Tales of Our Friendship

Hariatni Novitasari – Surabaya

Beberapa saat yang lalu, karena tidak bisa tidur, tengah malam, aku online via Yahoo Messanger. Kebetulan, Bebe dan Tika juga sedang online. Sudah lama aku tidak berbicara via messanger dengan mereka berdua. Bebe sedang menapaki kehidupan sebagai pelajar post graduate di Essex University (UK). Perbedaan waktu tujuh jam menjadi penghalang jam online kami. Sementara itu, Tika sibuk dengan tugasnya sebagai pencari berita di Jakarta dan petani virtual di Farm Ville. Dia selalu saja sibuk menanam wortel, semangka, kol, kentang dan sibuk mencari biri-birinya yang hilang. :D.

Akhirnya, begitu ketemu tengah malam itu, kami mengobrol tentang banyak hal. Biasalah, cewek pasti bergosip. Tentang kehidupan baru Bebe di Essex, tentang kuliahnya, tentang teman-teman di flat-nya, tentang siapa yang keren di kampusnya, tentang Surabaya, tentang Jakarta dan tentang kehidupan pribadi kami masing-masing. Begitulah, akhirnya kami mengobrol beberapa lama. Bisa mengobati kerinduan kepada mereka.

Terakhir kali kami bertiga berkumpul Agustus 2008. Ketika itu Bebe dan aku transit semalam di Jakarta sebelum ke Bangkok. Kami membunuh malam itu dengan ngopi sampai warungnya tutup di Cikini dan dilanjutkan makan tengah malam di depan Taman Ismail Marzuki (TIM).

Sebelumnya, kami bertiga pernah reuni kecil di Yogjakarta. Waktu itu, 2007. Bebe sedang ke Indonesia untuk cuti tahunannya. Kami tidak merencanakan trip itu. Ke Jogja kala itu memang tidak direncanakan. Tika juga sudah di Jakarta. Kami bertemu disana, tanpa agenda yang jelas. Yang kami lakukan malam itu adalah jalan tak tentu arah di Malioboro, dan beli buku di Shopping. Kemudian, terseret arus manusia di Societet. Disana, kami ikut orang-orang menonton pertunjukan kesenian Yunani.

Setelah itu, dalam perjalanan pulang ke hotel, kami menyanyikan "Killing me Softly"-nya Roberta Flack keras-keras. Jogja sudah sepi kala itu. Setelah itu, kami makan gudeg Bu Tris di depan pasar Beringharjo, seberang Bioskop Indra. Pertemuan kami, selalu singkat, tetapi menyenangkan dan seronok.

Delapan tahun yang lalu, aku mulai mengenal baik keduanya. Benecia Eriana Magno (Bebe) dan Kartika Candra (Tika). Dari mereka bertiga, aku yang tertua. Bebe adalah kakak kelasku, tetapi dia lahir di tahun setelahku di bulan Januari. Tika di tahun berikutnya lagi di bulan Agustus. Aku ber-shio monyet, Bebe ayam dan Tika anjing. Tapi, diantara kami sudah dibuang kata panggilan orang Jawa untuk yang lebih tua "Mbak…"

Pertemuanku dengan Bebe waktu itu di gazebo FISIP. Kalau tidak salah 2001. Aku tidak pernah bertemu dengan Bebe sebelumnya. Selama 1998-2001, karena krisis antara Indonesia dan Timor Leste, dia kembali ke Dili. Tidak melanjutkan kuliah. Setelah TL menjadi negara sendiri, dia kembali kuliah pada 2001 itu.

Bebe memutuskan untuk melanjutkan kuliahnya di Universitas Airlangga dibandingkan menjadi diplomat karier. Padahal, dia sudah terpilih mengikuti pelatihan diplomat yang diadakan Departemen Luar Negeri TL di UK dan Malaysia selama beberapa bulan. Setelah kembali dari pelatihan ini, dia sudah siap-siap untuk ditempatkan (posting). Tapi, dia menolak itu, dan pilih melanjutkan kuliah, meskipun masa depan dia juga belum jelas kala itu.

Bertahun kemudian, aku tanya alasan dia untuk memilih kembali ke Unair daripada menjadi diplomat, dan apakah dia tidak menyesal. Dia bilang tidak. Keinginannya waktu itu hanya melanjutkan kuliah. “Aku sangat suka sekolah. Lagian, kalau aku tidak kembali ke kampus, aku kan tidak akan bertemu dengan Tika dan kamu”. Kami mulai dekat ketika dia memberiku tais. Yaitu, selendang khas Timor Leste. Setelah itu, kami menjadi sering ngobrol dan ternyata kami tertarik dengan hal yang sama, sastra. Begitulah, akhirnya kami menjadi dekat.

Lain lagi cerita dengan Tika. Kami mulai dekat pada 2002. Waktu itu, dia dan dua orang temannya sedang mempersiapkan makalah untuk dibawa ke pertemuan nasional di Bandung. Seorang teman dan aku me-review tulisan mereka. Tapi sering aku coret disana dan disini plus omelan dari aku, karena aku anggap kurang. Sok banget waktu itu. Sok dosen, hehehe. Akhirnya, kami menjadi dekat juga, karena kami juga sama-sama tertarik dengan sastra!

Beberapa hal kemudian menyatukan kami. Sastra dan absurditas. Oh, betapa kami suka berkhayal (sampai sekarang ternyata masih suka ngayal juga). Kalau suatu sore kami minum teh dicampur madu, dan makan cookies di kos Bebe atau di paviliunku, kami berpura-pura sedang ada di sebuah apartemen di Paris, dan memandang Sungai Seine. Sambil memandang Gereja Norte Dame di kejauhan. Kenapa Paris?

Waktu itu, kami adalah pengagum Sarte, Foucault dan Beauvoir…. Kami jatuh cinta dengan filsuf-filsuf itu. Padahal, sekarang sudah lupa, mereka bilang apa. Hahaha. Saat itu, kami merasa bahwa kami akan muda selamanya. Dan, selamanya akan berada di state itu. Tidak bergerak kemana-mana. Kami membunuh banyak sore kami, dengan banyak mendengarkan jazz, blues dan folks. Sesekali mengenang Che Guevara dalam the Motorcycle Diaries. Jujur, kami kagum dengan kegantengan dan semangat Che…

Kami bertiga, suka mengobrol masalah sastra, buku, politik, budaya, musik, dan tentu saja tentang lelaki.

Ketika kami tidak terlalu bokek, kami paling suka makan sate dan gulai kambing di sebelah Apotik Kimia Farma di Jalan Darmawangsa. Menurut kami, sate dan gulai disana paling enak se-Surabaya. Setelah makan sate dan gule, biasanya kami langsung kepanasan dan berkeringat. Setelah itu, tambah hang lagi. Dan, bisa ngobrol sampai pagi.

Kalau uang kami ada lebih sedikit, kami akan coba makan pizza. Tika adalah penyuka pizza dan chicken wings. Dalam sesi makan seperti ini, Bebe akan mengajarkan kepada kami table manner, yaitu tata cara makanan sesuai dengan etiket pergaulan internasional. Pelajaran yang dia dapat ketika dipersiapkan menjadi diplomat. Etiket itu coba Bebe terapkan sampai makan di kaki lima sekalipun. Sebuah pelajaran yang mulanya membuat alisku berkerut, “what, makan saja harus diatur?” :D

Tahun 2006, Bebe kembali ke Dili. Sebelum dia balik ke Dili, dia memberiku satu satu pot bunga mawar berwarna putih. Bunga itu aku tanam di belakang dapur paviliun. Awalnya, bunga itu berbunga dengan bagus. Tapi kemudian, tiba-tiba layu dan mati semua. Ketika bunga-bunga layu itu, ada berita Dili sedang kacau, dan diterapkan darurat sipil. Bebe tidak bisa dihubungi lagi. Kami jadi panik, takut terjadi apa-apa. Tapi, untunglah dia tidak apa-apa. Gara-gara bunga layu itu, jadi kepikiran Bebe kenapa-kenapa.

Selama saling mengenal ini, kami mulai mengenal sifat masing-masing. Sifat yang baik atau yang buruk. Mereka berdua, sangat santai dalam segala hal. Sementara aku sering dianggap paling “serius” dan teratur. Pernah dalam suatu masa, kami janjian untuk nonton pertunjukan teater atau film di Fakultas Sastra, aku sudah lupa detailnya. Kami sepakat ketemu di gazebo FISIP jam 18.30. Aku tunggu sampai dengan jam 19.00 mereka berdua belum juga muncul. Akhirnya, aku meninggalkan tempat itu, dengan emosi.

Dalam perjalanan pulang, aku menemukan mereka sedang ngobrol dengan beberapa orang di warung kopi-nya Pak Die di pasar Karang Menjangan. Langsung saja, aku ngamuk-ngamuk di depan mereka, terus pulang ke kos. Kalau tidak salah, aku agak teriak-teriak. Hehehe. Mereka berdua sampai kebingungan. Besoknya mereka ke tempatku, dan kami sudah ketawa-tawa menertawakan peristiwa malam sebelumnya. Konyol sekali. Kalau dipikir-pikir, aku memang orang yang ngamukan. Semua kadang minta presisi dan tepat waktu. Susah toleransi keterlambatan.

Tidak selamanya hubungan kami baik-baik saja. Sering kami berselisih paham dan bahkan sampai bertengkar. Seperti adegan terakhir Bebe dengan aku perkara celana pendek dan hooker di Pattaya, Thailand. Gara-gara aku membicarakan masalah celana pendek, pelacur dan Pattaya selama seharian penuh, dia menjadi bete. Tapi, semuanya berakhir juga dengan baik. Karena kami, mengatakan dengan apa adanya. Tidak perlu jaim. Kalau salah ya mengaku salah. Tidak perlu menjadi sangat baik atau sempurna di mata teman. Karena itulah, kami bisa mengenal dengan lebih baik.

Kami juga sering tidak setuju dengan pilihan-pilihan hidup Tika. Atau beberapa keputusan nekat Bebe. Atau, aku yang sangat keras kepala, dan sangat keras kepada diri sendiri. Tapi, kami menghargai keputusan masing-masing. Sebagai teman, kami berusaha untuk saling mengingatkan. Meskipun kami dekat, kami tidak berkomunikasi dengan intens. Tidak setiap hari kontak dan mengirimkan SMS untuk mengetahui mereka sedang melakukan apa. Karena kami sadar, kami memiliki kehidupan sendiri-sendiri. Kami juga tidak merecoki satu sama lain. Kami tahu, dimana saatnya seorang itu ingin sendiri atau ingin bersama kami. Bagi kami, yang terpenting, kami selalu ada satu sama lain ketika kami saling membutuhkan.

Seperti hanya chatting malam itu. Kami sudah cukup puas dengan ngobrol pendek kami. Gosip-gosip tidak penting. Lalu, kami kembali pada kehidupan masing-masing. Bebe dengan kehidupan barunya di Essex. Tika bergulat dengan Jakarta. Dan aku, yang sudah mulai bosan dengan pelukan Surabaya. (*).

Tika-Bebe

Catatan: Kata seorang teman, persahabatan itu relatif sekali derajatnya. Setiap orang punya cerita sendiri-sendiri. Tulisan ini dibuat tidak mengandung maksud, kalau teman-teman lain tidak penting.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.