Begundal

Oleh : Jumari HS

Burham sangat geram, begitu mendengar di telinganya banyak orang dan tetangganya yang memanggilnya ” begundal ”, sebutan itu sepertinya sudah begitu populer di masyarakatnya. manusia yang menggantungkan orang lain. Bahkan mereka sudah tidak lagi memanggil nama aslinya melainkan dengan sebutan ”Begundal” . Burham benar-benar sakit dan marah yang memuncak atas gunjingan dan sebutan tersebut, Dia ingin merobek mulutnya dan menampar sekeras-kerasnya. Tapi Dia berusaha menahan diri dan berusaha membiarkan gunjingan mereka. Dalam hati, lambat laun gunjingan tersebut entar akan menghilang dengan sendirinya.

penjahat

Apa yang diprediksi Burham ternyata mengalami distorsi, gunjingan-gunjingan terhadap dirinya tidak kian surut, tapi justru semakin menjadi-jadi dan membuat dirinya hampir tak tahan menerimanya.

” Kenapa mereka mengindentifikasi terhadapku sebagai begundal, apa alasan mereka dan apa salahku terhadapnya? ” keluh Burham dengan mimik gusar dan penuh tanda tanya.

Selama ini mata pencaharian Burham sebagai cantrik pak Sabar salah seorang rentenir kaya yang sombong di desanya Dia juga seorang mata keranjang yang tidak disukai masyarakat. Karena setiap masyarakat yang mengambil hutang padanya bunganya terlalu tinggi. Sehingga masyarakat merasa benci dan muak, apalagi perangai Sabar pada masyarakat terkesan sombong dan angkuh pada lingkungannya bahkan kalau ada wanita cantik matanya jelalatan. Di sinilah kebencian masyarakat terhadap sabar begitu memuncak. Dan siapapun yang dekat dengan sabar adalah musuhnya. Maka Burhan kena imbasnya, karena Dia salah satu kepercayaannya yang sangat setia dan patuh.

Dalam suasana yang sunyi Burham merasakan getaran udara yang begitu dingin dan burung-burung yang berkicau di sekelilingnya terasa mengejek dengan nada kalimat ” begundal, begundal! ”. Burham terdiam, di hatinya merasakan apa yang selama ini dijalani dalam hidupnya masyarakat tidak menyukai karena bagian dari manisfestasi pengabdiannya terhadap Sabar seorang rentener yang kaya dan mata keranjang itu. Hati Burham berkecamuk memikirkan hidupnya yang serba delema dan menyakitkan.

” Sepertinya ada sesuatu yang serius ” tanya istrinya
” Aku benar-benar kalut memikirkan gunjingan masyarakat terhadapku, dan aku tak bisa berbuat apa-apa ”

” Jangan terlalu larut dalam permasalahan yang sebenarnya menjadi ujung konflik bathin dirimu, Pak ”
” permasalahan ini bukan sepele kalau tidak sesegera terselesaikan secepatnya, aku nggak kuat, Bu. ”
” Kenapa harus diselesaikan, bukankah nantinya akan bosan sendiri, kalau memang masalahnya dirasa tidak kuat di pikiran Bapak, lebih baik cari pekerjaan lain ”
” Pekerjaan apa, kita sudah tua apa pantas jadi buruh? Siapa yang masih memerlukan tenagaku ini ”
” Pekerjaan bukan cuma buruh Pak, jualan apa saja kan bisa ”

Burham termangu mendengar saran istrinya untuk alih pekerjaan dan tiba-tiba langit terasa menyemburat kelam menampung angin yang begitu dingin seakan membatukan cakrawala di sekelilinginya. begitupun suara jengkerik seakan menembangkan kidung malam penuh kebimbangan. Burham sangat kesulitan menentukan pilihan antara mengundurkan diri dari kepercayaan Sabar yang selama ini sudah menjadi patner dalam bisnis.

” Bagaimana kalau aku mencoba saran istriku, kalau memang berjalan apakah gunjingan masyarakat terhadapku akan hilang dan bagaimana dengan nasib anak istriku, jika ternyata usaha jualanku nggak laku ” pikir Burham dalam keraguan.

Apa yang ada dalam permasalahan Burham membuatnya bingung untuk memilih dua pilihan yang serba repot. Di mata dan pikirannya sosok Sabar baginya telah menjadi juru penyelamat bagi kehidupan keluarganya selama ini. Selain itu Sabar sangat baik memperlakukannya. Tidak seperti apa yang dikatakan masyarakat sebagai lintah darat yang kejam ternyta memberi dampak pada dirinya sebagai Begundal di mata mereka.

Rumah besar itu sangat sepi seperti dihuni puluhan demet dan setiap orang memandangnya pasti muncul rasa takut yang benar-benar takut. Apalagi di pelataran rumah itu dipenuhi pohon besar yang tak terawat, membuat suasana nglangut dan menakutkan. Seorang duduk di teras rumah itu dengan kursi goyangnya, orang tersebut menampakkan mimik wajah yang menakutkan apalagi dengan jenggotnya panjang tak terawat itu membuat pemandangan super horor. Orang tersebut adalah Sabar. Tiba-tiba Dia terperanjat ketika melihat langkah tergopoh-gopoh menuju rumahnya.

” Ada apa Burham, tidak aku undang kamu ke sini? ” tanya Sabar ingin tahu.
” Aku ada urusan penting juragan ”
” Apa ada kesulitan dalam penagihanmu terhadap penghutang-penghutang itu?”
” Tidak juragan! ”
” Lalu, ada masalah apa? Sepertnya serius dan sangat penting sekali ”
” Sebelumnya aku minta maaf juragan, aku ke sini mau menyampaikan mengundurkan diri dari pekerjaan”
” Apa? Mengundurkan diri!?, apakah aku tidak salah dengar?
” tidak juragan! ” jawab Burham mantap, meski hati kecilnya masih tersisa rasa sesal yang dalam.

Sabar dengan mata melotot merasa kecewa berat, selama ini Burham karyawan yang terpercaya dan jujur dan penuh dedikasi tinggi. ” Siapa yang mempengaruhi dan alasan apa tiba-tiba Dia mengundurkan diri? ” pikir Sabar penuh tanda tanya.

Rumah yang besar dan sepi itu tambah nglangut, tak ada cahaya tak ada keceriaan yang ada hanya alunan pedih yang mengiris. Di celah jendelanya pun yang terdengar hanya rintihan rupiah-rupiah yang belum kembali seakan menyumbat tenggorokan. Betapapun urusan rupiah merupakan hal yang sangat sensitif dan kadang membuat orang lupa diri bahkan lupa dengan segal-galanya. Dalam ketermenungan, Sabar merasakan gelisah berat seakan hidupnya sudah tak berdaya lagi. Sebab selama ini Burham partner kerja yang dapat dipercaya bahkan keberanian dan kepinterannya dalam mengelabui menarik hutang-hutang yang ada pada masyarakat selalu berhasil. Dengan kepergiannya tentu merupakan kerugian besar. Dan tak bisa dicegahnya, sebab semua sudah menjadi keputusannya.

Di kamar tidur pikiran Burham menerawang kosong, kehampaan begitu menyergap, Dia tak berdaya dan pikirannya mau melangkah kemana Dia tahu. Justru yang terbayang hanya kelangsungan hidup keluarga selanjutnya ibarat serpihan-serpihan kabut tanpa bumi. Segala pijakan seakan kabur seperti jurang-jurang menganga di segala mata angin pedih dan pedih sekali. Sampai malam mendaki tanpa embun dan kegerahan imajinasi begitu menyembilu. Sakit. Terhenyak Burhan terbangun dari lamunannya, begitu ada ketukan pintu rumahnya.

” Tumben malam begini ke sini, Kang ? ” tanya Burham pada tetangganya Kang Diro.
” Aku mau minta tolong, pinjam hutang ” pinta Kang Diro.
” Maaf, aku sekarang sudah tidak kerja dengan juragan Sabar, aku sudah mengundurkan diri beberapa hari ini”.
” hahh, benarkah? ”
” Benar!!! ”

Begitu tamunya pergi, hati Burham terasa tertohok begitu menyampaikan suatu kebenaran. Tapi di balik itu perasaannya dipenuhi loncatan kalimat ” Benalu, benalu! ” yang menggiringnya dalam ketakberdayaan yang sungguh luar biasa. Di kejauhan diri sendiri melihat wajahnya menjelma singa bahkan ular yang terus membayang dalam auman dan desisan yang kuat. Apa yang dirasakan begitu menyakitkan dan semua adalah kesalahan sendiri yang tak bisa terlupakan begitu saja. Airmata Burham tak tahan lalu menetes, membasah pada malam tanpa gemintang.

” Harusnya aku tegar tak boleh cengeng begini dan mencari jalan keluar untuk kerja mencarikan nafkah anak dan istri. Ya harus kerja dan kerja ! ” tegas Burham dalam benaknya.
Ruas jalan yang sempit dan keriuhan jalan merupakan cakarawala pengap yang saat ini ada dalam pikiran Burham. Dan semua akan Dia lalu sambil menjajakan dagangannya. Di rumah tentu anak dan istrinya menanti hasil untungnya untuk menghidupi kebutuhan sehari-hari. Yang jelas kemiskinan akan senantisa terbayang dan terbayang.

” Sungguh berat hidup ini, apalagi dalam sebuah perubahan yang menjulaikan kepahitan ” bisik Burham saat menjajakan dagangannya di kampung-kampung.

Rasa malu pun dipendamnya, meski lagu ironi terus bergemerinsing di bathin. Dan puisi melagukan kata-kata penuh makna. Airmata dan keringat berbaur lalu membasah di dadanya agar rupiah datang dan menyapa senyum anak istrinya.

” Begundal, sekarang kamu belajar mau menjadi pohon?. Begundal ya begundal! ”. ejek tetangganya.

Burham hanya diam sambil menahan marahnya. Biarlah mereka menggunjingku , biarlah mereka mengejekku. ” Aku bukan benalu, aku Burham ya Burham! ” yakinnya dalam hati. Langit mengiba dan bumi seakan basah airmata melihat wajah Burham yang pucat dan tubuhnya yang semakin kurus, jalannya terpatah-patah. ” Anak istriku, hanya dirimu dan Tuhan yang tahu bahwa aku bukan benalu ” suara Burham lirih menerpa angin dan angin itu tiba-tiba memapah tubuh Burham.

” Ada orang sekarat di ujung jalan sana ” teriak salah satu orang pada yang lain sambil menunjuk jari.
” Di mana ? ”
” Di sana, di bawah pohon besar itu! ” tanya yang lain.

Sebuah pemandangan yang aneh bagi mereka, apa yang dilihat dan ditemukan adalah sosok tubuh tergeletak di samping dagangannya yang masih tersisa. Wajahnya menyedihkan dan mereka yang melihatnya larut dalam duka yang paling dalam.

” Bukankah ini, Burham? ” Mereka serentak berkata dan menyebutnya Burham bukan benalu.

” Kenapa Dia bisa begini, apakah karena lapar atau … ” Bisik-bisik mereka.

Dalam kondisi yang lemas, Burham berusaha siuman dan membuka matanya sambil memperhatikan mereka yang mengelilinginya ” ya aku Burham, bukan benalu ” jawab Burham lemas sambil meneteskan airmata. Airmata penuh bahagia!.

Kudus, 2008

 

Ilustrasi: blogdetik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.