Ombak Dalam Kamera

Tara W Setyanto

Hmm….
Ada apa dengan kamera ini ? Ada apa juga dengan pantainya ? Mengapa aku seperti tak bosan-bosan memotret setiap incinya ? Barangkali kalau sekarang ada yang punya pikiran mau bertanya seperti itu padaku, pasti aku hanya bisa mengangkat bahu. Karena aku betul-betul tak tahu, mengapa aku suka memotret di pantai ini.

Sudah empat tahun aku memegang kamera ini. Sebuah kamera manual yang sekarang pasti sangat ketinggalan jaman. Ini kamera Bapak, yang sering menemaninya ketika berburu berita ke seluruh pelosok negeri. Kamera yang telah menghidupi keluarga kami, membuat dapur Ibu selalu mengepulkan asap harumnya nasi yang baru saja masak di atas tungku. Kamera yang dulu kami anggap keramat, karena Bapak tidak suka sembarang orang menyentuhnya. Apalagi bila yang memegang itu anak-anaknya. Bisa-bisa suara Bapak yang menggeledek langsung terdengar memecah langit.

“Jangan dipegang-pegang !”, teriak Bapak tiap kali dia tahu kami memegang kamera itu.
Tentu saja kami yang jadi anak-anaknya dengan serta-merta meletakkannya kembali ke atas lemari buku, tempat Bapak biasa menyimpannya. Aku sendiri, harus susah-payah menahan keinginanku menyentuhnya, meski sebenarnya ingin…. Lebih baik damai !
Iseng-iseng, dulu aku pernah bertanya mengapa kami tidak boleh memegang kamera itu. Jawabnya bisa ditebak !
“Nanti rusak ! Tidak usah pegang !”, ujar Bapak.

Begitu saja. Kamera itu tetap perawan bagi kami, karena kami tak pernah bisa menyentuhnya. Cuma Bapak yang membawa, seperti seorang ayah yang selalu menjaga anak gadisnya yang cantik, tak ingin bunganya diambil kumbang jalang yang tak diinginkannya.
Dan saat ini Bapakku sudah mati, tepatnya empat tahun yang lalu. Mungkin karena tak ada seorangpun saudaraku yang berminat, kamera ini diwariskan padaku. Aku senang-senang saja menerimanya. Ini toh bisa kupakai untuk bermacam urusan. Mulai dari mencari uang, membuat foto perempuan cantik, atau untuk cuma buat gagah-gagahan. Maka mulailah aku berkeliaran di pantai, memotret segala sudut.
Jeprat-jepret, bergaya seperti wartawan sungguhan. Meski kadang aku malu bila ketahuan, karena kameraku jarang kuisi film. Cuma menjepret. Kecuali ada yang mengupahku….
Kalau dipikir-pikir, aku agak heran mengapa aku yang mewarisi kamera ini.

“Tidak usah motret ! Nanti kamu macam-macam !”, begitu kata Bapak suatu kali ketika aku nekat meminta ijin mau meminjam kameranya. Bapak memang melarang anak-anaknya berbuat maksiat.
“Jaga mulut, jaga mata, jaga telinga, jaga kepala, jaga hati, dan jaga kelakuan…”,itu adalah wanti-wanti yang selalu Bapak ucapkan setiap kali kami meminta ijinnya keluar rumah di luar kegiatan sekolah.

Tapi tentu saja tidak semua wanti-wanti itu kami turuti. Mas Marso, kakak sulungku, suka sekali pergi ke kali di sore hari. Pada mulanya aku heran, mengapa Mas Marso harus pergi ke kali sore-sore. Bukankah di rumah kami sudah ada kamar mandi bersih yang selalu terisi penuh oleh air dari keran leding ?
Rupanya Mas Marso diam-diam suka mengintip Yu Darmi, janda kembang kampung kami yang ditinggal kawin lagi oleh suaminya yang jadi TKI di Malaysia. Karena penasaran, aku pernah ikut-ikutan ke kali bersamanya. Dari balik gerumbul pohon bambu, aku bisa melihat tubuh Yu Darmi yang berkulit sawo matang itu dengan jelas. Tubuhnya memang sintal, membuat aku tak tahan hingga bersuara ketika sedikit demi sedikit Yu Darmi membuka bajunya. Tak urung, kepalaku dijitak Mas Marso agar aku diam. Kalau diingat-ingat, jitakannya sakit juga. Malah ubun-ubunku jadi sedikit benjol karenanya. Untungnya tidak permanen….

Suaraku rupanya terdengar oleh Yu Darmi. Sontak dia berteriak ngeri, membuat kami kaget dan memutuskan untuk segera lari. Tunggang-langgang seperti maling ketahuan. Tapi itu belum selesai. Yu Darmi ternyata tahu siapa yang sudah mengintipnya tadi hingga dia melapor pada Bapak. Setelah Yu Darmi pulang, kami langsung dihajar !

Kamera ini juga sudah menemani Bapak ke Irian, Aceh, Sulawesi Utara, bahkan ke Timor Timur sebelum daerah itu merdeka menjadi Timor Leste. Profesi Bapak yang wartawan itu membuatnya banyak dikenal orang. Sebagian ada yang senang, karena diberitakan baik. Sebagian lagi benci, karena mual membaca berita yang Bapak tulis apa adanya. Bagiku sendiri, itu resiko pekerjaan. Tapi aku bangga pada Bapak, profesionalitasnya begitu dijunjung tinggi.
Kalau harus jaga telinga, mulut, dan mata, kenapa Bapak jadi wartawan ?, begitu tanyaku suatu kali padanya. Aneh, kali ini beliau tidak marah waktu menjawab. Wajahnya hanya berubah serius, membuatku sedikit takut.

“Karena kita juga harus menyampaikan kebenaran…, bukan manisnya polesan. Kita harus bisa menyampaikan apa yang seharusnya diketahui semua orang…, bukan cerita karangan”, begitu jawabnya. Jawaban itu kuingat betul dalam kenanganku atasnya.

Mataku berpedar ke arah pantai. Ada seorang perempuan cantik berusia kira-kira empat-puluhan, berjalan dengan kaki telanjang mendekat ke bibir pantai. Aku terpesona memandang indahnya rambut panjang bergelombang yang terurai dari lepasnya tekukan gelung di kepalanya. Rambut yang terjurai itu hampir menutup seluruh bagian panggulnya. Tergerai-gerai dimainkan angin….

Di belakang perempuan itu, ada seorang perempuan tua yang mengikuti. Dari pakaiannya, aku yakin dia itu seorang pembantu. Mungkin dia pembantu perempuan berambut bergelombang itu. Sepasang selop berwarna merah tampak dijinjingnya dengan tangan kiri. Tangan kanannya memegang sebuah tas tangan terbuat dari kulit.

Aku tak tahan melewatkan pemandangan itu. Aku mulai membidik wajah perempuan berambut terurai itu dengan lensa zoom yang telah terpasang di kamera. Dari lensa yang kusetel, tampak wajah seorang wanita cantik. Bibirnya penuh, hidungnya mancung, dan alis matanya tebal. Matanya menarik !, seperti sepasang mata seekor kelinci. Semakin jelas aku melihatnya, semakin aku ingin menggerakkan jemariku mengabadikannya.
Tiba-tiba sebuah tangan menahanku. Aku terkejut. Kamera segera aku turunkan.

Hmm….
Rupanya pembantu perempuan itu yang menahanku. Kepalanya menggeleng-geleng tanda tak setuju. Aku urungkan niatku.
“Gak usah, Mas…. Biar Den Ayu saya bisa santai sebentar…”, katanya setengah berbisik di telinga.
Aku lalu masuk ke warung Lik Karjan, sebuah warung sederhana yang biasa menjual wedang jahe kesukaanku, lengkap dengan pisang gorengnya yang selalu berasa manis. Wedang jahe itu baru saja kuhirup kala tiba-tiba terdengar suara kencang memecah ke arah ombak yang datang….

AAAAAAAAAAAA….

Aku terkejut, air jahe yang belum sempat kutelan sampai menyemprot keluar. Aku terbatuk-batuk sesaat. Dan suara itu terdengar lagi….

AAAAAAAAAAAA….

Kulihat ke arah pantai, perempuan itu berteriak begitu kencang. Kedua tangannya mengepal. Dan dia berteriak berulang-ulang. Hingga tersisa teriakan kecil mengalir dari bibirnya, dan isakan tangis. Lalu perempuan itu jatuh terduduk, bersimpuh di tepian pantai. Deburan ombak membuat baju bawahannya basah oleh air.

Aku menatap dengan bingung. Pembantu perempuan yang ada di sebelahku hanya memandang dan menghela napas berkali-kali. Dan pembantu itu mendekat ke arah si perempuan berambut gelombang, kala dia melihat perempuan itu sudah selesai menangis. Cuma air mata yang jatuh satu-satu, yang lalu diusapnya dengan perlahan memakai kedua telapak tangan.

Aku mematung. Entah mengapa aku ikut merasa lega setelah melihat perempuan itu selesai dengan ritualnya. Aku sebut begitu, karena perempuan itu mengulang kembali apa yang dia lakukan. Berteriak sekencangnya melawan kerasnya debur ombak di pantai ini.
Hingga hari ini, hari yang ke enam dia melakukannya. Membuat aku tak bisa lagi menahan keinginanku untuk bertanya, paling tidak pada si emban.

“Beliau itu dulu gadis biasa, Nak Mas. Tinggal di desa…. Waktu umurnya belum lagi genap lima belas tahun, dia telah dijual oleh bapaknya sendiri pada seorang juragan kaya di kota…”, Emban itu mulai menceritakan.
“Dijual ?”, aku menelan ludah.
“Bapaknya berhutang pada Den Juwono, pemilik usaha tembakau di kota ini. Orang yang sangat kaya…”, kata Emban itu lagi.
“Apa yang terjadi padanya ? Apa dia disiksa ?”.
“Tidak, tidak seperti itu…. Den Juwono hanya menjadikannya sebagai selir. Masih ada delapan orang wanita lagi yang menjadi istri beliau. Meski disayang, tapi usia Den Ayu sekarang sudah tidak muda lagi. Jadi Den Juwono tak lagi sering menjenguk…”, terangnya. Mataku mengarah ke pantai, perempuan itu masih saja terduduk di sana.
“Apa dia tidak punya anak ?”.
“Tidak. Dulu ada, seorang anak perempuan. Tapi meninggal ketika umurnya belum lagi genap lima tahun. Padahal Den Ayu sudah tidak mungkin berputra lagi setelah keguguran tiga kali berturut-turut. Kasihan Den Ayu saya, Nak Mas…. Sekarang…, Den Ayu sering melamun…, menangis sendiri…, tertawa sendiri….

Kadang kelihatan terlalu senang…, kadang terlalu sedih berkepanjangan….”, Emban itu menghela nafas, dia menutup kisahnya dengan wajah sendu.
“Hmm, jadi rasa sepi seseorang bisa membuatnya menjadi seperti ini…”.

Dari jauh, aku melihat wanita itu telah usai berteriak. Hanya saja, kali ini dia tetap tegak berdiri. Kedua kepalnya telah melemas, dan jemarinya membuka. Tidak ada lagi sedu-sedan seperti kemarin, atau beberapa hari yang lalu. Ujung rambutnya terbang dimainkan angin, menyingkapkan gurat wajah cantiknya yang memesona.

Sudah kutunggu saat ini. Tanganku dengan cepat mengambil gambar. Beberapa jepretan dari tempatku berdiri. Kali ini si emban tidak mencegahku, atau menahan tanganku.

Kupincingkan mataku ke arah jendela kecil di sudut kiri kamera. Tiba-tiba wajah cantik itu menoleh ke arahku. Mula-mula diam, lalu tiba-tiba senyum tipisnya mengembang. Aku terpana. Belum pernah kulihat wanita berwajah sesempurna itu. Meski ibuku sekalipun. Dia biarkan saja aku mengambil gambar wajahnya. Tangannya melambai ke arah si Emban yang membawakan tas tangan serta sepasang selop miliknya. Dia mengambil sejumlah uang dari dalam tas itu, lalu memberikannya pada si Emban sambil berbicara sesuatu.

Si Emban tergopoh-gopoh ke arahku. Aku melongo melihatnya menyodorkan tiga lembar uang sepuluh ribuan padaku.
“Den Ayu minta fotonya besok siang, di sini juga seperti sekarang…”, lalu Emban itu berlalu.
Kulihat lagi gulungan uang itu. Aku mahfum, kumasukkan uang itu ke dalam saku celana. Jadi perempuan itu ingin melihat fotonya ? Aku jadi bersemangat ingin cepat-cepat mencetakkan film yang ada di dalam kameraku ini.

Aneh ! Kupandangi foto perempuan di tepi pantai itu berkali-kali. Samar, kulihat ada bentuk seperti bayangan ombak bergulung di atas kepalanya. Aku tak percaya melihat ini, pasti ada kesalahan dalam proses cetak fotonya. Aku bawa kembali klise foto itu dan mencetaknya ulang. Hasilnya sama saja, ada bayangan bentuk gulungan ombak di atas kepala perempuan itu, di semua fotonya ! Dalam posisi duduk, dalam posisi berdiri…. Hhh…, aku tidak suka ini.

“Fotonya sudah jadi, Mas ?”, tanya si Emban itu padaku. Dengan berat aku menganggukkan kepalaku.
“Sudah”.
“Bisa saya ambil, Mas ? Den Ayu sudah tak sabar melihat hasilnya…”, kata Emban itu lagi. Aku berikan beberapa lembar foto perempuan itu padanya. Si

Emban tersenyum, lalu segera membawanya ke arah perempuan itu. Den Ayu itu segera melihat dengan seksama foto yang sudah kucetak, sekilas aku melihat senyumnya yang menunjukkan rasa puas. Dia mengangguk ke arahku, dan aku membalasnya dengan anggukan sopan. Kupandangi kaki-kaki yang segera pergi menjauh, ada rasa kecewa yang menggayut di hatiku melihat kepergiannya. Aku tak tahu mengapa.
Kuambil lembaran foto yang masih tersisa padaku, gambar yang sama, perempuan yang sama. Tapi apa yang kupandang disitu seharusnya tidak pernah ada. Bayangan ombak itu ! Mengapa ada ? Bagaimana bisa ?

“Tidak ada yang salah, kok. Semua memang ada bayangannya…”, kata Karyo, pegawai toko cuci cetak film langgananku. Membuat kedua alisku bertaut.
“Tidak biasanya begini ! Pasti ada yang salah dengan lensanya !”.
Aku segera membawa kameraku ke tukang reparasi kamera langganan Bapak waktu beliau masih ada. Pak Joni itu betul-betul ahli merawat kamera, semua jenis kamera bisa dia perbaiki, kecuali yang digital.
“Gak tahu saya…”,katanya sambil menggoyang-goyangkan tangannya ke kiri-kanan tiap kali ada pelanggan yang datang menenteng kamera digitalnya yang rusak ke kios Pak Joni. Kepadanya aku serahkan kamera Bapakku, dan dia segera memeriksanya denga seksama.
“Lensanya bersih ! Tapi biar tambah bagus, aku bersihkan lagi saja, ya ?”, katanya waktu itu.
Lalu kenapa ada bayangan ombak disitu ?, bisikku dalam hati. Entahlah….

Dua bulan sudah sejak kedatangan Den Ayu Juwono ke pantaiku. Tak lagi pernah kudengar kabarnya disini. Aku kembali asyik dengan hobiku memotret.
“Buang-buang uang saja!, kapan kamu berhenti motret barang yang ndak bisa dijual begini ?”, kata Mas Marso sengit setiap kali dia datang ke kamarku melihat tumpukan gambar pantai yang baginya tidak menarik.
“Aku ‘kan tidak minta uang Mas Marso, lagi pula aku beli film dengan uangku sendiri kok…”, kataku membalas.
“Lalu kapan kamu bisa memberi sesuatu untuk Ibu ?, kamu jangan cuma mau senangnya sendiri, kamu ‘kan masih numpang makan sama tidur disini ?!”.

Aku tak sanggup menjawab, memang aku masih menumpang pada Ibuku yang sudah menjanda. Untungnya Ibu masih punya pendapatan berjualan nasi bungkus. Hhh…, aku memang terlalu. Maka aku biarkan saja Mas Marso memarahiku hari itu.
Sudah beberapa hari ini, ada seorang mahasiswi cantik dari Jakarta yang sengaja ke pantai ini untuk penelitian. Buatku ini lumayan, artinya ada obyek indah yang bisa kuabadikan dengan kamera tuaku ini.

Gadis itu terlalu berbeda dengan gadis kebanyakan yang berasal dari kampung sekitar. Bajunya modis, dan kulitnya yang putih halus itu menandakan kalau dia bukan orang terbiasa dengan pekerjaan kasar. Seperti berasal dari keluarga menak, begitu kira-kira. Dengan diafragma yang disetel untuk mendapat gambar terbaik, aku mengarahkan kameraku menelusuri lembutnya wajah gadis kota nan ayu itu.

“Gusti…!, cantiknya…”, pikirku bersemangat.

Jeprat-jepret suara tombol kamera membuat gadis itu sedikit terganggu, tapi dia kembali tak mengacuhkan gerakanku yang mengambil gambarnya berulang-ulang dari jauh. Dengan cuek, gadis itu mencatat setiap benda yang dilihatnya di pantai. Kata Lik Karjan, gadis itu mahasiswa jurusan biologi kelautan dari sebuah universitas di ibukota yang sedang mengumpulkan data untuk menyusun skripsi.

“Hm…, biologi kelautan…, apa yang bisa seseorang kerjakan dengan ilmu biologi kelautan ? Apakah mereka akan memperoleh uang lebih banyak dari kerjaan seorang tukang potret amatiran macam diriku ?”, mulutku bergumam sendiri.
Di desa terpencil tempatku tinggal, pasti orang-orang akan terheran-heran bila mendengar seorang pemuda sepertiku menghabiskan waktu cuma untuk belajar biologi kelautan. Jadi sarjana biologi saja sudah aneh, apalagi biologi kelautan.

“Biologi keluatan bisa bikin kaya nggak, Le ?”, barangkali itulah pertanyaan yang akan kudapat dari ibuku bila aku mempelajarinya. Aku jadi tersenyum sendiri.
Untuk orang kampung yang bahkan untuk mencari sesuap nasi saja susah, bagaimana mungkin akan memikirkan sesuatu tentang biologi kelautan ? Kalau sekedar pengetahuan dasar, pastilah semua orang yang tinggal di sekitar pantai ini tahu kalau ikan dan rumput laut itu hidupnya di laut.

Tiba-tiba gadis itu menoleh dan memandang ke arah kamera lekat-lekat, aku terperanjat melihat binar matanya yang berkilat, meski bibirnya tersenyum. Aku menurunkan kameraku ketika aku tahu gadis itu mendekat. Dan berani sumpah, aku sangat terpesona pada senyumnya yang sumringah.
“Hai !”, gadis itu menyapa dengan melambaikan tangannya.
Aku membalas menyapanya dengan sedikit rasa ragu. Dan dia semakin berjalan mendekat. Dadaku berdebur kencang, aku tak menduga gadis itu akan mendekat secepat ini.

Ah, gadis kota, gampang sekali kenal dengan orang asing, batinku.
Papan jalan dengan sebendel kertas catatan dikempitnya di tangan kiri, dan tasnya yang berwarna hitam setia menempel punggung.
Lalu tangan halus itu terulur padaku, mengajakku bersalaman. Aku mendekat menyambutnya. Tapi celaka, sandal kulitku terantuk batu, membuat aku kehilangan keseimbangan dan jatuh terguling di depan gadis itu. Aku mendengar tawa gadis yang terkikik melihat wajahku yang berlumur pasir pantai.
Konyol betul, seharusnya aku tidak perlu berakting pura-pura jatuh seperti ini. Akting ?
Aku cepat-cepat bangun berdiri. Gerak refleksku menyetir kedua mata dan tanganku memeriksa keadaan kameraku terlebih dahulu. Lensa…cek, tempat film…cek, tidak ada kerusakan sama sekali. Lalu tiba-tiba tawa terkikik itu kembali terdengar, aku jadi sadar kalau mukaku masih berantakan dengan bedak pasir yang melumuri seluruh permukaan.
Sial…, gerutuku dalam hati.

“Kamu lucu sekali…”, sapa gadis itu setelah bisa mengendalikan diri.
“Namaku Neni, kamu siapa ?”, katanya padaku. Aku menyambut salamnya, dan mengucapkan namaku.
“Saya Mardi, orang asli desa ini. Saya tukang foto keliling….”.
“Aku tahu, aku bisa melihatnya…. Aku mahasiswa biologi kelautan, aku sedang penelitian di pantai ini. Kamu kesini tiap hari ?”, tanyanya, matanya yang bercahaya itu menelusur setiap lekuk batu karang di bibir pantai. Aku mengangguk.
“Ya, saya cari makan disini….”.

Gadis itu mengangguk tanda dia mengerti. Dia mengeluarkan sebuah benda berwarna metalik dari dalam tas punggungnya. Benda kotak persegi yang ukurannya tak lebih dari setelapak tangannya itu rupanya sebuah kamera.

“Aku biasanya mengambil obyek gambar dengan kamera ini. Kamu sudah pernah melihat kamera yang seperti ini sebelumnya ?”, tanyanya.
Aku mengangguk pelan, kamera seperti itu pasti harganya mahal. Kulirik kamera tuaku yang berwarna hitam keabu-abuan karena catnya telah mengelupas di sana-sini. Tapi itu tak melunturkan rasa sayangku pada kamera tua ini.
Memotret tanpa mengubah diafragma, apa asyiknya…?, batinku berkata.

Lalu gadis itu memainkan jemarinya mengambil gambar segala hal yang menarik perhatiannya. Dan tanpa aku sadari, dia telah mengambil sebuah gambar diriku yang masih terbengong-bengong melihat aksinya.
“Nih !, kamu bisa lihat fotomu disini !”, gadis itu menyodorkan kameranya yang telah berhiaskan sebuah gambar wajah yang sepertinya aku kenal.
Dahiku berkerut, aku lihat gambar itu lekat-lekat. Aku terpesona dengan cara kamera ini bekerja, secepat itu aku bisa melihat hasilnya. Disana tampak seorang pemuda kurus berwajah kampung berambut jigrak mirip orang cacingan yang tampak bloon dengan kamera tua tergantung di dadanya.
Itu… wajahku !

“Jelek sekali !”, mulutku tak sadar berbunyi. Gadis itu terkikik mendengarnya.
“Kamu kira wajahmu seperti apa ? Ya, ini wajahmu. Kamera tidak pernah bohong !”, katanya seru. Matanya yang berbulu lentik melirik ke arah kameraku.
“Kameramu sepertinya sudah tua sekali. Darimana kamu mendapatkannya ?”.
“Ini warisan Bapakku. Dulu dia wartawan…”, jawabku pendek. Mulut gadis itu membundar seperti bentuk ‘O’.
“Boleh aku lihat ?”, tanyanya penasaran. Aku melepas tali kamera dari leherku, dan mengulurkannya ke gadis itu. Dia antusias sekali. Diperiksanya setiap detil kamera bapakku dengan seksama, senti demi senti, inci demi inci.
“Jangan dijatuhkan, nanti bisa rusak !”, kataku tegas, seperti kata Bapak dulu.

Gadis itu mengangguk. Tak lama dia lalu memberikan kamera itu lagi kepadaku. Aku pun kembali mengalungkannya di leherku yang berkeringat.
“Aku tidak tahu bagaimana cara memakai kamera seperti itu. Yang digital seperti ini lebih mudah, tinggal diarahkan ke obyek, lalu jepret. Gampang ! Tapi boleh juga belajar memakai kamera seperti milikmu itu. Kamu mau mengajariku cara memakainya ?”, dia bertanya. Tampaknya dia bersungguh-sungguh. Aku mengangguk ragu.
“Boleh saja. Tapi aku tidak punya film sekarang….”.
“Beres…, nanti aku belikan. Aku pulang dulu, ya ? Besok aku penelitian lagi disini, dan kamu bisa langsung mengajariku cara memakai kameramu. OK ?”.
Aku hanya mengangguk. Gadis itu lalu meninggalkanku sendiri. Aku hanya bisa melihat punggungnya menjauh. Hmm…, kursus photography…, sepertinya keren juga. Kira-kira aku nanti mau dapat bayaran berapa ya ? Aku mengangkat bahu, tak mau terlalu pusing memikirkan itu.

“Wangi betul…!, mau pergi kemana ?”, tanya Mas Marso sewaktu kami berpapasan di muka rumah. Mukaku memanas, mungkin dia sempat melihat wajahku yang memerah sesaat tadi.
“Ada yang mau kursus fotography…”, jawabku pendek. Tumben, Mas Marso tersenyum mendengar jawabanku.
“Perempuan ? Ati-ati…!, sekarang banyak setan !”, kata Mas Marso sambil cengengesan. Aku tak hirau pada ucapannya. Cari uang itu lebih penting. Segera aku melenggangkan kaki menuju pantai, kurang lebih satu kilometer dari rumah kami.

Aku sampai di pantai jam 7 lewat, gadis itu sudah datang terlebih dulu rupanya. Dia berjalan di tepian pantai dengan kaki telanjang sambil lagi-lagi membawa sebuah papan jalan berisi beberapa lembar kertas catatan dan sebuah kamera digital yang terkalung di lehernya.
“Sudah lama ?”, tanyaku basa-basi. Gadis kota itu tersenyum lebar. Dia percaya diri sekali.
“Dari jam enam tadi. Udara di pantai ini enak sekali kalau pagi. Makanya aku lebih suka berangkat pagi dari pada kesiangan. Kamu sudah siap ?”, tanyanya padaku. Aku mengangguk, dan menunjukkan kamera kunoku padanya. Gadis itu mengulurkan tangan, ingin meminjam kameraku. Aku memberikan kameraku, aku yakin dia akan berhati-hati membawanya.
“Wah, berat juga ya ?”, dia berkomentar pendek.
Aku cuma tersenyum. Untuk ukuran kamera jaman sekarang pasti kameraku itu tergolong besar dan berat. Apalagi lensa zoomnya yang berat itu terbuat dari

logam kualitas tinggi. Gadis itu mencoba-coba mengarahkan lensa kamera pada sebuah obyek di tepi pantai. Tampaknya dia kikuk sekali.
“Mari saya bantu…”, kataku menawarkan diri. Dibiarkannya aku mengambil alih kamera itu dari tangannya, lalu mencoba mengarahkan diafragma dan fokus lensa pada seekor kelomang kecil berwarna putih keabu-abuan yang sedang berjalan merayap di bawah batu karang. Aku sodorkan lagi kameraku padanya.
“Lihat…, kalau kamu berdiri di tempatku ini, setelan fokus dan diafragmanya seperti ini…”.
Kamera itu kuserahkan kembali padanya. Dia menerima dengan antusias, ini adalah saat-saat penting abginya untuk belajar bagaimana memakai kamera model kuno tinggalan bapakku itu. Jemarinya yang lentik menggenggam erat pinggiran kiri dan kanan kamera. Dan dia mulai mengarahkan lensanya ke sebuah obyek di kejauhan.

“Eh…, ada orang disana ! Aku mau motret perempuan itu, pasti hasilnya nanti jadi bagus !”.
Gadis itu mengarahkan kamera ke arah seseorang yang sedang berjalan ke arah pantai. Aku ikut mengamati perempuan itu dari tempatku berdiri. Sejenak kupincingkan mata karena sedikit silau dengan cahaya matahari yang mulai perkasa menampakkan diri.

“Hah !, itu Den Ayu Juwono ! Apa yang terjadi padanya ?”, tak sadar bibirku berbisik.
Rupanya suaraku cukup keras terdengar telinga Neni, dia menoleh melihatku.
“Kau kenal dengannya ?”.
Aku mengangguk pelan, tak menjawab dengan kata sepatahpun. Mataku yang terpana memandang lurus kepada perempuan ningrat itu. Penampilannya yang lusuh, dengan rambut awut-awutan dan kebaya berbunga-bunga yang dikancingkan asal-asalan membuatku dengan cepat bisa menduga kalau sekarang Den Ayu Juwono sudah sangat jauh dari keadaannya sewaktu terakhir kali kami bertemu.

Tiba-tiba datang lagi seseorang perempuan gemuk di belakangnya dengan langkah tergopoh-gopoh, sepertinya dia membujuk agar Den Ayu mau segera meninggalkan tempat itu. Beberapa kali aku lihat Den Ayu menggeleng-geleng kepalanya, tanda menolak. Dan Emban tua itu seakan tak bosan membujuknya, berkali-kali. Hingga tiba-tiba Den Ayu berlari mendekat ke pantai, mengagetkan si Emban yang juga segera berlari menyusulnya.
Tepat di bibir pantai, langkah Den Ayu terhenti. Kedua tanganya mencengkeram sisi kiri dan kanan kain batik yang melilit tubuhnya. Lehernya tampak menegang, matanya sedikit nyalang….

AAAAAAAAAAAAAA….

AAAAAAAAAAAAAA….

Den Ayu Juwono berteriak sekencangnya, mengagetkan Neni yang sedang asyik bermain dengan lensa kamera. Neni memandangku dengan bingung, aku sendiri hanya bisa menatap dari tempatku berdiri.

Ku tahu rasa kehilangan itu telah tumbuh mengganas dalam hati Den Ayu. Entah apa lagi yang terjadi padanya akhir-akhir ini. Tak terasa, aku menghela napas, menyesali nasib buruk perempuan paruh baya berwajah cantik yang kini sedang bingung dengan hidupnya sendiri itu.
Langkah Bibi Emban berhenti, kali ini bahkan dia bergerak menjauh, menuju ke tempatku berdiri.

“Mas…, kita ketemu lagi ya ?”, sapa Emban itu dengan sendu. Aku cuma mengangguk pelan. Neni terbengong-bengong dengan keakraban kami, dan lagi-lagi pandangannya dibuang ke arah Den Ayu.
“Apa kabar, Bu ?”, aku balas menyapa.
“Tidak baik…, beginilah perkembangan terakhir Den Ayu…. Hatinya semakin resah setelah Den Juwono memiliki putra dari istri terbarunya di Jakarta….”.
“Jakarta ?”.
“Ya…, Den Juwono sekarang tinggal di Jakarta. Tidak seperti istri-istri yang lain, istri Den Juwono yang terakhir itu seorang artis ibukota. Cantik dan pandai, seperti orang-orang yang berasal dari kota. Den Juwono tidak diperbolehkan pulang ke Solo, hanya di saat lebaran nanti Ndara Kakung diperbolehkan menjenguk ke Solo. Kasihan Den Ayu…, hatinya semakin tersiksa dan kesepian. Saya sudah tidak tahu lagi bagaimana harus menghiburnya….”, suara

Emban itu terdengar sumbang, dari kedua belah matanya mengalir air mata bening membasahi kedua pipinya.
Neni masih bungkam dalam tanda-tanya, kedatangan Den Ayu ke pantai itu tak pernah diduganya. Matanya yang jeli menelisik setiap lekuk wajah Den Ayu yang masih tampak memesona.

“Seharusnya dia wanita yang cantik sekali !, pria seperti apa yang sudah membuatnya menjadi seperti ini ?”, mulutnya bergumam sendiri. Dipegangnya lagi kamera usangku dan dibidiknya wajah Den Ayu dengan itu. Tangan Neni mulai bergerak-gerak mencoba mendapatkan gambar yang pas dari wajah kusut masai Den Ayu. Dia lalu mecoba mendekat untuk beberapa langkah ke depan, hati-hati sekali.

Den Ayu seakan tak peduli pada intaian Neni dengan kamera tuaku. Setelah berteriak beberapa kali, tampaknya perasaan hatinya sedikit mereda. Sekarang dia jatuh bersimpuh di atas pasir basah, bibirnya tampak komat-kamit mengucapkan sesuatu. Dan matanya yang redup lurus memandang ke arah laut yang bergolak.
“Maaf, saya mau mengajak Den Ayu pulang…”, pamit si Emban itu padaku. Aku mengangguk saja, aku ikuti langkah Emban itu dengan tatapan mata. Wajah sedih Emban itu tergambar jelas di raut mukanya.

Dan akhirnya Den Ayu pun menurut pulang, dengan digandeng Emban yang menjaganya.
Neni bergerak ke arahku sambil tatapannya tak lepas dari kedua perempuan berumur itu.

“Apa yang terjadi padanya ?”, lirih dia bertanya.
“Entahlah…. Sakit hati dan kesepian karena ditinggalkan suaminya karena istri-istri yang lain, itu yang aku dengar dari Emban yang melayaninya…”.
“Poligami ?”.
“Begitulah yang kudengar sejauh ini…”.
“Di jaman sudah maju begini, masih saja ada lelaki berpikiran primitif yang punya kelakuan seperti itu. Aku benci poligami !”, bibir Neni mencibir sengit, matanya tak lepas dari punggung kedua wanita paruh baya yang kini mulai mendekat ke arah sebuah mobil mewah berwarna hitam yang terparkir di dekat deretan warung kopi dan cendera mata.

Aku hanya memandangnya sekilas dengan sudut mata. Kebencian seorang perempuan pada poligami adalah lumrah, begitu menurutku. Seperti ketika aku benci sewaktu aku tahu kalau Jamilah, pacar SMA-ku dulu, juga berpacaran dengan Suradi, teman sekelasku.

“Kamu sudah mengambil berapa gambar ?”, aku mencoba mengalihkan percakapan.
“Hmm, ada kira-kira sepuluh atau dua belas gambar. Ada beberapa gambar Den Ayu yang aku ambil dari beberapa sudut yang berbeda. Apa kita sudah bisa mengambil hasilnya ?, atau kita harus menghabiskan satu rol film ini sekarang ?”, tanyanya padaku sembari menyodorkan kamera itu kembali.
“Bisa saja kita mencuci-cetakkannya sekarang, tidak perlu harus menghabiskan seluruh rol film ini”, kataku menjelaskan. Neni mengangguk tanda mengerti. Rupanya dia cepat belajar, baru saja aku memberitahunya bagaimana mengambil fokus sebuah obyek, sekarang dia sudah bisa mengambil gambar sendiri. Aku jadi penasaram juga ingin melihat hasilnya.
“Aku bawa dulu ke laboratorium, besok pagi kalau sudah jadi aku bawa kesini, jamnya seperti tadi…”.
“OK. Aku disini saja, ya ? Analisis lapanganku belum kelar nih…”, kata Neni padaku. Aku pun mengangguk dan berpamitan pulang.

Malam itu, mataku tak henti menyelidik ke setiap inci foto-foto hasil jepretan Neni tadi pagi. Beberapa tampak masih tidak begitu fokus, tapi beberapa lagi sudah menunjukkan hasil yang lumayan. Hanya saja, lagi-lagi aku melihat bayangan ombak dalam setiap gambar Den Ayu. Yang sudah fokus, maupun yang sedikit buram, semuanya dengan bayangan ombak bergelombang, bergulung-gulung samar seakan ingin menerkam tubuh Den Ayu yang sekarang tampak ringkih. Bayangan itu tak urung membuat kedua alisku berkerut. Aku tak habis pikir mengapa ini terjadi lagi. Ada apa dengan kamera ini sebenarnya ?

Aku memasukkan semua hasil foto ke dalam sebuah amplop coklat, aku akan menyerahkan semua foto itu pada Neni besok pagi sesuai janjiku padanya. Aku simpan baik-baik amplop itu di atas meja kamar. Dan aku segera merebahkan diri di atas dipan. Aku mencoba memejamkan mata, tapi entah mengapa wajah sedih Den Ayu dan bayangan ombak dalam fotonya itu begitu mengusikku. Berkali-kali aku membolak-balikkan badan, tetap saja aku tak bisa tidur. Aku pun keluar kamar, membuat segelas kopi di dapur, lalu menyeruputnya pelan-pelan di ruang makan.

Mas Marso rupanya juga tidak bisa tidur malam itu. Dengan heran dia melihatku sedang asyik menyeruput kopi dari gelas.
“Wah, malam-malam begini malah minum kopi…. Apa kamu mau lek-lekan ?”.
“Enggak, cuma satu gelas saja, biar badanku hangat….”, sahutku sekenanya.
“Apa kamu sedang kedinginan ? Sepertinya kamu waras-waras saja…".

Aku tidak menjawab, aku biarkan saja Mas Marso menebak-nebak apa yang terjadi padaku. Mas Marso mengambil kursi yang ada di hadapanku. Dia menyulut rokok kretek kesukaannya yang berbungkus biru. Aku tidak suka merokok, baunya tidak pernah membuatku suka. Tapi aku tak pernah bisa melarang Mas Marso berhenti melakukannya. Dengan uang yang bisa diperolehnya sendiri dari pekerjaannya sebagai guru SMP, sepertinya Mas Marso cukup layak untuk diberi kebebasan menikmati rokok yang dibelinya. Aku tak sampai hati melarangnya. Meski aku juga tahu kalau rokok itu tidak baik bagi kesehatannya. Hal yang aku yakin pasti sudah dia mengerti tanpa aku memberitahunya.
Asap mengepul keluar dari mulutnya, membuatku sedikit terbatuk. Dia cepat-cepat membuang asap berikutnya ke arah lain agar aku tidak lagi tersedak. Lalu dia menatapku lekat-lekat.

“Apa yang mengganggu pikiranmu sampai kamu tidak bisa tidur begini ?”.
“Tidak ada…”, aku berusaha mengelak.
“Kamu pikir aku masih anak kemarin sore yang bisa kamu bohongi ? Ada apa, Di ?”, tanyanya dengan suara dalam. Aku ganti memandangnya. Aku lalu masuk ke kamar dan mengambil amplop coklat yang berisi foto Den Ayu. Mas Marso menerima amplop itu dengan tanda-tanya.
“Foto ?, foto siapa ?”.
“Ini…, beberapa foto Den Ayu Juwono…”, kataku pelan. Mata Mas Marso melihat dengan teliti ke arah foto-foto itu. Tiba-tiba dia menoleh ke arahku dan bertanya dengan marah.
“Istri siapa yang kamu dekati ini ? Apa kamu tidak bisa mencari perempuan lain yang umurnya sebaya denganmu ?”, katanya dengan gusar. Matanya melotot, dan wajahnya memerah.
“Ah…., Mas Marso ini mbok ya nggak usah ngawur. Dia itu bukan siapa-siapa, Mas…. Dia itu obyek foto muridku…. Dia yang kebetulan tadi hadir di pantai. Kecantikan Den Ayu yang sudah berumur itu membuat muridku ingin memotretnya. Bukan aku yang mengambil gambarnya…”, kataku menjelaskan dengan wajah bersungguh-sungguh. Mas Marso melihat lagi foto-foto itu, lalu ketegangannya mengendur.
“Hmm, jadi bukan kamu ? Pantas gambarnya tidak begitu jelas…. Banyak bayangan di foto-foto ini…”, komentarnya pendek.
“Itu yang membuatku heran…”.
“Heran ?”.
“Ya…. Kenapa foto Den Ayu selalu muncul dengan bayangan ombak bergulung ?”.

Mas Marso memandangi lagi foto-foto itu dengan seksama. Aku masuk lagi ke dalam kamar dan membawa beberapa lembar foto yang pernah aku ambil di pantai beberapa bulan yang lalu. Kusodorkan foto-foto itu pada Mas Marso, kali ini dahinya mengernyit dan matanya menyipit.
“Apa kamu sudah periksa kameranya ?”.
“Sudah. Malah aku sudah mencucikan lensanya ke tempat Pak Joni. Katanya lensa kameraku tidak ada apa-apanya…”, kataku lagi. Mas Marso menghela napas.
“Aneh…, bagaimana bisa ?”.
Aku cuma mengangkat bahu tanda tak mengerti. Fenomena ini memang sangat ganjil.
“Kalau kameramu tidak apa-apa, berarti Den Ayu yang kenapa-kenapa…”, celetuk Mas Marso.
“Kenapa-kenapa bagaimana ?”, tanyaku penasaran.
“Hmm, aku belum tahu. Kamu hati-hati saja…”, katanya sambil menepuk pundakku, membuat aku semakin bingung.

Senyum Neni yang sesaat sempat mengembang tiba-tiba meredup lagi. Matanya terus meneliti gambar dalam foto yang diambilnya kemarin.
“Aku salah memakai kameranya, ya ?”.
“Tidak, kamu tidak salah…”.
“Kenapa hasilnya jelek begini ?”.
“Itu juga yang ada dalam pikiranku ketika aku mengambil gambar Den Ayu…”.
“Maksudmu apa ?”.
“Sudah beberapa kali aku mengambil foto Den Ayu di pantai itu, hasilnya sama…, begini juga…. Selalu ada bayangan ombak bergulung di sekitar Den Ayu. Aku tidak tahu kenapa…”.
“Aneh….”.
Aku mengangkat bahu, wajah Neni tampak sekali tak puas dengan hasil potret jepretannya itu.
“Kamu bisa mengambil gambar obyek lain…, burung camar yang ada di laut itu, misalnya. Aku kira obyek itu tak kalah bagusnya dibanding wajah Den Ayu”.
Neni menggeleng.
“Ini menarik ! Sangat menarik ! Aku minta foto ini, aku mau balik ke kota dulu, ada urusan yang harus aku selesaikan disana…”, pamitnya.
Aku mengangguk, kuberikan foto-foto itu, dan dia memberiku imbalan seperti yang telah kami setujui bersama. Neni melangkah dengan cepat, seakan tak sabar dengan urusan yang akan diselesaikannya nanti. Hmm…, barangkali waktu memang sudah menjadi hal yang sangat berharga baginya.

“Ada salam dari Mbak Neni”, kata Lik Karjan.
“Lho, apa dia baru saja kesini to, Lik ?”.
“Kemarin sore, sehabis kamu pulang. Dia bilang mau minta maaf sama kamu, Le…”.
“Kenapa harus minta maaf ?”.
“Dia sudah ndak jujur sama kita…”.
“Maksudnya ?”.
“Sebenarnya Mbak Neni itu wartawan, dia sedang mencari cerita yang bisa dimuat di majalah. Katanya dia sudah ketemu satu cerita yang bagus dari kamu.

Sebenarnya cerita apa to, Le ?”.
Aku terdiam, meraba-raba cerita apa yang bisa didapatnya dariku. Cerita tentang foto itukah ?
Aku baru saja mau minum kopi di warung Lik Karjan sewaktu aku sekilas melihat kehadiran Den Ayu dan seorang lelaki berusia kira-kira 50 tahunan. Keduanya menuju ke arah pantai. Lebih tepatnya, sang lelaki mengejar Den Ayu yang terus berlari mendekati bibir pantai, seakan tidak memedulikan siapapun yang ada di sekelilingnya. Seperti biasa, Den Ayu menjerit dengan teriakan panjang, mengagetkan sang lelaki yang tampak kepayahan.
Lelaki itu memeluknya erat-erat, bahu Den Ayu didekapnya dengan kedua lengan dari belakang. Dari jauh, aku cuma bisa melihat ujung rambut Den Ayu yang tertiup angin. Sang lelaki tampak membisikkan sesuatu di telinganya, membuat Den Ayu sedikit terdiam. Mereka bersimpuh mesra seperti sepasang remaja, berpelukan seakan tak ingin saling melepaskan.

Tiba-tiba tanah tempatku berpijak serasa bergoyang, gelas kopiku terlontar ke tanah. Kulihat sekeliling dengan bingung. Apakah aku sakit ? Mengapa tanah ini tampak berjalan ? Aku terjatuh kala tanah itu bergoyang lagi, kepalaku yang terantuk meja kayu membuatku merasa pusing.
Baru saja aku berdiri dari tempatku terjatuh, tiba-tiba deru suara terdengar dari tengah laut. Mataku terpana, sempat kulihat ombak bergulung-gulung mendekat ke arah pantai. Ombak itu !
Mataku kulempar ke arah Den Ayu dan lelaki yang berdekapan dengannya. Keduanya tampak tertegun memandang datangnya sang ombak yang sekarang sudah setinggi 8 meter. Keduanya mematung, membisu. Lalu ombak itu menerjang…, menyeret keduanya masuk ke dalam laut….
Aku segera menyadari apa yang tengah terjadi. Aku berpaling arah dan berlari, membawa diriku jauh-jauh dari pantai. Jauh…, sejauh mungkin…. Sebuah batu karang raksasa kupanjat dengan sekuat tenaga, dan aku berdiri di atasnya.
Dan di pantai itu, kini tak kulihat lagi bentuk indah Den Ayu dan sang lelaki. Tidak juga kulihat warung Lik Karjan yang bersahaja. Semua hilang, tak bersisa….

Selesai

dreamstimefree_3627416
 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.