Semangat Berkorban vs Mengorbankan

Saw – Bandung

Hallo sahabat Baltyra di mana saja…

Pada saat ini, kita –utamanya sahabat Baltyra yang muslim- telah memasuki bulan Dzulhijjah, bulan di mana di dalamnya ada perintah untuk menunaikan ibadah Haji bagi yang sudah mampu dan menyembelih qurban, ini pun bagi yang mampu.

Di lokasi-lokasi tertentu, bahkan di pinggiran jalan banyak kita saksikan kambing-kambing di pamerkan menunggu kedatangan pembeli untuk kemudian nanti pas hari Iedul Adha siap disembelih. Tentu sebelum ada aktifitas penyembelihan hewan qurban, ada beberapa hal yang sebaiknya perlu kita pahami.

Sebelum tiba hari raya qurban, ummat Islam dianjurkan untuk melaksanakan puasa sunnah Arafah. Artinya, ketika para ummat Islam di Mekkah sedang melaksanakan wukuf di padang arafah, ummat Islam yang tidak melaksanakannya di sunnahkan untuk berpuasa. Bahkan puasa sunnah ini ada yang melaksanakannya sepuluh hari sebelum hari raya iedul adha, ada yang tiga hari sebelumnya, atau setidaknya sehari sebelumnya.

haji

Kemudian, ketika pagi menjelang, sesudah sebelumnya puasa sunnah kita lakukan, berduyun-duyun ummat Islam pergi ke tanah lapang untuk menunaikan sholat Ied. Ada perpedaan keutamaan sebelum menunaikan sholat iedul adha dibandingkan dengan sholat iedul fithri. Jika sholat iedul fitri, sebelum berangkat kita disunnahkan makan dulu, maka untuk sholat iedul adha disunnahkan untuk tidak makan dan minum apapun hingga nanti sholat iedul adha usai.

Sesudah sholat iedul adha, barulah prosesi menyembelih hewan qurban dilaksanakan. Bahkan hingga 3 hari sesudahnya (hari Tasyrik). Daging hewan qurban berlimpah meski banyak juga di daerah lain ternyata kekurangan. Oleh sebab itu, saat ini dilakukan terobosan dalam bidang fikih, di mana akhirnya dicapai kesepakatan membolehkan hewan qurban dibuat sosis atau kornet agar lebih merata manfaatnya. Begitulah rutinitas ibadah qurban di setiap tahunnya.

Sahabat Baltyra …

Berqurban, … yang kemudian dalam bahasa kita lebih familiar dengan kata berkorban, pada dasarnya adalah menyerahkan sesuatu yang memang sangat kita butuhkan, sangat kita sayangi dan sangat berat untuk kita lepaskan. Hal ini dinisbatkan pada semangat Nabi Ibrahim A.S yang telah ikhlash mengorbankan anaknya Ismail karena perintah Alloh SWT. Dan sebagaimana kita ketahui, bahkan kerena keikhlasan Nabi Ibrahim dalam berkorban, maka balasan baginya dari Alloh sangat luar biasa. Keselamatan putranya dan dikemudian hari putranya tersebut akan menjadi salah satu tonggak peradaban manusia hingga akhir jaman.

idul adha greetings

Maka berkorban pun selayaknya bagi kita tetap merupakan ruh yang tidak bisa kita anggap ringan. Seekor kambing, sapi dan unta hanyalah symbol pengorbanan. Karena pada hakekatnya ruh berkorban lebih ditujukan untuk mendidik manusia pada keadaban tertinggi, yaitu berkorban untuk kebaikan sesama.

Ibarat anak tangga, keadaban manusia menduduki peringkat-peringkat sebagai berikut :

  1. Paling rendah adalah posisi MENGORBANKAN sesama. Inilah posisi paling dzalim yang akan mengantarkan pelakunya pada kegelapan di dunia dan akhirat. Terputus rahmat alloh atas dirinya.
  2. Posisi setelahnya adalah MEMBIARKAN (EGP) yang juga dilarang oleh Rasulullah Muhammad SAW. Sikap abai, membiarkan oranglain celaka. Meskipun bersikap pasif, ternyata ini juga termasuk kejahatan terhadap sesama.
  3. Diatasnya, posisi INSHAF (fairness/adil), yaitu berbuat sewajarnya, sebatas menunaikan atau menggugurkan kewajiban agar terhindar dari kedzaliman.
  4. Posisi tertinggi adalah BERKORBAN untuk kebaikan sesama atau orang banyak. Tentu saja dasarnya kerelaan, keridhoan dan keikhlasan, bukan setengah hati.

Sahabat Baltyra …

Makna berkorban demikian agungnya karena kedudukan orang-orang yang BERKORBAN di sisi Alloh amatlah luhur dan mendapatkan pujian langsung dari-Nya. Menumbuhkembangkan spirit pengorbanan merupakan bagian mendasar dalam rangka pembentukan karakter masyarakat dan bangsa yang beradab. Seorang pemimpin sejati akan lebih kuat tarikan kekitaannya untuk memikirkan masyarakatnya daripada keakuannya untuk semata memikirkan pekentingan pribadi. Untuk kemaslahatan masyarakat, pemimpin harus rela mengorbankan akunya jika diperlukan.

Namun, apa yang kita saksikan dewasa ini? Jiwa pengorbanan pada banyak kalangan sudah banyak digeser oleh semangat atau nafsu mengorbankan orang lain. Bahkan sebetulnya bukan orang lain, tetapi saudara sebangsa, seprofesi, seinstitusi. Perhatikan saja kemelut di ranah hukum, dimana para oknum melibatkan tiga lembaga hukum di republic ini. Begitu jelas, nafsu mengorbankan telah merasuki oknum-oknum tersebut.

Menyadari bahwa sebetulnya karunia Yang Maha Kuasa sudah teramat banyak, maka sebaiknya kita termasuk orang-orang yang mengerti terimakasih. Bukti terimakasih kita adalah dengan memperbanyak syukur dengan aplikasi langsung pada kerelaan untuk berkorban bagi sesama.

Mari belajar berempati kepada sesama dengan sebentuk pengorbanan, baik moral maupun material. Karena seseorang menjadi besar sebab jiwanya besar. Tidak ada jiwa besar tanpa jiwa yang punya semangat berkorban. Demikian orang-orang besar telah memberikan teladannya pada kita.

Berqurban, bukan hanya sebatas hal yang tampak. Makna yang lebih luas sudah seharusnya kita bisa mencakupinya.

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.