56 Etnis Suku di China : The Nus

Sophie Mou

Inilah salah satu Etnis Minoritas yang tinggal di daerah Yunnan, Etnis minoritas Nu. Dibandingkan dengan kelompok etnis lainnya di Cina, penduduk Nu relatif kecil – hanya ada 28.759 menurut sensus yang diambil pada tahun 2000. Lebih dari 95% Suku Nu tinggal di Lushui (disebut Bijiang sebelum 1984), Fugong, Gongshan, Lanping county di barat laut Provinsi Yunnan. Sejumlah kecil Nu’s tinggal di Weixi (di Prefektur Otonomi Diqing di Yunnan) dan Kabupaten Zayul di Tibet.

The Nu's terdiri dari gabungan empat suku yaitu  "A long", "Anu", "Nusu" dan "Rouruo", dilihat dari reruntuhan dan relik di Lanping dan Fugong, Nu's mulai tinggal di tepi sungai Lancang 4 ribu tahun yang lalu.

Nu Jiang 2

village

crosing

river

The Nu's adalah suku kuno yang awalnya tinggal di tepi Sungai Nu dan Lancang. Catatan sejarah menunjukkan bahwa mereka adalah keturunan kedua dari  Luluman yang mendiami daerah Gongshan selama Dinasti Yuan dan suku lainnya yang tinggal di daerah Gongshan. Kedua suku yang bercampur dan kawin, akhirnya melahirkan kelompok baru – Nu meskipun beberapa karakteristik khas dari masing-masing kelompok dipelihara.

Sejak Dinasti Qing (1616-1911), Etnis Minoritas Nu telah tinggal di daerah yang merupakan bagian dari Lijiang Prefektur. Pada abad ke-17, Suku Bai, Naxi dan Tibet  menguasai dan memerintah bersaman di tanah Suku Nu. Selain itu, Suku Lisu juga menindas Nu, merebut tanah orang-orang Nu menjadikan banyak dari mereka sebagai budak. Pada tahun 1949, tentara rakyat china  membebaskan wilayah itu secara damai dan disepakati bahwa mereka akan mendapat nama resmi Nu Etnis Minoritas.

bingzhongluo

house 1

The Nu's yang tinggal di Zayul County di Tibet dan di Yunnan Gongshan menyebut diri mereka " A long". Sedangkan yang tinggal di County Fugong menyebut diri mereka "Anu" dan "Nusu" ( "Nusu memiliki penduduk terbesar dalam Suku Nu). Mereka yang tinggal di County Lanping menyebut diri mereka "Ruorou".

Bahasa

Empat suku Nu mempunyai bahasa mereka sendiri, yang termasuk ke dalam Tibet Burma yang merupakan cabang dalam rumpun bahasa Sino Tibet. Ruorou dan Nusu mempunyai bahasa yang paling mirip dengan bahasa Yi (Yi adalah Etnis minoritas di Cina, tinggal di Yunnan), dan mereka bahkan berbagi beberapa akar kata yang sama. A long dan Anu mempunyai bahasa yang sama sekali berbeda dari bahasa Yi, tapi mirip dengan bahasa Jingpo (Jingpo adalah Etnis minoritas di Cina, tinggal di Yunnan).

Saat ini Suku Nu telah hidup bersama dan berbaur di wilayah yang sama dengan Suku Lisu, Suku Tibet,  Suku Han, dan banyak terjadi perkawinan antar suku2 tersebut. Suku Nu yang telah berbaur, dapat menguasai lebih dari satu bahasa, selain bahasa mereka sendiri.

Pakaian

Pria dari suku Anu dan Nusu memiliki rambut panjang. Beberapa di antaranya memiliki rambut panjang hingga melewati telinga, dan beberapa lagi dikepang. Para kepala kampung dan orang-orang kaya sering memakai karang di telinga kanan mereka. Kaum Lelaki dari Anu dan Nusu memakai gaun panjang bergaris linen hingga lutut dan berlengan panjang, yang longgar dan tidak memiliki kerah dan kancing di sebelah kanan. Ada dua kantong dijahit ke depan kain ( bahan dari kapas atau linen, biasanya kantong dalam warna hitam dan putih atau hitam dan garis-garis biru).

Mereka suka memakai celana linen pendek dan bertelanjang kaki. Kaum dewasa Anu dan Nusu mengenakan pelindung tulang kering anyaman dari potongan bambu tipis untuk melindungi diri dari ular, serangga, dll di hutan atau di ladang. Di bahu kiri mereka ada busur atau Dabiya tercinta , semacam alat musik dawai. Mereka menggantung golok (yang diletakkan dalam keranjang bambu atau sarung) di sisi kanan pinggang mereka.

boyNu girl

wedding

Yang Gadis mengenakan rok linen setelah mereka berumur sebelas. Mereka mengenakan gaun putih, dengan kancing di kiri, kadang-kadang dengan gelap merah atau jaket biru tua sejajar di atas gaun. Mereka mengenakan rok panjang berwarna gelap. Perempuan yang sudah menikah harus mengenakan rok dengan warna kontras, dan mereka juga memakai tas Suku Nu yang dibuat dari anyaman bilah bambu tipis. Mereka juga suka memakai hiasan kepala yang indah terbuat dari rangkaian karang, kerang, mutiara dan perak.

girls

Pria dewasa dari Suku Rouruo membungkus kepala dengan turban hitam. Mereka mengenakan pakaian semacam jaket bergaya Cina dengan kancing terbuka, celana panjang dan  sandal jerami atau bertelanjang kaki. Perempuan juga membungkus kepala mereka dan memiliki sedikit hiasan kepala. Mereka mengenakan pakaian linen kasar biru, keliman depan yang lebih pendek dari yang belakang.

Mereka mengenakan celana panjang, sandal jerami atau bertelanjang kaki. Laki-laki dari keluarga kaya memakai penutup kepala atau topi satin, kemeja  tak bergaris panjang dengan jas pendek di atas, dan mereka memakai sepatu kain.  Perempuan dari keluarga kaya memakai tutup kepala yang lebih besar, anting-anting, dan gelang.Mereka biasanya mengenakan sepatu bersulam. Mereka mengenakan celana linen, dan rompi gelap diatas baju di musim dingin atau saat hujan dan udara mulai dingin.

Para wanita mengenakan rangkaian manik-manik merah atau hijau di dada Jika perempuan tidak mengenakan rok, maka mereka memakai celana panjang. Gadis gadis suka  mengenakan rok yang dinamakan Pulu di bagian depan selimut (Pulu adalah sebutan motif kain tibet, yang terbuat dari kain wol kasar dan bulu yak). Wanita tua suka membungkus diri dengan apron berwarna hitam yang sama dengan Suku Naxi.

Makanan

Makanan pokok suku Nu adalah jagung  Mereka juga makan nasi, soba semacam mie dingin, biji-bijian, gandum. Daging yang mereka makan biasanya dari hasil buruan dan ternak, seperti babi, ayam, sapi dan domba. Sayuran yang mereka tanam  kubis, labu, lobak, ubi jalar, dan sayuran hijau. Mereka juga banyak menggunakan cabai merah, bawang merah, jahe,  bawang putih.

Suku Nu memiliki beberapa makanan khas, seperti Xiala. Xiala dalam bahasa Nu berarti daging yang dimasak dengan arak. Xiala biasanya dimasak untuk wanita yang baru melahirkan. Makanan lainnya bernama Gongla. Cara pembuatan makanan ini mirip dengan Xiala, hanya saja daging tidak dimasak tetapi digoreng dengan arak.

nu food

Kebudayaan

Bentuk penguburan tradisional, laki-laki akan dikubur dengan wajah menghadap ke atas dengan tungkai lurus, sementara perempuan berbaring miring dengan kaki ditekuk. Dalam kasus pasangan yang sudah mati, perempuan dibuat untuk berbaring menghadap pasangannya dan dengan anggota badan membungkuk – melambangkan penyerahan perempuan ke laki-laki. Ketika seorang dewasa meninggal, semua anggota klan atau komune desa melakukan perkabungan selama tiga hari .

The Nu's tinggal di rumah-rumah kayu atau bambu, masing-masing biasanya terdiri dari dua kamar. Bagian luar adalah untuk tamu dan juga berfungsi sebagai dapur. Di tengah adalah perapian, dengan besi atau batu untuk menggantung panci masak . Ruang dalam digunakan sebagai kamar tidur dan penyimpanan makanan, dan terlarang bagi orang luar. Rumah-rumah dibangun atas usaha bersama dari semua penduduk desa dan biasanya didirikan dalam satu hari.

Suku Nu secara alami terampil memainkan alat musik, khususnya 'Dabian,' sebuah alat yang menyerupai dawai yang terbuat dari bulu bambu dan 'Nili', semacam instrumen gitar kecil. Ketika seorang pria Nu ingin merayu seorang gadis, ia harus memainkan salah satu dari dua dan gadis akan menjawab sambil bermain. Melalui cara ini, mereka mengungkapkan pikiran mereka tentang pekerjaan dan kehidupan sampai mereka memutuskan untuk menjadi sepasang kekasih.

Suku Nu memperingati hari raya tahun baru Lunar. Pada hari pertama tahun baru Lunar , Suku Nu mempersiapkan hidangan pagi-pagi, mereka mulai mengundang teman-teman untuk menikmati makan bersama. Selain tahun baru, perayaan penyembahan kepada Dewa Hutan dan Dewa Beras , dan Flower Festival yang jatuh pada tiap tgl 15 –17 maret penanggalan Lunar, dan Perayaan Ruwei pada tgl 29 december penanggalan Lunar,  serta perayaan Festival Gunung pada tgl Jan 4 penanggalan Lunar.

Mengenai Flower Festival terdapat Legenda mengatakan bahwa dewa Nu awalnya adalah Nu muda seorang perempuan bernama A-Rong. Diilhami oleh sebuah jaring laba-laba, ia menciptakan semacam tali-jembatan yang memungkinkan orang-orang Nu untuk menyeberangi sungai. A-rong juga membuat saluran irigasi dari mata air gunung ke tepi Sungai Nujiang yang berubah Pegunungan menjadi hijau.

Legenda menceritakan bagaimana kepala suku Hou berusaha memaksa A-Rong untuk menikah dengannya. A-Rong menolak, dan melarikan diri ke pegunungan. Tetapi kepala suku mengejarnya dan akhirnya pada 15 Maret dari tahun lunar, membakar A-Rong sampai mati. Suku Nu memuja A-Rong atas pengorbanannya dan sebagai bentuk apresiasi dari kontribusinya terhadap kehidupan mereka. Mereka merayakan Flower Festival pada 15 Maret setiap tahun untuk menghormatinya.

the_fairy_festival

Pada awal pagi 15 Maret Suku Nu memakai pakaian terbaik dan mereka memetik bunga azalea menuju gua yang disebut Gua Peri sebagai tanda dimulainya ritual pengorbanan dan pengabdian.

Ketika upacara peringatan berakhir, tua dan muda menikmati pesta udara terbuka. Mereka kemudian berkumpul di sekeliling api unggun untuk melakukan tarian yang menampilkan karangan bunga segar, bernyanyi dan bercerita. Kegiatan festival juga termasuk permainan bola dan kegiatan panahan.

the_fairy_festival_of_nu

Suku Nu menganut aliran animisme, mereka menyembah matahari, bulan, bintang, gunung, sungai, pohon dan batu. Seiring dengan kemajuan jaman, beberapa dari Suku Nu menganut agama Lamaism dan Kristen.

Walaupun Suku Nu tidak banyak penduduknya,  Pemerintah Cina memberikan perhatian yang besar terhadap Suku Nu. Pemerintah daerah membagi-bagikan bibit2 tanaman, biji-bijian, alat-alat pertanian dan barang untuk penggunaan sehari-hari kepada Suku Nu. Pemerintah membantu mereka dan memberikan penyuluhan mengenai bercocok tanam.

Pada tahun 1954 Prefektur Otonomi Lisu Nujiang didirikan, yang berada di bawah yurisdiksinya adalah daerah Bijiang, Fugong, Gongshan, Lushui dan Lanping (dimasukkan terakhir ini pada tahun 1957). Pada tanggal 1 Oktober 1956, Nu Gongshan dan Kabupaten Otonom didirikan.

Langkah reformasi sosial bervariasi di daerah Suku Nu disesuaikan dengan kultur daerah. Sebagai contoh, didaerah Lanping, di mana feodalisme telah berkembang dengan kuat, reformasi tanah dilakukan, diikuti dengan pembentukan koperasi pada tahun 1956. Di daerah Bijiang, Fugong dan Gongshan, di mana sisa-sisa komunalisme primitif masih bertahan, pemerintah menerapkan kebijakan pengembangan produksi dan kemudian secara bertahap menghilangkan praktek-praktek eksploitasi.

Orang-orang dari luar dikirim untuk mengajarkan teknik produksi yang lebih maju, dan memulai pendidikan serta proyek-proyek kesehatan masyarakat. Dana khusus dialokasikan untuk proyek-proyek irigasi, reklamasi tanah, pengembangan sawah dan produksi. 

Industri ringan dan pertambangan juga telah dibuka di daerah Suku Nu, produksi padi-padian telah meningkat beberapa kali karena transformasi tanah miskin ke sawah. Nu's sebelumnya yang terpencil masyarakatnya sekarang terhubung satu sama lain dengan jaringan jalan raya, dan sekitar 20 rantai jembatan sekarang menjangkau Nujiang, Lancang dan sungai Dulong.

Pada saat pertengahan abad ke-20, hanya sekitar 20 orang dari Nu's yang menerima pendidikan sekolah dasar. Sekarang ada sekolah dasar di semua kota-kota dan sebagian besar desa-desa, dan sebuah sekolah menengah di setiap kabupaten. Mayoritas anak-anak Suku Nu telah bersekolah.

Empat rumah sakit dan jaringan klinik dan pusat kesehatan masyarakat telah berbuat banyak untuk mengendalikan disentri, tifus, kolera dan epidemi lainnya.

 

Reference :

travelguidechina.com

china.org.shaosuminchu

Sumber-sumber lain Etnis Minoritas di China

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.