Oleh-Oleh

Cinde Laras – Indonesia

Satu kebiasaan yang sampai saat ini sangat disukai keluargaku adalah hobi si Bapak yang selalu bawa oleh-oleh setiap kali habis pulang dari luar kota. Namanya juga oleh-oleh suami, siapa juga sih yang gak suka ? Tapi tunggu dulu…, oleh-oleh suamiku sedikit berbeda dengan kebanyakan pria. Dia sering sekali bawa oleh-oleh tak terduga.

Oleh-Oleh

Kebiasaan bawa oleh-oleh bermula ketika kami menikah di tahun 1993 lalu. Aku yang ditinggal sendirian di rumah kecil yang letaknya tepat di seberang Setu Pladen ini memang harus terima dengan keadaan kiri-kanan rumah yang belum semuanya dihuni manusia. Tetangga sih ada, tapi berjarak kira-kira seratusan meter dari rumah. Otomatis, rumahku yang ada di antara 13 rumah baru yang berderet di sana jadi satu-satunya rumah yang berpenghuni. Setiap hari, kompleks kami sepiiii sekali. Cuma riak air setu yang berkilat-kilat memantulkan sinar mentari menembus ke jendela kami. Selebihnya, pemandangan gerombolan kerbau mandi di rawa….

Dengan seorang suami yang kerjanya jadi kuli pabrik makanan yang mengharuskan dia pergi ke semua penjuru Nusantara cuma buat mencari bahan-baku produk mie instant dan makanan pabrikan lainnya, aku harus setiap saat siap bila ditinggal pergi. Suamiku biasanya akan bertugas ke lapangan, mencari leek, shallot, kubis, pisang, labu parang, cabe, kentang, bahkan sampai bahan sejenis tepung garut sekali pun.

Tak heran, hobi yang paling tidak bisa dia tinggalkan untuk menunjang pekerjaannya itu ya cuma mendengarkan siaran radio. Favoritnya? Siaran harga sayur-mayur di pasar induk seluruh Indonesia yang dilansir RRI. Jangan tanya betapa hapalnya dia soal berapa harga kol gepeng atau cabe keriting di pasar Kramat Jati. Setiap hari siarannya di-update kembali. Itu adalah pengalaman seru pertama kali aku dibelikan "oleh-oleh" radio oleh suamiku tercinta. Malam pertama setelah beli radio, dia langsung nongkrong di depannya buat memantau harga cabe rawit dan bawang merah. Ealaaah….

Oleh-oleh berikutnya yang berkesan adalah ketika suamiku pulang membawa mobil dinas milik perusahaan, sebuah jeep Daihatshu HiLine yang kabinnya lumayan luas untuk kami berdua. Kami jadi bisa pergi kemana-mana, tentu saja kalau suamiku sedang tidak keluar kota. Tapi kami tidak bisa menikmati kabin luas mobil HiLine itu lama-lama, kami juga harus rela berbagi dengan yang lain. Karena hanya selang beberapa bulan sejak suamiku mendapat pinjaman mobil, bayi kami yang pertama lahir. Membuat rumah mungil kami semakin ramai dengan tangisannya.

Suamiku sering sekali mendapat berbagai jenis pemberian petani dari semua daerah. Suatu kali, dia pulang ke rumah dengan wajah berseri-seri. Dia bilang seorang petani telah memberinya oleh-oleh dan saat itu ada di bagasi. Waktu itu suamiku baru saja pulang dari Pengalengan. Sudah terbayang akan berjenis-jenis permen susu yang legit khas oleh-oleh dari daerah itu. Saat aku buka bagasi mobil, baru aku tau apa yang ada di sana. Sepeti kayu tomat segar, fresh from the farm ! Jumlahnya kira-kira 25 kg. Jangan tanya betapa bingungnya aku melihat tomat segar sebanyak itu. Mau diapakan ? Sebab aku sendiri tidak begitu suka dengan baunya yang sengir. Maka aku cepat-cepat mengambil beberapa tas plastik, memasukkan sejumlah tomat ke dalamnya, lalu membagikannya dengan semua tetangga dekat. Beres !

fresh ripe tomatoes

Di lain kesempatan, suamiku pergi ke Garut. Itu daerah yang kondang banget sama manisan buah dan dodolnya. Tapi lagi-lagi para petani itu memberinya oleh-oleh yang tak terduga. Sekeranjang penuh buah konyal/markisa segar hasil panen dari kebun mereka. Semua kira-kira 20 kg saja. Tapi itupun sudah terlalu banyak. Dan aku tidak suka kalau markisa-markisa itu manjadi busuk karena tidak termakan oleh kami yang cuma bertiga. Maka lagi-lagi aku membagikannya dengan para tetangga. Tentu saja tetangga-tetangga itu senang bukan kepalang. Gak ada hujan, gak ada angin kok dapat markisa manis segar dari kebun. Mimpi apa mereka semalam ya ?

Di waktu lain, suamiku harus pergi ke Cipanas. Pabrik sedang butuh supplier kubis yang bisa memasok ke pabrik secara rutin dengan kualitas kubis yang bagus dan harga kompetitif. Seharian mencari, rupanya sudah membuat suamiku mendapat hasil menggembirakan. Beberapa supplier kubis yang bisa diandalkan, dan sekarung penuh kubis gepeng sebagai oleh-oleh di dalam bagasi mobilnya. Padahal dia sama sekali gak minta. Jumlahnya ?, kira-kira 60 kg ! Busyeeeet….. Gak bisa diomongkan seperti apa bau kabin mobil selama dia membawa itu pulang ke Jakarta. Apalagi ada bau kubis busuk yang menempel di karungnya. Bleh ! Yang aku heran, suamiku enjoy aja. Kalau aku barangkali sudah puyeng duluan kali ya ?

kol

Dari semua oleh-oleh yang diberikan petani, ada satu yang berkesan sekali. Soalnya pasti harganya sangat mahal. Oleh-oleh itu sendiri diberikan oleh seorang relasi asli Palembang. Suamiku berkunjung kesana untuk melihat kondisi lapangan tanaman cabe dan hasil gula merah petani disana. Begitu pulang, sang relasi memberinya tiga kardus besar berisi empek-empek segala merek, tekwan, dan krupuk kemplang khas Palembang.

oleh-oleh01

Tiga kardus itu sampai memenuhi troley yang dibawanya selama di bandara. Sampai penuh kulkas kami karenanya. Hal yang bikin aku kapok, aku tak suka menimbun makanan sebanyak itu. Aku lalu berpesan-pesang pada suamiku, agar dia lain kali menerima oleh-oleh dari sang relasi sekedarnya saja. Daripada mubazir. Ya sudahlah…, seperti biasa, aku lagi-lagi membagi oleh-oleh itu dengan para tetangga. Dan seperti biasa juga, suamiku tetap tidak enak hati menolak pemberian oleh-oleh semua relasinya. Hhh…, biarlah…, yang penting tidak mengganggu keobyektifan pekerjaannya.

 

Ilustrasi: detik.com

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.