Pemulihan Ekonomi dan Kasus Century

Junanto Herdiawan – Indonesia

Perekonomian Indonesia terbukti masih rentan terhadap berbagai isu. Hal ini terbukti saat kasus Bank Century semakin larut dan bergulir bagai badai yang terus menghantam ekonomi kita. Hasil audit investigatif BPK, ditambah dengan angket Century di DPR yang berjalin kelindan dengan berlarut-larutnya kasus Bibit-Chandra, semakin membawa proses pemulihan ekonomi Indonesia saat ini berhenti di tempat.

Melihat berbagai perkembangan yang ada tersebut, saya kerap mendapat banyak pertanyaan dari para pelaku ekonomi khususnya investor asing tentang kasus hukum yang mencuat belakangan ini. Sebenarnya apabila kita melihat berbagai indikator ekonomi makro, tak dapat dipungkiri bahwa ekonomi Indonesia memang telah menunjukkan tanda-tanda pemulihan yang membaik. Indonesia bahkan telah disandingkan dengan China dan India, sebagai “flavour of the day” oleh para investor asing. Istilah Chindonesia kini disebut-sebut sebagai kekuatan masa depan menyaingi posisi BRIC (Brazil, Russia, India, dan China). Kita melihat bahwa konsumen di Indonesia sudah mulai bangkit dan membeli. Hal ini tercermin dari kuatnya tingkat konsumsi kita yang tumbuh rata-rata 5% dalam beberapa tahun terakhir ini. Kita melihat juga ekspor kita terus meningkat seiring dengan pulihnya ekonomi dunia dan membaiknya pertumbuhan ekonomi di China dan India. Di beberapa sektor, kita juga melihat produksi mulai meningkat.

Meski demikian, kalau dilihat secara lebih detil, kita belum melihat perbaikan yang berarti di bidang investasi. Belum banyak investor yang mau memberikan komitmennya pada ekonomi Indonesia di jangka panjang. Di satu sisi para investor kerap berkata bahwa mereka memahami dan kagum pada ekonomi Indonesia yang tumbuh impresif. Namun di sisi lain, mereka masih menunggu kalau ditanya tentang investasi riil yang berjangka panjang. Hal ini terlihat dari jumlah investasi riil yang jumlahnya terus menurun. Padahal, investasi riil adalah bukti nyata yang menggambarkan komitmen investor pada ekonomi Indonesia.

Dari berbagai hal tersebut, perekonomian Indonesia yang membaik saat ini terlihat masih menyimpan sejumlah pekerjaan rumah. Ini artinya juga bahwa perekonomian Indonesia belum terlalu solid karena tingkat confidence yang terbangun saat ini sifatnya masih sementara. Tantangan ekonomi kita ke depan adalah bagaimana dapat membangun komitmen dari para investor dan pelaku pasar utama. Ini adalah hal penting yang perlu kita raih dalam membangun pondasi ekonomi negeri.

Tanpa komitmen jangka panjang, akibatnya adalah, saat ini ekonomi kita terlihat solid namun lebih banyak ditopang oleh para petualang kapital sesaat. Hal ini dapat dilihat dari posisi asing di SBI dan SUN yang jumlahnya mencapai hampir 4,5 miliar dollar AS. Para pemilik modal tentu datang ke negeri ini untuk menanam dalam penempatan portfolio jangka pendek, dan meraih keuntungan sesaat.

Masuknya aliran dana asing tersebut tidak sepenuhnya salah, karena selama kepercayaan bisa terus dibangun, dana itu akan tetap mengendap di pasar keuangan kita, dan syukur-syukur bisa beralih pada penempatan atau investasi jangka panjang. Gejala para investor seperti itu, saat ini masih menguntungkan bagi perekonomian kita. Nilai tukar dan indeks saham masih stabil. Nilai tukar rupiah bahkan menguat karena banyaknya pasokan di pasar valas. Namun kita juga perlu menyadari bahwa gejala saat ini bukanlah pilar yang kuat dalam mendukung kemajuan ekonomi kita ke depan yang berkelanjutan. Persepsi dan confidence para pemilik modal ini akan sangat rawan apabila terjadi gangguan seperti permasalahan hukum maupun apabila ada policy inconsistency.

Apabila berbagai permasalahan hukum yang ada saat ini, seperti kasus Century, berlarut larut dan berlangsung terus, dapat dipastikan para investor akan menunda komitmen mereka dalam jangka panjang pada ekonomi Indonesia. Dan bukan itu saja, dana jangka pendek yang ada saat ini juga dikhawatirkan akan ikut keluar.

Menghadapi tahun 2010 nanti, tantangan terbesar adalah memfokuskan kebijakan dan kegiatan ekonomi pada pilar yang lebih kokoh, yaitu sektor produksi. Upaya membangun kekuatan ekonomi domestik, menarik investasi riil, ikut serta dalam global chain production sebagai pemerkayaan ekspor kita, dan upaya membangun industri, adalah langkah strategis yang membutuhkan kerjasama dan kepercayaan tinggi dari para pelaku ekonomi.

Kasus Bank Century menuntut penyelesaian yang tepat dan adil. Pengungkapan kasus Bank Century tentu ditunggu oleh masyarakat agar semuanya menjadi transparan dan dapat dipertanggungjawabkan. Penggunaan dana sebesar Rp 6,7 triliun tentu mengundang ingin tahu banyak kalangan. Oleh karena itu, kasus ini memang perlu diselesaikan. Namun hal yang perlu diingat adalah bahwa penyelesaian kasus ini jangan sampai mengorbankan hal lain yang lebih penting, yaitu pembangunan ekonomi. Semakin lama kasus ini bergulir, maka ongkos ekonominya akan semakin mahal dan berdampak pada turunnya kepercayaan pelaku pasar. Akibatnya ekonomi Indonesia masih akan terus megap-megap.

Junanto Herdiawan, peneliti ekonomi, bekerja di Jakarta

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.