Dewi Aichi – Brazil
Ya Kotagede adalah," the old capital city" yang menjadi kebanggaan Jogjakarta. Kotagede berjarak kita-kira 10 km dari jantung kota Jogjakarta. Di sini terdapat sekitar 180 bangunan kuno yang dibuat tahun 1700 hingga 1930.
Dari awal masuk ke Kotagede, sudah bisa menikmati galery-galery dan showroom yang menampilkan berbagai kerajinan perak. Kalau masuk dari arah JEC (Jogja expo Center), dan gudeg bu Tjitro(maaf ejaannya lupa), lurus ke arah jalan Gedong Kuning, pas penghabisan jalan Gedong Kuning langsung kita akan disambut Tom Silver di pojok sebelah kanan, dan Yon silver di sebelah kiri, jalan lurus terus adalah jalan Kemasan yang semuanya merupakan galery dan showroom kerajinan perak di sekitar jalan Kemasan.
Kerajinan perak sendiri merupakan budaya turun temurun yang dulunya sebenarnya kerajinan emas. Seiring dengan berjalannya waktu, akhirnya peraklah yang banyak di minati, sehingga pengrajin lebih memilih untuk mengolah perak. Hingga saat ini, kerajinan perak dari Kotagede sudah di ekspor ke mancanegara terutama Eropa.Model perhiasan yang sangat terkenal adalah jenis filigri, yang proses pembuatannya sangat rumit, karena perak terlebih dahulu diproses menjadi benang perak yang sangat halus.
Kalau ke Jogja berkunjunglah ke Kotagede, masuklah ke showroom dari yang sederhana sampai yang sangat mewah seperti HS silver, Tom Silver, Ansor Silver atau Narti Silver (bilang saja saya temannya Dewi he he..pasti dikasih teh manis…hush…canda ding..yang ini ngapusi).
Eh iya, kata pak Bandi (bukan nama samaran) salah satu pengrajin perak di Kotagede, kita bisa melihat salah satu bangunan kuno yang di sebut "rumah kalang", rumah ini dibangun oleh almarhum Pawiro Suwarno tahun 1920, beliau seorang pengusaha kaya di Kotagede. Menurut cerita , "orang kalang", adalah pendatang yang diundang raja Mataram untuk menjadi tukang ukir di kerajaan.
Setelah kena gempa kemarin saya sempat mengunjungi bangunan itu , deket Ansor silver, rumah unik, perpaduan Jawa dan Eropa, ada bangunan Joglo yang diletakkan di belakang sebagai rumah induk, dan bangunan model Eropa di letakkan di depan. Joglo di bangunan ini cenderung tertutup, tidak seperti joglo-joglo pada umumnya.Terdapat relief-relief dan kaca berwarna warni yang menjadi mozaik penghubung antara pilar-pilar bangunan. Masih katanya, bangunan ini sekarang menjadi milik keluarga Ansor. Dan bangunan ini sebagian rusak akibat gempa Jogja waktu itu. Saat saya ke sana pun ada plang terpampang di depan"DIJUAL TANPA PERANTARA", iseng-iseng saya tanya, katanya ditawarkan 100 milyar rupiah.
Nah..ngomongin Kotagede, saya ngiler dengan makanan khas Kotagede yaitu "kipo" terbuat dari tepung beras dan diisi dengan parutan kelapa yang dibumbui gula, dibentuk seukuran jari dan dihidangkan dengan alas daun pisang. Satu lagi yaitu "yanko", masih dari ketan, tapi sudah lebih apik dan modern dalam penampilannya, rasanyapun sudah bermacam-macam. kalau kipo penampilannya masih ndeso he he, tapi rasanya luar biasa enak.


Gambar-gambar yang saya sertakan adalah proses pembuatan perhiasan perak jenis filigri, dengan terlebih dahulu memproses perak mentah menjadi benang perak. Aku sertakan juga beberapa perhiasan jenis filigri.




May 10th, 2010 at 05:42
PerakJogja.com, thank you infonya….