Nasi Bancakan

Saw – Bandung

Hallo Admin dan Sahabat Baltyra …

Pada kesempatan kali ini, saya ingin mengajak sahabat semua berwisata kuliner ke daerah Bandung. Semoga tidak bosan ya, mengingat sudah banyak dan sering wisata di daerah ini diliput. Namun, begitulah Bandung, penuh tempat-tempat menyenangkan dengan berbagai pilihan.

Di pusat kota Bandung, dekat dengan Gedung Sate, tepatnya di Jalan Trunojoyo no. 62, terdapat rumah makan ‘Nasi Bancakan Mang Barna & Bi O’om’. Menilik namanya, sekilas juga kita akan tahu bahwa ini rumah makan khas Sunda.Dan memang tidak salah. Saking khasnya, makanan yang tersaji di sini benar-benar makanan langka, Sunda baheula pisan.

Rumah makan ini memang mengusung tema ‘tempo doeloe’. Artinya, selain menu yang tersaji menyediakan makanan khas jaman dulu, desain rumah makan ini juga dibuat sedemikian rupa, sehingga mengingatkan kita pada kondisi masak memasak jaman dulu.

Lihatlah tungku-tungku besar yang berjejer di bagian belakang rumah makan. Ini bukan sekedar hiasan karena tungku-tungku tersebut benar-benar berfungsi untuk memasak menu-menu yang tersedia. Termasuk menu ‘Peda Beuleum’ (Ikan asin peda yang dimasak dengan dibakar di bara kayu).

Juga aneka bumbu dapur serta ‘pandaringan’ dari tanah liat yang terisi penuh dengan bulir-bulir padi yang masih menempel pada tangkainya.

Sementara menu yang tersaji dengan system prasmanan berjajar menggoda iman. Setiap hari minimal ada 25 menu yang akan berganti di setiap harinya. Sebutlah menu Pindang Lauk Sawah, Tumis Iwung (rebung), Tumis picung (keluwak muda), Ceos Kacang, Ulukutek Leunca, Tumis Genjer, Tumis Suung (jamur), tumis lember (jamur kuping), semur jengkol dan lain-lain. Untuk menu ayam, ada ayam goreng dan Ayam bakar Cisaga.

Jika kita menginginkan kenikmatan dengan pedes-pedesnya, tersedia macam-macam sambel seperti sambal golodog, sambal oncom, sambel ceurik (saking pedesnya, sampai ceurik = nangis).

Cemilan yang tersaji juga aneh-aneh. Ada Tahu Aci, Cimplung, Tutut, kerupuk aci, bahkan Kue Balok pun tersedia hangat. Maklum, dimasaknya pas kita pesan.

Kalau ingin yang segar-segar, ada es goyobod yang tinggal pesan saja.

Juga segerobak es puter, yang kalau saya ingat-ingat, sepertinya terakhir saya menjumpainya pada masa SD saya. Bentuk es kotak atau pipih dengan lidi atau bambu sebagai pegangannya. Biasa berkeliling kampung dengan ‘klintingan’ (lonceng kecil). Hanya sayang, waktu saya memotretnya kondisi sedang tertutup.

Oya, peralatan makan di sini anti pecah lho, karena terbuat dari seng, piring maupun mugnya. Lihatlah sepiring lotek bersama kerupuk acinya. Lecet-lecet di piringnya justru memberikan nuansa jadul semakin kuat.

Sahabat Baltyra yang menyukai makanan khas Sunda dengan lalapan dan berbagai olahan sayur mayurnya, akan sangat dimanjakan di sini. Dengan menu yang demikian komplitnya ditunjang dengan penampilan rumah makannya, benar-benar ‘asal dilembur pisan’.

Harga juga membuat kita terpana. Murah banget. Makanya, tak heran, dengan tempat strategis seperti itu, begitu jam makan tiba, pengunjung membludak.

Banyak yang tidak kebagian tempat. Untuk itu banyak pelanggan yang sudah memesan tempat terlebih dahulu, sehingga dipan-dipan berlapis tikar pandan pun sudah terpasang tulisan : Hapunteun, parantos di pesen. (maaf, sudah dipesan).

Bahkan kalau Ramadhan, pengunjung sampai harus menggelar tikar di halaman rumah makan. Sayang, hingga kini ‘Nasi Bancakan Mang Bana & Bi O’om’ belum buka cabang. Jadi bagi saya penggemar sayur dan lalapan seperti menu di sini, harus menuju pusat kota Bandung untuk bisa menikmatinya. Lumayanlah, untuk jarak Cimahi – Bandung.

Tapi, untuk makan bersama anak-anak sepertinya kurang tepat, mengingat anak-anak jaman sekarang kurang menyukai menu-menu semacam ini. Setidaknya untuk anak-anak saya sendiri.

Maka sebelum melangkah keluar rumah makan dengan perut yang kekenyangan, saya sempatkan membelikan kue arum manis yang tersaji pas di sebelah kanan pintu masuk. Saya membeli 5 buah, 4 untuk anak-anak dan satunya untuk saya sendiri, Bagaimanapun saya kangen dengan makanan ini yang pada saat saya kecil biasa dijajakan dengan suara ‘ngik ngok’ berkeliling kampung.

Ketika saya benar-benar meluncur pulang, masih tersisa senyumku, teringat tulisan besar terpampang di tengah-tengah ruangan, namun langsung terbaca begitu kaki kita menginjak rumah makan tersebut.

OMAT, … UPAMI TUANG 5 ULAH NGAKU 1, SING KARUNYA KA EMANG. DA GUSTI MAH MAHA UNINGA. HA…HA…HA… (Ingat, … jika makan 5 jangan ngaku 1, yang kasihan sama paman, Toh Tuhan Maha Mengetahui, ha … ha… ha…).

Baiklah sahabat Baltyra, jika jalan-jalan ke Bandung, tak ada salahnya mampir ke sini. Yah, sekedar alternative berwisata kuliner…
 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.