Search in Archive

Select a date
Select a category
Search with Google

Manahan Solo: satu saat, hari Minggu…

Monday, 23 November 2009

Viewed 2184 times, 1 times today | 88 Comments |

Bagong Julianto, Sekayu-Sumsel

Manahan Solo

Satu kawasan publik yang sejak jadul menjadi area berolah raga adalah Gelora Manahan Solo. Lapangan rumput terbuka, dengan dilingkari jalan aspal, jadul digunakan untuk lintasan jogging. Saat ini, dengan pesatnya pembangunan kota Solo, komplek Manahan semakin rapi tertata, baik sebagai sarana olah raga maupun wisata kuliner. Letaknya dibatasi oleh Jalan KS Tubun pada sisi utara dan Jl. Adi Sucipto pada sisi selatan, Kal. Manahan, Kec Banjarsari, termasuk sisi barat laut dari pusat kota.

Satu Hari Minggu, Awal Oktober 2009

Jam 09.00 pagi pengunjung telah menyemut. Kami masuk dari sisi timur utara.

Sebagai makanan/sarapan pembuka, seperti yang sudah menjadi kebiasaan, segelas juice diharapkan akan melumeri usus sebelum nanti menggiling yang keras. Dengan harga segelas antara Rp.4.000,- s/d Rp.6.000,- juice cinta romantis berseri hijau dan anti kerut sepertinya mau digelontorkan semua. Itu kalau lambung saya bisa mekar melar.

Sadar bahwa perut ini bukan waduk Jatiluhur atau Gajah Mungkur, bertiga kami pesan juice cinta romantis berseri. Juice jeruk apel melon. Saling cicip, bagi kami adalah hal biasa. Cicipnya sampai sepertiga porsi! Ada juga es sersat C, gimmick plesetan dari sirsak. Gak dipilih karena yakin telah sembuh dari asam urat. Satu tahun lebih setiap pagi semangkok gajah juice sirsak digelontorkan untuk mengikis asam urat, saya pikir sudah lebih dari cukup.

Setelah mengitari dan mengelilingi jalur kuliner, satu lokasi sisi timur menjadi pilihan. Kerimbunan pohon trembesi menaungi siang yang mulai menyengat. Di seputaran, aneka pilihan menu klasik jaman noroyono sudah sukses menjebol bendungan liur/saliva di seputar geligi saya.

Sebelum terlanjur ngences, segera sepincuk sate usus secara perlahan memenuhi lambung saya. Jadul, sate usus ini dijual berkeliling jalan kaki. Kepala si Mbok nyungging setampah bambu nyiru sate, punggungnya memanggul sebakul tenggok/senik/keranjang bambu berisi lontong dan pincuk daun pisang. Menu bersama sate usus saat itu adalah sate tempe gembus. Lontongnya padat. Lontong bungkus daun pisang selalu lebih enak dibanding lontong plastik.

Yang khas pada sate usus adalah sambel kacangnya yang manis. Sementara brindhilan lemak usus sapi akan terasa gurih kelat lekat di rerongga mulut. Delapan tusuk sate seharga Rp.10.000,- adalah harga yang wajar. Mama Agus dan Agus pilih pecel ndeso.

Pecel dengan nasi merah. Sebagai pujakesuma, saya telah mengadaptasi perangai makan kolega maka sekian menit berlalu sate usus, sepincuk sego liwet adalah menu berikut. Nggak jadi waduk Jatiluhur atau Gajah Mungkur, perut saya rupanya jadi waduk Cacaban…… Sikat saja ‘bleh! Ini menu klasik yang di Sumatera dan atau Kalimantan nggak ada disajikan. Nggak usah herman, untuk urusan perut selalu dapat pembenaran…… Sebelum glegeken/bersendawa, berarti lambung dan usus masih boleh dikaryakan. Harus dikaryakan!

Sego liwet sayurnya labu siam potong iris tipis membujur, sepotong sepaha sesayap ayam kampung, sebutir telor atau uliran yaitu bakal telor dari ayam muda dan sejumput njendhol putih telor campur santan. Biasanya ada rambak/krecek kulit sapi. Bisa juga variasi dengan kemplang palembang. Cabenya rebus utuh.

Karena lokasi makan berupa lesehan tikar yang sejuk strategis rame, maka dalam waktu yang berturutan tampil tiga wong mbarang/pengamen. Mbok kebaya setengah ompong bernyanyi sambil senggakan keplok/tepuk tangan, lagunya ”Aduh Mana Tahan” langgam campur sari. Selalu selesaikan lagu, baru menerima saweran dan tak lupa memberikan ucapan terima kasih plus salam doa semoga si pemberi mendapat berkah sehat selamat sejahtera. Jawa banget. Utuh!

Penampil berikut adalah mas mbak gothot perkasa tapi kenes kemayu. Sejak jadul golongan mas mbak seperti ini jika ngamen mesti heboh, pakai alat musik kotak kayu dengan tiga senar dari karet. Sekali ini mas mbak gagah kemayu ini membawa jinjing tape recorder karaoke. Lagunya penuh sajak pantun parikan yang jenaka konyol tentang kesetiaan cinta kasih. Pop Jawa kreatif campur bahasa Indonesia dan Jawa, bisa jadi karangan sendiri….

Penampil berikut adalah duo anak muda bergitar berketipung pralon. Seorang berpeci asia tengah, yang lain bersebo kerudung gaya negro nyanyi rap. Lagunya dari Ungu, lagu masa kini. Begitu disodor rupiah, langsung stop lagu dan berlalu. Belagu, kata wong Jakarta. Nggak jelas ucapan terima kasihnya. Sungguh beda perangai dengan dua penampil sebelumnya. Begitu kejamkah dunia menghajarnya?

Yang Muda Yang Berkarya Yang Bergaya…..

Jika semula dirancang sebagai wisata kuliner, perkembangan berikutnya adalah mekanisme pasar bebas. Maksudnya bebas jual apa saja, bebas nggak beli, bebas biasa saja….. Si mbak berkerudung manis menjajakan bawang merah-putih. Si mas handphone menjajakan aneka krupuk. Sepertinya sama-sama masih muda lajang, rapi dan tampak jual sambilan. Jika berjodoh, mereka nanti menjajakan krupuk bawang, melayani pesan-antar via SMS dan siapa tahu jadi juragan gedhe. Mudah-mudahan!

Sementara dua gadis lain tampil sportif berkaos panjang bergaris putih merah menyala. Merah selalu merak-ati, menarik pandang. Betapa mereka tahu benar menampilkan lekuk pinggang yang mulai memadat.

Dalam bergaya, masalah harga tidak selalu sejajar dengan tingginya mutu penampilan. Dengan kacamata pasaran, seorang gadis lain menunjukkan rasa percaya dirinya. Ini memang pasar rakyat. Juga panggung muda belia. Lugas, apa adanya. Dilihat. Melihat. Ini aku. Katakan yang kau rasakan. Tampilkan dirimu! Juga tattomu!

Masih senang kaset? Juga oldies top fourty? Murah, lawas dan meriah. Jangan segan menawar!

Sayang anak, belikan ikan laga dan ataupun burger. Batita batuta, semua tersalur dengan wahana main yang mirip dan mengekor punya Disini Land!

Pasar Untuk Semua……

Kaum muda yang senang tune up sepeda motor secara modivikasi cop busi, ada alatnya… Multi guna: tahan air, tahan panas, irit, mudah distarter dst. Terus terang pula promosinya: harga di Solo lebih murah Rp.5.000,- dibanding harga di luar Solo. Itu kalau beli 2 set @ Rp.15.000,- Kaum Ibu, nggak usah terkecoh iklan di TV…..

Alat pemotong-pengiris-penyerut serba guna buatan lokal harganya lebih dari 10 kali lipat murahnya…. Kaum Bapak yang hobby bertukang, ada alat ajaib penutup-penambal-penempel perabot plastik yang bocor dan pecah. Bagaimana jika mas penjual ini mempekerjakan mbak SPG, sales promotion girl dengan mike yang njendhol pas di bawah bibir seperti itu? Barang untuk Bapak ditawarkan oleh gadis secara merak-ati……. Wis……godaan belanja!

Akhir Wisata Kuliner

3 jam menjelajah Manahan, cukup sudah memenuhkan wisata raga, wisata mata, wisata rasa…. Saatnya pulang! Naik dokar! Tak ada keinginan lagi seperti Ali Topan jadul….. naik sepeda motor trail……

Masih cukup waktu…… Lain kali mau praktekkan one stop tasty service for stomach and tongue: juice cangkir kecil>trancam (sejenis urap gaya Solo)>gudeg ceker>cabuk rambak> thengkleng>wedang ronde>dawet>lotis>tahu kupat>teh pahit……….

Sampun……. Suwunnnnnnn. (BGJ, 1109)

Share This Post

Posted by Monday, 23 November 2009 on 00:25.

Categories: Jalan-jalan. Follow the comments to this article via the RSS 2.0.

You can leave a response or trackback to this entry

88 Responses to “Manahan Solo: satu saat, hari Minggu…”

Pages: [9] 8 7 6 5 4 3 2 1 »

  1. 88
    Lani Says:

    BJ : nyusul meneh, durung bosen le slengek-an….td sempat baca daun sembuk-an, wah dadi kangen pelas daun sembuk-an lo…….enak banget, dicampur dgn parutan kelapa muda, dibungkus daun pisan, kmd dibakar….itu makanan jadoel banget tp enaaaaaaaaaaaak 1/2 dut, mo tanya apa bener klu makan daun sembuk-an bikin ngentut trs to???? jd banyak gas ngono.

    ttg kuping pengung, aku dadi kelingan ktk kos di semarang dl, bolak balik aku dengar istilah itu, krn tante kost ngajak ngomong karo bature, tp yg diajak ngomong ngglenes ae, mungkin rak nggatek-e, la tante kos sll njawab: dasar wong pengung….diajak ngomong ngglendhem thok….
    krungu opo rak to? opo kupinge gatel kopok-en?????

    wah, aku dengar cm mesam-mesem koyok tempe bacem…..sak-jane yo kepingin langsung ngakak2….

    ILHAM : baca komenmu no 8, aku pingin takon, tontonan opo to sing gratis2 kuwi??????? sak-ngertike nek barang gratisssssssss sll dirubung wong, la wes rak bayar…..

    NEV : komen mu no 21 ttg penjelasan kemplang mengemplang, seh kurang siji nek ngemplang??????

    kuwi maksut-e utang rak mbayar, jd dikatakan NGEMPLANG….lanjutannya perlu dikemplangi heheheheh……

  2. 87
    Lani Says:

    BJ : better late than never jare pepatah lo yo….baru sempat baca artikel yg ini.
    cm mo komen, tiap saat muncungul boso jowo….bkn aku ngakak2, di-elink-e ngono…..bkn guluk gatellllll….saking geline je….spt contoh terlampir : mbludhussssssss…..bedhigasan=brangasan?

    NEV : ini sedikit penjelasan buatmu yg arep niru wedus? terwelu? apa marmot? pilih dewe….kkkkkk

    daun singkong enak dimasak oblog2, dicampur teri medan..syedaaaaaaaaap…..daunnya direbus dl, kmd baru di-iris2, sdg daun ubi jalar/rambat: direbus, kmd dibkn trancam wah le mangan sampai rak tingak-tinguk, ngethamullllllll……saking enak-e je…..

    ILHAM : gak doyan daun kemangi? la gmn dgn Thai basil? mint? cilantro? parsley? dan jenis2 dedaunan lainnya yg biasanya utk lalapan? gmn dgn terong bulet? leunca?

  3. 86
    Bagong Julianto Says:

    Mas Sirpa,

    Manahan makin sip. Gelora di-up grade. Sisi barat dibangun lapangan bola. Jajanan, sarapan, menu siang silahkan pilih. Pasar rakyat hari minggu full book! Jaman Emilia(h) Co(u)ntes(h)ssaa(hh), (Bob Tutupoly paling fasih sebutkan nama ini), Gelora masih indhal-indhil ditemani lapangan tenis thok…. Seputar 70′an Gelora Manahan jadi satu-satunya gedung pertunjukkan tertutup terluas di Solo. Jamannya Panbers, the Mercy’s, D’Loyd, Favourites, Kembar Group, NoKoes dan Koes Plus…… Masih lebih untung Mas Sirpa nyuwek karcis, kami mbhludhus juga gak bisa…., akhirnya nginjen dari sisi barat…. Naik atap, lihat artis dari lubang ventilasi…. Rame ‘bo, rombongan ‘cah bedhigasan nonton gratis….. termasuk ring upwest side.. far away upside ‘gitulah!

  4. 85
    Sirpa Says:

    Mas Bagong : Udah jadul banget wektu ku ngambah Manahan … ( sekarang udah berubah total ya ) .. mbiyen waktu masih top2 nya Emilia Ko, ndeso ( Contessa ) bikin show di Manahan ( 70an ) ,,, aku dadhi sing tukang nyuwek kercis … kekekekek … Salam sego liwet anget Mas ….

  5. 84
    Bagong Julianto Says:

    Kornelya,

    Mirip! Kesenangan para Ibu nyaris sama, kebanyakannya! Pergi ke market rencananya beli sampo, pulangnya bawa sepatu-sandal-tas! Great sale, more discount katanya! Gimana lagi?! Lebih baik nungguin di parkir atau toko buku, atau makan mie celor dan tekwan…. Glad to know you still love our country…..

  6. 83
    Kornelya Says:

    Pa Bagong, senang ya berkesempatan menyusuri Free market. ada kebahagiaan tersendiri menyusuri pasar bebas. Ketidak teraturannya, membuat pengunjung penasaran pingin menjelajah setiap penjuru. Apa ibu-ibu mudah ngga senang, disamping pedagang kangkung ada obralan baju anak-anak merk Osh Kosh & Limited. Ngga heran kalau ibu-ibu kepasar bebas, rencananya hanya buat beli sayur-mayur, tetapi pulangnya bawa pisau baru mainan anak, daster, panci atau oben berseri buat bojo betulin grendel pintu kamar mandi yang mulai belagu. Mana tahan, godaan penjual “Obral-obral, dijual murah ” yang berteriak melawan suara dari loud speaker penjual CD sebelahnya.
    I miss these moment alot. I love my Country.

  7. 82
    Bagong Julianto Says:

    Yung,

    Naksir micnya? Yang njendhol itu?….. Weittss!

    Btw, si Mas itu pedhe banget…. Dia mungkin pikir: “Memang cuma Michael Jackson saja yang bisa pakai mic di kepala sambil nyanyi?!. Kecil nyemplik gitu! Nih, lihat punyaku lebih njendhol lagi! Marem! Dicekethem enak, di dagu juga bisa nggandhul!” Wis…. jan….!

  8. 81
    Bagong Julianto Says:

    Ilhampst,

    Lhah, benar yang pakai kacamata?! Ukuran itu hasil penerawangan saja… Masih muda sepertinya. Gak sebesar itu semestinya….. Ooppss…

Pages: [9] 8 7 6 5 4 3 2 1 »

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Image (JPEG, max 50KB, please)