Menunggu Bolot

Sumonggo – Sleman

Konon menunggu adalah pekerjaan yang paling menjemukan, karena itulah sering disediakan ruang tunggu. Berapa lama harus menunggu? Tentu saja tergantung pada yang ditunggu, apakah yang ditunggu sedang sibuk atau pura-pura sok sibuk. Paling menyebalkan bila yang ditunggu tidak pengertian alias tulalit alias bolot.

Karena "Menunggu Godot" sudah menjadi skenario drama betulan, maka minggu ini skenario untuk drama yang "tidak betulan" adalah "Menunggu Bolot".

Sejumlah joke yang banyak beredar sekarang:
A: "Menurutmu siapa yang bakalan diganti lebih dulu, jaksa agung atau kapolri?"
B: "Tentu saja direktur PLN…."
A: "DPR akan menggunakan hak angket untuk kasus bank Century."

B: "Gue dari dulu juga punya hak angkot buat naik angkotnya Bang Samiun."

A: "Benar nih tahun 2012 itu bumi kiamat? Ayo buruan kita nonton filmnya sebelum kiamat … oh sebelum dilarang."

B: "Tak perlu kelamaan, sebentar lagi juga sudah kiamat di sini, kiamat hukum …."

Indonesia menunggu. Entah bagaimana logika kepemimpinan di negeri ini dalam menetapkan skala prioritas. Jika di tahun 80-an ada film laris berjudul "Ketika musim semi tiba", maka sekarang ada film yang tak laris bahkan dilirik pun ogah, berjudul "Ketika musim summit tiba".

Padamnya listrik memang hal yang krusial, tetapi padamnya nurani para penegak hukum cukup mendesak untuk ditangani dari sekedar berkelit atau membikin katalog retorika dan wacana. Padamnya listrik kerap menjadi penyebab kebakaran, bagaimana dengan padamnya nurani para penegak hukum? Semoga saja tidak banyak "korsleting" yang menyebabkan "kebakaran". Pepatah bilang, tak ada api tak ada asap. Sekarang bukan hanya asapnya sudah tebal meluas ke mana-mana dan begitu menyoloknya sehingga lebih dari cukup untuk menyesakkan dada dan memedihkan mata rakyat.

Ada opini, ada kontra-opini. Ada demo, ada anti-demo. Meski rakyat tak terlalu bodoh menilai mana yang murni dari nurani, dan mana yang bukan. Tak heran terlihat dalam tayangan televisi, peserta demo yang cuek, masabodoh dan nampak apatis, bahkan beberapa sengaja menutup mukanya, entah karena malu ketahuan.

Kala masa kampanye pemilu presiden, sering terdengar jargon "The real president", nah kalau sekarang rakyat dibuat bingung, "Who is the real kapolri?", "Who is the real jaksa agung?". Hmmm… semoga rakyat tak sakit hati bila tahu jawabnya …

Intermezo joke lain:
A: "Seharusnya presiden berterimakasih kepada gubernur DKI Jakarta?"
B: "Lho memangnya ada apa?"
A: "Karena kerapnya banjir belakangan ini, bukan hanya jalanan yang macet, tapi yang mau pada demo juga macet. Nah, jadi itulah salah satu kontribusi gubernur untuk meredam suasana …"

Kemarin ada berita sopir angkot ditembak mati karena lari saat kepergok berjudi. Seorang nenek renta diperkarakan di pengadilan hanya karena tiga butir coklat. Berhati-hatilah men-charge ponsel anda, karena itu bisa berakibat mendekam di bui berbulan-bulan. Sementara penyuap kakap dibiarkan bebas berkeliaran bahkan bisa menuntut kesana-sini. Rakyat dengan common sense sederhana saja sudah bisa mencermati siapa yang mengaku-ngaku bekerja secara profesional, mengumbar kosa kata prosedur hukum, yuridis formal, tapi nuraninya bebal. Hmmm… benar-benar komitmennya tinggi, tapi komitmen pada siapa …..

Berharap pada DPR? Entah mengapa, sekian kali menonton siaran langsung RDP sidang komisi justru bisa membahayakan akal sehat. Sampai muncul sinisme, "Hari gini masih berharap pada DPR?" Sebuah ungkapan yang terdengar gagah, "Tegakkan hukum sekalipun langit akan runtuh". Nah, bagaimana bila moral para penegak hukumnya yang runtuh, apalagi yang bisa ditegakkan?

Intermezo lagi:
A: "Wah masak ada yang menyatakan untuk penentuan kelanjutan kasus biar di-polling saja?"
B: "Mengapa tidak sekalian lempar koin? Memangnya beliau dulu diangkat jadi pejabat pakai hom-pim-pah?"

Kemungkinan hari Minggu nanti, bakalan marak demo, tentu saja jika tidak kebanjiran.

Apapun yang terjadi, life goes on, dan corruption goes on too? Nuwun.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.