Tafsir Sejarah Arok – Dedes

Rina S – Bogor

Dear sobat Baltyra di manapun berada…

Tulisan ini sekedar sharing dari sebuah buku yang saya baca untuk pertama kalinya 6 atau 7 tahun yang lalu. Yap, novel Arok Dedes karya Pramoedya Ananta Toer. Dalam novel yang dikatagorikan novel sejarah ini , kisah Arok Dedes tidak sekedar dijadikan latar belakang sebuah cerita, tapi dibuat dalam bentuk tuturan sebuah lakon.

Satu dari sekian peristiwa sejarah kerajaan-kerajaan di tanah air Lakon Arok-Dedes adalah yang paling terkenal. Tak mungkin rasanya bicara kebesaran tentang kerajaan Majapahit tanpa menyinggung kisah Arok – Dedes. Karena merekalah cikal bakal lahirnya dinasti Singasari dan Majapahit.

arok-dedesDan kisah Arok –Dedes tidak bisa tidak mengingatkan saya saat masih duduk di sekolah dasar dan sekolah menengah pertama. Dalam versi sejarah sekolah yang saya ingat; Arok jatuh cinta pada Ken Dedes yang tak lain adalah istri Tunggul Ametung. Tunggul Ametung adalah seorang penguasa Tumapel, Tunggul Ametung diceritakan sebagai orang yang haus kekuasaan, kejam dan penindas. Rasa cinta ini yang membuat Arok akhirnya membunuh Tunggul Ametung dengan sebilah keris buatan Mpu Gandring. Sebelumnya, Ken Arok membunuh Mpu Gandring untuk mendapatkan keris itu. Arok menggantikan Tunggul Ametung menguasai Tumapel sekaligus menikahi Ken Dedes.

Apa yang beda dari sejarah versi roman sejarah Pramoedya Ananta Toer? Selain kudeta ini diceritakan dalam bentuk novel yang terasa hidup juga tafsir intrik politik dalam kudeta ini. Walaupun saling rebut kekuasaan antar raja-raja di jawa sudah berlangsung abad-abad sebelumnya namun perebutan kekuasaan yang dilakukan Arok lah yang dinilai ‘cara moderm’, penuh intrik. Dan cinta antara Arok dan Dedes pun berbau politis.

Dikisahkan, berita tentang kecantikan seorang perempuan yang juga putri seorang Brahmana bernama Mpu Purwa, sampai ke telinga Tunggul Ametung. Tunggul Ametung lalu memerintahkan untuk menculiknya dan kemudian dinikahinya secara paksa. Perempuan itu adalah Dedes. Mpu Purwa yang tidak pernah mengakui kekuasaan Tunggul Ametung mengetahui anak gadisnya diculik marah dan bersumpah, bahwa Tungul Ametung akan mati terbunuh sedangkan dari rahim Dedes akan lahir orang-orang besar (raja).

Tunggul Ametung berkuasa hanya karena keberanian dan kekejamannya, sesungguhnya ia adalah orang bodoh, tidak bisa membaca ataupun menulis. Ia seorang dari kelas sudra. Ia mewajibkan upeti kepada rakyatnya untuk kemudian sebagian ia serahkan pada Kediri. Dengan begitu kekuasaannya tetap terlindungi.

Di tempat terpisah, hidup seorang pemuda bernama Arok. Dikisahkan, saat masih bayi Arok dibuang ibu kandungnya kemudian ditemukan dan dijadikan anak pungut oleh Ki Lembung. Suatu hari sepulang menggembala, Ki Lembung mendapati satu kambingnya hilang, ia marah dan Arok pun diusirnya. Arok tidak mengakui jika kambingnya itu ia berikan pada penduduk desa yang harta bendanya habis dirampok prajurit Tunggul Ametung. Kejadian itu pula yang membuatnya menyadari kekejaman penguasa Tumapel dan mulai tumbuhnya benih kebenciaan terhadap Tunggul Ametung. Arok kemudian bertemu dengan Bango Samparan yang kemudian mengantarkannya untuk berguru pada seorang brahmana. Kecerdasan dan ketangkasanya telah memikat hati para brahmana. Mereka mempunyai satu kesamaan: menginginkan Tunggul Ametung turun dari kekuasaannya. Arok pun di nobatkan sebagai;’garuda harapan kaum brahmana.’

Arok berhasil menyatukan semua pemberontak yang menginginkan Tunggul Ametung turun dari kekuasaannya. Strategi pun dimulai untuk menggulingkan kekuasaan Tunggul Ametung. Dengan koneksi yang dimiliki seorang brahmana bernama Lohgawe, Arok masuk dalam lingkungan kekuasaan Tunggul Ametung sebagai seorang prajurit. Karirnya dalam jajaran prajurit Tunggul Ametung melesat karena Arok selalu berhasil memadamkan setiap pemberontakkan. Padahal tak pernah ada pertempuran antara prajurit Arok dan pemberontak karena Arok lah yang mengatur dan membawahi pemberontakkan itu.

Kehadiran Arok dilingkungan penguasa Tumapel, dengan kepandaiannya dalam membaca dan menulis sansekerta menarik perhatiaan Dedes. Terlintas dipikirannya bahwa Arok yang lebih pantas menjadi pendampingnya dan menjadi penguasa Tumapel.

Pada waktu yang bersamaan, Mpu Gandring, seorang pandai besi pembuat dan pemilik pabrik senjata di Tumapel, menyusun strategi lain untuk melakukan kudeta. Ia menghasut beberapa prajurit dibawah komando Kebo Ijo untuk berada dipihaknya dengan imbalan emas dan sebagian kekuasaan.

Rencana kudeta Arok yang didukung para Brahmana bukan semata menginginkan penguasa yang dinilai bijak dan baik, para brahmana menginginkan Arok mengembalikan kebesaran dewa Syiwa karena selama di bawah kekuasaan Tunggul Ametung, dewa Wisnu yang di agung-agungkan, dewa yang dianut kebanyakan kelas sudra. Jadi di sini ada kepentingan agama yang dipertaruhkan.

Mpu Purwa, Ayah Dedes, salah satu brahmana yang mendukung kudeta ini. Hal ini membuat Dedes, mau tidak mau, terlibat secara langsung dalam pembunuhan suaminya sendiri. Selama perencanaan kudeta Ken Dedes muali terlibat secara langsung pada urusan istana. Sebelumnya ia mengurung diri sebagai bentuk rasa bencinya pada suaminya, Tunggul Ametung. Namun hatinya mulai bergejolak, bagaimana pun Tunggul Ametung adalah ayah dari bayi yang baru di kandungnya 2 bulan. Ia tidak menginginkan anaknya lahir tanpa seorang ayah. Di lain pihak, dukungannya terhadap pembunuhan suaminya berarti baktinya terhadap orang tua dan dewa Syiwa.

Sebuah roman atau novel fiksi tetaplah sebuah fiksi yang tidak bisa dijadikan bahan rujukan data atau kebenaran sejarah begitu pula buku ini walaupun pada beberapa hal kebenarannya bisa ditelusuri. Adapun tafsir sejarah yang dilakukan Pramoedya adalah sebuah keniscayaan dan bahwa tafsir sejarah bukanlah sekedar fantasi yang ‘romatis’.

Pengetahuan Pramoedya yang cukup dalam terhadap sejarah Babad Jawa membuat novel ini lebih terasa hidup. Dengan menautkan beberapa istilah dan upacara dalam keagamaan Hindu dalam jalinan cerita.

Pada akhirnya, ambisi Ken Arok tercapai. Tunggul Ametung dengan sebuah keris buatan Mpu Gandring miliknya yang selama ini ia titipkan pada Kebo Ijo. Istana gempar, kesempatan itu digunakan Arok untuk membunuh Kebo Ijo yang dituduh membunuh Tunggul Ametung. Dengan meninggalnya Tunggul Ametung Arok menjadi penguasa Tumapel beristrikan Ken Dedes. Dan Lohgawe pun memberikan gelar Ken yang digunakan di depan namanya. Sebelumnya Arok telah menikah dengan seorang perempuan bernama Umang.

“kini ia harus berbagi tempat dengan seorang lelaki yang jadi suaminya. Arok-seorang lelaki yang dicintainya dengan tulus. Tapi ia tidak rela berbagi kekuasaan dengannya. Dan kini ia pun harus berbagi tempat dengan Pramesyawari lain, Ken Umang – seorang perempuan yang baru dikenalnya. Ia tidak rela berbagi peraduan dan berbagi kekuasaan dengannya. (hal 412)".

Sampai di sini novel berakhir.

arokdedesSejarah berlanjut. Ken Arok berhasil merebut Kediri. Sekitar 27 tahun Ken Arok berkuasa. Anusapati, anak Ken Dedes dengan Tunggul Ametung membunuh Ken Arok setelah mengetahui bahwa Ken Arok yang membunuh bapaknya. Ken Arok dibunuh dengan keris yang sama dengan saat ia membunuh Tunggul Ametung. Anusapati berkuasa selama 20 tahun karena kemudian ia dibunuh dengan keris yang sama oleh Panji Tohjaya. Anak hasil perkawinan Ken Arok dengan Ken Umang.

Sejarah terus berlanjut pada cerita keturunan mereka, saling rebut dan guling kekuasaan. Yang kuat yang menang, begitu seterusnya sampai akhirnya Belanda datang dan sukses memecah belas kerajaan-kerajaan ini untuk kemudian dikuasai Belanda selama 300 tahun!

Esensi sebuah sejarah adalah seberapa besar pelajaran yang dapat diambil manfaatnya untuk kemajuan sebuah bangsa.


Catatan:

Ken adalah sebuah gelar. Dedes mendapat gelar Ken setelah dinikahi Tunggul Ametung.

Salam,
Rina S

Penikmat karya-karya Pramoedya Ananta Toer, lepas dari pandangan politiknya.
www.momsbooksclub.blogspot.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.