Pengemudi wanita

Dewi Aichi – Brazil

Pernah ngga sih kalian merasa sebel, kesel dan gemes di jalan ketika mobil di depan kalian jalannya lambat banget? Selidik punya selidik, walah ya maklum saja, pengemudinya wanita! Eit..jangan salah dulu, ngga semua pengemudi wanita bodoh lho…! Walau memang ku akui, karena aku juga wanita, perasaan lebih di depan dibanding logika. Waktu aku ngobrol di messenger dengan teman sekolahku(suami istri adalah temanku), kata suaminya kepadaku,"gila, hari ini gue di jemput bini, nyetirnya ngebut sampe diomel-omelin supir angkot". Temanku ini memang lincah banget nyetir, makanya kalau aku pas di Jakarta, ke mana-mana dia yang nyetir, dia tahan omelan sih he he…

Katanya sih, pengendara wanita itu identik dengan pengendara yang kurang baik. ah masak sih? Waduh jangan gitu dong! Itu kan namanya gebyah uyah (menganggap bahwa semua seperti itu).

Katanya wanita itu suka ragu-ragu kalau sedang nyetir, lambat saat nyetir, giliran lampu kuning malah tancap gas. Trus setelah itu kembali lambat, 20km/jam, dan ambil jalur tengah ke kanan..aduh..! Wanita nih, kalau mau mundur juga butuh waktu lama banget, sampai-sampai maju mundur 70 kali belum beres, alhasil ditegur deh, mbak, kalau mau mundur itu jangan muter-muterin setir sambil di gas, tapi puter setirnya dulu baru di gas, piye to?

Apalagi kalau mau berhenti,dari gigi 5 langsung ke nol, remnya buat apa kalau ngga di pakai hi hi.Dan parah lagi nih,biar jalan mobilnya serasa halus, ya injek tuh kopling, pantas aja koplingnya cepet dol. Kenapa aku bilang begitu…hiks hiks…karena aku wanita.

women-driver

Aku paling lama kalau mau parkir, karena aku pantang parkir mobil sembarangan, apalagi melewati garis yang sudah ada. Di samping mengganggu orang lain yang mau parkir, malu juga sih kalau dilihatin orang, parkir aja ngga bener. Dan aku bersyukur bahwa selama mengemudi, aku tidak pernah celaka, dan tidak pernah mencelakai orang lain, kalau mencelakai mobil sendiri sih pernah beberapa kali he he. Nabrak pager, nabrak pintu gerbang.

women_drivers1

WomanDriver1

Sekarang ini sudah marak pengemudi wanita, di seluruh dunia. Maka tidak heran sekarang banyak tersedia parkir khusus wanita." Di salah satu mall di kota Surabaya juga sudah menyiapkan tempat parkir khusus untuk pengemudi wanita.Ternyata manajemen pengelola mall ini begitu memperhatikan keamanan para pengunjung wanita yang akan memarkir mobilnya ya, selain terletak di dekat pintu masuk, jarak antara mobil yang satu dengan mobil yang lain lebih lebar dibandingkan jarak antar parkir mobil pada umumnya, mudah – mudahan langkah bagus ini diikuti oleh pengelola mall – mall yang lain atau perkantoran"..kata temanku di messenger.

Aku ingat pengalamanku mencari SIM di Jogjakarta, test sampe 3 kali baru bisa dapat SIM. Masalahnya setiap test melewati tanjakan, mobilnya mundur he he…sampai-sampai yang nge test bilang begini,"mba dewi, sekali lagi mobilnya mundur, didenda 10.000 lho.".(dia cuma bercanda sih), soalnya sudah kebangetan kali ya, tiap test itu-itu saja salahnya. Lain lagi pengalamanku di Jepang, 5 kali test baru dapat SIM.

Padahal jalur-jalur untuk test gampang banget, mana mobilnya yang otomatis. Kalau test di Jepang yang diutamakan adalah melihat sekitarnya, melihat samping dan belakang, itu syarat mutlak. Kelupaan satu tempat tidak menengok saja, sudah tidak lulus. Padahal biaya satu kali test di Jepang adalah 3.500 yen. Biaya transportasi pp 1.200 yen (tergantung jarak rumah), kalau ngga lulus-lulus kan biaya jadi semakin mahal.

Jakarta diramalkan akan semakin macet, ini bikin pengemudi makin stress deh. Tapi mungkin sebagian orang malah seneng, lah kesempatan menggunakan BB untuk online, chatting, update facebook. Kalau lampu hijau malah ngedumel karena belum selesai membuat pesan he he.., ada salah satu teman di facebookku, setiap dia berada di suatu tempat dan kebetulan macet, selalu saja mengeluh dan dijadikan status facebooknya, tidak heran kalau aku julukin dia sebagai orang yang super update. Lah tiap menit ganti status yang cuma itu-itu saja. "aku lagi di Gatot Subroto nih, edyan..macet'e ra umum"!

Dalam hatiku," siapa nanya?"  Ngomongin sedikit tentang BB ini, justru banyak pengguna BB mengharapkan macet atau kena lampu merah berkali-kali, ya itu tadi, pengen bisa online. Kadang-kadang sudah lampu hijau masih saja utak atik BB-nya, akibatnya di klakson-klakson ama belakangnya.

Jaman sekarang sih wanita memiliki tuntutan hidup yang ngga kalah besar dengan pria. Kalau pria sekedar tuntutan tugas resmi(pada umumnya), kalau wanita lebih luas, bisa tugas atau tuntutan kerjaan, dan tugasnya sebagai ibu rumah tangga. Dulu menyetir itu cuma di dominasi kaum pria, sekarang tidak lagi, sedikit demi sedikit telah diisi oleh wanita. Agar tidak tergantung melulu oleh sang suami, maka akan lebih baik jika para ibu juga bisa nyetir, untuk antar jemput anak misalnya, atau sekedar belanja.

Paling nyaman dan aman nyetir aku rasakan ya cuma di Jepang, benar benar saling menghormati antar pengemudi, tidak ada acara menyalip dari kanan kiri, tidak ada orang jalan di jalur mobil, tidak ada motor maupun pedagang kaki lima. Jadi tidak takut nyerempet orang lain atau pengendara lain. Kalau di Jogja, di lampu merah, sekitar kita ada puluhan motor, samping kanan kiri, belakang, dan depan penuh motor, jadi takut juga menyenggol mereka, harus ekstra hati-hati.

Di Brasil sendiri aku belum berani nyetir karena, posisi setir dan jalurnya kebalik dengan Asia kebanyakan, jadi masih merasa kagok , apalagi suasana jalan raya juga semrawut kaya di Indonesia. Butuh latihan nyetir lagi, makanya aku suka bangun pagi-pagi hanya untuk melatih diri, mumpung belum pada bangun he he..jalanan masih sepi.

Ayo para wanita, kita biasakan menjadi pengemudi wanita yang baik, taat aturan, disiplin, jangan stress, menghormati sesama pemakai jalan, pakai selalu sabuk pengaman, jangan karena aturan, tapi karena demi keselamatan. Dan jangan biasakan mengemudi sambil mengobrol melalui hp, apalagi sampai mengetik pesan/sms, bahaya bagi diri sendiri dan bahaya bagi orang lain, ingat itu!

shoe_car_women_drivers

Picture: funtoosh.com, Townsan

About Dewi Aichi

Berasal dari Sleman Jogjakarta, saya blasteran (antar kelurahan maksudnya), happily married to a Brazilian guy. Dari Jogja merambah dunia. Pernikahan lintas benua adalah pilihannya. Setelah beberapa tahun di Distrik Aichi, Jepang, sekarang tinggal di Brazil bersama keluarga tercintanya. Tingkat sudrunnya setara dengan saudara-saudara sepersudrunannya seperti Nur Mberok, Elnino, Fire dan jelas Lani van Kona. Di sini saya bukan siapa-siapa dan bukan apa-apa, saya hanya sekedar menulis apa yang saya rasakan, apa yang saya alami, dan apa yang menarik buat saya untuk ditulis. Jika ini bermanfaat untuk diri saya sendiri dan juga untuk teman-teman, saya sangat bersyukur

My Facebook Arsip Artikel Website

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.