Masih Ngeles Juga?

Sumonggo – Sleman

Para Pembaca Baltyra yang berbahagia, kemarin pada suatu tayangan demo Cicak vs Buaya ada pembacaan puisi karya Adhie Massardi (tolong jangan bayangkan Denmas Kemplu yang membacakannya, tapi bayangkan bila almarhum Rendra yang membacakannya):

Negeri Para Bedebah…


Ada satu negeri yang dihuni para bedebah
Lautnya pernah dibelah tongkat Musa
Nuh meninggalkan daratannya karena direndam bah
Dari langit burung-burung kondor jatuhkan bebatuan menyala-nyala

Tahukah kamu ciri-ciri negeri para bedebah?
Itulah negeri yang para pemimpinnya hidup mewah
Tapi rakyatnya makan dari mengais sampah
Atau jadi kuli di negeri orang yang upahnya serapah dan bogem mentah

Di negeri para bedebah
Orang baik dan bersih dianggap salah
Dipenjarakan hanya karena sering ketemu wartawan
Menipu rakyat dengan pemilu menjadi lumrah
Karena hanya penguasa yang boleh marah
Sedang rakyatnya hanya bisa pasrah

Maka bila negerimu dikuasai para bedebah
Jangan tergesa-gesa mengadu kepada Allah
Karena Tuhan tak akan mengubah suatu kaum
Kecuali kaum itu sendiri mengubahnya

Maka bila negerimu dikuasai para bedebah
Usirlah mereka dengan revolusi
Bila tak mampu dengan revolusi,
Dengan demonstrasi
Bila tak mampu dengan demonstrasi, dengan diskusi
Tapi itulah selemah-lemahnya iman perjuangan

—————————————
 

anggodo

Siang itu suasana senyap. Layaknya sedang ada pertandingan sepakbola Piala Dunia atau ketika pendekar Yoko muncul dalam seri The Legend Of Condor Heroes, Denmas Kemplu cs khidmat mencermati layar televisi. Meski acara nonton bareng kali ini tanpa dopping kwaci atau gorengan, mereka tetap tak beranjak dari layar.

Bagaikan pertandingan sepakbola, ada yang gemar melakukan tackling tapi tak jua diberi kartu merah apalagi kartu kuning. Tapi sang jagoan pantang menyerah bagaikan pendekar Yoko, meski tangannya dibuntungi satu, tapi kesaktiannya malah makin bertambah.

susnoKali ini Denmas Kemplu cs mesti pasang telinga dengan cermat, karena mendengarkan rekaman sekitar 4,5 jam. Terperangah, bengong, geleng-geleng kepala, hampir tak percaya, prihatin, menghela napas panjang. Begitulah bermacam ekspresi yang terlihat di televisi. Cobalah tilik dari kantor-kantor sampai warung-warung, orang-orang sangat antusias mencermati penayangan rekaman tersebut. Bukan sekedar keingintahuan rakyat yang begitu besar, tetapi juga kehausan akan transparansi keadilan. Bagaikan ketegangan saat menonton Kwee Ceng dan Yoko berlaga menghadapi serbuan tentara Mongol. Tak ada yang mau ketinggalan tontonan nasional yang paling kontroversial ini.

Kang Koclok berkali-kali misuh-misuh, "Dasar … Orang kayak gini kok masih dipertahankan? Apa kata dunia?"

Den Kendar mencermati nama seorang mantan penegak hukum yang sering muncul dalam rekaman, "Lho bukannya dia sudah pemain lama, masih tak kapok juga. Heran mengapa dulu tak tersentuh? Apa masih dilindungi konco-konconya di sana?"

"Untung masih ada MK", Denmas Kemplu mengimbuhi. Tak terbayang di antara sejumlah institusi bobrok penuh borok ini jika tiada MK, apa bakal nasib negeri ini. MK bagaikan penjaga gawang terakhir keadilan
yang masih memiliki nurani.

"Lha kalau sudah dibuka rekaman ini selanjutnya bagaimana sikap para aktornya nanti ya?", ulas Kang Koclok.

"Ya pada sibuk menyelamatkan diri dan cepat-cepat cuci tangan. Sebagian ngakunya sih cuma figuran", tukas Denmas Kemplu.

"Jangan lupa bikin strategi untuk menyelamatkan muka, biar tidak ngisin-ngisini banget, gitu lho", tambah Den Kendar.

NDABLEG. Begitu mungkin kata yang paling tepat untuk menggambarkan sikap para petinggi negeri. Ada yang bermuka tembok berpantat badak tak juga mau mundur meski melihat lagaknya di layar kaca saja bisa membuat muntah. Sementara yang berwenang menindak, hanya asyik beretorika. Pimpinan dewan dan majelis yang seharusnya menyuarakan harapan rakyat akan keadilan, malah seolah tertidur tanpa sikap bermakna. Denmas Kemplu jadi teringat cuplikan lagu Sumbang dari Iwan Fals:

………………………
maling teriak maling sembunyi balik dinding
pengecut lari terkencing-kencing
tikam dari belakang lawan lengah diterjang
lalu sibuk mencari kambing hitam

…………………………

Entah, siapa yang bakal dikambinghitamkan lagi, dan siapa yang sudah benar-benar hitam sehingga tidak perlu dihitamkan lagi tetapi cukup di-kambingkan saja. Lho? Lha wong sudah gamblang ceto welo-welo mosok masih dibiarkan leluasa mengatur perkara.

"Hebat betul orang ini jadi seperti koordinator kasus saja, kok bisa-bisanya di sini senang di sana senang", Kang Koclok mengomentari aktor utama yang mendominasi dalam setiap rekaman. Bagaimana tidak hebat, lha wong pembuatan BAP kok seperti "tugas kelompok"? Sejumlah lembaga penegakan hukum pun jadi "masuk angin".

Den Kendar menambahkan, "Lha piye tho, sama yang menangani kasus kok koyo karo konco maen gaple wae?"

Tayangan sidang memasuki masa jeda ketika ponsel Den Kendar berdering dengan ringtone yang baru dipasangnya:

KPK di dadaku KPK kebanggaanku
Kuyakin kebenaran pasti menang
Kobarkan semangatmu tunjukkan kebersihanmu
Kuyakin kebenaran pasti menang

(bisa didownload MP3 dan Ringtone Lagu KPK di Dadaku, pada:
http://stream.kapanlagi.com/kpk_di_dadaku/kpk_di_dadaku.mp3
http://stream.kapanlagi.com/kpk_di_dadaku/ringtone_kpk_di_dadaku.mp3)

Hari ini kita mendapatkan pelajaran bersejarah di MK. Tapi badai masih belum berlalu. Kita tunggu lagi siapa yang bakal masuk angin? Nuwun.

Foto dari Kompas.com

Kronologis lengkap-kap:

http://politik.kompasiana.com/2009/11/05/kronologi-lengkap-dari-anggoro-bibit-chandra-lalu-ke-susno/


Numpang Promosi:

Bank paling dahsyat di muka bumi…CIBUAYA BANK…

Modal awalnya kurang dari Rp800 miliar. Namun, dalam waktu singkat sudah melonjak menjadi Rp6,7 triliun! Silakan segera buka rekening di sini…

cibuaya
 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.