Ku Terkenang …

Saw – Bandung

Pagi ini, 2 Nopember empat tahun silam …

Ada nyanyian alam yang terdengar ngelangut, ditingkahi kesyahduan akhir Ramadhan yang penuh berkah.

Seharusnya aku ada di rumah. Atau mungkin di rumah orangtua di jauh sana. Menyiapkan piranti sholat Iedul Fitri di esok hari sembari merancang menu buka terakhir sekaligus menu camilan untuk malam takbiran.

Namun justru kini ku di ‘negeri orang’. Tak punya ‘sanak kadang’. Dua lebih, berjalan ke bilangan tiga, hari yang aku lalui tanpa sempat memejamkan mata sekejap pun. Berulangkali aku jatuh terjerembab, namun segera pula aku bangkit, tanpa keluh, tanpa kesah. Ketakutan yang sangat akan kehilangan waktu telah menjadikanku sosok yang begitu kuat. Setidaknya dengan menu buka dan sahur alakadar yang jauh dari kebutuhan standart.

Matahari mulai menebarkan kehangatannya di balik kerimbunan hutan di bukit seberang. Samar-samar bayangan pohon-pohon yang menjulang sampai ke teras kamar. Kusiapkan kursi roda, dan dengan sekuat tenaga kubimbing beliau untuk mendudukinya. Dengan perlahan kudorong kursi roda tersebut mengelilingi area pengobatan alternative yang luas dan asri. Bersama dengan pasien yang lain, kami bertegur sapa.

Tapi rupanya pagi itu beliau tidak begitu suka keramaian. Beliau ingin pergi ke sudut taman. Menyendiri sembari berkisah tentang rasa sakit yang sudah tidak tertahan. Ku belai tangan keriputnya, tapi beliau lebih menginginkan tanganku mencari bibit-bibit uban yang mulai bermunculan. Dengan sisir yang giginya tak begitu rapat, ku susuri tiap helai rambutnya. Aku terkesiap, kulihat pembuluh nadi membesar yang tak wajar di pelipis kanannya. Segera ku pegang pergelangan tangannya dan ku perhatikan denyut nadinya. Iramanya tidak beraturan, timbul tenggelam.

Beliau tersenyum sembari berkata,”Sudah tidak beraturan, kan? Berarti waktuku tidak lama lagi.” Tentu aku membantahnya dengan keras. Menurutku, beliau masih memiliki banyak kesempatan karena hasil pemeriksaan laboratorium yang terakhir menunjukkan kemajuan yang berarti. Hanya saja beliau harus mau menjalani cuci darah. Rencananya siang sekitar jam 13.00 beliau cuci darah. Maka persiapan ke arah sana juga sudah kami sediakan.

Dan seiring dengan dhuha yang semakin panas, ku ajak beliau kembali ke kamar. Sambil berlalu, diraihnya satu tangkai bunga yang luput dari perhatianku. Diciumnya bunga tersebut dalam-dalam.

“Kok tidak wangi, ya?” tanyanya heran.

“Biasanya kan wangi, ini kok sama sekali tidak ada aromanya.” Masih sambil melintasi bunga-bunga yang lain, beliau menggerutu.

“Masa, sih? Memangnya bunga apa?” sebenarnya tanyaku hanyalah sekedar basa-basi. Namun aku kaget setengah mati ketika bunga tersebut dilemparkan padaku sambil berkata,”Nih, cium sendiri kalau tidak percaya.”

Tentu reflek aku mengelak dan bunga tersebut jatuh. Aku ambil, dan setelah aku amati kok rasanya ada perasaan ganjil begitu melihatnya. Ada rasa yang sulit digambarkan ketika ku tahu bahwa bunga yang dipetiknya adalah bunga kenanga.

Segera aku tepis lintasan hati yang bikin resah tadi. Toh bunga kenanga tak beda dengan bunga-bunga yang lainnya. Hanya saja di daerah-daerah tertentu menjadi bunga yang biasanya ditabur di area pemakaman. Tentu ini tak bisa aku jadikan alasan untuk menyimpan lebih lama keresahan hatiku. Toh banyak hal yang lebih penting yang harus dilakukan, bukan sekedar sibuk dengan perasaan-perasaan ngelangut yang menggayutiku sejak pagi tadi.

Seperti biasa, aktifitas silih berganti, membimbingnya ke kamar mandi, mengangkatnya ke tempat tidur, memijitinya yang tak boleh berhenti meski aku sudah terjengkang beberapa kali. Hingga dhuhur pun menjelang, aku pamit untuk sholat terlebih dahulu. Barulah beliau mengijinkanku pergi dari sisinya.

Jujur, di ruku’ dan sujudku aku merasakan kenikmatan yang luar biasa. Ruas-ruas sendiku serasa mendapatkan hak untuk sekedar diregangkan. Punggungku pun ada kesempatan untuk merasakan kenikmatan. Jika tak ingat bahwa waktuku tak banyak karena memang beliau tak bisa ditinggal terlalu lama, maka ingin rasanya aku berlama-lama dalam ruku’ dan sujudku.

Dan di sebelah kiri pembaringannya, kini aku kembali memijitinya. Aku merasakan suasana alam begitu lengang. Benar-benar ngelangut.

“Kapan jadwal cuci darahnya?” beliau mengingatkanku.

Maka akupun menanyakan pada dokter, satu-satunya dokter yang berjaga karena semua dokter sudah cuti untuk hari raya besok.

Aku begitu shock mendapat penjelasan dari dokter. Katanya pembuluh darah beliau menyempit dan fasilitas cuci darah di tempat pengobatan alternative tersebut tidak bisa. Harus dirujuk ke Rumah sakit di kawasan Cikini Jakarta.

Ya Alloh, bagaimana ini? Segera aku mengontak putra-putri beliau yang berjumlah empat orang. Disepakati bahwa beliau dibawa ke Bandung saja, ke rumah sakit Ginjal Ainun Habibie. Alhamdulillah, dokter pun membolehkannya. Maka akupun segera mengurus segala sesuatunya. Sempat bingung juga, statusku yang cuma mantu tidak bisa mengambil keputusan sesuka hatiku.

Ketika aku balik lagi ke kamar untuk memberitahukan perkembangan terakhir penanganan terhadap beliau, sampai di depan pintu beliau terbatuk.

“Astaghfirullahal ‘adziiim,” pekik beliau sembari tersengal. Setelah itu beliau terjatuh ke belakang. Untung ada bantal yang cukup tinggi sehingga kepala beliau tidak sampai mengenai pinggiran tempat tidur.

“Dokteeerrr, … tolong. Tolong ibu …,” spontan aku teriak sembari menangis. Reflek aku menguncang-guncang badannya sembari men-talkinkannya. Ku sebut Asma-Nya keras-keras di telinganya. Dokter dan perawat juga sudah datang. Sigap mereka memberikan pertolongan pertama dengan alat kejut jantung. Terguncang-guncang badan beliau, tersengal beberapa saat nafas beliau hingga akhirnya dokter pun memelukku erat-erat.

“Sabar, mbak…, Ibu sudah dipanggil oleh Yang Kuasa.”

Tangisku pecah tak terbendung lagi. Serasa jiwaku terhempas di kedalaman yang sangat. Sesaat aku tak mengerti harus berbuat apa. Sampai akhirnya dokter yang baik hati tersebut mengingatkanku untuk segera menghubungi saudara-saudara yang lain.

Ashar pun berlalu. Semburat merah mulai menghiasi langir barat. Aku bingung, bagaimana aku harus menyelenggarakan jenazah ibu? Sementara tak ada yang aku bisa mintai bantuan untuk memandikannya.

Aku pun pergi ke kantor jaga. Aku menanyakan kelengkapan penyelenggaraan jenazah meliputi kain kafan dan alat-alat untuk memandikan. Dan sekali lagi aku dibuat kebingungan, karena semua peralatan tersebut tersimpan di gudang penyimpanan sementara kuncinya di bawa oleh petugas yang kebetulan hari itu juga cuti. Untunglah, ada satpam yang bersimpati dan bersedia mencarikan seperangkat kain kafan.

Maka sembari menjahit kain kafan, sembari mengusap air mata aku pun sibuk menerima dan membalas telepon atau SMS yang datang.

Dan atas jasa baik seorang ustadz yang sudah berada di ‘negerinya’ nun jauh di sana karena mudik, datanglah tiga orang ibu-ibu yang siap membantuku memandikan jenazah ibu.

Maka, ketika adzan maghrib pertanda Ramadhan telah berlalu, dilanjutkan takbir yang sahut menyahut dari segenap penjuru, ibu sudah disucikan dan disholatkan sekalian.

Malam itu juga, raungan sirine mobil ambulan mengantarkan jasad ibu ke rumahku di Bandung, untuk kemudian pagi harinya disholatkan oleh jamaah sholat Ied dan dimakamkan di pemakaman dekat rumah.

Sudah banyak aku menjumpai kisah kehilangan. Sudah sering aku mendengar tangisan kehilangan. Namun sebenar-benar kehilangan orang terdekat, baru sekali itu. Tercerabut sebagian rasa memiliki dalam jiwa, meninggalkan pedih yang tak terkira, juga kehampaan yang sulit untuk dicerna.

ibunda

Berhari jiwaku labil, panggilan ibu serasa bergema di relung-relung hati. Terbayang sosok jasadnya yang setiap hari diakhir hidupnya ku raba, ku elus, ku pijit dan kubersihkan dari segala najis yang mungkin ada, yang akhirnya harus terpeluk rapat dalam buaian bumi. Ada rasa tak tega, ada rasa tak rela. Jika bukan karena iman, ingin rasa mengaisnya kembali butiran tanah yang mulai memadat.

Hingga kesadaran menyentak, bahwa kini hanya doa yang beliau harap. Bukan lagi pijitan, elusan atau garukan.

Maka kembali, setiap takbir iedul fitri, atau penanggalan masehi kembali berputar seperti hari ini, kenangan itu kembali mengguncang. Ibu, aku terkenang…

Cimahi, 2 Nopember 2009

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.