Colours of Singapore

[email protected] – Singapore

Selamat Pagi Siang Sore Malam dan Subuh kepada seluruh pembaca baltyra. Kemarin Buto baru kirim link photo2 ketika dia jalan2 di Singapura Agustus tahun ini, sungguh menarik sekali photo2nya, luar biasa bagus (bagaimana menurut mbah Gandalf?). malu saya DSLR saya kalah dengan poket kamera beliau.

Sehabis itu saya mencoba melihat2 di folder kumpulan photo2 pribadi di computer, photo2 latihan kamera DSLR dengan nuansa Singapore, mencoba mencari untuk di posting. Terkumpul beberapa foto dari tahun lalu.

Mungkin ada baiknya saya mencoba menulis dan mem-posting photo tersebut, karena dari dulu pengan banget di beri masukan oleh mbah Gandalf.
Sekalian sedikit berkeluh kesah walau tak ada hubungannya dengan photo2 tersebut di bawah.

START….

Bagi kebanyakan orang melihat Singapura adalah sebuah Negara kecil yang di peta saja tidak terlihat (the little red dot), dan ini sudah diakui oleh pemerintah sini bahwa Singapore is a Little Red Dot on the World Map. Coba saja anda naik pesawat seperti Lufthansa, SQ, Qatar, Emirates lihat TV ketika mendekati Singapura yang terlihat hanyalah sebuah titik merah (lebih besar daripada pulaunya).

Balik, Singapura adalah sebuah Negara maju, tidak jauh lebih besar dari Jakarta. Tapi kalo dilihat perbandingannya dengan Jakarta jauh sekali. Dari sarana dan prasarana serta tata banguanan yang ciamik sehingga menarik. Object wisata yang tertata rapih dan baik.

Sungguh menarik untuk melihat gedung gedung tua di Singapura yang tertata dengan rapi, terawat dan tetap dijadikan tempat beraktifitas. Di Jakarta paling tidak saya sudah melihat perkembangannya di Gedung Musium di dekat Stasiun Kereta Kota (apa namanya saya lupa).

Sungguh luar biasa perkembangannya dan usaha untuk dijadikan suatu tempat dimana banyak orang berkumpul dan gedung musium dijadikan object pariwisata. (Salut atas usahanya). Balik lagi ke Singapura. Photo di bawah ini masih diambil di daerah city Singapura diwaktu malam hari sehabis menonton langsung pertunjukan Film Laskar Pelangi yang diputar di saat Singapore Film Festival. (ketemu sama sutradaranya lhoo dan sempat foto bersama…)

Lanjut… photo photo berikut dibawah ini adalah photo Henderson Bridge & Alexandra Curve. Ini adalah trek terpanjang di Singapura (bener atau tidaknya masih diragukan) karena belum 100% selesai dibangun semua berawal dari VIVO City terus menuju ke West Coast.

Melewati areal hutan, bukit, semak dsb yang dibuat sedemikian rupa hingga menarik (juga ada tempat makan mewah dimana kalian bisa naik cable car menuju ke Sentosa) Yup, bagi anda yang pernah naik cable car anda mungkin tak menyadari bahwa itu adalah salah satu baian dari jungle track.

Setelah berjalan di malam hari selama 1 jam mencari arah ke Alexandra curve dan tidak ketemu, akhirnya kita naik bus menuju ke sana (beberapa hari kemudian baru sadar bahwa jalan sambungannya belum selesai).

Yang menarik dari jembatan ini adalah light colour yang terus berganti warna, dari biru, merah, ungu, putih dan hijau. Hebatnya warna hijau hanya keluar 1x dengan interval 30 menit. (yak kita kelewatan warna hijau ini makanya harus nunggu).

Mohon maaf photo yang warna biru menghilang entah kemana. Yak inilah sisi warna warni dari Singapura. Mungkin bagi kita yang sudah tinggal lama disini sudah menjadi biasa, dan anda yang hanya sempat beberapa hari disini mungkin akan terlewat. Tapi sungguh dapat dilihat usaha untuk tetap menjadikan singapura sebagai object pariwisata.

Kemarin saya melihat di photo bang Buto ada photo salah satu temple (Buddha Tooth Temple) yang cukup terkenal, ini hanya sekedar menambahkan photo untuk dilihat. Saya kemari itu sewaktu ada acara disini, acaranya apa lupa. Silahkan dilihat (hanya menambahkan lho ya bukan di'compare).

Mungkin sekian dulu dari tulisan dan photo photo kali ini. Photo di artikel selanjutnya adalah mengenai Esplanade dan Nature Trail @ Singapore.

Cherio…

About [email protected]

Nama Panggilan PamPam atau Pampers, nama beken [email protected], nama Asli (rahasia)... bergelut dibidang dunia arsitektur, sempat di Singapore cukup lama lebih dari 10 tahun, menempa pengalaman di negeri tetangga, dan akhirnya balik ke Indonesia dengan cita2 mengembangkan "public housing" atau kata bekennya rumah susun di Indonesia.

Arsip Artikel

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.