Gambar Genthong atau Amplop?

Cenil & Lik Gembus
Lembayung – SOLO the spirit of java
 
“Lik, jahe panas Lik!” teriak saya dalam radius lima meter menuju angkringan Lik Gembus. Suara saya sedikit teredam hujan yang lumayan deras senja itu.
 
”Lho…lho…lho…, lha kok hujan-hujanan to Mbak Cenil? Jalan kaki? Motor kemana?” tanya Lik Gembus sambil mengulurkan sebuah serbet yang masih terlipat dan berwarna putih (dulunya) itu.
 
”Itu bersih kok.” sambung Lik Gembus demi melihat saya sedikit enggan menerimanya.
 
Segera serbet putih mangkak itu berpindah ke tangan lalu kemudian ke kepala saya. Hanya dengan beberapa kali gosokan saja sudah membuat serbet itu kebas oleh rambut basah saya, dan tiba-tiba saja bau apek menguar dari rambut saya yang sudah berkurang kadar kebasahannya itu.
 
”Anu Mbak Cenil, nuwun sewwwuuu…, memang serbetnya agak apek, karena musim hujan begini cucian susah kering.” kata Lik Gembus sambil mengeluarkan cengiran andalannya, begitu melihat hidung saya mengernyit menahan bau.
 
Asem Lik, sampeyan ngerjain saya ya?” gerutu saya sambil meniup dan menyeruput wedang jahe.
 
”Hahaha…. nuwun sewuuu….. mana berani saya kurang ajar sama calon bu dokter.” sambar Lik Gembus sambil memperagakan gerakan menyembah-nyembah ala kethoprak mataraman.
 
”Hush, ngawur! Yang calon dokter itu siapa lho? Sampeyan itu hobi kok sok tau.”
 
”Lho, lha itu pakai jas putih punapa sanes baju dokter hayooo…??” tanya Lik Gembus sambil menunjuk arah baju saya.
 
”Hahaha…. Lik, ini namanya jas praktikum. Saya kuliah di pertanian, lha ini tadi habis praktikum ngudhal-udhal kodok. Jadi ini bukan baju dokter. Pripun, dhong mboten?“ saya menjelaskan perihal baju putih ini kepada Lik Gembus.
 
Saya lihat Lik Gembus manthuk-manthuk sambil mengipasi anglo yang di atasnya ada sebuah cerek air dari seng yang sedang mengepul dengan pekat. Saya kembali menikmati wedang jahe yang sudah berkurang seperempatnya itu sambil menebarkan pandangan ke seluruh area angkringan ini. Lumayan ramai senja itu. Ada empat orang pembeli selain saya. Tiga orang laki-laki dan seorang perempuan paruh baya. Semua wajah mereka terlihat santai menikmati senja yang hujan dan dingin ini.
 
”Yowis Mbak, kalo ndak jadi dokter ya jadi bu dokter saja kan ya sama saja to.” tiba-tiba Lik Gembus memecah keheningan.
 
”Lho, apa lagi to Lik, maksudnya apa pula itu? Tidak jadi dokter tapi jadi bu dokter?” tanya saya kebingungan.
 
”Lha ya panjenengan nggak jadi dokter tapi kawin saja sama pak dokter. Nanti lak dipanggil bu dokter. Hahaha… Dos pundi ide saya? Sae to?” Lik Gembus tertawa dengan nuasa bangga yang pekat.
 
Seluruh pembeli di angkringan itu ikut tertawa mendengarkan guyonan Lik Gembus, termasuk saya.
 
”Halah, belum mikir kawin saya, Lik. Masih panjang jalan saya.” jawab saya sok diplomatis.
 
tempayan
”Anu Mbak, ngomong-ngomong soal kawin mawin, 2 bulan ini lho Mbak, lagi banjir orang kawin. Mungkin bulan bagus kali nggih? Lha wong undangan saja seminggu ada dua sampai tiga kali lho Mbak saya ini. Atase saya itu mung pedagang angkringan, tapi teman saya buanyak lho Mbak. Lha ning ya itu Mbak, kok ya di undangan itu kok semua digambari genthong Mbak, alias cuma mau disumbang dhuwit.
 
Jaman pun berubah Mbak. Wis, kalo sudah begini ya tombok terus Mbak. Angkringan itu untungnya seberapa to Mbak. ” cerocos Lik Gembus, campuran kebanggaan karena mempunyai banyak teman dan disukai oleh mereka sehingga ketika mereka punya kerja berniat untuk berbagi kebahagiaan dengan Lik Gembus melalui undangan resepsi, tetapi ada pula kesan Lik Gembus sedikit keberatan dengan masalah ekonomi.
 
”Iyo Lik, undangan saya saja seminggu ini sudah dapat empat lho! Bulan ini saja saya sudah minus. Terpaksa nge-bon gaji bulan depan sama boss e.” seorang bapak dengan kacamata yang cukup tebal ikut berbagi rembug.
 
”Lha kalo mau ndak datang yo tetap harus nitip amplop juga to, Lik? Jan tenan lho, saya sampai bingung ngerigenke uang dari bapake anak-anak itu.” Ibu-ibu setengah baya yang duduk berdampingan dengan (sepertinya) suaminya ini bicara sambil melirik ke arah (sepertinya) suaminya. Yang dilirik pura-pura tidak dengar sambil terus mengunyah jadah bakar yang arangnya menempel pada bibir bagian bawahnya yang agak tebal.
 
Dua orang pembeli yang lain hanya diam saja tapi terlihat sangat menyimak pembicaraan ini, seperti saya.
 
Saya ingat beberapa kali ibu saya di rumah sering nguda-rasa kalau masa-masa kawin-mawin itu tiba. Banyak undangan kondangan, berarti banyak pengeluaran dari pos tidak terduga. Hal ini membutuhkan keuletan seorang ibu untuk bisa meng-kiyak-kiyuk-ke (mencari cara yang tepat) supaya uang belanja bulanan yang diberikan oleh sang suami bisa cukup untuk mengepulkan asap dapur selama selama satu bulan.
 
”Lik, lha kalo saya kawin besok, sampeyan pilih saya undang apa ndak” tanya saya tiba-tiba pada Lik Gembus.
 
Geragapan tapi segera Lik Gembus menjawab dengan mantap,”Harus diundang, Mbak!! Mosok ya ndak? Tegel tenan wisss Mbak Cenil ki! Tapi saya cuma bisa nyumbang semampu saya lho”
 
”Nah, itulah Lik, terkadang yang punya kerja itu ingin tidak mengundang orang-orang tertentu dengan alasan agar tidak terlalu merepotkan mereka dalam hal sumbang-menyumbang ini. Tetapi terkadang juga Lik Gembus kalau ndak diundang orang yang Lik Gembus kenal kan juga merasa ndak dianggap to? Serba salah kan Lik?” jelas saya pada Lik Gembus yang lalu ditanggapi dengan anggukan lima kepala secara simultan.
 
wedding_invitation_1
Saya sendiri heran dengan kebiasaan yang terjadi di masyarakat kita ini. Mengadakan acara resepsi pernikahan secara besar-besaran, dengan membuat undangan yang di dalamnya ada gambar genthong besar atau amlop dan gambar bingkisan serta bunga yang disilang besar. Bingkisan dan bunga saja disilang besar, apalagi gambar tangan yang nongol otot-ototnya, alias diasumsikan sebagai sumbangan berupa tenaga yang jelas tak akan pernah masuk dalam daftar bentuk sumbangan yang diharapkan.
 
Jika diundang tetapi tidak datang, maka akan menjadi pertanyaan apakah yang tidak datang itu titip amplop sumbangan atau tidak. Jika tidak ada titipan, maka akan menjadi bahan pembicaraan yang tak akan bisa diputus begitu saja. Jangankan tidak menyumbang, lha wong menyumbang saja nominalnya pasti akan menjadi perhatian tersendiri, menjadi pembicaraan tersendiri. Sebenarnya apakah esensi dari perayaan resepsi pernikahan itu? Ingin berbagi kebahagiaan dan meminta restu dari semua sanak saudara,kerabat dan kenalan?
 
Atau malah menjadi ladang bisnis baru yang begitu menggiurkan margin keuntungannya? (Saya jadi ingat, punya kenalan yang habis menikah malah bisa membeli mobil sedan baru gresss yang katanya dari hasil keuntungan sumbangan. Edan!) Malahan, sekarang ini marak sekali kredit yang ditawarkan untuk biaya pernikahan.
 
Ini sekedar trend? Atau akan menggeser nilai-nilai budaya guyup-rukun-gotong-royong dari nenek buyut dulu yang setiap mengadakan perayaan pernikahan selalu melibatkan warga di kampungnya tanpa memandang apa pun jenis sumbangan yang mampu mereka berikan? Apakah kita masih bisa mengubah paradigma baru yang mulai menggeser budaya gotong-royong nenek buyut canggah kita dari gerusan budaya modern atas nama bisnis?
 
Saya habiskan segelas wedang jahe saya dalam sekali tegukan.
 
”Lik, pokoknya besok kalo saya mantenan, sampeyan ndak saya undang.” ucap saya sambil mengulurkan dua lembar ribuan dan meninggalkan angkringan itu dengan hidung masih mengernyit menahan bau apek.
 
Cheers,
Lby (23/11/09; 14:26)
 
 
 
Disclaimer:    
Tokoh-tokoh yang ada dalam tulisan ini hanyalah fiktif belaka. Ide tulisan diambil dari kejadian yang ada di lingkungan sekitar maupun yang ada dalam imajinasi penulis yang diangkat dalam bentuk cerpen sebagai bentuk refleksi sehingga penulis berharap pembaca bisa saling menyentuh hati satu dan yang lain.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.