Ayo Kita Nyusu…

Josh Chen – Global Citizen

Eits…jangan ngeres dulu baca judul ini…

Kalsium adalah salah satu mineral terpenting untuk tubuh manusia. Sedari dalam kandungan, sampai dengan tutup usia, kalsium secara kontinu diperlukan tubuh. Pembentukan tulang dalam rahim, struktur gigi, pembekuan darah, transmisi rangsang saraf, pengaturan irama detak jantung, dsb. Di usia dewasa dan tua, kalsium diperlukan untuk mempertahankan struktur tulang dan gigi, pencegahan osteoporosis, memperlambat kepikunan, dsb.

Dari mana sumber kalsium tubuh kita? Menurut penelitian, kalsium memang tidak diproduksi langsung oleh tubuh kita, tapi kita mendapatkan asupan dari makanan kita sehari-hari. Cadangan kalsium kita disimpan di dalam tulang. Bilamana tubuh membutuhkannya untuk satu keperluan, misalnya pengaturan irama detak jantung, maka sistem tubuh kita akan “menarik” kalsium dalam tulang, dari bentuk padat menjadi bentuk molekul dan digunakan untuk keperluan tsb. Dalam hitungan singkat, kandungan kalsium dalam makanan akan diubah oleh sistem yang sama menjadi cadangan atau “mengembalikan pinjaman” kalsium tadi ke dalam tulang.

Semua proses di atas sangat cepat hanya dalam hitungan nano-detik (sungguh besar keagungan Sang Pencipta!) terjadi proses reversible seperti itu dalam tubuh kita. Seperti kita tahu, bahwa dalam tubuh kita setiap saat terjadi berjuta reaksi kimia, fisika, biologi, biokimia dan lain sebagainya. Masalah terjadi jika “pengembalian” tadi tidak 100% seperti waktu “meminjam” dari tulang karena berbagai faktor, di antaranya: kesehatan tubuh kita, asupan kalsium dari makanan kita sehari-hari, usia, dsb.

Tanda-tanda kekurangan kalsium: tubuh gemetar, saraf menjadi peka, kuku rapuh, insomnia, depresi, rasa kebas, jantung berdebar, kram, dsb. Jika asupan kalsium didapat dari makanan, biasanya tidak akan terjadi kelebihan asupan kalsium. Berbeda dengan jika kita mengonsumsi food supplement yang marak di pasaran dengan berbagai merek dan klaim khasiat mereka, bisa saja terjadi kelebihan kalsium dengan tanda-tanda antara lain: kehilangan selera makan, muntah-mual, susah BAB, nyeri perut, mulut kering, haus dan sering buang air kecil.

Sampai saat ini, asupan kalsium yang paling tepat dan cocok untuk manusia adalah dari susu sapi. Susu sapi dan segala jenis produk turunannya, adalah sumber kalsium yang baik. Susu sapi komposisinya yang paling mendekati ASI.

Bagaimana persusuan di Indonesia?

 
Beginilah susu di Indonesia dalam angka:

Dairy in Indonesia

 
Dairy consumption in Asia:

Dairy Consumption Asia

Dan ini adalah persusuan, perkejuan dan per-butter-an di negara-negara dengan konsumsi dairy products yang tinggi:

Dairy Consumption

Selain masih rendah sekali, konsumsi susu di Indonesia, konsumsi produk susu seperti butter dan keju juga masih sangat rendah, walaupun memang dari tahun ke tahun menunjukkan peningkatan yang signifikan. Namun jika dibandingkan dengan negara tetangga terdekat saja Singapore dan Malaysia, masih sangat jauh.

Masalah terbesar adalah 70% susu dan produk susu di Indonesia masih di’import, karena produksi dan produktivitas di dalam negeri masih sangat rendah. Harga menjadi hal kedua di mana daya beli masyarakat juga belum sampai ke level tsb, sementara untuk makan sehari-hari juga masih megap-megap. Harga per liter sekitar Rp. 11.000-14.000 (tergantung merek dan rasa) di supermarket dan minimarket, masih dirasakan cukup tinggi. Padahal harga susu segar di tingkat petani susu hanya sekitar Rp. 3.500/liter.

Dengan masih banyaknya import, harga susu di tingkat konsumen sangat dipengaruhi harga susu di pasaran internasional. Fluktuasi harga cukup memengaruhi harga tingkat nasional.

Faktor paling berpengaruh di dalam negeri sebenarnya adalah produktivitas dan (again) infrastruktur (jalan, cold chain). Petani susu di Indonesia rata-rata hanya memiliki sapi 3-4 ekor, padahal untuk mencapai economies of scale, idealnya petani harus memiliki 10-12 ekor. Lebih diperparah lagi, per sapi di Indonesia hanya menghasilkan sebanyak 6-10 liter per ekor per hari, di mana angka ideal ada di 16-20 liter per ekor per hari.

Untuk meningkatkan kondisi dan situasi di dunia persusuan di Indonesia, kembali lagi diperlukan kemauan politik dari pemerintah. Dukungan dari pemerintah dan revitalisasi di bidang ini mutlak diperlukan. Beberapa tahun lalu, seperti pernah saya sebutkan di komentar artikel Anak Kamboja pernah ada program Susu Sekolah yang disponsori salah satu negara maju, untuk memenuhi program yang dicanangkan oleh FAO beberapa tahun lalu. Dengan adanya start-up program seperti ini, diharapkan menjadi pemicu dan penyemangat industri susu di Indonesia. Anakan dan indukan sapi jenis unggul untuk produksi susu perlu di’import dan dikembangkan di Indonesia. Good farming practice juga mutlak diperlukan untuk menghasilkan petani susu handal. IPB dan Unpad sudah memelopori bekerja sama dengan satu perusahaan susu terkenal di Indonesia untuk mengadakan pelatihan untuk petani susu di sekitar tempat industri susu itu berada.

Infrastruktur jalan dan cold-chain tidak dapat ditawar lagi mengingat sifat dari susu segar yang cepat rusak, apalagi di negeri tropis dengan temperatur yang panas. Cold-chain atau rantai-pendingin, yang dimulai dari farm-level, sejak diperah, disimpan di tempat penyimpanan yang baik dan benar, pengangkutan dengan mobil atau truck berpendingin ke pabrik, dalam pabriknya sendiri, kemudian produk jadi ke supermarket atau ke end consumer, memerlukan cold-chain yang baik. Itupun harus ditunjang infrastruktur jalan yang baik dan mulus. Bisa dibayangkan misalkan jarak dari petani susu ke pabrik yang harusnya bisa ditempuh 1-2 jam, karena jalan yang buruk, menjadi 4-5 jam, penurunan kualitas susu jelas terjadi, dan kerugian karena itu jelas ada. Dan bisa dibayangkan akumulasi dari waktu ke waktu.

Hal-hal inilah yang menyebabkan industri susu di Indonesia belum bisa melesat seperti negara Asia lainnya. Di tingkat pabrik, terkadang pabrik juga serba salah, susu yang dikirim petani susu tidak memenuhi standard, mulai dari tingkat kekentalan, kandungan protein, tingkat bakteri yang melesat sejak dari farm-gate ke factory-gate yang sangat tidak seragam, juga menyebabkan kerugian di tingkat pabrik sendiri. Biaya produksi untuk menyeragamkan dan susu rusak yang terbuang juga menyebabkan hambatan-hambatan lain lagi.

Masih perlu ditingkatkan lagi konsumsi susu di negeri ini, memasyarakatkan susu dan menyusukan masyarakat masih panjang perjalanannya. Peningkatan gizi generasi muda masih jauh dari tingkat ideal untuk menjadi landasan kemajuan suatu negara. Banyak sekali contoh konsumsi susu erat kaitannya dengan tingkat gizi dan kecerdasan serta kesiapan satu bangsa untuk menjadi maju.

Dua kisah sukses menyusukan masyarakat dan memasyarakatkan susu adalah negara Jepang dan Brazil. Jepang dengan tingkat konsumsi susu termasuk yang tertinggi di kawasan Asia dan Brazil dengan tingkat produksi dan produktivitas yang tinggi.

Jepang
Berakhirnya PD II tahun 1945 merupakan titik paling nadir dalam sejarah Jepang. Kehancuran total 2 kota Hiroshima dan Nagasaki serta kota-kota lainnya karena kalah perang merupakan bencana besar untuk Negeri Matahari Terbit ini. Memang sudah menjadi kebiasaan Amerika, sebagai pemenang perang, di negeri di mana hancur (baca: dihancurkan), mereka akan mengulurkan tangan untuk membangun dan membantu negeri tsb, terlepas dari pendapat dan pandangan negatif orang terhadap Amerika.
 

Di tahun 1946, restorasi besar-besaran, dengan kucuran dana dari negara-negara pemenang perang, Jepang tertatih membangun negeri mereka. Program utama adalah food security dan meningkatkan gizi masyarakat kebanyakan untuk membangun negeri. Diharapkan dan diyakini rakyat yang sehat akan berdampak positif untuk pembangunan negeri. Program “menyusukan masyarakat dan memasyarakatkan susu” besar-besaran digeber di seluruh penjuru negeri. Di awal-awal masa itu, sungguh sulit mengubah kebiasaan masyarakat Jepang, terutama adalah masalah budaya yang sudah beratus tahun.

Carbohydrate & protein intake 60% berasal dari nasi dan non-dairy products. Kebiasaan ini sudah berakar sejak lama. Kehancuran Jepang karena perang, infrastruktur, lahan pertanian dan industri menyebabkan rakyat Jepang mengalami krisis hebat di kisaran 1945-1950. Kemauan kuat pemerintah Jepang untuk membangun negeri yang hancur, memaksa mereka membuka diri seluas-luasnya untuk memberi makan rakyatnya dengan diversifikasi makanan, westernization eating habit di mana salah satunya western most important diet adalah susu. Periode 1950-1955 menjadi periode pemerintah Jepang menargetkan peningkatan gizi, pemenuhan jumlah minimum kalori harian dengan cara menyeragamkan lunch-box di sekolah-sekolah. Lunch-box di sekolah-sekolah waktu itu wajib berisi: susu, roll, margarine/butter, dan 1-2 makanan tradisional.

Pola Makan Masyarakat Jepang dari waktu ke waktu:

Pola Makan

Dairy Consumption Masyarakat Jepang:

Japan Dairy Consumption

Dengan program tsb, dalam waktu 15 tahun, di kisaran 1970, dengan pesatnya peningkatan ekonomi masyarakat Jepang, pembangunan luar biasa, membuat pergeseran pola makan masyarakatnya juga. Konsumsi nasi sebagai sumber utama kalori menurun menjadi 34% dan konsumsi susu, keju, butter, telur, daging sebagai sumber protein tinggi meningkat pesat seiring menguatnya perekonomian keluarga-keluarga di Jepang.

Sekarang bisa dilihat masyarakat Jepang sangat jauh sekali dari kekurangan gizi, generasi muda yang ‘makin menjulang tinggi’ sudah hilang sama sekali julukan orang Jepang di masa lalu yang dibilang kate alias pendek.

Brazil
Sejarah panjang dairy farms di Brazil dimulai di kisaran tahun 1911, di mana gelombang imigran dari Belanda masuk ke Brazil, mendirikan kota-kota baru dan sukses di sana. Gelombang migrasi ini adalah yang kedua setelah gelombang besar pertama di tahun 1630-1654. Gelombang kedua ini kebanyakan settle di daerah Espírito Santo, Paraná, Rio Grande do Sul dan São Paulo, kebanyakan mereka membangun dairy farm yang besar berdasarkan pengalaman mereka di tanah kelahiran. Bahkan sapi-sapi Holstein juga didatangkan secara massive untuk start awal farming mereka.
 

Pasang surut terjadi awal-awal keberadaan mereka. Sapi-sapi yang mereka datangkan tidak dapat bertahan hidup karena panasnya suhu udara tropis dan kelembaban yang jauh berbeda dengan tempat asalnya. Pelahan tapi pasti, para petani susu di Brazil mengembangkan dairy farm mereka, dan sekarang menjadi salah satu pilar ekonomi pertanian yang penting di sana.

Produksi susu negara-negara penghasil susu utama:

Milk Production

Bagaimana dengan Anda? Sudahkah Anda sekeluarga minum susu tiap hari? Ayo kita nyusu…

sapi perah

 
References:

About J C

I'm just another ordinary writer. Seorang penulis lepas dengan ketertarikan bidang: budaya, diversity, fotografi, ekonomi dan politik.

Arsip Artikel Website

198 Comments to "Ayo Kita Nyusu…"

  1. anoew  29 September, 2012 at 20:55

    Kok bisa ya artikel all about susu, saya ketinggalan baca?

  2. juwandi ahmad  29 September, 2012 at 20:04

    haduhh, memeras susu: pekerjaan yang disukai semua pria.

  3. Lani  29 September, 2012 at 14:11

    AKI BUTO : wakakakak………artikel kuno mencungul meneh………mmg dampak SUSU MENYUSU sgt kuattttttt………

  4. Edy  29 September, 2012 at 08:54

    susu ya.
    saya juga demen banget.

  5. J C  11 October, 2011 at 07:05

    Meitasari, lho kok aku?

  6. Meitasari S  11 October, 2011 at 06:51

    JC : Skrg aku percaya dirimu memang suhu sudrun! Hidup sudrun!

  7. J C  11 October, 2011 at 04:52

    Lho ngeler susu masih berlanjut di sini toh?

  8. Dewi Aichi  11 October, 2011 at 04:49

    Dan juga baik untuk gigi dan tulang….lanjutkan…!

    Muhzar…..kok malah kita jadi bintang iklan susu..!

  9. muhzar  10 October, 2011 at 18:14

    susu…baik untuk pertumbuhan..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.