KURSI

Jumari HS – Kudus

Sudah satu bulan ini, Leo hatinya kacau dan tidak bisa konsentrasi dalam kesibukannya sehari-hari sebagai pegawai swasta, kerjanya semrawaut dan pikirannya nggak jenak. Sudah hampir dua puluh tahun Ia  sebagai kolektor yaitu suka mengoleksi barang-barang antik seperti batu akik, korek api, batu-batu dan mebel seperti kursi bervariasi yang kelihatan di rumahnya penuh dengan barang-barang tersebut yang membuat pemandangan setiap orang yang bertamu dan yang melihatnya begitu heran dan terkagum-kagum melihat hasil koleksinya.Meski demikian Leo belum merasa puas dengan apa yang dilakukan atau yang dihasilkan. Jujur saja bagi Leo semua koleksinya yang paling menyentuh dan mendarah daging adalah koleksi kursinya. Makanya di rumahnya berbagai kursi dalam bentuk ukuran kecil sampai besar dengan berbagai variasi macam-macam telah ada. Meski demikian hatinya masih dirundung merasa ada yang kurang.

Setiap pagi, sebelum Leo mau berangkat kerja dirinya tak lupa memandangi barang-barang antik yang dikoleksinya, hati kecilnya selalu marasa ada yang kurang –ada yang kurang!. Rasa kekurangan itu terus mengisi perasaannya begitu bergumpal-gumpal dan menggelombang ingin mencari sesuatu yang belum pernah ditemukan untuk melengkapi koleksinya yang bisa memberi kesempurnaan. Bagi Leo hidup memang tak ada puasnya selagi manusia belum mati. Dengan prinsip hidupnya yang sedemikian kuat itu membuat dirinya sebagai pengembara sejati  tak pernah merasa jera dengan resiko apapun yang terjadi pada dirinya bahkan keluarga. Bahkan pernah suatu hari terjadi ketika Leo hanya memiliki uang pas-pasan dan Ia ditawari seseorang sebuah benda  Batu Akik Permata yang mahal dengan harga di luar koceknya, Ia pun berani membeli, meski harus utang sana-sini, itulah kenekatan yang dilakukan Leo dalam memuaskan hobinya.

” Pa, hidup kok melulu mengoleksi barang-barang, bukankah tanggung jawab utama adalah kebutuhan keluarga sehari-hari, malah mikirnya yang macam-macam.”

    ” Maksudmu?. ”

      ” Kadang aku heran, melihat Papa selama ini, hidupnya melulu dengan barang-barang antik. Kapan tingkat kehidupan keluarga kita meningkat, jangan egois melulu, entar yang jadi korban keluarga sendiri.”

        ” Hidup ini sementara, dan sebuah kepuasaan tak ternilai dibanding harta maupun benda. Apakah aku salah?.”

          ” Harus berpikir plural, puas bagi Papa, tapi belum tentu puas bagi keluarga maupun masyarakat, kan ?.”

            ” Sudahlah, bakankah selama ini aku juga memikirkan keluarga ”

              ” Tapi, tanggung jawab yang paling adalah keluarga ”

                Leo, tercengang mendengar ocehan istrinya dan dirinya menagkap bahwa apa yang selama ini ditekuni dan hobini mengalami distrosi terhadap pemikiran istrinya. Tapi dirinya memaklumi setiap istri hampir punya pemikiran yang seperti itu. Meski demikian Ia pantang menyerah walau banyak ganjalan yang menerpa. Kepuasan bagi dirinya adalah segala-galanya. Banyak orang berpikir uang adalah segala-galanya. Tapi baginya hal itu adalah salah besar yang harus dilibas di benak pemikirannya.

                Pagi begitu cerah, matahari seakan memberi senyum yang di warnai kicauan burung-burung dari sekitar rumahnya yang penuh pepohonan. Sejak tadi Leo begitu santai menikmati barang-barang koleksinya terutama kursi-kursi yang sudah tertata rapi dalam tataran nilai seninya, sehingga kelihatan begitu estetis, diamati satu persatu benda-bendanya membuat jiwanya merasakan kebahagian tersendiri. Meski demikian masih ada sesuatu yang kurang dan kekurangan itu seperti begitu kuat, ya begitu kuat mengodanya dan sampai saat ini pun belum ditemukan. Sehingga rasa penasaran demi penasaran terus mengkoyak-koyak jiwanya.

                ” Wah hebat kamu, Leo!. Koleksi kursi-kursimu begitu luar biasa. Apa nggak pernah kamu pamerkan di even tertentu ?.” tanya Gunawan teman yang sengaja mertamu di rumahnya.

                  ” Koleksi ini, hanya sekedar menghilang kepenatan hidup saja, bukan untuk dipamerkan Gun ”

                    ” Sungguh mengesankan apa yang kamu lakukan sekarang. Tapi kelihatan mimik wajahmu masih ada sesuatu digelisahkan. Apa ada yang kurang dalam mengoleksi barang-barang ini?.”

                      ” Apresiatif sekali kamu menilai jiwaku, memang ada yang kurang setiap aku memandangi koleksi kursi-kursiku, tapi entahlah…”.

                        ” Barangkali kursi kedudukan!. ”  seloroh Gunawan dan kata-kata itu ternyata membuat leo terhenyak jiwanya.

                          Mata Leo menerawang ke seluruh cakrawala, kesepian yang begitu mengigit. Malam itu jiwanya benar-benar disodori pertanyaan-pertanyaan pelik. Terutama tentang masalah Kursi kedudukan yang dilontarkan temannya. ” Kursi kedudukan?, apakah itu jabatan, apa mungkin aku mampu menjadi pejabat?.entah itu DPR, DPRD atau Bupati?. Lalu apa yang aku lakukan dan dengan cara apa untuk memiliki kursi tersebut. Tapi benar ada benarnya yang dikatakan Gunawan. ” bisik Leo dalam hati.

                          Ibarat burung, Leo ingin terbang lebih leluasa, kicaunya harus lebih indah dan menawan agar yang melihat dirinya simpatik dan tertarik. Semua dilakukan sepenuh hati dan jiwanya meski dengan modal pas-pasan. Tapi, dalam dirinya bertekat apapun yang terjadi siap menghadapi dan mengapainya. Maka langkah utamanya bagaimana dirinya mencitrakan prilakunya di masyarakat bisa lebih baik. Yaitu persoalan pergaulan, sosial dan ramah terhadap siapapun. Apalagi Pilkada di daerahnya kurang enam bulan lagi akan berlangsung dan menurutnya adalah saat yang paling tepat membudayakan prilkaku yang baik di masyarakatnya. artinya dirinya bertekat ikut bertarung dengan konstentan lainnya dengan semua modal yang dimilikinya.

                          ” Kelihatannya tahun ini, papa ikut mencalon diri sebagai bupati  ” tanya istrinya.

                            ” Benar, Ma. Kemauan itu sudah tekat yang bulat untuk menyempurnakan koleksi kursiku yang selama ini aku anggap kurang sempurna ”

                              ” Modalmu mana, tabungan aja nggak punya ”

                                ” Nanti Tuhan memberi jalan, aku optimis dan juga sudah punya jalan alternatif”

                                  ” Jalan alternatif mana?. Yang dimiliki Papa kan hanya koleksi itu. Apa bisa untuk modal memenuhi kebutuhan pencalonan?. ”

                                    ” Jangan kamu kira nggak bisa? Seluruh koleksiku selain kursi bisa aku jual milyaran ”

                                      ” Apa semua sudah dipikir matang?.”

                                        ” Ya! ” Leo mengangguk mantap.

                                          Untuk menyempurnakan koleksi kursinya, Leo benar-benar mencari jalan alternatif yaitu dengan menjual seluruh koleksinya selain kursi-kursi yang telah dikoleksinya. Hampir seluruh koleksi terjual, yang tersisa tinggal koleksi kursi-kursi saja.

                                          all-the-chairs

                                          Sepuluh milyar Ia dapatkan dari hasil menjual koleksinya untuk modal mendapatkan kursi kedudukan yang selama ini  Ia anggap sebagai penyempurnaan koleksi kursi. Tekat bulat pun mendidih dan mengalir sampai ke urat nadinya. Apa yang terjadi, terjadilah. Itulah kemantapannya dalam dirinya mencalonkan diri untuk meraih kursi satu di daerahnya.

                                          Satu minggu lagi pendaftaran Pilkada dimulai, Leo sangat kebingungan karena semua calon harus lewat kereta partai, dengan aturan tujuh kursi untuk mengusung dirinya duduk sebagai kriteria calon Bupati. Sedangkan dirinya selama ini tidak pernah berkecimpung dalam dunia politik. Leo akhirnya mengambil solusi mendekat dengan parti-partai kecil untuk mengusung dirinya untuk dicalonkan. Ternyata tak semudah yang Ia dipikirkan atau harapkan. Semuanya ternyata harus membeli dengan uang.  Dengan tekat bulat Ia lakukan. Sebab semua ini sudah menjadi keinginan yang mengebu-gebu dengan segala resikonya, dan apapun yang terjadi dirinya sudah siap.

                                          ” Ternyata uang adalah bagian dari kepuasaan, kenanpa selama ini aku mengesampingkan uang. Ternyata dunia politik adalah uang. ” bisik Leo menyalahkan dirinya sendiri, yang selama ini bahwa uang bukan sebuah kepuasaan.

                                          Kampaye pun di mulai umbul-umbul, spanduk dan plakat-plakat foto-foto para konstentan calon terpasang di sepanjang jalan, Leo telah lolos mencalonkan diri, berpasangan dengan salah satu wakil dari partai yang Ia telah sepakati untuk ikut bertarung sebagai Bupati di daerahnya, dengan membeli tujuh kursi dari tiga partai kecil. Dalam kampaye Leo begitu getol mendikripsikan misi dan visinya pada forum-forum kampaye yaitu bahwa hidup dalam bermasyarakat dan bernegara butuh adanya keselarasan, pemikiran, inovasi dan kebersamaan yang trasparan, karena rakyat sekarang tingkat intelektualitasnya semakin meningkat tidak bisa dibodohi, tidak mau diberi janji-janji tanpa bukti. Itulah upaya Leo dalam menyakinkan masyarkatnya untuk memilih dirinya untuk meraih kursi yang selama ini Ia anggap untuk melengkapi koleksi kursinya yang Ia anggap masih belum sempurna  dengan mengorbankan menjual seluruh koleksinya yang lain.

                                          Pilkada pun dimulai, masyarakat berduyun-duyun menuju ke-TPSnya masing-masing untuk memilih calon yang mereka inginkan. Leo pun juga melakukan yang sama yaitu memenuhi haknya sebagai warga negara dan masyarakat yang sama untuk menentukan siapa calon yang pantas menduduki kursi orang nomor satu di daerahnya. Degup kencang jantung Leo terjadi, Ia merasa was-was antara menang dan kalah. Sebab dari ketiga calon Ia rasa punya peluang yang kuat untuk menjadi pemenangnya.

                                          ” Ternyata kursi yang satu ini, sungguh sangat beda dengan kursi yang selama ini dikoleksinya dan benar-benar menguras tenaga, pikiran serta finansial ”  sela Leo sambil menunggu keputusan hasil pemenang dari panitia pemilihan Bupati.

                                          Di ruang rumahnya, Leo duduk di kursi. Dirinya begitu cemas. Istrinya yang sejak tadi memperhatikan suaminya, merasa kasihan dan benar-benar ingin memberi motivasi menghadapi segala resiko yang terjadi.

                                          ” Sesuatu kalau sudah menjadi tekat jangan mau diperbudak keraguan. ”, sela istrinya ikut prihatin melihat kondisi kejiwaan suaminya. .

                                            ” Aku hanya membayangkan kalau aku kalah, efeknya ke persoalan reputasi ”

                                              ” Setiap pertandingan pasti ada yang kalah dan menang ”

                                              ” Benar, kenapa mentalku tentang sampai saat belum bisa menerima kekalahan. Aku bayangkan kekalahan itu sungguh menyakitkan ”

                                                ” Kenapa, sebelumnya nggak berpikir seperti itu, biar nggak menyesal di kemudian hari.? ”

                                                  ”  Benar apa yang kamu katakan istriku, tapi semua sudah menjadi tekat yang bulat. Apapun yang terjadi kita harus siap menghadapi. ”

                                                    ” Terpenting sekarang, semua jangan dijadikan beban berat. Aku takut jika terjadi sesuatu pada Papa, seperti stres atau sakit yang fatal, repot nantinya ”

                                                      ” Benar apa yang kamu katakan, Ma ” Leo menganggukkan kepala meski ada sedikit penyesalan yang tersirat di wajahnya.

                                                        Pemikiran dan bayangan antara menang dan kalah dalam pertarungan meraih kursi nomor satu di daerahnya menghantui pikiran Leo. Ibarat ruang pengap menyekapnya, ibarat laut gelombangnya menguncan-guncang jiwa, ibarat puisi mengiris kesepian.

                                                        chairs

                                                        Tiba-tiba Ia linglung dan jatuh terpuruk di antara koleksi kursi-kursinya yang selama ini Ia tekuni dan yang telah memberinya sebagian kepuasaan hidupnya sebagai kolektor. Dengan berlinang airmata dengan tubuh yang lemas, Leo tak kuasa menahan perih Ia seperti kehilangan sesuatu yang berharga dalam hidupnya, ya benar-benar kehilangan!. Dan kursi yang selama ini Ia idam-idamkan tak tergapai dan kursi itu seolah-olah berubah menjadi manusia raksasa yang mengejar dan mau menerkam jantungnya, lalu Ia  berteriak sambil  berlari tanpa arah dan menduduki setiap kursi yang dirinya temukan, entah milik siapapun Ia tak peduli, pikirannya sudah tidak mempedulikan apa yang ada di depannya, jiwanya melayang-layang seperti layang-layang yang putus dari benangnya Ia begitu gusur dan penat meski harus menembus sebuah kegelapan yang paling kegelapan!

                                                        Kudus, 2008

                                                        Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

                                                        Your email address will not be published. Required fields are marked *

                                                        This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.