Kuburan

Budiman Hakim – Indonesia

Hampir setiap hari kita melihat tayangan di Televisi tentang penggusuran rumah liar atau penertiban pedagang kaki lima. Serem ya? Kadang kita ngeliat sampai ada perkelahian antara yang menertibkan dan yang ditertibkan. Udah ga jelas lagi siapa yang bener dan siapa yang salah. Yang satu cuma menjalankan tugas, pihak lainnya merasa berkewajiban mempertahankan haknya.

Penggusuran rasanya ga pernah berenti di ibukota ini. Cukup banyak warga Jakarta yang menghabiskan umurnya dengan main kucing-kucingan dengan polisi pamong praja. Mereka hidup berpindah-pindah, tergusur dari tempat yang satu lalu tergusur ke tempat lain lagi. Saya sering berpikir, Barangkali kalo mereka mati nanti, barulah akan terbebas dari masalah penggusuran.

Tapi sebuah kejadian menyadarkan bahwa pemikiran saya itu salah besar. Ternyata orang yang sudah meninggal belom tentu selamat dari penggusuran. Dan itu terjadi pada almarhum ayah saya yang dimakamkan di pekuburan umum Karet, kecamatan Tanah Abang.

kuburan

Cerita dimulai dengan kabar buruk dari Pemerintah rezim Soeharto. Pemerintah mengeluarkan kebijakan untuk menyediakan area pemakaman khusus untuk Perintis Kemerdekaan dan Pejuang ‘45. Menurut Pemerintah sudah selayaknya para pejuang mendapatkan tempat yang lebih layak dan khusus, bukan di tempat pemakaman umum seperti Karet. Letak pemakaman baru itu di Tanah Kusir dan lokasinya terpisah dari pemakaman umum. Ayah kami yang terdaftar sebagai Perintis Kemerdekaan tentu saja turut terkena kebijakan konyol ini.

Memang kabar baik dan kabar buruk seringkali tipis banget batasnya. Keluarga kami bingung banget. Coba deh pikirin : Mana tega kami menggali makam Ayah yang sudah bertahun-tahun berada di dalam tanah? Lagipula pemakaman Karet letaknya sangat dekat dengan rumah kami sehingga sangat memudahkan apabila keluarga ingin berziarah ke Karet. Cukup naik bemo, ga sampe 5 menit kami udah sampai di sana. Tanah kusir? Udah jauh macet pula….

Akan tetapi karena keluarga-keluarga lain menerima baik kebijakan itu, akhirnya dengan berat hati, kami memberikan persetujuan juga.

Dan hari itupun datang. Kami sekeluarga diminta untuk ikut dalam penggalian makam Ayah. Astaghfirullah….! Sedih banget rasanya. Enam orang penggali kubur bekerja dengan linggis, pacul dan berbagai pemukul dari besi. Pertama batu nisan dicopot. Lalu tembok kuburan dihancurkan dengan cara menghantamkan pemukul besi sekeras-kerasnya. Setiap dentuman pukulan, rasanya jantung kami juga ikut berdentum. Perih rasanya…

Ketika tembok makam telah hancur, barulah regu berpacul menggali dengan cepat. Kami sekeluarga hanya bisa menyaksikan dengan pandangan hampa.

Ketika lubang telah tergali cukup dalam, pimpinan rombongan itu lalu masuk ke dalam liang lahat. Tak lama kemudian dia muncul sambil membawa beberapa tulang belulang dan meletakkannya di atas kain putih yang telah disediakan sebelumnya.

"Maaf keluarga Hakim yang terhormat, ini tulang tangan Ayahanda. Yang ini tulang tangan kiri bagian bawah dan ini bagian atas. Sedangkan yang ini tulang tangan kanan bagian atas saja.” Katanya.

Selesai mengucapkan kalimatnya, lelaki itu masuk lagi ke dalam lobang kubur dan ke luar membawa beberapa tulang lagi. Kami sebenernya ga bisa menentukan, tulang bagian mana yang dibawanya karena tulang belulang itu sudah banyak yang hancur dan sudah terpisah menjadi serpihan yang semuanya tampak sama. Tapi dengan yakin orang itu menyebutkan bahwa ini adalah tulang bagian anu dan yang itu bagian tulang anu. Kami sekeluarga cuma bengong aja ga tau harus ngomong apa.

Ga lama kemudian, lelaki tadi kembali ke luar dari kubur membawa rangka kepala yang terlihat masih utuh. Dia meletakkannya di kain putih tadi sambil berkata:” Dan ini adalah rangka kepala Ayahanda…”

Pecahlah tangis kami. Ya Allah…ampunilah dosa kami apabila keputusan pemindahan ini adalah suatu kekeliruan. Amin ya rabbal Alamin.

Makam Ayah saya sudah berpindah ke Tanah Kusir. Dan lanjutan ceritanya semakin dramatis. Dimulai dengan kejatuhan rezim Soeharto pada tanggal 12 Mei 1998. Tiba-tiba lahan pemakaman Ayah saya di Tanah Kusir hendak digusur lagi.

Kali ini yang ingin menggusur makam ayah kami adalah penduduk sekitar makam. Mereka mengklaim bahwa tanah pemakaman itu adalah milik mereka. Merasa dalam himpitan yang sama, keluarga mendiang pejuang ’45 dan perintis kemerdekaan segera mendirikan paguyuban. Kemudian paguyuban itu membentuk team untuk bernegosiasi dengan penduduk setempat.

Kedua pihak pun berunding. Masalah semakin rumit! Ternyata menurut pengakuan penduduk, tanah milik mereka itu dirampok oleh Pemerintah Ode Baru tanpa penggantian sama sekali. Karena itulah momentum kejatuhan Soeharto ingin mereka manfaatkan untuk merebut hak mereka kembali.

kuburan

Ya Allah… kesian banget Ayah. Perintis kemerdekaan kok masih ga bisa tenang di kuburnya. Setelah melalui perundingan yang alot, akhirnya terjadi juga kesepakatan. Penduduk akhirnya tidak jadi membongkar lahan pemakaman. Mungkin Paguyuban keluarga Pejuang 45 dan Perintis Kemerdekaan setuju untuk memberikan sejumlah ganti rugi. Saya ga tau persisnya.

Jangan ngebayangin kalo tampat pemakaman itu seperti Taman Makam Pahlawan di Kalibata. Taman pekuburan itu sangat ga terurus. Sejak orde baru hilang, ga ada lagi yang mengurusi pemakaman itu. Entah siapa yang berkewajiban mengurusnya waktu itu.

Akhirnya pihak keluarga melakukan perundingan lagi dengan penduduk. Sekarang penduduklah yang mengurusi pemakaman itu. Tentu saja dengan imbalan. Jadi kalo ada keluarga yang jarang datang dan ga bayar iuran, meranalah nasib jenazah itu. Penduduk hanya mau mengurusi kuburan yang telah dibayarkan iurannya. Cukup banyak yang tidak terurus sehingga makam itu telah hilang tertutup oleh padang ilalang. Hai para Pahlawan…malang nian nasibmu. Semoga Allah memberikan tempat yang layak di surgaNya kelak.

Kesedihan ternyata belom berakhir juga. Ketika sedang kumpul-kumpul di Kelurahan Bendungan Hilir, kecamatan Tanah Abang, saya mendengar beberapa oknum bergosip. Mereka mengatakan pemindahan makam para Pahlawan dari Pekuburan Karet ternyata hanya kamuflase saja. Menurut mereka, keluarga Cendana hendak mendirikan Mall dan gedung perkantoran di lahan pemakaman itu. Mereka ga berani ambil resiko menggusur makam para pahwalan. Mereka takut pada protes dari keluarga para Pahlawan. Karena itulah makanya mereka berdalih menyediakan lahan yang lebih layak. Padahal cuma untuk menyingkirkan resiko saja. Semua rencana telah disiapkan dengan matang. Sedangkan keluarga dari sisa-sisa jenazah lainnya? Mereka ga kuatir sama sekali. Untungnya Soeharto keburu lengser, sehingga pembangunan Mal dan gedung itupun gagal total.

kalibata

Saya ga tau kebenaran dari cerita itu. Dan mungkin sampai kapanpun, saya juga ga akan pernah tau. Akan tetapi apa yang telah menimpa ayah kami membuat saya jadi berpikir keras. Jangan sampai hal seperti itu terjadi pada saya. Kalo ajal telah menjemput, saya ga mau merepotkan kehidupan anak istri saya. Apalagi sampe ngurusin kuburan saya yang digusur-gusur. Amit-amit deh.

Jangankan pas udah mati. Kalau nanti saya udah tua dan sakit-sakitan pun, saya ga akan mau merepotkan anak-anak saya. Saya pengennya di hari tua saya kelak, anak saya tetap bisa menikmati hidup sepuasnya tanpa harus memikirkan orangtuanya. Buat saya, kehidupan anak-anak kita harus diisi dengan mengejar cita-cita setinggi mungkin. Biarkan mereka bekerja dengan tenang tanpa harus ada gangguan ngurusin bapak atau ibunya. Keliru besar bila ada orangtua yang mengharapkan seorang anak mengurus mereka sebagai imbalan telah memeliharanya sejak kecil. Pamrih seperti itu justru akan menghambat jenjang karir si anak.

Teman sekantor saya, Ali, bercerita bahwa keluarganya sudah mengantisipasi segala hal. Bahkan soal lahan pemakaman pun, keluarga Ali sudah mempersiapkan diri. Mereka membeli tanah yang cukup luas di Bandung lalu dijadikan pemakaman keluarga. Sudah 3 generasi menempati lubang kubur di pemakaman keluarga itu. Bahkan untuk yang masih hidup pun sudah punya kaplingnya sendiri-sendiri yang disusun sesuai hirakhi keluarga. Ali sering berkata ke saya : Gue paling BT kalo lagi ada acara ziarah bersama keluarga.”

“Kenapa?” Tanya saya

“Abis setiap ziarah, gue selalu harus melewati kapling yang dibuat untuk gue. Jadi secara otomatis gue selalu berpikir ‘ntar gue dikuburnya di situ tuh…” Jawabnya.

Hahahahaha…iya juga sih. Tapi saya rasa itu masih mendingan. Lahan pekuburan keluarga Ali letaknya jauh dari rumahnya. Saya punya temen cewe, namanya Wida. Keluarganya malahan membuat kuburan keluarga di halaman rumah. Halaman rumahnya sebetulnya sangat besar tapi karena kuburannya udah banyak, keliatannya halamannya jadi rada kecil. Lucunya, kalo lagi ada pertemuan keluarga, rumah itu ga sanggup menampung tamu sedemian banyak. Sehingga banyak para tamu menggelar tikar di dan tidur bergeletakan di sekitar Kuburan hahahahahaha…

Bukan hanya di halaman saja terdapat kuburan, bahkan di bagian luar pintu gerbang terdapat dua kuburan di kiri dan kanannya. Kalo ngeliat pintu gerbang yang di kiri kanannya ada patung gajah atau patung wayang kan kita udah biasa. Pintu gerbangnya Wida justru diapit sama kuburan beneran. Akibatnya rumah Wida dari luar memang lebih mirip taman pekuburan daripada tempat tinggal.

Ada cerita lucu seputar kuburannya keluarga Wida ini. Suatu hari, ceritanya saya lagi dugem sama temen-temen termasuk Wida di Mario’s Place Menteng. Mario’s Place sebenernya café yang suasananya rada-rada formal. Tapi karena temen-temen saya gila semua, akibatnya suasana jadi hidup. Ada yang joget-joget di atas meja, ada yang joget pake gaya striptease di atas speaker dan sisanya nyanyi-nyanyi dengan suara nyasar. Pokoknya heboh banget deh.

Entah karena terbawa suasana asyik, Si Wida ini mabok berat dan muntah-muntah. Saya seret dia ke toilet perempuan lalu menyuruhnya muntah sepuasnya. Biasanya setelah muntah, kondisi kita jadi mendingan dan lebih seger. Wida menurut. Dia muntah lama banget sampe akhirnya saya terpaksa masuk ke dalam toilet perempuan. Dan apa yang terjadi? Wida sedang sedang tertidur di lantai toilet dengan rok kemana-mana. Saya bantu angkat dia dan membasuh mukanya lalu menyeretnya kembali ke sofa kami.

Begitu Café mau tutup, Wida masih tudur di sofa. Akhirnya semua cowo-cowo pada ngundi, siapa yang harus mengantarkan pulang ke rumahnya di Taman Mini. Dan seperti biasa….nasib saya selalu apes. Saya pun terkena kewajiban nganterin Wida. Waduh…mana saya lagi ga bawa mobil.

Di depan Menteng Plaza kami duduk berdua di atas trotoar menunggu taxi. Sementara temen-temen yang lain udah pada ngabur ke stadium. Buat temen-temen saya, dugem harus diakhiri di stadium, Kota. Kalo engga rasanya ga tuntas bagi mereka.

Saya coba ajak ngomong si Wida;”Wid, lu udah OK belom?”

Dengan kelopak mata jatuh ke bawah, Wida menyahut dengan suara orang pelo. Tau kan suara orang pelo kalo lagi mabok berat? Nah Wida ngomongnya kayak gitu :”Gueeeeeee udaaaaah kontroool Bud. Lo gaaaaaa usaah anteriiin gueeee.”

Saya :”Masa lu perempuan mau pulang sendirian? Udah jam 2 malem nih?”

Wida :”Gapaapaaa….gueeee biisaaa puulaaang sendiiiirrriii…”

Saya :” Ga bisa. Lo harus pulang sama gue.”

Wida :”Gueee senidiiiriiii ajaaaaa, caaariiiin ajaaaa taxiiiinyaaaa yang bluebirrrrdddd…”

”Lo udah mabok aja sombong banget Wid? Tunggu di sini ya? Gue mau beli rokok dulu.” Kata saya sambil berjalan ke tukang rokok di depan Bank Bumiputera yang letaknya cuma belasan meter dari sana.

Waktu lagi nungguin kembalian, tiba-tiba sebuah taxi lewat. Dan Wida secara tiba-tiba pula berdiri sempoyongan menghentikan taxi tersebut. Keadaan berlangsung begitu cepat. Tanpa bisa saya hentikan, Wida udah di dalam taxi dan kendaraan itu langsung tancap gas. Waduh, saya panik bukan main. Kalo Ada apa-apa gimana? Kalo dia sampe diperkosa pasti saya merasa bersalah banget. Mana dia dalam keadaan mabok begitu? Untung saya masih sempat mencatat no polisi taxi itu di kepala.

Ga lama kemudian, taxi lainnya datang. Saya naik dan minta si supir menganter saya ke rumah Wida. Sepanjang perjalanan saya berdoa semoga Wida dalam keadaan baik-baik aja.

Tiba-tiba saya melihat taxi yang ditumpangi Wida sedang parkir di pinggir jalan. Saya pun menyuruh supir berhenti di tempat itu. Dan Apa yang terjadi? Supir yang ngebawa Wida tadi lagi terbaring di trotoar. Belasan orang mengelilinginya. Salah seorang yang agak tua, nampaknya sedang merawat si supir. Dia meneguk air putih dari gelasnya lalu tiba-tiba disemburkan ke wajah si supir. Perbuatan itu dilakukan terus berulang-ulang.

Saya jadi penasaran banget. Saya mendekati salah seorang yang di kerumunan.

“Mas ada apa Mas? Kenapa tuh supir taxi?”

Orang itu menjawab; Supir taxi ini ngebut kenceng banget dari jalan kecil di depan sana. Pas ngeliat kita-kita, dia tau-tau ngerem mendadak, ke luar dari taxinya terus tereak-tereak minta tolong.”

“Eh? Dia kenapa Pak? Emang dia dirampok”

“Bukan dirampok. Katanya tadi lagi nganter penumpang perempuan. Tapi ga taunya perempuan itu bukan manusia tapi kuntilanak. Sambil cerita dia makin histeris, makanya sama orang kampung sini dipanggilin dukun. Untung aja dia ga nabrak apa-apa tadi.”

“Kuntilanak? Yang bener?” Kata saya ga percaya tapi merinding juga.

“Nih kalo ga percaya!” Kata orang itu sambil memperlihatkan dedaunan pada saya.

“Maksudnya gimana Pak?” Kata saya ga ngerti.

“Perempuan kuntilanak itu ngasih uang buat bayar taxi tapi begitu sampe di sini dan diperiksa sama Pak dukun itu, ternyata uangnya udah berubah jadi daon.” Katanya lagi sambil menunjuk ke orang yang sedang merawat si supir.

Si Supir taxi tampaknya keadaannya mulai membaik. Dia duduk dengan napas masih tersenga-sengal, entah kecapekan atau ketakutan, udah ga jelas lagi.

Saya coba mengintip argometernya, di sana tertulis Rp 78 ribu rupiah. Pelan-pelan saya samperin si supir, lalu saya selipkan uang Rp 100 ribu ke tangannya.

“Ini saya ganti uang taxinya Pak.”

Si Supir menatap uang di tangannya lama sekali. Mungkin dia takut uang itupun berubah menjadi daon. Sejenak dia memandang wajah saya, tiba-tiba dia berteriak ketakutan dan histeris lagi. Untunglah Si Dukun dengan cepat meyakinkannya : “Ga usah takut. Kalo Mas ini dijamin asli manusia biasa.”

“Emang yang perempuan dalam taxi tadi pasti bukan manusia Pak?” Tanya saya.

Si Dukun tersenyum sambil mengelus-ngelus jenggotnya yang kasar ; “Jelas bukan. Dia adalah Nyai Saodah, istri muda sinyo Belanda yang diracun oleh istri tuanya.”

“……” Saya tambah merinding denger cerita si dukun.

“Sejak kejadian itu Nyai Saodah jadi arwah penasaran dan bergentayangan mengganggu penduduk. Dan waktu keluarnya selalu tepat di saat dia sedang meminum racun itu.”

“Oh ya? Serem banget ya Pak?” Saya menyahut.

“Semua orang daerah sini tau cerita Nyai Saodah dan sudah banyak yang diganggu.” Kata Sang Dukun.

Dari tempat itu saya melanjutkan perjalanan. Tapi saya memutuskan untuk ke rumah Wida dengan berjalan kaki. Pertama, karena jaraknya memang sudah cukup dekat dari tempat itu. Kedua saya mau menyelidiki misteri ini sendiri. Apa yang terjadi sebenernya? Wida disangkain kuntilanak apa Widanya juga jadi korban kuntilanak. Ga jelas banget, apalagi Widanya mabok gitu, saya jadi cemas sendiri.

Sampai depan rumahnya, saya langsung mengetok pintu rumah. Saya udah cukup deket sama keluarga Wida, jadi ga ada rasa sungkan sama sekali. Nginep aja udah ga keitung di rumahnya.

Begitu pintu dibuka, keluarlah Wida bersama ibunya. Kondisinya kayaknya udah sangat membaik. Wajahnya seger dan ngomongnya udah ga gitu pelo lagi. Setelah berbasa-basi sejenak sama ibunya, ibu Wida masuk lagi kedalam rumah.

“Wid…Wid lo gapapa kan? Lo baik-baik aja kan Wid?” Kata saya masih panik.

“Baik. Emang kenapa? Ngapain lu nyusul ke sini?” Jawab Wida.

“Ya gue kuatirlah lu maen ngabur aja. Lo tau ga, supir taxi lo aja sampe kesurupan tuh katanya didatengin kuntilanak. Gimana gue ga kuatir?” Kata saya.

Namun tiba-tiba Wida membekap mulut saya dengan tangannya.

“Pssst!!!!” Bisiknya, lalu melepaskan tangannya dari mulut saya.

“Ada apa emangnya?" Tanya saya keheranan

“Ngomong jangan keras-keras ntar kedengeran nyokap gue.” Sahut Wida masih berbisik.

“OK. OK yang penting lo selamet deh.” Kata saya berbisik juga.

Lalu Wida mengajak saya duduk di atas tembok salah sebuah kuburan di halamannya dan mulai bercerita.

“Jadi gini…pas naik taxi tadi, gue baru inget kalo gue ga punya uang. Mau bangunin nyokap takut diomelin…”

“Terus gimana?” Saya mulai menerka-nerka apa yang terjadi.

“Pas gue lagi bingung gitu, supirnya nanya ‘Neng ga salah nih Neng…Neng ape kite ga kesasar Neng?’ Rupanya karena jalanan rumah gue gelap banget, dia jadi ketakutan."

"Iya gelap banget. Gue juga serem." Sahut saya

"Tapi, justru gara-gara supir itu ketakutan gue jadi dapet ide….”

“Ide apa?” Tanya saya makin penasaran.

“Pas di depan gerbang, gue ngomong ‘Pak saya turun di sini.”

“Terus?”

“Ngeliat ada dua kuburan di pintu gerbang, supirnya makin panik. Dia nanya dengan suara gemeteran 'Rumah eneng yang mana?' Gue tunjuk kuburan sebelah kiri sambil ngomong ‘Rumah saya yang ini Pak, yang satu lagi rumah laki saya yang tadi bareng saya di Menteng…”

“Hah? Pantes tadi dia histeris ngeliat gue?” Kata saya mendapatkan jawaban

Tapi Wida tidak menanggapi omongan saya. Dia melanjutkan ceritanya “Si Supir tambah ketakutan. Terus gue bilang, ga usah takut. Saya arwah baik-baik jadi saya pasti bayar…”

“Gimana reaksi supirnya?” Tanya saya lagi.

“Dia gemeter sampe terkencing-kencing dan ga bisa ngomong. Terus gue masukin duit ke kantongnya.”

“Masya Allah, kesian amat tuh si Supir?"

“Abis gitu gue jalan ke rumah lompat-lompat sambil niruin suara ketawa kuntilanak. Hihihihihihihihihihihihihihihihi…. Langsung deh si supir ngibrit terbirit-birit dengan taxinya Hahahahahahahahaha….”

“Huahahahaha gila lo!!!! Eh? Bukannya lo lagi ga punya duit? Kok bisa bayar taxi?”

“Emang engga punya duit. Yang gue masukin cuma daon-daonan aja ke kantongnya…”

“Huahahahahaha, jadi itu toh misteri uang berubah jadi daon? Astagfirullah. Lo gila amat jadi orang Wid? Huahahahahahaha…..”

28 Comments to "Kuburan"

  1. Dj. 813  10 July, 2013 at 18:55

    Mas Budiman H.
    Terimakasih untuk cerita yang lucu…
    Heran kok artikel ini bisa kelewatan….
    Satu yang Dj. mikir, bukan digusurnya kuburan atau si wida yang lucu.

    Itu kuburan kok boleh di bikin di halaman rumah…
    Padahal banyak rumah di Indonesia yang mengandalkan sumur.
    Kan dengan datangnya hujan, maka air sumur akan tercemar.

    Kalau di Jerman, jelas dilarang dan biasanya kuburan ditanah yang paling rendah
    dan dekat sungai, atau yang dipinggiran perumahan.
    Waalu di Jerman hampir tidak ada sumur.

    Terimakasih.

  2. Dessy Fitriana  10 July, 2013 at 16:50

    hahahaa… cerita part kuntilanak itu, lucu bgt kaka

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.