Kebiasaan Orang Kampung

Dewi Aichi – Brazil

Membaca artikelnya Hariatni Novitasari yang berjudul "Ciri Khas Orang Indonesia", aku jadi pengen cerita juga mengenai adat kebiasaan orang di kampungku di Jogjakarta.

Mulai bulan Syawal sampai bulan haji, undangan bakal mengalir di meja bahkan bisa 3 sampai 4 dalam sehari, berlainan kota, berlainan tempat. Mana tahu yang mengundang kalau bakal bentrok dengan undangan orang lain, ya ngga? Ada yang punya pengalaman seperti ini? Coba bayangin jika dalam sehari ada 3 undangan atau dalam 1 minggu ada 10 undangan, berapa yang harus disisihkan oleh para buruh pabrik, pegawai kontrak, satpam, penganggur, petani, pensiunan dan sebagainya.

Biasanya waktu yang tepat untuk mengadakan hajatan/pesta, entah itu pernikahan, sunatan. Kalau sudah begini, wah ..harus siap-siap dengan pengeluaran. Karena adat di kampungku, punya ngga punya harus kondangan ke tetangga, kerabat, atau teman. Dan sekali kondangan minimal Rp.35.000 rupiah (untuk tetangga yang tidak akrab), apabila hubungannya akrab biasanya Rp.50.000 rupiah.

Entah siapa yang memulai dengan nilai nominal seperti itu, tapi kenyataannya memang seperti itu. Belum lagi bila yang hajatan mempunyai jabatan lebih tinggi, misalnya lurah, carik,atau yang dipandang kaya di kampung, pasti sumbangan untuk mereka lebih besar.

DuaribuHeran ya? Bukannya sebaliknya, yang tidak punya yang seharusnya disumbang lebih banyak? Tapi itulah adat di kampung. Di sisi lain adat itu sungguh memberatkan. Bayangkan saja misalnya seorang buruh pabrik, di Jogjakarta UMR nya ngga lebih dari Rp.800.000. Oya, UMR di wilayah Jogjakarta pastinya aku ngga tau, itu informasi yang aku dapatkan dari tetanggaku yang kebetulan online.

Temanku ini menceritakan, dari mulai tetangga, kerabat, dan teman-teman sesama karyawan pabrik. Macam-macam hajatan seperti pernikahan, sunatan dan kelahiran anak musti pakai sumbang menyumbang. Bahkan dalam 1 minggu, setiap harinya ada saja yang didatangi. Bisa dibayangkan, pengeluaran mereka untuk acara sumbang-menyumbang ini sungguh melebihi gaji yang mereka terima. Dan ada kesan saling balas lho, misalnya si A dulu sewaktu menikahkan anaknya di sumbang oleh B, sekarang giliran B menikahkan anaknya, si A kudu datang, dan biasanya besarnya sumbangan sama, karena mereka saling mencatat.

tenongan & bancakan

Belum lagi dengan ulih-ulih yang diterima oleh penyumbang. Biasanya yang punya hajat mencatat siapa saja yang menyumbang, beserta nilai sumbangan. Nah..beberapa jam setelah mereka hadir/kondangan, mereka akan menerima kiriman nasi beserta lauk pauknya, banyak lho menunya, bisa untuk makan 5 oranglah kira-kira. Repotnya lagi, kalau dalam sehari kondangan ke 3 rumah, maka dalam sehari bisa menerima ulih-ulih 3 kali, ini biasanya banyak nasi yang terbuang, tidak sanggup untuk menghabiskan. Biasanya untuk makanan ayam atau ada yang dijemur..ada juga yang dimanfaatkan untuk membuat kerupuk gendar.

Selain ulih-ulih, malemnya biasanya masih dapat kenduri…aduh, sampai bertumpuk-tumpuk itu nasi di rumah.

bancakanPengalamanku sendiri sewaktu berada di Jogjakarta juga seperti itu, apalagi kalau aku dan ibuku menyumbang, maka akan menerima 2 kali lipat. Aku sering sekali ngobrol sama ibuku tentang adat seperti ini yang menurutku memberatkan, baik yang punya hajat maupun yang kondangan. Bahkan untuk mencukupi, kadang yang punya hajat itupun tidak segan-segan untuk hutang.

Aku juga pernah hidup lama di Jakarta, tapi untuk acara sumbang menyumbang, ngga seberat di Jogjakarta. Pengalamanku nih, asal kondangan, datang menyalami tuan rumah sambil memberikan amplop, trus biasanya makan prasmanan yang sudah tersedia, pamit pulang he he.. Trus yang punya hajat juga tidak memikirkan untuk mengirim ulih-ulih kepada penyumbang.

besekMasih ada satu lagi, misalnya ada kematian. Di kampungku, bagi keluarga yang ditinggalkan, biasanya mengadakan tahlilan 3 hari berturut-turut dari hari pertama kematian, dan pulangnya bapak-bapak yang tahlilan itu membawa besek (anyaman dari bambu berbentuk persegi), yang isinya ada nasi, lauk dan kue-kue.

Dilanjutkan dengan hari ke tujuh juga demikian, terus hari ke 40, ke 100, 1 tahun, 2 tahun, terakhir 1000 hari (biasanya disertai dengan pemasangan batu nisan).

Ini sekedar berbagi saja tentang kehidupan di kampungku, mereka mempertahankan adat istiadat seperti itu dari nenek moyang sampai saat ini. Saya pernah bertanya dengan beberapa tetangga tentang adat sumbang menyumbang seperti ini, bahkan di musim haji, tiada hentinya menyumbang sana-sini. Mereka bilang rata-rata ya berat mengikuti adat seperti ini, tapi kalau ngga menyumbang, rasanya seperti tidak punya muka apabila bertemu dengan yang punya hajat.

Sepertinya ngga beda dengan apa yang saya rasakan ketika pulang ke Jogja, menikmati untuk mengikuti acara sumbang menyumbang seperti ini.

About Dewi Aichi

Berasal dari Sleman Jogjakarta, saya blasteran (antar kelurahan maksudnya), happily married to a Brazilian guy. Dari Jogja merambah dunia. Pernikahan lintas benua adalah pilihannya. Setelah beberapa tahun di Distrik Aichi, Jepang, sekarang tinggal di Brazil bersama keluarga tercintanya. Tingkat sudrunnya setara dengan saudara-saudara sepersudrunannya seperti Nur Mberok, Elnino, Fire dan jelas Lani van Kona. Di sini saya bukan siapa-siapa dan bukan apa-apa, saya hanya sekedar menulis apa yang saya rasakan, apa yang saya alami, dan apa yang menarik buat saya untuk ditulis. Jika ini bermanfaat untuk diri saya sendiri dan juga untuk teman-teman, saya sangat bersyukur

My Facebook Arsip Artikel Website

47 Comments to "Kebiasaan Orang Kampung"

  1. Dewi Aichi  20 October, 2011 at 16:58

    Wong Jogja, terima kasih sudah berkunjung ke sini, jadi inget tulisanku tentang hal ini. Ya memang sepertinya ngga mungkin menghapus kebiasaan yang sudah turun menurun, dan sekarang banyak yang sudah tidak mau mengikuti dengan alasan keyakinan. Walaupun datangnya sekarang.

    Saya pribadi melihat dan lebih setuju sebagai adat budaya yang perlu dilestarikan, dilepas dari unsur “agama”, jadi mau dilaksanakan ya silahkan, tidak ya tidak apa2. Kumpul bareng dan silaturahmi itu yang saya lihat.

    Saya ngga kaku dalam hal ini, kalau tetangga ngadain hajatan, kitanya diundang ya datang, untuk kebersamaan sebagai etika bertetangga. Hidup di kampung memang penuh aturan tak tertulis, tapi malah kuat dalam pelaksanaan.

  2. wong jogja  16 October, 2011 at 08:53

    semoga niat menyumbang jangan mendjadi niat berinvestasi (mengharapkan sumbangan kembali) dan semoga niat bersyukur dengan berhajat tidak berubah menjadi niat menagih hutang dari sumbangannya sblmnya. atau mengemis sumbangan.
    orang primitif dihidup dgn kebiasaaan & adat lingkungannya tanpa berani meluruskan apalagi memperbaharui.

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *