum saja, karena kita tidak mengalami dari kecil, maksud saya itu bukan budaya murni bangsa Asia pada umumnya (Indonesia khususnya), mengingat perayaan Halloween memang dari Barat – Eropa dan Amerika – sesuai dengan asal muasal budaya ini berkembang.

Namun begitu, esensi dasarnya hampir sama dengan beberapa tradisi yang kita rayakan, seperti untuk merayakan pergantian musim (dalam hal ini Halloween untuk menyambut autumn), atau menghormati tokoh suci (Saint) yang dianggap telah berkorban dan berjasa bagi komunitasnya.

Dari akarnya sendiri Halloween memang ‘dekat’ dengan budaya Celtic sekitar 2000 tahun lalu di Eropa yakni ketika bangsa Celtic melakukan tradisi Halloween untuk merayakan pergantian tahun setiap tanggal 1 November.  Tak heran bila tradisi ini sangat kental dengan masyarakat Inggris, Perancis Utara dan berkembang di negara-2 Eropa termasuk Spanyol dan Latin Amerika yang selanjutnya mengangap hari ketiga Halloween adalah hari yang terpenting. Sementara di Irlandia, Kanada dan Amerika perayaan Halloween sedikit berbeda dan lebih megah dengan berbagai tradisi trick atau treating, plus pesta kostum dan acara having fun yang melibatkan seluruh kalangan usia.

Esensinya, setiap budaya selalu memiliki simbol untuk merayakan siklus dalam kehidupannya. Dalam hal ini bangsa Celtic menganggap datangnya autumn setelah summer adalah simbol dari batas yang kabur antara kehidupan di dunia dan kematian di alam ghaib dan mereka percaya suasana dark, winter yang dingin dan windy mewakili semua itu saat autumn datang.

Sama seperti halnya bangsa Asia atau Indonesia yang memiliki beberapa tradisi kuno pada suku bangsanya juga masih mempertahankan tradisi dan simbol yang serupa. Istilahnya untuk menghalangi sesuatu yang buruk (ketika roh jahat dipercaya bergentayangan kembali ke bumi dalam musim yang kurang bersahabat) maka kita pun harus berupaya untuk menolaknya, antara lain dengan melakukan upacara dsb-nya.

Bedanya di tradisi Halloween, upacara untuk menolak sesuatu yang buruk itu bisa dengan melalui pesta dan tradisi tahunan yang melambangkan ‘ketidaktakutan’ manusia atas semua hal yang menyeramkan tersebut. Dengan semua itu mereka berharap para roh jahat pun akan enggan mengganggu tanaman yang akan dipanen dan lingkungan pun tetap terpelihara. Tak jarang, sebagian dari mereka masih melestarikan tradisi upacara tolak bala dengan melakukan upacara ‘korban’. Orang berkumpul untuk melakukan korban atas hasil bumi dan ternaknya untuk dipersembahkan pada sang dewa/ roh jahat yang dianggap bisa merusak.

Mungkin tradisi sekarang yang masih dilakukan di Amerika dan negara-negara Eropa lainnya berasal dari sini. Ketika melakukan korban itu para warga memakai kostum yang sedikit berbeda yakni merias wajahnya menyerupai hewan ternak yang menjadi korban sambil melakukan ramalan untuk masa depan.

Kemudian, sesuai informasi yang saya baca – bangsa Romans mengakomodasi tradisi Celtic saat menduduki negeri tersebut dengan mengkombinasikannya dengan tradisi asli mereka. Inilah yang makin memperkaya Halloween. Seperti halnya budaya lainnya, selalu ada cross culture.

Tak heran Halloween cukup beragam dalam perayaannya termasuk nanti ketika budaya Christianity ikut berpengaruh, ketika Paus yang berkuasa saat itu Pope Boniface IV mendesain bahwa 1 November juga baik untuk memperingati All Saints' Day, menghormati para tokoh suci yang berkorban demi masyarakat.

Kini festival yang serba gemerlap pun digelar untuk menandai serangkaian upacara yang diperingati tersebut. Gemanya memang makin mengena ketika segi bisnis ikut merambah dengan aneka barang dan simbol yang mereka tawarkan di toko-toko, mall dan supermarket. Bahkan anak kecil pun ikut terkena imbasnya. Ketika kita window shopping di toys store, aneka mainan bernuansa Halloween sudah melambai-lambai dengan antusiasnya.

parade 6

parade 5

children parade

parade 2

parade 3

parade 1

parade

mini

Demikianlah budaya modern bertemu dengan tradisi. Semua menjadi indah pada akhirnya, ketika kita mencoba menampilkan yang terbaik dari tradisi tersebut menurut interpretasi masing-masing. Dalam hal ini asal perayaan itu tidak terlampau menyimpang memang bukan masalah.

Sayangnya, kalau tradisi ini digunakan oleh sekelompok masyarakat yang tidak bertanggungjawab untuk melakukan tradisi yang tidak berkenan. Maka rusaklah akar esensi yang sebenarnya, termasuk budaya yang sudah melekat erat di berbagai bangsa tersebut, hingga anak-anak yang tidak tahu asal usulnya pun jadi ‘korban’ ketidak tahu-an mereka.

Yang jelas tradisi trick atau treat yang dibawa migrant Eropa di Amerika ikut memperkaya Halloween menjadi hal yang menyenangkan, terutama untuk anak-anak. Dan semoga tradisi dari bangsa lain ini bisa memperkaya tradisi kita sendiri jika diambil segi-segi yang bermanfaatnya, seperti berbagi dengan sesama, mensyukuri nikmat dan karuniai Tuhan dan menghormati arwah leluhur dengan memperlakukan alam tempat kita berpijak dengan bijaksana.

Note : Dimuat di majalah Ozip, Melbourne edisi October.

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.