Suika Ayu – Japan
Hello Sodara-sodari apa kabar?
Ulang Tahun…menurut anda Ulang Tahun itu apa? perulangan dari tahun? Ulang Tahun bagi sebagian orang adalah sangat bermakna, ada juga yang menganggap biasa saja, bahkan ada yang tidak ingat sama hari Ulang Tahun-nya sendiri.
Ulang Tahun berarti usia kita 1 tahun lebih tua (bertambah satu tahun) dan juga usia kita berkurang 1 tahun, bagaimana rasanya saat usia kita berkurang 1 tahun? Jelas di saat hari Ulang Tahun kita pastinya mengucap syukur pada tahun ini bulan ini, hari ini ternyata saya masih diberi keleluasaan untuk bergerak di muka bumi, tentu pula mempunyai harapan harapan baik yang muncul untuk menyongsong hari esok, bersyukur karena masih bisa bertemu dengan hari kelahirannya
Sekian Tahun yang lalu, tepat pada tanggal itu, saya tidak tau apa yang dialami oleh ibu saya, saat melahirkan saya, mengerang kesakitan? mempertaruhkan nyawanya antara hidup dan mati? berusaha sekuat tenaga untuk mengeluarkan saya yang telah dikandungnya selama 9 bulan lebih, pada tanggal itu juga saya terlahir di muka bumi ini , kalau hari kelahiran saya sudah datang pasti saya mengingat hal itu, lalu air mata saya mulai mengucur deras
Apalagi setelah saya merasakan sendiri bagaimana perjuangan seorang ibu saat melahirkan anaknya yang telah dikandungnya 9 bulan lebih, juga sobat baltyra yang sudah menjadi ibu sudah tau rasanya ya, saat melahirkan adalah saat saat yang sangat luar biasaaaa, toh nyowo toh pati, sewu loro dadi siji, 2 hari sebelum melahirkan saya sudah nglarani (terasa sakit) dirumah,walau sudah dibawa ke Dokter,kata dokter dibawa pulang dulu tidak apa apa, baru membuka 5 centi, selama itu saya berusaha menahan segalanya, setelah pembukaan penuh,. saya pasrah minta diantar ke rumah sakit malam itu juga,selang 2 jam si jabang bayi cenger…cengerrr …matanya terbelalak bening, oleh Dokter si jabang bayi didekapkan di atas dadaku, bahagianya tidak bisa diungkapkan dengan kata – kata
Saat hari kelahiranku datang, pikiran saya langsung tertuju ke Ibunda tercinta,saya mengucapkan Terimakasih yang teramat sangat,di keheningan saya doakan untuk kesehatan serta kebahagiaan Beliau.
Lalu apa hubungannya artikel ini dengan judul di atas “Iwan Satyanegara Kamah”
Saya mengenal Mas Iwan Satyanegara Kamah belum lama ini (maksudnya belum puluhan tahun melainkan baru setahun yang lalu hehe),..ternyata Mas Iwan adalah seorang penulis handal dan terkenal, tak ayal artikel-artikel Beliau membuat saya melongo ngo ngo…pokoknya jangan sampai terlewatkan deh,karena kalau sampai dilewatkan sangat rugi, karyanya yang luar biasa, mengungkap kisah masa lalu yang mana banyak yang tidak kita ketahui sebelumnya,pokoknya sangat informatif dan luar biasaaaa. Terimakasih Mas Iwan Kamah.
Komentarnya yang tajam menggugah walau terkadang di selingi slengekan enjoe pula hehehe, pribadi Mas Iwan yang sangat Ber-kharisma dan enak diajak berkawan ,bertukar pikiran serta suami yang baik buat Istrinya , sangat penyayang pula tentunya kepada kedua buah hatinya, suatu anugerah terlahirkan-nya seorang Iwan Satyanegara Kamah di dunia ini untuk kita semua
Artikelnya Mas Iwan yang membuat saya terkekeh-kekeh, yang mengisahkan sangat detail tentang Presiden RI pertama yaitu Soekarno yang kencing di dalam pesawat sampai mucrat membasahi semua penumpang hahah, hebattt informasi macam ini tidak pernah saya dapatkan di bangku sekolah loh.
Kita lihat rangkuman kilas balik cerita dari Mas Iwan.
FAKTA SEPUTAR PROKLAMASI
Iwan Satyanegara Kamah
Mungkinkah Revolusi Kemerdekaan Indonesia disebut sebagai revolusi dari kamar tidur? Coba simak ceritanya. Pada 17 Agustus 1945 pukul 08.00, ternyata Bung Karno masih tidur nyenyak di kamarnya, di Jalan Pegangsaan Timur 56, Cikini. Dia terkena gejala malaria tertiana. Suhu badannya tinggi dan sangat lelah setelah begadang bersama para sahabatnya menyusun konsep naskah proklamasi di rumah Laksamana Maeda.
Pating greges, keluh Bung Karno setelah dibangunkan de Soeharto, dokter kesayangannya. Kemudian darahnya dialiri chinineurethan intramusculair dan menenggak pil brom chinine. Lalu ia tidur lagi.
Pukul 09.00, Bung Karno terbangun. Berpakaian rapi putih-putih dan menemui sahabatnya, Bung Hatta. Tepat pukul 10.00, keduanya memproklamasikan kemerdekaan Indonesia dari serambi rumah.
“Demikianlah Saudara-saudara! Kita sekalian telah merdeka!”, ujar Bung Karno di hadapan segelintir patriot-patriot sejati. Mereka lalu menyanyikan lagu kebangsaan sambil mengibarkan bendera pusaka Merah Putih. Setelah upacara yang singkat itu, Bung Karno kembali ke kamar tidurnya. masih meriang. Tapi sebuah revolusi telah dimulai…
Upacara Proklamasi Kemerdekaan Indonesia ternyata berlangsung tanpa protokol, tak ada korps musik, tak ada konduktor dan tak ada pancaragam. Tiang bendera pun dibuat dari batang bambu secara kasar, serta ditanam hanya beberapa menit menjelang upacara. Tetapi itulah, kenyataan yang yang terjadi pada sebuah upacara sakral yang dinanti-nantikan selama lebih dari tiga ratus tahun!
Bendera Pusaka Sang Merah Putih adalah bendera resmi pertama bagi RI. Tetapi dari apakah bendera sakral itu dibuat? Warna putihnya dari kain sprei tempat tidur dan warna merahnya dari kain tukang soto!
Setelah merdeka 43 tahun, Indonesia baru memiliki seorang menteri pertama yang benar-benar orang Indonesia asli. Karena semua menteri sebelumnya lahir sebelum 17 Agustus 1945. Itu berarti, mereka pernah menjadi warga Hindia Belanda dan atau pendudukan Jepang, sebab negara hukum Republik Indonesia memang belum ada saat itu. “Orang Indonesia asli” pertama yang menjadi menteri adalah Ir Akbar Tanjung (lahir di Sibolga, Sumatera Utara, 30 Agustus 1945), sebagai Menteri Negara Pemuda dan Olah Raga pada Kabinet Pembangunan V (1988-1993).
Menurut Proklamasi 17 Agustus 1945, Kalimantan adalah bagian integral wilayah hukum Indonesia. Kenyataannya, pulau tersebut paling unik di dunia. Di pulau tersebut, ada 3 kepala negara yang memerintah! Presiden Soeharto (memerintah 4 wilayah provinsi), PM Mahathir Mohamad (Sabah dan Serawak) serta Sultan Hassanal Bolkiah (Brunei).
Hubungan antara revolusi Indonesia dan Hollywood, memang dekat. Setiap 1 Juni, selalu diperingati sebagai Hari Lahir Pancasila semasa Presiden Soekarno. Pada 1956, peristiwa tersebut “hampir secara kebetulan” dirayakan di sebuah hotel Hollywood. Bung Karno saat itu mengundang aktris legendaris Marylin Monroe, untuk sebuah makan malam di Hotel Beverly Hills, Hollywood. Hadir di antaranya Gregory Peck, George Murphy dan Ronald Reagan (25 tahun kemudian menjadi Presiden AS). Yang unik dari pesta menjelang Hari Lahir Pancasila itu, adalah kebodohan Marilyn dalam hal protokol. Pada pesta itu, Maryln menyapa Bung Karno bukan dengan “Mr President” atau “Your Excellency”, tetapi dengan Prince Soekarno!
Ada lagi hubungan erat antara 17 Agustus dan Hollywood. Judul pidato 17 Agustus 1964, Tahun Vivere Perilocoso (Tahun yang Penuh Bahaya), telah dijadikan judul sebuah film The Year of Living Dangerously. Film tersebut menceritakan pegalaman seorang wartawan asing di Indonesia pada 1960-an. Pada 1984, film yang dibintangi Mel Gibson itu mendapat Oscar untuk kategori film asing!
Naskah asli teks Proklamasi Kemerdekaan Indonesia yang ditulis tangan oleh Bung Karno dan didikte oleh Bung Hatta, ternyata tidak pernah dimiliki dan disimpan oleh Pemerintah! Anehnya, naskah historis tersebut justru disimpan dengan baik oleh wartawan B. M. Diah. Diah menemukan draft proklamasi itu di keranjang sampah di rumah Laksamana Maeda, 17 Agustus 1945 dini hari, setelah disalin dan diketik oleh Sajuti Melik. Pada 29 Mei 1992, Diah menyerahkan draft tersebut kepada Presiden Soeharto, setelah menyimpannya selama 46 tahun 9 bulan 19 hari.
Ketika tiba di Pelabuhan Sunda Kelapa 9 Juli 1942 siang bolong, Bung Karno mengeluarkan komentar pertama yang janggal didengar. Setelah menjalani pengasingan dan pembuangan oleh Belanda di luar Jawa, Bung Karno justru tidak membicarakan strategis perjuangan menentang penjajahan. Masalah yang dibicarakannya, hanya tentang sepotong jas! “Potongan jasmu bagus sekali!” komentar Bung Karno pertama kali tentang jas double breast yang dipakai oleh bekas iparnya, Anwar Tjikoroaminoto, yang menjemputnya bersama Bung Hatta dan segelintir tokoh nasionalis.
Rasa-rasanya di dunia ini, hanya the founding fathers Indonesia yang pernah mandi air seni. Saat pulang dari Dalat (Cipanasnya Saigon), Vietnam, 13 Agustus 1945, Soekarno bersama Bung Hatta, dr Radjiman Wedyodiningrat dan dr Soeharto (dokter pribadi Bung Karno) menumpang pesawat fighter bomber bermotor ganda. Dalam perjalanan, Soekarno ingin sekali buang air kecil, tetapi tak ada tempat. Setelah dipikir, dicari jalan keluarnya untuk hasrat yang tak tertahan itu. Melihat lubang-lubang kecil di dinding pesawat, di situlah Bung Karno melepaskan hajat kecilnya. Karena angin begitu kencang sekali, bersemburlah air seni itu dan membasahi semua penumpang. Byuuur…
Berkat kebohongan, peristiwa sakral Proklamasi 17 Agustus 1945 dapat didokumentasikan dan disaksikan oleh kita hingga kini. Saat tentara Jepang ingin merampas negatif foto yang mengabadikan peristiwa penting tersebut, Frans Mendur, fotografer yang merekam detik-detik proklamasi, berbohong kepada mereka. Dia bilang tak punya negatif itu dan sudah diserahkan kepada Barisan Pelopor, sebuah gerakan perjuangan. Mendengar jawaban itu, Jepang pun marah besar. Padahal negatif film itu ditanam di bawah sebuah pohon di halaman Kantor harian Asia Raja. Setelah Jepang pergi, negatif itu diafdruk dan dipublikasi secara luas hingga bisa dinikmati sampai sekarang. Bagaimana kalau Mendur bersikap jujur pada Jepang?
Kali ini, Bung Hatta yang berbohong demi proklamasi. Waktu masa revolusi, Bung Karno memerintahkan Bung Hatta untuk meminta bantuan senjata kepada Jawaharlal Nehru. Cara untuk pergi ke India pun dilakukan secara rahasia. Bung Hatta memakai paspor dengan nama “Abdullah, co-pilot”. Lalu beliau berangkat dengan pesawat yang dikemudikan Biju Patnaik, seorang industrialis yang kemudian menjadi menteri pada kabinet PM Morarji Desai. Bung Hatta diperlakukan sangat hormat oleh Nehru dan diajak bertemu Mahatma Gandhi. Nehru adalah kawan lama Hatta sejak 1920-an dan Gandhi mengetahui perjuangan Hatta. Setelah pertemuan, Gandhi diberi tahu oleh Nehru bahwa “Abdullah” itu adalah Mohammad hatta. Apa reaksi Gandhi? Dia marah besar kepada Nehru, karena tidak diberi tahu yang sebenarnya. “You are a liar!” ujar tokoh kharismatik itu kepada Nehru
Bila 17 Agustus menjadi tanggal kelahiran Indonesia, justru tanggal tersebut menjadi tanggal kematian bagi pencetus pilar Indonesia. Pada tanggal itu, pencipta lagu kebangsaan “Indonesia Raya”, WR Soepratman (wafat 1937) dan pencetus ilmu bahasa Indonesia, Herman Neubronner van der Tuuk (wafat 1894) meninggal dunia.
Bendera Merah Putih dan perayaan tujuh belasan bukanlah monopoli Indonesia. Corak benderanya sama dengan corak bendera Kerajaan Monaco dan hari kemerdekaannya sama dengan hari proklamasi Republik Gabon (sebuah negara di Afrika Barat) yang merdeka 17 Agustus 1960.
Jakarta, tempat diproklamasikannya kemerdekaan Indonesia dan kota tempat Bung Karno dan Bung Hatta berjuang, tidak memberi imbalan yang cukup untuk mengenang co-proklamator Indonesia. Sampai detik ini, tidak ada “Jalan Soekarno-Hatta” di ibu kota Jakarta. Bahkan, nama mereka tidak pernah diabadikan untuk sebuah objek bangunan fasilitas umum apa pun sampai 1985, ketika sebuah bandara diresmikan dengan memakai nama mereka.
Gelar Proklamator untuk Bung Karno dan Bung Hatta, hanyalah gelar lisan yang diberikan rakyat Indonesia kepadanya selama 41 tahun! Sebab, baru 1986 Permerintah memberikan gelar proklamator secara resmi kepada mereka.
Kalau saja usul Bung Hatta diterima, tentu Indonesia punya “lebih dari dua” proklamator. Saat setelah konsep naskah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia rampung disusun di rumah Laksamana Maeda, Jl. Imam Bonjol no 1, Jakarta, Bung Hatta mengusulkan semua yang hadir saat rapat din hari itu ikut menandatangani teks proklamasi yang akan dibacakan pagi harinya. Tetapi usul ditolak oleh Soekarni, seorang pemuda yang hadir. Rapat itu dihadiri Soekarno, Hatta dan calon proklamator yang gagal: Achmad Soebardjo, Soekarni dan Sajuti Melik. “Huh, diberi kesempatan membuat sejarah tidak mau”, gerutu Bung Hatta karena usulnya ditolak.
Perjuangan frontal melawan Belanda, ternyata tidak hanya menelan korban rakyat biasa, tetapi juga seorang menteri kabinet RI. Soepeno, Menteri Pembangunan dan Pemuda dalam Kabinet Hatta, merupakan satu-satunya menteri yang tewas ditembak Belanda. Sebuah ujung revolver, dimasukkan ke dalam mulutnya dan diledakkan secara keji oleh seorang tentara Belanda. Pelipis kirinya tembus kena peluru. Kejadian tersebut terjadi pada 24 Februari 1949 pagi di sebuah tempat di Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur. Saat itu, Soepeno dan ajudannya sedang mandi sebuah pancuran air terjun.
Belum ada negara di dunia yang memiliki ibu kota sampai tiga dalam kurun waktu relatif singkat. Antara 1945 dan 1948, Indonesia memiliki 3 ibu kota, yakni Jakarta (1945-1946), Yogyakarta (1946-1948) dan Bukittinggi (1948-1949).
Panglima Besar Tentara Nasional Indonesia Jenderal Soedirman, pada kenyatannya tidak pernah menduduki jabatan resmi di kabinet RI. Beliau tidak pernah menjadi KSAD, Pangab, bahkan menteri pertahanan sekalipun!
Wayang ternyata memiliki simbol pembawa sial bagi rezim yang memerintah Indonesia. Betapa tidak, pada 1938-1939, Pemerintah Hindia Belanda melalui De Javasche Bank menerbitkan uang kertas seri wayang orang dan pada 1942, Hindia Belanda runtuh dikalahkan Jepang. Pada 1943, Pemerintah Pendudukan Jepang menerbitkan uang kertas seri wayang Arjuna dan Gatotkoco dan 1945, Jepang terusir dari Indonesia oleh pihak Sekutu. Pada 1964, Presiden Soekarno mengeluarkan uang kertas baru seri wayang dengan pecahan Rp1 dan Rp2, 5 dan 1965 menjadi awal keruntuhan pemerintahannya menyusul peristiwa G30S/PKI.
Perintah pertama Presiden Soekarno saat dipilih sebagai presiden pertama RI, bukanlah membentuk sebuah kabinet atau menandatangani sebuah dekret, melainkan memanggil tukang sate! Itu dilakukannya dalam perjalanan pulang, setelah terpilih secara aklamasi sebagai presiden. Kebetulan di jalan bertemu seorang tukang sate bertelanjang dada dan nyeker (tidak memakai alas kaki). “Sate ayam lima puluh tusuk!”, perintah Presiden Soekarno. Disantapnya sate dengan lahap dekat sebuah selokan yang kotor. Dan itulah, perintah pertama pada rakyatnya sekaligus pesta pertama atas pengangkatannya sebagai pemimpin dari 70 juta jiwa lebih rakyat dari sebuah negara besar yang baru berusia satu hari.
Kita sudah mengetahui, hubungan antara Bung Karno dan Belanda tidaklah mesra. Tetapi Belanda pernah memberikan kenangan yang tak akan pernah dilupakan oleh Bung Karno. Enam hari menjelang Natal 1948, Belanda memberikan hadiah Natal di Minggu pagi, saat orang ingin pergi ke gereja, berupa bom yang menghancurkan atap dapurnya. Hari itu, 19 Desember 1948, ibu kota Yogyakarta jatuh ke tangan Belanda.
Sutan Sjahrir, mantan Perdana Menteri RI pertama, menjadi orang Indonesia yang memiliki prestasi “luar biasa” dan tidak akan pernah ada yang menandinginya. Waktu beliau wafat 1966 di Zurich, Swiss, statusnya sebagai tahanan politik. Tetapi waktu dimakamkan di Jakarta beberapa hari kemudian, statusnya berubah sebagai Pahlawan Nasional Indonesia.
Mantafff sekali Mas Iwan, terima kasih atas kisahnya….
Ngomong-ngomong hari ini (29-November) adalah hari Ulang Tahun-nya Mas Iwan Satyanegara Kamah, tepatnya yang keberapa? tanyakan sendiri kepada beliau hehehe, kepada Mas Iwan Selamat Ulang Tahun, semoga kebahagiaan selalu menyertai Mas Iwan sekeluarga,juga tak kurang dari suatu apapun, sehat selalu,tetap semangat berkarya, Artikel-artikel anda sangat mendidik saya untuk melek akan sejarah sejarah terdahulu, Semangat dan Sukses selalu yaaa Mas Iwan
Happy Birthday To You
Nyanyi happy Birthday yuuukk buat Mas Iwan , nanti kebagian Kue sepotong sepotong
Salam Suikem Cuantik
Redaksi Note :
Pertama mengenal Bang Iwan dari community yang saat ini sudah ditutup . Seperti kata Suika, tulisan Bang Iwan lain daripada yang lain, menceritakan kisah2 yang tidak dipernah diketahui oleh masyarakat umum mengenai BK dan seputar kehidupan BK.
Sampai akhirnya kami mengasuh komunitas baltyra ini, Bang Iwan disela kesibukan pekerjaan dan keluarganya , masih meluangkan waktu menulis artikel untuk sobat baltyra. Selain rasa terima kasih yang mendalam, penghargaan dari kami untuk Bang Iwan. Karena kami mengetahui menulis itu tidak mudah, apalagi menulis cerita bersambung, seperti menulis mengenai serial ramadhan di baltyra.
Bang Iwan, Selamat Ulang Tahun. Semoga sehat selalu, Tuhan membalas semua kebaikan dan selalu memberkati Bang Iwan dan keluarga.
Pssst, ayo ngaku umur berapa ?
Terima kasih buat Suikem Ayu, yang membuat rangkuman kisah proklamasi.
November 29th, 2010 at 07:35
selamat ulang tahun untuk Pak ISK
November 29th, 2010 at 07:30
Selamat Ulang Tahun Pak Iwan ^^
semoga panjang umur dan bahagia selalu
November 29th, 2010 at 07:01
Ilham, potong kuenya nunggu temen2 yaaa…! Awas jangan dicolek2 tuh kuenya he he….
November 29th, 2010 at 06:52
Ikut potong kuenya ah. Biarpun belum bisa makannya
Met ultah Pak Iwan
November 29th, 2010 at 06:34
Saw, memang Suika ngilang, sengaja aku share di fb, karena ultahnya pak Iwan …
November 29th, 2010 at 06:23
ini mbak Suika kok lama ga ada kabar ya ? (atau saya aja yg kurang gaul?)
October 3rd, 2010 at 20:44
lha…Lani baru kenal pak Iwan saat ituu?????
December 4th, 2009 at 04:20
Mas Iwan, maaf ya telat..baru sempat baca-baca lagi. Happy Birthday…sukses terus ya…!!! Salah satu penulis yang paling seneng aku baca tulisannya.
December 4th, 2009 at 03:56
MAZ IWAN : salam kenal lewat baltyra, better late than never….Selamat Ulang Tahun….Semoga Tuhan memberkati selalu, amien……