You Have Everything in Indonesia

Hariatni Novitasari – Surabaya


Temans, semakin banyak saya bepergian ke pelosok negeri ini, semakin saya sadar betapa indah dan cantiknya negeri ini. Ketika saya naik Cesna 280, dan terbang rendah di atas Laut Banda, betapa saya berdecak kagum melihat yang ada di bawah saya. Ada hutan tropis yang warnanya hitam karena lebatnya, pulau-pulau kecil tak berpenghuni, pantai-pantai dengan pasirnya yang putih, warna air laut yang hijau dan biru sehingga kita bisa melihat ikan-ikan kecil dan coral yang ada di bawah sana.

Saya juga semakin sadar, kayanya budaya kita. Adat istiadat. Buku geografi jaman dulu memang benar. Kita ini negara yang juga kaya budaya. Kebetulan, ketika di Wakatobi kemarin, ada festival Kabuenga. Yaitu festival “mencari jodoh”. Ada berbagai macam prosesinya disana. Mulai dari naik di ayunan, sampai dengan para perempuan muda yang berjualan makanan. Dengan tujuan, lelaki akan membeli makanannya dan mereka melanjutkan ke acara perkenalan. Dilengkapi juga dengan berbagai macam tarian dari 4 pulau besar di Wakatobi. Ini adalah warisan budaya dari Kesultanan Buton sejak ratusan tahun yang lalu. Kesultanan ini telah ada sejak abad 7. T

Bukan hanya itu, alam gastronomi kita sungguh-sungguh kaya. Masakan-masakan dari hasil laut yang segar, sampai dengan masakan-masakan berkuah santan nan greasy dan mlekoh. Juga kopi, yang kualitasnya tidak ada duanya. Kopi Indonesia selalu mantap. Tidak light atau ampang seperti kopi Siam dan Vietnam. Apalagi kopi ala Starbucks.

Semakin saya jauh ke dalam, saya semakin cinta dengan negeri saya ini. Dan, ketika tiba-tiba banyak kebudayaan kita di klaim negeri sebelah, saya jadi bertanya, ini salah siapa sebenarnya? Sedikit banyak, kita sendiri juga ikut berkontribusi.

Pasalnya apa? Ah, banyaklah… Dulu, ketika saya suka baca catatan Umar Kayyam tentang kedutaan-kedutaan Thailand di luar negeri berjualan durian. Mereka promosi potensi negara mereka. Sedangkan, orang deplu kita tidak melakukan hal serupa untuk promote potensi kita.

Ketika Malaysia pasang iklan pariwisata besar-besaran lewat banyak tipi -termasuk tipi nasional kita- pemerintah kita juga sepertinya kurang bisa menandingi upaya negeri tetangga itu. Di Surabaya saja, banyak saya temui poster besar-besar negeri jiran itu. Untuk datang dan berbelanja di sana. Sementara itu, tak juga saya temui banner dan poster Visit Indonesia 2009. Iklan di tipi juga begitu. Yang ada malah iklan branding Jakarta. You can do everything in Jakarta itu. Lalu, apa kerjanya Departemen Pariwisata dan Deplu? Adanya kasus klaim oleh negara sebelah juga direspon dengan lambat.

Saya sempat chatting juga dengan seorang teman yang tinggal di Jerman, tentang keindahan negeri kita -dia juga seorang traveler- dan betapa biasanya objek-objek wisata di luar negeri yang katanya terkenal itu. Bahkan menara Pisa pun hanya menarik karena dia doyong. Lainnya tidak. Kata dia, itu memang karena bule-bule itu pintar bikin promosi dengan brosur-brosur bagus. Soal potensi, masih kalah bagus dengan Indonesia. Memang benar, kalau negara-negara di luar sana memiliki kelebihan. Seperti sistem transportasi dan tata ruang yang jauh lebih bagus dari milik kita. Tapi, kita juga harus sadar, kalau kita memang kekurangan kemampuan untuk marketing dan branding.

jakarta1

Kalau sempat terdampar di Wakatobi atau pulau kecil-kecil lainnya di Indonesia, Anda akan menjumpai bahwa sangat sedikit sekali turis Indonesia. Rata-rata memang bule. Saya sering heran kenapa. Tapi, seharusnya saya tidak perlu heran, karena orang Indonesia rata-rata kurang senang liburan yang adventurous.

Senangnya, liburan dan belanja. Nah, daripada uang untuk membeli tiket ke Indonesia Timur yang relatif mahal dibandingkan ke Singapore atau Malaysia dan menjalani liburan dengan fasilitas seadanya dan tidak pasti, lebih baik, membuang uang ke Singapore atau Hongkong. Di Wakatobi saja, sangat krisis dengan air tawar. Paling banter air payau. Juga masalah sanitasi yang kurang. Jadi, sebenarnya sangat wajar, kalau kemudian banyak pulau-pulau kita dibeli oleh asing, karena kita tidak suka pergi ke pulau-pulau itu. Karena kita tidak suka pergi kesana, kita jadi tidak sayang. Well, ini persepsiku saja, mates.

*moral of the story: ayo, kita promosikan Indonesia kita*

jakarta2

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *