Mulai dari yang kecil… saat ini!

Alexa – Jakarta

Membaca cerita-cerita orang tajir yang juga jadi Philantropis macam Bill Gates, Oprah Winfrey gitu sangat mendatangkan inspirasi bahwa harta itu tidak hanya dinikmati diri sendiri dan keluarga…tapi bisa juga dipakai untuk membantu orang lain.

Saking terinsipirasi dengan sosok mereka maka sewaktu saya mendapat tawaran untuk bekerja di sebuah NGO di Jakarta yang juga didonasi oleh mereka berdua – saya nyaris menyambut dengan gembira. Wawancara terakhir saya berhadapan dengan dua bule dan seorang Indonesia berlangsung lancar bahkan kami sudah membicarakan program kerja jika saya bergabung dengan mereka.

Sore harinya usai wawancara suatu panggilan telpon masuk dan si orang Indonesia itu minta ketemu saya secara private. Kami bertemu di suatu café dan dia menerangkan siapa dia, bagaimana suatu NGO beroperasi dan akhirnya menyinggung posisi saya saat itu.

Dia mencontohkan bahwa program bantuan beras yang akan menjadi tanggung jawab saya itu bukan murni bantuan ke rakyat miskin tapi juga merupakan program untuk membantu petani di negara asal NGO tersebut. Menurut dia lebih baik saya tetap di tempat saya dengan network yang sudah bagus dan membantu program-program kerja dia di luar NGO itu.

Saya tentunya tidak menelan mentah-mentah ucapan dia – apalagi saya pikir jikapun yang terjadi adalah pemberian dengan dual tujuan itu masih oke-oke saja sepanjang hal itu adalah pemberian dan tidak disuruh beli/bayar. Waktu itu aku tanyakan juga – kenapa Bapak masih di NGO itu. Dia menerangkan bahwa dia sudah resign dan akan efektif awal bulan depan.

Keesokan harinya salah seorang bule itu menghubungi dan meminta saya datang ke kantor -wadauw tempat tugas pertama adalah di Maluku…daerah konflik. Saya langsung menjawab …”I’m sorry I couldn’t take that responsibility – I’m not ready to die young.” (sampe sekarang tidak bisa melupakan ekspresi kagetnya).

Saya juga melakukan background checking kepada si Bapak yang ternyata menimba ilmu langsung ke Bangladesh di bawah Mohammad Yunus si Pemenang Nobel atas pelaksanaan Grameen Bank – banknya kaum perempuan marjinal, maka saya yakin dengan Bapak itu. Akhirnya aku membantu mencarikan donator bagi program kerjanya.

Di sinilah mulai aktivitasku sebagai Fundraiser – tidak terlalu aktif sih karena beliau sendiri sudah cukup dikenal maka bukan merupakan hal sulit baginya mencari dana – terakhir kemarin aku lihat dia mendapat Danamon Award yang diberikan kepada orang yang memiliki kontribusi kepada masyarakat kecil.

Suatu saat di airport (huff…kenapa ya pertemuan penting dalam hidupku selalu terjadi di airport?), aku berkenalan dengan beberapa wanita muda berkerudung. Mereka rupanya bergabung dalam satu kelompok kegiatan sosial dan sudah membuat suatu grup sekolahan gratis dari TK sampai SMP yang telah berjalan cukup lama. Aku diajak bergabung dan saat aku bertemu dengan kelompok mereka ada sedikit rasa gamang.

Lha mereka berkerudung semua sementara itu walaupun aku Muslim tapi aku nih Ms.Tank Top; ngeri juga kalau harus gabung dengan kelompok mereka. Tapi so far dalam perjalanan waktu tak pernah mereka mengeluarkan suatu pernyataan apapun mengenai cara berpakaianku so aku jadi nyaman bergaul dengan mereka, malah salah seorang dari mereka berani menceraikan suaminya pas baca tulisan-tulisanku (halah gini kok bangga ya?)

Kondisi dunia pendidikan di Indonesia saat ini masih jauh dari memuaskan. Walaupun sekarang sampai dengan 9 (Sembilan) tahun pendidikan sudah dicanangkan Sekolah Gratis namun biaya BOS (Biaya Operasional Sekolah) yang diberikan Pemerintah kepada sekolah masih jauh dari cukup. Jika bicara di Jakarta saja sebenarnya kondisinya sudah lumayan. Karena Pemerintah Provinsi Jakarta juga mengeluarkan tunjangan untuk para Guru, tapi bagaimana dengan di daerah?

Sekolah yang terletak di wilayah Jawa Barat (Bekasi) ini jelas masih membutuhkan banyak dana terutama untuk biaya operasional. Selain untuk menambah kesejahteraan guru juga untuk memberikan tunjangan bagi para siswa. Memang rata-rata mereka tidak memerlukan ongkos transport karena tinggal disekitar sekolah tapi banyak dari mereka berasal dari keluarga yang marjinal sehingga untuk makan teratur tiga kali sehari saja sulit. Nah untuk anak-anak seperti ini kami juga memberikan tunjangan dalam bentuk sembako bagi keluarganya.

Sampai suatu saat akan tiba saatnya anak-anak asuh itu mencapai tahap kelas tiga SMP dan kami berpikir bahwa harus ada Sekolah Lanjutan Atas yang bisa menampung dan membantu mereka paling tidak menjadi mandiri usai menamatkan pendidikan. Akhirnya kami para wanita bonek ini memutuskan untuk membuat bangunan sekolah yang baru di lahan yang tersisa, sepuluh unit kelas direncanakan dalam dua tingkat bangunan.

Masalahnya dana yang kami miliki sangat terbatas, sehingga segala daya upaya dikerahkan sekuat tenaga. Kami mengetuk pintu suatu sekolah swasta bermutu yang ada di dekat sekolah gratis sehingga kami dapat lungsuran meja-tulis yang memang sudah jadwal pergantian dari sekolah swasta itu. Kami juga menyusuri beberapa toko bahan bangunan di sekitar dan ternyata boleh utang dulu (bayarnya kapan?…Ya ampun dalam hati cuman bisa menjawab “Kumaha engke’ ”).

Trus di sekitar sekolah itu ada beberapa kegiatan renovasi bangunan kami sambangi, dapatlah beberapa daun pintu bekas Wartel (terlihat di foto terlampir) dan kami pergunakan sebagai daun pintu WC. Nantinya pintu kaca tersebut akan dicat putih.

SMK1

SMK3

SMK5

SMP

Nah untuk membayar hutang ke toko bangunan itu kami melakukan kegiatan penghimpunan dana, antara lain saya yang diminta aktif menghubungi para relasi. Dan mulailah kami mengangkat telpon meminta bantuan. Ternyata untuk ukuran Jakarta hal ini tidak terlalu sulit, dalam waktu sekejap dana bisa terkumpul dari donatur dan semua hutang bisa terbayar.

Kegiatan penghimpunan dana tidak bisa berhenti; kegiatan operasional sekolah harus berjalan dan dibiayai. Jadilah aku selain sebagai marketer di bidang finance/ investasi aku juga menjadi marketer di bidang investasi akhirat (demikianlah yang selalu kusampaikan saat mengetuk hati calon donator).

Tak banyak uang yang aku keluarkan secara pribadi namun dari menyalurkan sebagian tenaga ke kegiatan ini bersyukur juga punya andil dalam mencerdaskan anak bangsa.

Begitulah kegiatan-kegiatan sederhana yang kulakukan; tidak perlu menjadi kaya dulu baru beramal yang penting kita nih kudu ingat ucapan Sista Siska Perez – kita dilahirkan dari rahim seorang Ibu bukan merocot tiba di tengah hutan atau tiba-tiba tergeletak di jamban umum sehingga hendaknya kita menjaga supaya nurani kita selalu bersih. Mudah-mudahan ke depan makin banyak yang bisa ku baktikan pada Negeri ini. Apalagi mengingat Negara tercinta kita Indonesia bukanlah Negara maju dan kaya; masih diperlukan upaya untuk membangun negeri ini dan sangat diharapkan sumbangsih dari anak bangsa walaupun sekecil apapun.

Jadi teringat suatu ucapan John F Kennedy pada malam Inaugrasinya – January 29, 1961:

“Ask Not What Your Country Can Do For You – Ask What You Can Do For Your Country.”

Sebenarnya akhirnya kami mendapatkan komitmen dari suatu perusahaan swasta yang sedang menjalankan program CSRnya tapi setelah menghitung jumlah dananya yang akan disumbangkan cukup besar sementara kebutuhan sekolah sudah tertutupi oleh donatur rutin maka kami sepakat menyalurkan komitmen si perusahaan swasta itu dalam program pendidikan di lokasi lain.

Psst….ada kejutan lain, si sekolah swasta yang bermutu banget dan ada dekat sekolah gratis ini menghubungi aku dan menawari aku jadi anggota dewan pengurus.

Share This Post

Google1DeliciousDiggGoogleStumbleuponRedditTechnoratiYahooBloggerRSS

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *