Bocah Kamboja Kenduri Tiap Hari

Alexa – Jakarta

Sembilan September Duaribu Tujuh ( 9-9-2007 jika disambung-sambung 2007=2+7= 9 ) , Triple Sembilan benar benar merupakan angka hoki at least buatku. Tanggal ini tepat hari ulangtahunku dan saat itu kujejakkan kakiku di Bandara Leonardo da Vinci Fiumicino – Roma untuk pertama kalinya.

Rasanya hari ini benar-benar hadiah ultah terindah dari Tuhan dan mama mia – enggak ada cowo jelek di Itali….semua cowok di Itali kenapa juga cakep-cakep ya? Aku bersama Dave, partner kerjaku dari Australia dan kami bertemu serta berangkat bersama dari Singapura. Kami langsung dibawa menginap ke sebuah hotel agak di pinggir kota – hotelnya unik karena merupakan bangunan kuno bekas biara. Di Italy ada beberapa tempat komersiil yang didirikan di tempat-tempat eks peribadahan. Rencananya kami akan tinggal selama seminggu untuk mendapat training di head office WFP (World Food Program).

Oke sedikit pengantar apa yang kami lakukan di sana: aku hanya satu diantara 14 orang dari perusahaan kami – sebuah perusahaan multinational jasa berkedudukan di Den Haag dengan jaringan bisnis di seluruh dunia. Perusahaan ini sudah memiliki komitmen dan kesadaran yang tinggi dalam CSR (Corporate Social Responsibility) dan merupakan penyumbang rutin dan significant ke WFP sehingga akhirnya WFP menawarkan kepada perusahaan tersebut untuk mengikut sertakan karyawan-karyawannya pada program kerja WFP di seluruh dunia.

Akhirnya kabar ini disebarkan ke seluruh cabang yang tersebar di aneka negara – aku terpilih pada tahun kedua aku mencalonkan diri. Kami berempat belas ini akan disebar ke berbagai negara terbelakang yang membutuhkan uluran tangan mayoritas di Afrika dan Asia. Tiap negara diwakili oleh dua orang – aku dan Dave kebagian bertugas di Kamboja.

Kamboja merupakan negara yang menjadi korban peperangan saudara dimana rezim Polpot yang berkuasa telah meluluh lantakan bangsa itu. Kekejaman rezim Polpot adalah programnya yang membinasakan orang-orang yang dianggap memiliki kapasitas intelektual berapapun kapasitas itu sebab Polpot ingin memerintah negara dengan rakyat-rakyat yang lugu dan tidak punya daya pikir yang cukup – dia ingin memerintah pada rakyat yang hanya menurut.

Dokter, insinyur, pedagang dan guru merupakan sasaran utama pembunuhan massal. Saat era Polpot itu sekolah di rubah jadi penjara – jendela besar diberi teralis besi dan ruang kelasnya disekat-sekat dengan batu bata yang diikat kawat membuat ruang dengan ukuran seluas tempat tidur single. Ada beberapa ruangan penyiksaan yang mengerikan dan di situ yang sudah dijadikan museum itu dionggokan tengkorak korban dan onggokan baju para korban sebagai saksi sejarah. (Gambar 1 dan 2).

Misi dari WFP adalah School Feeding yakni menyediakan sarapan bagi murid-murid SD. Kaum yang dibiarkan hidup oleh rezim Polpot adalah kaum petani karena mereka dianggap sebagai manusia lugu kurang berpendidikan.…memang saat ini mayoritas penduduk bekerja sebagai petani dan tinggal di pedesaan yang berada di pelosok. Akibat jauhnya rumah petani dari sekolah-sekolah yang ada maka anak-anak petani jarang yang rajin bersekolah mereka lebih memilih membantu orangtua di sawah dan di ladang.

Padahal bangsa Kamboja sangat perlu berkembang dan tanpa intelektualitas yang memadai bagaimana suatu bangsa bisa berkembang. Untuk merangsang anak-anak ke sekolah, WFP membuat program menyediakan sarapan bagi murid-murid SD berupa nasi dengan lauk sardine. Penawaran WFP ini disambut gembira pihak sekolah dan orangtua murid. Dan mulai rajinlah bocah-bocah SD ini menjemput sarapan pagi mereka – bayangkan rata-rata anak-anak ini kesekolah berjalan kaki menempuh jarak 5-10 km.

Di tiap sekolah dibangun kompor tungku raksasa dua pit yang bisa menampung wajan super besar tempat memasak nasi dan memanaskan sardine. Rencananya nanti tiap anak bebas mengambil nasi sementara sardine akan dijatah oleh juru masak.

Sewaktu masih di Jakarta dalam korespondensiku dengan pihak WFP disampaikan bahwa target bagi aku dan Dave selama di Kamboja adalah mendirikan 1000 kompor selama tiga bulan….teman-teman dan bossku sampai mengatakan, “Lho kok kayak Bandung Bondowoso aja mendirikan 1000 candi dalam jangka waktu semalam.”

Ini aku lampirkan foto bentuk kompor dan kegiatan memasak:

Selanjutnya adalah foto bocah-bocah Kamboja menikmati sarapan bersama-sama:

Sungguh mengharukan melihat tunas-tunas bangsa Kamboja ini menikmati sarapan sederhana mereka – nasi panas berlauk sarden dengan lahap. Usai makanan , perangkat makan yang mereka bawa dari rumah harus dicuci sendiri – perhatikan dalam gambar bagaimana tubuh mereka sama besar dengan pompa tangan yang ada.

Sewaktu periode aku di Kamboja ini – di Indonesia sedang diperkenalkan program gas sebagai pengganti minyak tanah di mana tabung gas hijau ukuran 3 kg dibagikan gratis pada masyarakat. Banyak protes yang kudengar – seandai mereka merasakan bagaimana susahnya anak-anak Kamboja menjemput sarapan mereka, tentu tidak akan seheboh itu protes yang dilancarkan.

Menempuh perjalanan ke sekolah-sekolah itu bukan hal yang mudah, terkadang mobil kami terjebak di lumpur bahkan tercebur dalam kubangan air dimana Dave tidak menyia-nyiakan waktu untuk turut menyebur ke kubangan air itu. Selain melakukan program pembuatan kompor dan school feeding kami juga melakukan program penghijauan 1000 pohon.

Selama di Kamboja kami tinggal di apartemen tiga lantai ini dan menikmati menu makanan setempat seperti sarapan dengan menu kembang eceng gondok ini…ternyata yummy juga. Sempat melihat festival perahu dayung dan kehidupan masyarakat sekitar.

Tidak terasa tiga bulan tlah menjelang berarti masa bakti kami di Kamboja segera berakhir di mana kami ternyata hanya mampu membuat 100 kompor di 50 sekolah – nyaris tiap hari kami menyelesaikan satu kompor.

Seiring dengan sundown di tepi Sungai Mekong ini kami berpisah dengan Kamboja yang mengesankan dan kami kembali berkumpul di Roma untuk membuat report dan presentasi.

Saat kumpul kembali itu ternyata teman-temanku semua memerlukan terapi psikologis – mereka yang berasal dari negara maju terlalu shock dengan kesulitan rakyat negara terbelakang untuk mendapatkan sarapannya.

Termasuk juga dengan Dave – Dave teman baikku selama tiga bulan itu mendapat problem tersendiri. Rasanya cuman aku yang “survive” dari masalah psikologis – sebagai orang yang berasal dari negara berkembang, apa yang kutemui di Kamboja itu merupakan pemandangan sehari-hari di Jakarta.

Share This Post

Google1DeliciousDiggGoogleStumbleuponRedditTechnoratiYahooBloggerRSS

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *