Balada Anak Desa

EA. Inakawa – Kinshasa

Prakata :
Kutorehkan kisah ini secara ringkas atas permintaan seorang sohib tentang perjalanan hidup ku, semoga para insani Baltyra berkenan menikmatinya, sungguh Aku tak bermaksud ria atau gagah gagahan dengan menceritakan pengalaman ini, paling tidak jika anakku membaca artikel ini mereka akan memahami bahwa apa yang mereka dapatkan saat ini adalah hasil sebuah PROSES yang panjang dan berliku.
 
rumah adat
 
Di sinilah aku dilahirkan di sebuah desa di Ranah Minang di sebuah kampung “Kumango” Batu Sangkar – Sumatera Barat. Ketika terjadi musibah gempa kemarin desaku masih dalam kawasan relatif aman. Aku terlahir dari seorang ibu 24 karat WNI turunan Chinese totok yang terdampar di Ranah Minang yang ntah oleh karena apa ibuku menikah dengan pemuda pribumi Minang yang sangat dicintainya (pernikahan ini menjadi noktah merah yang membuat ibuku harus terbuang dari keluarganya selama bertahun panjang). Perjalanan hidupku tidaklah istimewa biasa biasa saja sebagaimana layaknya anak perantau putra Minang yang bagi keluarganya jika sudah berani meninggalkan Rumah Gadang dianggap sebagai anak hilang hingga di suatu saat kembali dengan membawa sukses dari ranah urang.
 
Dan sejalan dengan waktu aku kemudian terdampar di kota Medan melanjutkan pendidikan yang kemudian bermuara sampai ke strata 1 Universitas Sumatera Utara.
 
Yang menarik dalam kisah hidupku adalah pahit getirnya gelombang hidup yang kulalui sejak SD s/d SMA aku harus hidup mengembara dari satu sanak keluarga ibuku kesanak keluarga berikutnya, tujuanku hanya satu aku ingin disekolahkan oleh mereka, sebuah keinginan yang begitu besar selalu mengusik tidurku dengan berbagai impian, mungkin juga semua ini ter-obsesi dari cerita Umi ku setiap kali meninabobokan aku kala menjelang tidur di antara kelap kelip lampu teplok berminyakan sisa osengan kelapa serut, ta’kan pernah kulupa ceritera Umi tentang suksesnya perantau Minang dari mulai Bung Hatta – Buya Hamka – Sutan Syahrir – Emil Salim – Abdul Latif sampai penyanyi Elly Kasim, sungguh pandai Umiku berceritera semua itu padahal aku tau sekolahnya tak pernah selesai. Paling juga semua itu iya dapatkan dari membaca koran Singgalang & semua itu kulalui dengan berbagai macam dinamika kehidupan.
 
bukittinggi
 
Boleh dibilang masa kecil dan remajaku kulalui tidak sebagaimana layaknya anak anak remaja lainnya, hidupku selalu ditunggu dengan pekerjaan seusai pulang sekolah (namanya juga menumpang hidup) dari mulai memompa air, memberi makanan ayam & itik kemudian mencuci mobil dan membersihkan halaman rumah, waktu merampas semua impian bermainku, belajar kusempatkan di semua sudut ruang dan halaman rumah.  Pahit getirnya kehidupan inilah yang kemudian menjadi motivasi bagiku dalam mengambil keputusan ketika 3 bulan selesai SMA tepatnya di tahun 1980 nasib baik menghampiriku, aku diterima bekerja di sebuah Bank swasta nasional di kota Medan…sungguh bangga aku ketika itu si Buyung anak desa dari Ranah Minang mulai belajar memakai dasi (bodohnya aku …sampai sekarangpun tak pernah pandai aku melilitkan dasi dengan baik).
 
danau manijau 2
 
Pernah suatu ketika menjelang meeting dasi yang sudah kupersiapkan dikerjai teman pada malam harinya karena tak pandai melilitnya kembali jadilah aku satu satunya peserta yang tak berdasi.
 
Setelah 1 tahun bekerja dengan berbekal sedikit tabungan yang kumiliki aku memutuskan menikah dengan wanita pilihan idamanku yang terlahir dari sebuah keluarga yang cukup terpandang & terpelajar masih berdarah Minang bangsawan dari Bukit Tinggi, ketika itu usiaku masih sangat muda 19 tahun, impianku aku ingin meraih kebahagiaan hidup sebagaimana yang kulihat selama ini, meninggalkan semua kepahitan dan perjuangan hidup yang kulalui bertahun panjang.
 
Dan disaat yang sama atau 3 bulan sesudah pesta perkawinanku aku mendapat kesempatan untuk belajar kejenjang University, proses belajar ini kulalui dengan mulus sampai meraih kesarjanaanku sebagai Sarjana Hukum.
 
Gelombang hidup, obsesi dan ambisiku akhirnya merubah arah cita citaku, kutinggal kan pekerjaanku di Bank swasta yang ketika itu kuanggap cukup membosankan, jiwa petualanganku lebih memilih untuk berada di lapangan ketimbang duduk seharian di dalam ruangan AC yang sejuk dan nyaman dengan dasi yang terjuntai aku tak suka di sana berlama-lama ada nuansa kecenderungan koruptif – kolutif & nepotis menari samba dalam angka-angka fiktif.
 
Nasib baik masih berpihak bagiku, aku beruntung di tahun 1985 bisa bergabung dengan sebuah perusahaan Multi National/industri & distributor No.1 di Indonesia pada masa itu dan dalam satu kesempatan aku kemudian terpilih untuk mengikuti Management Training for Manager dan proses waktu juga yang menjadikan aku selama 15 tahun berkeliling Indonesia dari Sabang sampai Merauke.  
 
Apakah aku puas dengan apa yang sudah kugapai mengejar semua impian masa remajaku, jawabannya selalu ingin dan ingin, sebuah naluri ketidakpuasan atau mungkin karena ter-obsesi masa lalu yang pahit, aku pun tak tau.
 
Dari usia 28 tahun masa perkawinanku, aku mendapatkan 3 putra yang gagah & cantik seperti kedua ibu bapanya eeehhh caileee, mereka tumbuh dan besar serta kudidik di tempat yang layak dengan penuh kasih sayang yang achirnya menjadikan mereka sebagai anak-anak yang tegar – disiplin – sukses & sholeh, Putra pertama 27 tahun sarjana Fisipol kuberi nama Laksmana Adjie Berjaya yang juga merupakan alumni SMA negeri 5 Bandung sudah bekerja dan masih bertunangan dengan seorang dokter, putra kedua seorang putri 26 tahun kuberi nama Maharani Darmawan, sarjana Kedokteran Umum dan baru menikah pada July 2008 lalu dengan teman sejawat sesama dokter, keduanya merupakan alumni SMA Negeri 3 Bandung, putra ketiga masih ber-usia 12 tahun kelas 1 SMP kuberi nama Nabiel Muqarriem, kata angku dan datuk penghulu di kampungku dengan nama yang baik insya Allah mereka akan menjadi anak yang baik & sholeha, tapi semuanya tidak terlepas dari NIAT di hati tentunya.
 
Obsesi, ambisi & panggilan jiwa adventure kembali membakar adrenalin otak kananku untuk mencari sesuatu yang baru yang akhirnya kuputuskan untuk bergabung dengan divisi Sales & Marketing International  pada thn 2002 lalu.
 
Terkenang dengan ungkapan seorang atasan ‘biarkan imajinasi mu berjalan dulu baru pikiran mencari jalan untuk mewujudkannya…. . berbekal pesan tersebut tekadpun kubulatkan lego jangkar kulepas mencari dermaga baru, pelabuhan baru tuk menggapai impianku lalu kucoba meng eksploitasi potensi diriku belajar menjadi pekerja asing di negeri asing, sambil berucap Bismillah kaki ini kulangkahkan di gerbang mungil menuju arena perjuangan kehidupan baru…Bumi Africa.
 
Jauh hari sebelum kepergianku & beberapa teman yang terpilih kami diwajibkan menjalani Diklat Militer di Secapa TNI Bandung selama 2 pekan sebagai persiapan dan bekal pendalaman atas Disiplin diri – Leadership dan Ketahanan mental/spirit, pelatihan ini sungguh meninggalkan sebuah kenangan indah. Selama di sana aku di bawah bimbingan pelatih/mentor Letkol Hamzah sekarang beliau bertugas di MABES ABRI Jakarta dan beliau tau serta surprise ketika aku informasikan keberadaanku saat ini sering bergabung dengan para TNI/Military Observer & Kontingen Garuda Indonesia di dibawah bendera PBB di Kinshasa.
 
Kini …. .  aku di sini AFRICA di sebuah benua yang begitu jauh, yang dulu hanya kuketahui dari sebuah peta buta, tak pernah terlintas dalam anganku bahkan bermimpipun takut aku rasanya.  Tanpa terasa 6 tahun telah kulalui berkeliling Africa  mencari nafkah memamah yang halal…laksana merajut harmoni zaman kata sang penyahir Taupik Ismail.  
 
Kutanamkan dalam diriku bahwa pekerjaanku adalah dedikasi hidupku hari ini untuk esok dan esok untuk sebuah masa depan yang lebih baik lagi, bagiku & demi kemaslahatan keluargaku dan kurajut PINTA tiada putus kepada Allah agar aku selalu terlindungi & senantiasa bermandikan dengan Rahmad dan Hidayah NYA.
 
Dengan pertimbangan yang matang keluarga tak kubawa serta, menurutku bagaimanapun mereka akan merasa lebih nyaman berada di Negeriku-Tanah-Airku-Tanah-Tumpah Darahku…I N D O N E S I A.
 
KALI pertama menginjak Bumi Africa betapa AKU rasakan … homesick, kesepian rasa gamang & gunda gulana serta kerinduan akan keluarga, suasana rumah yang nyaman, tertib – teratur dan merdunya canda anak anak kami.
 
DULU sering sekali ketika petang merangkak keperaduan malam gemuruhnya hati ini seperti takut & gemetar berhadapan dengan sang dewi malam selalu ada sepi di sana, sebuah kesepian di dalam bilik apartment 4X5 mtr persegí yang menjadi saksi bisu selama bertahun panjang.  Seringkali aku terpikir SEANDAI nya esok tak pernah datang dan bagaimana jika Allah tak berkenan membuka mata ini setelah sepanjang malam terlelap dan ajal menjemputku di bilik apartment tak seorangpun tetangga orang asing akan peduli terkecuali ketika bau busuk dari badan sebatang mulai menyengat hidung mereka, ngeri aku membayangkan hal itu.
 
Setiap kali bangun tidur di pagi hari & membuka mata selalu ter-ucap kalimat syukur bahwa Allah masih meng izinkan diri ini kembali melihat fajar, menikmati mentari dan hembusan angin África yang melintas terbang jauh dari gurun sahara atau angin laut merah menerjang ruang & waktu menyelinap di gordyn jendela apartment yang katanya mulai berdiri sejak masa pemerintahan President Mobutu tahun 1970 lalu, sebuah kota dimana Muhammad Ali pernah bertanding pada tahun 1974 melawan George Foreman    (Zaire pada masa itu)
 
KINI aku tak lagi seperti itu & gagap aku sudah bisa ber-adaptasi & ber-evolusi baik secara fisik – pikiran & jiwa ku.
 
LOGIKA tentang realita Africa sudah kujalani dan kuterima sebagai sesuatu yang biasa sebagai sebuah pilihan hidup … peradaban, kultur dan budaya Africa secara perlahan telah kupahami sebagai sesuatu yang biasa dan harus (seperti pepatah lama di mana bumi dipijak di situ langit dijunjung) kini tak ada lagi sebuah keraguan, semua kujalani seperti air mengalir menembus jalan berliku terjal & bergelombang semua menjadi lazim bagiku.
 
DAN hal lainnya tidak lagi menjadi heboh & sensasional yang datang justru sebuah perenungan baru tentang pola kehidupan dalam kesendirian di Bumi Africa ini bagaimana sebuah Goal’s harus diciptakan, sebuah karya besar harus menjadi pujian atasan…di tempat kerjaku parameter kebehasilan adalah hasil, kompetensi & profesional yang dibayar mahal, profit & loss haruslah diperhitungkan dengan benar, berbeda lho mas dengan PNS eeehhh (yang selalu dengan slogan “kalau bisa diperlambat kenapa harus dipercepat) buatku pekerjaan adalah borongan order yang segera harus diselesaikan.
 
Haram bagiku jika ada pekerjaan yang tersisa hari ini.
 
MEMANG tak lah bisa kita pungkiri kalau kita mengejar sesuatu pastilah ada yang tertinggal dibelakang sana atau dikorbankan bahkan menjadi korban dari sebuah AMBISI & OBSESI kita.
 
Terpisah jauh dari keluarga memanglah bukan sesuatu yang mudah…apalagi kita terlahir dari bangsa dengan budaya timur yang senang berkumpul dan ber-silahturahmi.
 
TAPI inilah hidup dimana kaki sudah menebar salam dan asa sudah menjadi impian yang harus digapai surut berpantang kita kebelakang…menolehpun jangan, itu kata guru silat ku ketika aku masih berada dikampung halamanku didesa Kumango Batu Sangkar.
 
Bukanlah tak kupikirkan kalau perpisahan dengan keluarga selalu melahirkan sebab & akibat. Ada berjuta orang yang mampu bertahan dalam kebahagiaan & keharmonisan BEGITU pun ada orang yang hancur dan lebur tak terkendali karena obsesi terbalik arah menjadi bumerang bagi sebuah pencarian, uang menjadi kendali yang terkendali lagi…ironis memang dan mereka ada disekeliling kita, diantara kita…”sukses menjeput gagal” keberhasilan yang terseok & terpuruk dalam fantasi pola hidup & budaya asing yang tak tersaring, mereka lebih kepada memilih MALA. Sungguh memang HIDUP adalah sebuah romántika yang penuh dinamika heroik dan klassik, bergolak, mendayu & merayu rayu kadang bahkan menyebar,  serentak dan mengacak ngacak iman dan akidah kita.
 
AKANKAH  aku mampu bertahan & sampai kapan,  6 tahun sudah mengais rezeki berburu Mr. Dolar di Bumi Afrika ini sendiri dananehnya kesendirian ini secara perlahansungguh sungguh kunikmati sebagai sebuah kesendirian yang menyedihkan tapi mengasyik-kan, ibarat kain perca sutra ‘indah dipandang dibuang sayang’.
 
Telah 6 tahun tak pernah lagi aku rasakan berkumpul di bulan Ramadhan & Berlebaran ber tarawih dan mengumandangkan takbir Illahi secara bersama sama dengan anak & istriku, kadang miris juga hati ini mengingat itu semua…. . apa sesungguhnya yang aku kejar dan kucari selalu saja tak pernah cukup dan tercukupi.
 
Bukannya tak kedengar ……. .  KADANG …….  anak telingaku bergoyang, alis mata ku menari dan mataku semalaman tak bisa terpejam menerawang menembus langit-langit kamar, samudera & benua padahal sudah 2 butir valium aku telan…. .  sungguh aku teringat sangat dengan anak istriku & Umi ku, aku rindu mereka ada di sampingku, hatiku belumlah membatu dan jiwa serta kasih sayangku masih ada di sanubariku melekat erat terpilin tali kasih sisa potongan talipusar anak ku…. .  
 
SUNGGUH tak bisa ku hilangkan rasa yang luar biasa itu…. . aku seperti mencium wanginya gulai asam padeh masakan istriku, mendengarkan nyanyian dengkur si kecil anak ku, sembari memeluknya sering kudengar denyut jantung dan gemerisik aliran darah mereka darahku dan kadang terkenang dengan suasana keheningan malam didesaku atau suara burung yang berisik lagi bercinta diatap rumahku yang berdaun nipah berdindingkan tepas bambu dan indahnya pantulan rembulan yang jatuh tenggelam di sumur gubuk kami menerjang cermin kaca kuno yang terlihat retak 1000 peninggalan sisa zaman Kompeni di sudut jendela terali bambu.
 
SUNGGUH …. .  aku rindu sangat dengan keluargaku Aku ingin pulang kampung seperti dulu menghirup aroma desa tanah kelahiranku, duduk santai sambil meniup musik saluang di atas kerbau etek Ana janda kaya pemilik gilingan padi & sawah yang disewa warga kampungku yang kata Umi ku hampir saja menjadi ibu tiriku…. . si kecil anakku pernah bilang pulanglah Buya dan bíarlah kita miskin seperti dulu, mandikan awak bersama dengan Umi … awak ingin selalu dekat Buya ada di rumah gubuk kita, pulanglah Buya walaupun hidup kita ber-alaskan sehelai tikar yang usang dan makan diatas piring daun jati, minum bergelaskan cangkang batok kelapa gading, kalaulah memang sudah begitu kehendak Illahi,  kami bahagia dan mensyukurinya kata istriku menimpali pula.
 
BEGINI lah kini ‘aku…. . seiring waktu aku & saudara lainnya sudah mengembalikan Marwah keluargaku di mata keluarga ibuku, buah perkawinan dari anak Minang & Chinese ternyata tidaklah seburuk anggapan keluarga Engkongku, aku & saudara lainnya telah membuktikan keberhasilan kami menjaga & membahagiakan Umi, kami bersaudara saling merajut sukses bahu membahu hingga kini dan insya Allah demikianlah seterusnya.
 
Kini keluarga kami telah bersatu kembali, menjelang Engkong kami berpulang…iya telah menerima & memaafkan Umi-ku, sedihnya kami tak pernah mengenalnya dengan sangat dekat, namun DOA kami selalu kami panjatkan dalam setiap sujut di waktu sholat, bagaimanapun tak bisa dipungkiri darah & naluri berdagang sebagai turunan orang Tionghoa mengalir dalam tubuh kami.
 
Demikianlah sohib kisah ini kupaparkan sesuai permintaanmu sesederhana mampunya aku menulis, semoga artikel ini enak dilahap mata & dicerna hatimu, untuk sementara simpanlah kritikanmu jika artikel ini tak enak kau baca.
 
“Begitu indahnya masa yang hilang sampai sang penyair bertutur sapa “ kalaulah bisa kembali kemasa laluku … menikmati kembali asal usulku AKAN kutukar dengan semua sisa hidupku (reinkarnasi).
 
Salam setepak sirih sejuta pesan : EA. Inakawa – Boulevard Kinshasa.
 
(petikan surah Al-Qadr … dan DIA mendapatimu sebagai seorang yang kekurangan, lalu DIA memberimu ber-KECUKUPAN).
 
Foto-foto: MH

30 Comments to "Balada Anak Desa"

  1. Abhaque Supanjang  26 September, 2013 at 12:12

    Maaf, EA.Inakawa. Sejauh yang saya tahu, belum ada orang Kumango yang beristrikan seorang wanita keturunan China yang anaknya lahir di Nagari Kumango. Kalau boleh saya tahu, anda lahir tahun berapa ? Dan siapa nama orang tuanya ? Karena sebagai orang asli Kumango, saya kenal dengan semua Rumah Gadang yang ada di Kumango — sehingga, jika ada seseorang yang mengatakan dia berasal dari Kumango, walaupun mungkin saya tidak tahu persis siapa orang yang bersangkutan, namun dengan memnyebutkan rumah gadang, suku atau datuk-nya, saya akan tahu dari keluarga mana dia berasal di Kumango. Silahkan buka blog saya: http://www.abhaqsupanjang.blogspot.com atau twitter saya: http://www.twitter.com/Abhaques/ atau facebook saya http://www.facebook.com/ABHAQ.SUPANJANG/ .

  2. rahmi fitri  25 February, 2012 at 14:36

    assalamu’alaikum, perjuangan yang menakjubkan pak,,, kenalkan saya rahmi … saya sendiri juga berasal dari nagari “Kumango” Batusangkar, saya sangat bersyukur bisa ketemu blog bapak.. jujur cerita bapak semakin membuat saya semangat utk kuliah heheheh….

  3. rahmi fitri  23 February, 2012 at 10:30

    Alhamdulillah ketemu dengan cerita yang sangat berharga, terima kasih ya bapak atas ceritanya yang inspiratif, untuk bapak ketahui, Ami ini putri minang Asal desa Kumango asli Batusangkar juga. saya ingin seperti bapak yang bermimpi dengan ambisi besar. tahukah bapak, kini desa Kumango kita terasa sangat sepi, rumah-rumah gadang hampir lapuk dimakan zaman, semua merantau….ya termasuk saya hehehe…. tapi saya sangat ingin Minangkabau yang masih asri berasal dari nagari kita Kumango.

  4. EA.Inakawa  11 July, 2011 at 22:25

    Assalam……
    Terima kasih Ko JC – Team Film Minang – Pak Handoko – Nia .
    Asyik juga nich kalau jd Sinetron ehehehe siapa tau yaaaa ntar bisa mengimbangi Laskar Pelangi.
    salam baik buat semua,smg sehat selalu disana.

  5. nia  11 July, 2011 at 13:13

    beruntung sy bs baca cerita ini makasih pak Inakawa…

  6. Handoko Widagdo  11 July, 2011 at 13:05

    Thanks sudah berbagi kisah hidupmu sobatku.

  7. team film minang  11 July, 2011 at 12:55

    gmana kalo kita jadikan film

  8. team film minang  11 July, 2011 at 12:54

    bagaimana kalo kita jadi kan cerita panjang ini menjadi sebuah film konfirmasi ya fb [email protected]

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *