[Family Corner] Life Cycle in our life

Josh Chen – Global Citizen

 

Family Corner: Life Cycle in our life

Apa itu Life Cycle dalam kehidupan kita? Life cycle di sini akan dibahas menurut sudut pandang finansial. Sekedar share saja, mungkin banyak di antara pembaca yang sudah pernah membacanya.

life-cycle

1. Bachelor stage, young, single, not living at home (or living at home)
Ciri-cirinya: kesulitan keuangan belum begitu terasa, karena sebagian masih didukung oleh orang tuanya, sebagian lagi sudah kerja tapi masih tinggal dengan orang tuanya, sehingga masalah rumah, makan tidak ada masalah. Masih kuliah dan mau lulus juga masuk dalam kategori ini. Yang kuliah luar kota dan masih didukung oleh orang tuanya tidak akan merasakan kesulitan mengatur keuangan, sementara yang kuliah sambil bekerja, hasil kerja, income atau gaji juga dinikmati sendiri. Golongan ini merupakan golongan yang sangat memperhatikan fashion (baju, rambut, gonta ganti handphone, parfum, aksesoris, dsb). Berpikiran untuk senang-senang lebih banyak. Mulai melakukan dating yang serius. Istilah gaul paling fasih di kelompok ini. Buat yang cowok, pengeluaran terbesar adalah saat PDKT, dating, keluar makan, nonton, beli hadiah, kado, dsb (namanya juga usaha….)

 

2. Newly married couples, young, no children
Buat yang baru nikah. Ciri-cirinya: pembelanjaan atau beli barang sedang gencar-gencarnya, mulai memikirkan kendaraan, first-car ownership biasanya di golongan ini (maksudnya yang beli sendiri, bukan dibelikan orang tuanya), mulai melirik furniture, peralatan dapur lengkap, kitchen-set, dsb. Liburan, jalan-jalan menjadi fokus di golongan ini. Waktu aku dan istri di stage yang ini, mulai kerja dengan posisi lumayan, walaupun belum sanggup beli rumah, tapi mobil “baru” (maksudnya baru beli, tapi mobil bekas), dimodifikasi habis-habisan, buku segala macam dibeli, jalan-jalan ke mana-mana, beli segala macam di masa lalu atau masa kecil tidak sanggup atau tidak kesampaian beli.

 

3. Full nest I: youngest child under 6
Ciri-cirinya: pengeluaran untuk rumah tangga mencapai puncaknya. Likuiditas asset rendah, tabungan menipis, biasanya di stage ini mulai memicu pasangan muda untuk memikirkan beli rumah sendiri, tidak kontrak lagi, tidak numpang di “pondok mertua indah”, bagi yang dikaruniai rejeki lebih dan bisa beli cash ya bagus, tapi bagi yang biasa-biasa saja, mulailah berburu KPR. Beli mesin cuci lebih besar, kulkas lebih besar, TV lebih besar, susu bayi, susu anak, obat-obatan dan vitamin anak menjadi sering. Berpikir mobil yang bisa “muat satu RT” (Innova, Avanza, Livina, pokoknya yang 7 seaters).

 

4. Full nest II: youngest child 6 or over
Keuangan membaik, lebih stabil, kurang terpengaruh oleh iklan, kalau beli barang cenderung dalam kemasan “ekonomis” (maksudnya besar gitu), stok makanan selalu, stok snack, mulai beli sepeda, mengirim anak-anak les ini itu, ada yang mulai memikirkan piano, biola, pokoknya alat musik untuk anak-anaknya. Ada yang mengirim anaknya untuk latihan bela diri, dsb. Uang sekolah tentu saja, tergantung mau kirim anak sekolah di mana. Kecenderungan pasangan di stage ini sebagai orang tua akan banyak sekali “mengalah” untuk kepentingan anak-anaknya. Hobby sementara dipinggirkan atau dikurangi, yang tidak perlu ditinggalkan sama sekali.

 

5. Full nest III: older married couples, with dependent children
Keuangan makin membaik dan stabil. Anak-anak sudah mulai remaja atau dewasa, di jenjang SMP, SMA dan universitas. Sangat resistan terpengaruh oleh iklan. Mulai meningkatkan “kualitas hidup”. Ganti mobil yang kelasnya sedikit naik dari mobil sebelumnya, sofa masih bagus iseng saja diganti, malah ada pasangan yang beli alat fitness lengkap, diletakkan di halaman belakang, atau ruang belakang, hanya aktif dan rajin fitness 3 – 6 bulan pertama, setelah itu dipakai pembantu jemur keset atau gantungan handuk di belakang rumah. Ada juga yang iseng beli kapal pesiar, travelling ke tempat-tempat tidak umum atau aneh, mulai utak atik gigi, meluruskan gigi, cosmetic dental, dsb.

 

6. Empty nest I: older married couples, no children living with them, head of household in labor force
Pasangan yang sudah usia setengah baya, kepemilikan barang-barang rumah tangga dan kondisi keuangan mencapai puncaknya. Mulai memikirkan leisure lebih banyak lagi, ada yang sekolah lagi, mulai aktif di kegiatan masyarakat dan sosial serta keagamaan. Anak-anak sudah sepenuhnya lepas dari orang tua, sudah lulus dan kerja (bisa satu kota bisa lain kota).

 

7. Empty nest II: older married, no children living at home, head of household retired
Income yang turun cukup drastis. Mulai membeli alat-alat monitor kesehatan, misalnya alat tensi, ukur gula darah, dsb. Di stage inilah, financial planning di stage sebelumnya akan sangat bermanfaat dan dirasakan hasilnya. Pemilihan instrumen investasi, financial planning, asuransi, health profit dan benefit harus sudah dirasakan manfaatnya di stage ini. Produk kesehatan, vitamin, suplemen, obat-obatan mulai setia menemani.

 

8. Solitary survivor, in labor force
Pasangan yang sudah mulai berumur, dulunya keluarga besar, anak-anak sudah mandiri, rumah yang terlalu besar akan dijual, karena perawatan yang susah dan tinggi biaya. Hasil penjualan rumah akan digunakan untuk pembelian rumah yang lebih kecil dan asri, dinikmati berdua kakek-nenek. Biasanya sudah punya menantu, kerjanya hanya keliling dari satu rumah ke rumah anak yang satu dan lainnya. Bermain dengan cucu, bersosialisasi dan makin aktif dalam kegiatan keagamaan atau sosial. Penghasilan masih ok, karena masih kerja atau bisnis yang dirintis di stage-stage sebelumnya jalan dengan baik dan menghasilkan good income buat pasangan tua ini. Masih ditambah lagi dengan pemilihan instrumen investasi dan financial planning yang pas akan menunjukkan hasilnya di masa-masa ini.

 

9. Solitary survivor, retired
Golongan manula, betul-betul pensiun, tidak sanggup kerja lagi, bergantung sepenuhnya kepada uang pensiun atau support anak-anaknya. Produk obat-obatan dan kesehatan menjadi teman akrab di golongan ini. Butuh perhatian khusus dan rasa aman serta diterima oleh lingkungan keluarga (anak-menantu dan cucu-cucu).

FamilyLifeCycle

Note:
– Kondisi dan paparan di atas bisa berbeda di tiap lingkungan yang berbeda-beda.
– Paparan di atas bukan kondisi secara general/umum.
– Kondisi dan paparan di atas bisa berbeda di tiap kondisi, situasi dan budaya dari tiap keluarga.
– Paparan di atas sekedar gambaran umum yang banyak terjadi.

Anda ada di mana? Orang tua anda? Orang-orang sekitar anda (kakak, abang, adik, dsb)?

 

Disarikan, diolah dan dirangkum dari:
– Journal of Marketing Research, “Life-cycle in Marketing Research”, William D. Wells and George Gubar
– A Modernized Family Life Cycle, Patrick E. Murphy and William A. Staples
– The Family Life Cycle: An Alternative Approach, Frederick W. Derrick and Alane E. Linfield
– Marketing Management, Philip Kotler
– Management, Gatewood, Ferrel and Taylor
– Berbagai sumber bacaan, jurnal, tulisan-tulisan pribadi dan risalah kuliah

 

 

About J C

I'm just another ordinary writer. Seorang penulis lepas dengan ketertarikan bidang: budaya, diversity, fotografi, ekonomi dan politik.

Arsip Artikel Website

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.